-->

Arsip Resensi Toggle

Kabar Resensi Pekan Kedua September 2012

Setiap Minggu, pers cetak mengeluarkan rubrik resensi buku untuk mengulas buku-buku termutakhir. Kami informasikan kabar resensi dan kabar buku lainnya tersebut. Jika berminat mendapatkan kopi digital atas resensi tersebut, tersedia di bagian arsip kamar koran perpustakaan Gelaran Ibuku

KOMPAS | Identitas, Urban, Migrasi, dan Perjuangan Ekonomi-Politik di Makassar | Nurkhoiron dan Ruth Indiah Rahayu (peny) | Yayasan Desantara | 2012 | 260 hlm | Resensi oleh Musyafak #resensibuku

KOMPAS | Making Them Indonesians | Helene van Klinken | Monash University | 2012 | 213 hlm | #infobuku

KOMPAS | Psikologi Prasangka: Sebab Dampak dan Solusi | Idhamsyah Eka Putra & Ardiningtiyas Pitaloka | Ghalia Indonesia | 2012 | 156 hlm | #infobuku

KORANTEMPO | Ujung Timur Jawa 1763-1813: Perebutan Hegemoni Blambangan | Sri Margana | Pustaka Ifada | 2012 | Diresensi Steve Gaspersz @nyong_naku #resensibuku

JAWAPOS | Calak Edu: Esai-esai Pendidikan 2008-2012 (1&2) | Ahmad Baedowi | Pustaka Alvabet | 2012 | 260+272 hlm | Resensi oleh N Mursidi #resensibuku

JAWAPOS | Islam an The Making of the Nation, Kartosuwiryo and Political Islam in 20th Century Indonesia | Chiara Formichi | KITLV | 2012 | 244 hlm | Resensi oleh Ahmad Khotim Muzakka #resensibuku

SUARAMERDEKA | Pembangunan Olahraga untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kejayaan Bangsa | Agus Krisyanto | Yuma Pustaka | 2012 | 286 hlm | Resensi: Bambang Tri Subeno #resensibuku

KEDAULATANRAKYAT | Mendesain Perilaku Anak Sejak Dini | Nur Faizah Rahmah | Adi Citra Cemerlang | 2012 | 170 hlm | Resensi: Armawati #resensibuku

KEDAULATANRAKYAT | Ken Dedes Sang Penggoda | Wawan Susetya | Imania | 2012 | 447 hlm | Resensi: Annisa #resensibuku

KEDAULATANRAKYAT | Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia | Richard Robinson | Komunitas Bambu | 2012 | 432 hlm | Resensi: Andi Andrianto #resensibuku

TRIBUNJOGJA | Reformasi Gagal, Selamatkan NKRI! | Wisnu HKP Notonagoro | Pustaka Indonesia Press | 2012 | 277 hlm | Resensi: Sigit Widya #resensibuku

Aku Marxis? Tidak! Aku Anak Kebudayaan Massa

Oleh: Muhidin M Dahlan

Aku Gitanyali. Ayahku komunis. Di depan rumah terpancang papan besar bertuliskan “Comite Seksi Partai Komunis Indonesia”.

Novel dwilogi Blues Merbabu dan 65 ini, seperti paragraf di atas, berkisah tentang anak tokoh teras PKI di sebuah kota kecil di Jawa Tengah.


Gitanyali—nama samaran—seperti ribuan anak-anak penggiat PKI atau mereka yang (hanya) dituduh—adalah narasi sejarah yang menyedihkan dalam sejarah keluarga Indonesia.

Jurnal Prisma misalnya, pada 1979 pernah menggelar sayembara menulis Pola Asuhan Anak Indonesia. Hasilnya, cerita Hersri Setiawan menjadi pemenang dari seratusan cerita yang masuk.

Cerita Hersri berjudul “Dua Wajah dalam satu Haribaan: Warna-warna Pendewasaan di Pulau Buru” (Prisma No 10, Oktober 1979, hlm 15-34) itu mengisahkan pengalaman menjadi anak-anak PKI yang tiba-tiba jatuh jadi warga dengan kasta paria. Tak boleh jadi apa pun. Ya, apa pun yang terkait dengan pengabdian kepada negara dan bangsa. Tak peduli secerdas apa kepalanya dan secekatan apa tangannya bekerja.


Namun, kisah mahaduka macam itu tak kita dapatkan dalam dwilogi ini.

Gitanyali menyingkirkan semua narasi yang meminta “belas kasihan” pembaca kepada korban, walau anak Sutanto Singayuda ini kerap ciut di lingkungan sosialnya dikata-katai: “Anak PKI. Haram jadah.” (BM, h 58)

Gitanyali memilih narasi lain, sebuah petualangan fantasi seks yang sudah ia pupuk di rumahnya saat SD di sebuah kota yang berjulukan “de Schoonste Stad van Midden Java”. Sebuah kota yang namanya (di)rahasia(kan) Gitanyali.

Tapi nyaris bisa dipastikan kota yang dimaksud adalah Salatiga, Jawa Tengah, dengan penanda yang disebar pengarangnya di sekujur halaman novel: Tamansari, Tugu Beatrix, permandian Sanjaya, Bisokop Rex, dan tentu saja Gunung Merbabu.

Alih-alih berkisah tentang drumben yang bergemuruh, baris berbaris IPPI dan Pemuda Rakjat di jalanan Ganefo yang senyap, pendirian Taman Kanak-Kanak Melati yang dibawahi Gerwani, rapat-rapat PKI; Gitanyali, si anak PKI, di bab-bab awal sudah menggoda dengan kalimat “menantang”: “Dan aku pengintip perempuan nomor satu di kampung. Ada beberapa mbak yang jadi favoritku. Lekuk tubuhnya kukenal benar. Sampai ketebalan rambut itunya.” (BM, h 14)

Rangkaian petualangan seks itu disebar sedemikian rupa yang mengingatkan pada karya dengan tema serupa yang digarap Fredy S. Penulis misterius yang mengeksploitasi habis-habisan tema seks ini pernah mengeluarkan heksalogi bertema seks dan politik dengan latar pergolakan politik PKI 1965: #1 Bercinta dalam Gelap, #2 Politik Bercinta, #3 Budak Kehormatan, #4 Penghias Kepalsuan, #5 Belenggu Dosa, dan #6 Badai Telah Reda.

Fredy S menabalkan nokhtah di novel 2000-an halaman itu bahwa semua kedurjanaan seks dan perselingkuhan itu dikerjakan oleh PKI dan semua organ yang sealiran dengannya. Gitanyali, setengah melek, seakan membenarkan semua tesis Fredy itu. Lihat ulasan buku Fredy S di sini

Bacalah fantasi Gitanyali saat tidur sekamar dengan guru TK Melati (Gerwani), Mbak Kadar, di rumah orangtuanya: Dengan agak gemetaran tanganku bergerak, menyusup belahan blousenya. Mbak Kadar tetap diam. Mungkin ia benar-benar tidur. Kuusap payudaranya. Halus sekali. Agak ke bawah. Tersentuh putingnya. Keras. Kuremas susunya. Mendadak tubuhku mengejang. Sumbernya di penisku. Ada yang hendak mendesak keluar.

Seperti mau pipis. Paha Mbak Kadar kuraba. Aku takut pipis yang aneh ini menembus celana membasahi pahanya. (BM, 33-34)

Tuduhan Fredy S bahwa orang-orang komunis maniak seks, kasar, kriminil, seakan mendapatkan pembenaran dari novel yang ditulis anak “tokoh teras” PKI di kota yang pernah disinggahi penyair Arthur Rimbaud ini.


Aku meloncat masuk dan menutup kembali jendela. Mbak Tutik menahan senyum. Ia memakai daster. Aduh… Tak ada beha maupun celana dalam di balik dasternya. (BM, 159)

Jangan membayangkan Gitanyali pembaca doktrin Marx dan Lenin. Asupan bacaannya komik-komik, bacaan porno stensilan, dan bioskop menjadi rumah ibadahnya. Nyaris tak tersisa dari diri Gitanyali sebagai anak “tokoh teras” PKI yang kata orang kampung: lurus, jujur, pemberani, dan punya dignity.

Alih-alih, Gitanyali justru menggambarkan dirinya sebagai anak kebudayaan massa. Politics no! It’s only rock ‘n’ roll. Ia dengan sadar menempuh jalan Suloyo; istilah dalam bahasa jawa tentang sikap perlawanan yang pasif, tidak frontal, untuk mencari selamat. (65, hlm 141)

Sikap suloyo itu pula yang membuatnya enteng menggambarkan siapa dirinya: Ketika kanak-kanak aku tidur dengan perempuan berusia sekitar 30 tahun. Ketika usia belasan, aku bercinta dengan perempuan berusia 30 tahun. Ketika umur 20-an aku bercinta dengan perempuan usia 30 tahun.

“Ketika umur 30-an aku bercinta dengan perempuan 30 tahun. Ketika umur 40-an lagi-lagi aku bercinta dengan perempuan 30 tahun.” (BM, 170)


Dugaan saya, perayaan kebebasan tanpa batas yang diperlihatkan Gitanyali ini bisa jadi cara lari dari trauma panjang “Pola Asuh Keluarga Indonesia” yang dirusak binasa sebuah rezim despot.


Itulah sebabnya novel ini—jika sebuah memoar—berbeda perangai sepenuh-penuhnya dengan memoar anak-anak PKI lainnya, sebut saja Ribka Tjiptaning Proletariati (2002), Ibarruri Putri Alam (2006), dan Tantiana Lukman (2008).

Dwilogi Blues Merbabu dan 65 adalah novel pop ala Fredy S terbitan KPG ini saya kira sukses “merendahkan” komunisme: “Di bawah kapitalisme, orang mengeksploitasi orang. Komunisme, tinggal di balik saja…” (BM, 172)

Blues Merbabu
Penulis: Gitanyali
Cetak: Februari 2011
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal: 185 hlm


65

Penulis: Gitanyali
Cetak: Mei 2012
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal: 204 hlm

*)JawaPos, 2 Agustus 2012

Kabar Resensi Pekan Kesatu September 2012

KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia. Disusun oleh Iyung Hidayah.

Blues Merbabu | 65

Karya Gitanyali

Resensi ditulis oleh Muhidin M Dahlan

Dimuat di Jawa Pos 2 September 2012

Novel dwilogi Blues Merbabu dan 65 ini berkisah tentang anak tokoh teras PKI di sebuah kota kecil Jawa Tengah. Gitanyali—nama samaran—seperti ribuan anak PKI atau mereka yang (hanya) dituduh—adalah narasi sejarah yang menyedihkan dalam sejarah keluarga Indonesia. Namun kisah mahaduka tak kita dapatkan dalam dwilogi ini. Gitanyali menyingkirkan semua narasi yang meminta “belas kasihan” pembaca kepada korban. Gitanyali memilih narasi lain, sebuah petualangan fantasi sex yang sudah dia pupuk di rumahnya sejak ia masih SD. Rangkaian petualangan sex itu disebar sedemkian rupa yang mengingatkan pada karya dengan tema serupa yang digarap Fredy S.

Negara Gagal Mengelola Konflik

Karya Novri Susan

Resensi ditulis oleh Abd . Sidiq Notonegoro

Dimuat di Jawa Pos 2 September 2012

Buku karya Novri Susan ini merupakan hasil observasi dan refleksi kritisnya terhadap berbagai kasus konflik yang berhasil dipublikasikan sebagai artikel di media massa nasional mulai 2006 hingga 2012.  Melalui buku ini pembaca akan dimudahkan dalam memahami konflik yang kerap terjadi. Karena itu, buku ini sangat layak dijadikan referensi bagi para ilmuwan sosial, mahasiswa, dan khususnya para pengambil kebijakan.

Been There Done That Got The T-Shirt

Karya Risyiana Muthia (teks), Emeralda Visua (visual)

Resensi ditulis oleh Qaris Tajudin

Dimuat di Koran Tempo 2 September 2012

Been There Done That Got The T-Shirt tentu saja bukan buku tentang bagaimana mendapatkan kaus gratisan. Idiom itu bisa digunakan untuk menggambarkan orang hidup dengan bersemangat, melakukan apa saja, mengambil semua kesempatan yang lewat atau pun tak lewat. Buku ini meminta kita melakukan hal-hal kecil. Kursus kuda lumping, membuat lagu cengeng, main hulahoop, atau kursus sajojo. Apapunlah. Yang penting, setidaknya setiap hari kita menguasai tiga keahlian baru. Kalaupun kita harus melekukan hal sama setiap hari, misalnya turun tangga kantor, cobalah dengan cara yang tidak biasa—dengan merangkak, contohnya. Hanya dengan begitu kita bisa menjadi risk taker dan adrenaline  junkie. Ujung-ujungnya, kita menjadi orang yang lebih kreatif.

Tenggelam dalam Neoliberalisme? Penetrasi Ideologi Pasar dalam Penanganan Kemiskinan

Karya Bagus Aryo

Resensi ditulis oleh Ahmad Khotim Muzakka

Dimuat di Suara Merdeka, 2 September 2012

Buku ini mencoba memberikan gambaran ekonomi  tentang esensi neoliberalisme yang didasarkan pada pemikiran dominan madzhab Chicago. Ideologi propasar ini berusaha untuk mendefinisikan kembali ranah sosial sebagai salah satu bentuk dari ranah ekonomi. Di mana manusia dapat dimanipulasi demi kepentingan masyarakat. Bagus Aryo berusaha memotret tragedi riwayat ekonomi yang meramaikan dinamika perekonomian indonesia. Di luar sengkarut teoritasi yang coba dilesakkan dalam lembar buku yang awalnya adalah hasil penelitian Bagus Aryo di University of Melbourne, buku ini tetap penting dibaca. Pembaca disuguhi pandangan Micheal Foucault tentang gavermentality. Sehubungan dengan  neoliberalisme, Foucault cenderung menjumpai satu laku refleksi kritis pada kritik pemerintahan. Kritik ini berangkat dari kepenatan terhadap pemerintahan yang kelewat batas.

Dinamika Proses Politik Anggaran

Karya Aaron Wildavsky dan Naomi Caiden

Resensi ditulis oleh Hazwan Iskandar Jaya

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, 2 September 2012

Buku ini tidak mengupas anggaran di Indonesia. Akan tetapi Wildavsky, dalam buku ini mencoba memaknai anggaran dari prespektif institusi kunci, yaitu sesuatu yang lazim terjadi dalam proses anggaran Federal Amerika Serikat. Bagaimana politik anggaran memainkan perannya dalam mengusung kepentingan-kepentingan yang melingkupinya. Termasuk kepentingan para stakeholder pembangunan di berbagai sektor. Buku dengan judul asli The New Politics of the Budgetary Processi ini bercerita tentang perubahan dan kesinambungan, sentralisasi dan fragmentasi, Ideologi dan oportunisme, perpecahan dan kesepakatan.

HAM: Politik, Hukum, dan Kemunafikan Internasional

Karya Hamid Awaludin

Resensi ditulis oleh Hendra Sugiantoro

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, 2 September 2012

Buku ini dihadirkan sebagai upaya untuk mengajak  segenap pihak memahami dan memperjuangkan HAM. Penulis yang juga mantan MenhukHAM menjabarkan HAM dari sisi politik, hukum, bahkan sejarah. Penulis lewat buku ini juga menyoroti kemunafikan internasional yang justru mencederai HAM. Amerika Serikat dan negara-negara kuat seringkali berstandar ganda yang justru menjadi sandungan penegakan HAM.

5 Langkah Cepat Naik Haji

Karya Adi Abdillah

Resensi ditulis oleh Suwandi, MPd.

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, 2 September 2012

Dalam buku ini setidaknya ada 13 kisah nyata penuh hikmah si miskin yang mampu naik haji. Seperti kisah tukang becak, tukang parkir, pemilik warung yang naik haji. Naik haji tak harus kaya dan tak sesulit yang dibayangkan. Adi Abdillah berbagi pengalaman lima langkah cepat naik haji. Apa saja lima langkahnya? Pertama niat, kedua rajin menabung di bank, ketiga berdoa terus menerus, keempat visualisasi dalam arti mendekatkan sedekat-dekatnya dengan mengondisikan diri seolah impian itu akan menjadi nyata. Dan kelima jangan lupa sedekah. Buku ini cukup inspiratif, ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami. Sekalipun memaparkan kisahkisah sukses, namun tak terkesan menggurui.*

Kabar Resensi Pekan Kedua Agustus 2012

Booklovers, kami informasikan ihwal Resensi Buku atau hal-hal soal buku yang dimuat di sejumlah media cetak Pekan Kedua, Minggu 12 Agustus 2012. Kali ini kami hanya membeberkan Nama Koran, Penulis, Penerbit, Tahun Terbit, dan Peresensi. Ini adalah informasi versi twitter. Yang ingin mendapatkan klipingnya yang utuh, ada di ruang arsip perpustakaan Indonesia Buku.

1. KOMPAS | Chairul Tanjung si Anak Singkong by Tjahja Gunawan Diredja | @BukuKompas, 2012 | Peresensi @Rhenald_Kasali #resensibuku

2. KOMPAS | Jakarta dan Gelandangan: Studi Kasus Kegelandangan di Jakarta Timur by Mardian Wibowo | Kanisius, 2012 #InfoBuku @ayahkimi @kanisiusmedia

3. KOMPAS | We Are Anonymous by Parmy Olson | Little Brown and Company, 2012 #InfoBuku

4. JAWA POS | Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia by Richard Robison | @komunitasbambu, 2012 | Peresensi BernandoJS #resensibuku @_bje

5. KORANTEMPO | Wawancara Imajiner dgn Bung Karno by Chris Wibisono | @Gramedia, 2012 | Peresensi Riky Ferdianto #resensibuku cc @konsortis @kaisariky

6. MEDIAINDONESIA | Mukjizat Sholat & Doa by AgusSyafii | UfukPublishing 2012 | Peresensi Tim ObrolanPembaca MI #resensibuku @delakumi @ufukita

7. MEDIAINDONESIA | Business Owner Mentality by Hendrik Lim | @ElexMedia, 2012 #infobuku cc @delakumi @limhendrik

8. MEDIAINDONESIA | Hidup Sehat dengan Puasa by Winarno | Graha Ilmu, 2012 #infobuku cc @delakumi @Graha_Ilmu

9. MEDIAINDONESIA | Sekolah yang Menyenangkan by Anna Farida, Suhud Rois, Edi Ahmad | Nuansa, 2012 #infobuku cc @delakumi @annafaridaku @penerbitnuansa

10. MEDIAINDONESIA | Membuka Mata Tertutup by Khelmy K Pribadi | Maarif Institute, 2012 #infobuku cc @delakumi @helmypribadi @maarifinstitute

11. KEDAULATANRAKYAT | Jadi Penulis? Siapa Takut! by Alif Danya Munsyi | Kaifa, 2012 | Peresensi @NovalMaliki #resensibuku @penerbitmizan

12. KEDAULATANRAKYAT | Api Merapi: Meniti Garis Takdir by @Budi_Sardjono | Diva Press, 2012 | Peresensi M Rasyidi #resensibuku @divapress01

13. KEDAULATANRAKYAT | Dahsyatnya Kemauan by Aini Fauziyah | Zaman, 2012 | Peresensi Hendra Sugiantoro #resensibuku @sangpena

14. TRIBUNJOGJA | Wawancara Imajiner dgn Bung Karno by Chris Wibisono | @Gramedia 2012 | Peresensi @SigitWidya #resensibuku cc @tribunjogja

15. TRIBUNJOGJA | Lira Dewi Cahyaningrum Incar Buku NOAH dan Bacaan Ringan Lainnya #kisahbuku @SigitWidya @tribunjogja @WelcomeNOAH @deelestari

16. TRIBUNJOGJA | Asri Kartika Agusta Pilih Novel Luar #kisahbuku @SigitWidya @tribunjogja

Booklovers, demikian informasi buku pekan ini. Kliping #infobuku #resensibuku #ceritabuku ini diarsipkan di perpustakaan IBOEKOE @radiobuku.

Jurus Jitu Menulis Artikel Layak Jual

Buku berjudul “Menembus Koran, Cara Jitu Menulis Artikel Layak Jual” ini patut Anda baca, khususnya bagi para mahasiswa dan juga mereka yang ingin menekuni dunia kepenulisan. Buku ini terdiri dari delapan bab yang menjadi bahasan pokoknya. Bab pertama menjelaskan tentang alasan; kenapa kita harus menulis? Dalam bab ini dipaparkan, ada “tiga kejahatan utama” yang dilakukan oleh kaum yang mengaku dirinya intelektual, seperti mahasiswa, yaitu; tidak suka membaca, tidak senang berdiskusi dan tidak hobi menulis.

Kenapa “tidak suka membaca” disebut kejahatan intelektual? Ya, karena membaca adalah kunci pembuka tabir rahasia semesta. Lantas, mengapa mahasiswa yang “tak hobi menulis” juga dianggap melakukan kejahatan intelektual? Ada beragam alasan untuk menjawabnya. Di antaranya; karena menulis adalah sarana aktualisasi diri. Sebagai mahasiswa tentu dia memiliki wawasan lebih luas ketimbang mereka yang tak mampu mengenyam pendidikan tinggi. Nah, berbagi wawasan melalui karya tulis adalah salah satu sarana untuk menyebarkan informasi dan kebaikan, atau istilah dalam ajaran agama Islam; amar ma’ruf nahi munkar.

Bab kedua buku ini menjelaskan tentang manfaat menulis di berbagai media massa, termasuk manfaat yang bersifat pribadi dan umum. Manfaat pribadi di antaranya; seorang penulis akan memperoleh kepuasan batin karena gagasannya bisa dibaca oleh khalayak luas, memperoleh honor yang memadai, menjadi terkenal, pikiran terasa lebih jernih karena kegundahan hati yang dirasakan akhirnya bisa tercurahkan melalui sebuah tulisan dan lain sebagainya.

Bab ketiga mengulik tentang syarat-syarat artikel yang layak jual di media massa. Termasuk mengupas jenis tulisan apa saja yang berpeluang besar dimuat media, cara membuat tulisan, judul dan tema yang memikat hati redaktur serta pembacanya, dan lain-lain. Bab keempat menjelaskan langkah-langkah menulis artikel dan bagaimana cara mengawali sebuah tulisan, seperti membuat pre-writing terlebih dulu, baru kemudian writing, dan yang terakhir pos-writing.

Dan masih ada beberapa bab lain yang akan membantu memudahkan Anda yang ingin menekuni dunia kepenulisan dan kupasan cara-cara mengirim tulisan, jumlah minimal karakter sebuah tulisan, dan rubrik-rubrik apa saja yang bisa Anda tembus di berbagai media massa. Bahkan, nominal honor dari berbagai media pun dibahas tuntas dalam buku ini, dengan tujuan agar melecut semangat Anda dan diharapkan bisa memilih rubrik mana sekiranya yang ingin Anda tembusi terlebih dulu.

Selain itu, Bramma Aji Putra, penulis buku ini juga melampirkan beberapa tulisan yang sudah pernah dimuat di media massa sebagai tamsil dan perbandingan. Juga dilengkapi kutipan kata-kata motivasi dari para penulis senior yang akan membuat buku ini tidak hanya sekadar teori, tapi juga penuh dengan inspirasi. Seperti kutipan kata-kata yang pernah diucapkan oleh almarhum Zainal Arifin Thoha: jika Anda ingin mengerti dan dimengerti, menulislah. Jika Anda bukan anak seorang raja atau pembesar, menulislah. Jika Anda ingin menghormati dan dihormati, menulislah. Jika Anda ingin menghargai dan dihargai, menulislah. Jika Anda ingin dikenang dalam keabadian, menulislah.
***

Diresensi oleh: Sam Edy Yuswanto, penulis lepas dan penikmat buku, tinggal di Kebumen, Jateng.

Judul Buku    : Menembus Koran, Cara Jitu Menulis Artikel Layak Jual
Penulis          : Bramma Aji Putra
Penerbit        : Leutika, Yogyakarta
Cetakan        : II, 2011
Tebal             : xiv + 208 halaman
ISBN              : 978-602-8597-45-6

Panduan Juri Musik & Nyanyi | Adjie Esa Poetra | 2012

Panduan Juri Musik dan NyanyiJudul: Panduan Juri Musik & Nyanyi
Penulis: Adjie Esa Poetra
Editor: Faiz Manshur
Isi:136 hlm.
Penerbit: Nuansa Cendekia, 2012

Yang Perlu Diketahui Dari Kontes Nyanyi

Oleh Donny Anggoro*

Gemebyar pelbagai kontes nyanyi misalnya seperti ajang Indonesian Idol tentunya membuat dunia musik bergairah. Apalagi kini dibantu dengan sistem penilaian yang melibatkan partisipasi aktif penonton via SMS dan ditayangkan di televisi pada prime time makin mengukuhkan keberadaan acara kontes nyanyi sebagai momen penting untuk memunculkan talenta baru di dunia seni musik. Hadirnya acara tersebut menginspirasi lomba-lomba serupa di berbagai daerah. Walau demikian, sayangnya tak banyak yang mengetahui bagaimana konsep penjurian dengan benar sehingga sepertinya dengan mencomot pemusik atau penyanyi yang sudah tenar sebagai juri urusan sudah beres.

Padahal dalam ajang kontes nyanyi Indonesian Idol belakangan ini, misalnya, komentar para jurinya sempat menjadi kontroversi lantaran mengomentari hal-hal yang tak berkaitan dengan musik. Uniknya hal seperti itu walau tak patut seolah dibiarkan supaya acara tersebut terasa penting berbekal konsep jurnalistik televisi sekarang “bad news is a good news” yaitu semakin memancing reaksi, apapun hasilnya sehingga sepertinya tak penting lagi apakah acara tersebut punya etika, pokoknya heboh!

Hadirnya buku ini seolah memberi penerangan kembali kepada tata cara standar penjurian yang benar. Ditulis oleh Adjie Esa Poetra, guru vokal senior yang pernah melahirkan sederet penyanyi tenar seperti almarhum Nike Ardilla, Melly Goeslaw, Rossa dan banyak lagi, buku ini menjadi panduan praktis bagi kita yang ingin menyelenggarakan kontes musik dan nyanyi.

Buku ini dibuka dengan bab yang menerangkan perihal integritas juri dengan mengingatkan syarat baku juri adalah orang yang selain kompeten dan jujur tapi tak terlalu kukuh dengan selera pribadinya sehingga akurasi penilaian bisa dipertanggungjawabkan. Juri yang adil adalah senantiasa memfungsikan otak dan perasaaan secara seimbang saat menilai, karena bernyanyi dan bermusik adalah pekerjaan hati dan sambung rasa sebagai media mengkomunikasikan karya seni bunyi dengan perasaan.

Adjie juga memberi penjelasan bahwa boleh-boleh saja seorang pemusik/penyanyi rock diminta menjadi juri lomba keroncong misalnya asalkan ia sendiri punya toleransi tinggi dengan jenis musik lain di samping pengetahuan dan memiliki kepustakaan musik yang memadai. Karena yang harus dihindari sebagai juri adalah orang yang terlalu fanatik terhadap satu jenis musik tertentu. Sedangkan untuk juri awam (bukan orang musik, biasanya selebriti seperti bintang film) yang kerap ada dalam tiap kompetisi nyanyi bisa diperlukan asalkan ia memiliki referensi musik yang baik. Kehadirannya secara tak langsung dapat menetralisir sikap juri lain yang mungkin sekarang sudah terlalu “kuno”, namun untuk menjaga kredibilitas, posisinya sebaiknya sebagai minoritas dengan rasio 5:1. Ini penting untuk menghindari fenomena kebuntuan penilaian antara juri karena akan lancar jika para juri sama-sama punya sikap toleransi selain bekal referensi musik yang memadai.

Dalam buku ini Adjie juga menulis beberapa profesi lain yang diperlukan untuk juri musik profesional, karena selama ini yang kerap dikenal hanyalah dari kalangan musisi atau penyanyi saja. Diantaranya mereka adalah guru musik/vokal, sound engineering, dan wartawan musik. Ketiga profesi ini memang kurang tampak karena perannya “di balik layar”, tapi cukup penting. Misalnya guru musik/vokal punya kemampuan mampu merangkul orang dari berbagai jenis musik. Begitu juga sound engineering yang kerjaan teknisnya terlibat sebagai operator studio rekaman karena profesinya sangat memungkinkan mengapresiasi berbagai jenis musik. Wartawan musik yang sudah pasti mampu mengkritik musik secara obyektif juga bisa dilibatkan karena kepustakaan musiknya yang luas dan beragam tak hanya memahami satu jenis musik saja. Untuk hal terakhir ini Adjie mengingatkan sebaiknya harus wartawan musik, bukan wartawan bidang human interest karena nantinya hanya mampu menilai penampilan fisik kontestan.

Buku ini penting dan mampu mengingatkan kepada khalayak agar kembali pada cara membentuk kompetisi nyanyi/musik yang berkualitas, bukan hal-hal lain yang dimaksudkan untuk menaikkan rating misalnya menampilkan kehebohan komentar juri yang tak berhubungan dengan musik.*

Donny Anggoro, editor lepas salah satu penerbit di Bandung, anggota Lembaga Bhinneka di Surabaya

Kabar Resensi Pekan Keempat Juli 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa cetak di Indonesia. Kabar ini disusun Aya Hidayah dan dibacakan Ratih Fernandez

Dollhouse

Karya Kardashian

Resensi ditulis Larasati S Bunga

Dimuat MEDIA INDONESIA, 22 Juli 2012

Siapa yang tak kenal the Kardishian. Para penyandang nama itu kerap menjadi buah bibir dan bahan gosip terhangat di Amerika. Pembicaraan seputar Kardashian di dominasi kakak beradik Kardashian, Kourtney, Kim, dan Khloe. Cerita keseharian dan keluarga mereka saat terpuruk sampai kembali meraih kesuksesan dan kekayaan dituliskan gadis-gadis Kardashian dalam buku berjudul DollhouseI ini. Tak ada yang begitu spesial dari ketiganya. Kakak beradik Kardashian berprofesi sebagai model, wanita karier yang gemar berbisins, dan sosialita papan atas hollywood tentunya. Yang membuat ketiganya begitu disorot media yaitu gaya hidup mereka yang kontroversial dan melangkahi tabu.

Agama, Seksualitas, Kebudayaan; Esai Kuliah, dan Wawancara Terpilih Foucault

Penyunting  Jeremy R Carette

Resensi ditulis Fit  Yanuar

Dimuat KOMPAS, 22 Juli 2012

Di tangan tokoh-tokoh post -strukturalisme, makna-makna pun berguguran. Manusia dibuat tidak memercayai apa pun lagi. Semua realitas menjadi semu. Agama, moralitas-moralitas yang tersedia dalam masyarakat, mereka hancurkan. Dunia akademik abad  ke-19 sampai ke-20, khususnya ilmu-ilmu sosial, sangatlah kaya dengan berbagai pemikiran khasana pengetahuan. Berbagai cara pandang dan pemikiran muncul. Ada post-positivisme, femenologi, hermeneutika, strukturalisme, juga paradigma teori kritis. Belakangan, menghadanglah post-strukturalisme yang dilanjutkan post-modernisme. Salah satu tokohnya adalah Michel Foucault (1926-1984). Buku ini salah satu kompilasi berbagai tulisan, wawancara, dan materi perkuliahan yang pernah diberikan sepanjang hidup Foucault. Foucault berpendapat bahwa tak ada satu pun universalisme dalam filsafat, pun dalam dalam teori dan metodologi. Karena itu filsafat, dan teori hanya berlaku sangat efektif pada kelompok tertentu dan waktu tertentu.

The Mystery of Historical Jesus: Sang Mesias Menurut Al-Qur’an, Alkitab, dan Sumber-sumber Sejarah

Karya Louay Fatoohi

Resensi ditulis Riky Ferdianto

Dimuat KORAN TEMPO, 22 Juli 2012

Sang Mesias, Isa Almasih bagi umat Islam dan Yesus Kristus bagi umat Kristiani, tak pernah habis dibicarakan dan diperdebatkan. Kelahirannya, kehidupannya, kenabiannya, hingga kematian dan kebangkitannya terekam sebagai peristiwa luar biasa dalam berbagai manuskrip dan kitab suci. Sejumlah buku dan artikel sedianya telah banyak menguji kesejarahan Yesus menurut Injil. Semua itu bersumber pada teks-teks kanonik (teks-teks yang diakui gereja), naskah-naskah Yahudi, atau sumber-sumber historis lainnya. Namun tak banyak yang memotret dari pendekatan Al-Qur’an. Louay Fatoohi, dosen universitas Durham, Inggris, menulis buku yang meneliti jati diri Sang Maises. Louay berusaha mengisi kekosongan literatur tentang Yesus historis melalui perspektif  Al-Qur’an, sudut pandang yang kerap diabaikan para penulis di dunia Barat. Dari anunsiasi (pewartaan malaikat) akan kehamilan Maria Sang Perawan, kontroversi sosok suami bernama Yusuf, serta saudara lelaki dan perempuan Yesus yang tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an, hingga insiden penyaliban yang berujung pada perdebatan pentuhanan Yesus. Semua itu ia paparkan secara berimbang dengan mempertimbangkan perspektif Islam dan Kristen.

3600 Hari Mewujudkan Mimpi

Karya Fuad Ariyanto dan Juwita Hayyuning Prastiwi

Resensi ditulis Reza Akbar Felayati

Dimuat Jawa Pos, 22 Juli 2012

Hasan Aminuddin yang kiprahnya dituangkan dalam buku ini oleh Fuad Ariyanto dan Juwita Hayyuning termaksud pemimpin yang bertipikal unik selama dua periode di kursi bupati Probolinggo. menurut Fuad yang juga mantan Jawa Pos itu, keunikan Hasan terletak pada gaya kepemimpinannya yang pluralis dan egaliter dengan basis nilai-nilai santri khas tapal kuda yang kuat.

Ibuk

Karya Iwan Setyawan

Resensi ditulis Miftakhul F.S

Dimuat JAWA POS, 22 Juli 2012

Begitu mulianya kedudukan seorang bunda, Tuhan melukisnya dalam al-Quran bahwa surga berada di bawah telapak kakinya. Demi si buah hati, seorang ibu rela melakukan segala hal. Sering tanpa mengindahkan diri sendiri. Seperti itu pula Ngatinah. Perempuan di kaki Gunung Penderman yang dituturkan Iwan Setyawan dalam bukunya, Ibuk-pelafalan ibu oleh orang Jawa. Perempuan pemilik hati selembut embun yang menyegarkan. Perempuan pemilik tekad sekukuh Gunung Panderman.

Bunga Rampai Cerpen (Nyanyian kesetiaan)

Karya Miftah Fadhli, dkk

Resensi dirulis Sam Edy Yuswanto

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 22 Juli 2012

Buku ini berisi 34 cerita pendek pemenang Lomba Cerpen Nasional Tingkat Mahasiswa Se-Indonesia Tahun 2012 yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Obsesi STAIN Purwekerto. Cerita-cerita dalam buku ini berkisah tentang cerita berlatar budaya (adat) yang tersebar, di pelosok negeri ini. Sebut saja cerpen yang berjudul ‘Nyanyian Kesetiaan’ karya Miftah Fadhli yang menjadi juara pertama, berkisah tentang tradisi yang berlaku di Adonara Timur. Di sana pria wajib menyerahkan sejumlah belis (gading gajah) pada wanita yang ingin dinikahinya. Lazimnya, anak perempuan pertama dihargai 10 batang gading gajah mencapai 10 juta rupiah.

Cinta Membaca

Karya Puput Happy, dkk

Resensi ditulis Armawati

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 22 Juli 2012

Membaca adalah cara yang paling elegan mendapatkan untuk ilmu. Dengan membaca, kita akan menjadi kaya dengan wawasan pengetahuan. Kita dapat memetik pengalaman dan kisah-kisah manusia hebat dari membaca. Banyak inspirasi dan motivasi diperoleh dari membaca. Buku ini semacam kontribusi untuk menumbuhkan budaya membaca. Cerita yang tersaji dalam buku ini menyuguhkan bahwa mereka yang membaca mampu menjadi sosok yang berbeda.

Handbook Teori Sosial

Karya George Ritzer

Resensi ditulis Abdullah Hanif

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 22 Juli 2012

Sebuah diskursus menarik kembali diangkat dalam buku berjudul Handbook Teori Sosial. Sebagaimana judulnya, buku ini mengupas tentang teori-teori sosial. Mulai dari teori sosial klasik hingga teori-teori sosial modern. Disadari atau tidak, teori-teori sosial telah lahir dan tumbuh di masyarakat sekitar kita. Teori ini lahir dari diskursif ilmu sosial. Yaitu sebuah cabang keilmuan yang menjadikan masyarakat sebagai objek penelitiannya. Sehingga pakar politik tidak jarang mengagungkan posisi masyarakat.

Cara Mudah Belajar Filsafat (Islam & Barat)

Karya Fuiad Farid Ismaiil dan Abdul Hamid Mutawalli

Resensi ditulis Abdullah Hanif

Dimuat SUARA MERDEKA, 22 Juli 2012

Bagi sebagian orang, filsafat dan agama adalah dua hal yang saling berkonfrontasi. Opini ini berangkat dari asumsi bahwa filsafat mengedepankan sisi rasional-empirik dalam setiap kajiannya, sedang agama bersifat metafisistransendental. Filsafat ini dinilai sebagai faktor yang paling krusial merusak keimana seseorang. Oleh karenanya, tidak sedikit pihak yang mengharamkan bersinggungan dengan dunia filsafat. Tentu stigma ini menohok bidang kajian filsafat. Publik lupa bahwa tidak sedikit filsuf yang semakin kokoh keyakinan beragamanya. Fu’ad Farid Ismaiil dan Abdul Hamid Mutawalli merespons opini publik tersebut  melalui buku ini.

Real Masjid 2

Karya @Tronitrax, dkk

Resensi ditulis Sigit Widya

Dimuat TRIBUN JOGJA, 22 Juli 2012

Kata konsisten tampaknya kayak disematkan kepada Tony Hernanto atau @tonytrax. Sudah kali kedua ini ia memilih momen Ramadhan untuk menerbitkan buku. Sama dengan tahun lalu, pada awal Ramadhan ini ia menelurkan sekuel Real Masjid, komik strip religi dan pekerti. Real Masjid tetaplah Real Masjid, yang muncul karena ketimbangannya antara memilih melanjutkan menonton pertandingan Real Madrid atau pergi salat subuh ke masjid. Ya kira-kira seperti itulah keadaan komik sekuel ini. @tonytrax selalu rela bergadang demi menyaksikan pertandingan kesayangannya, Real Madrid, namun kemudian harus dihadapkan kepada kewajibannya yang lain, yakni menjalankan salat subuh. Menganggap keduanya penting, ia berpikir untuk menuliskan kisah tersebut lewat Real Majid, gabungan dari Real (Madrid) dan (Pergi ke) masjid.

Kabar Resensi Pekan Ketiga Juli 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa cetak di Indonesia. Kabar ini disusun Aya Hidayah dan dibacakan Ratih Fernandez

Swami Sri Sathya Sai Baba : Sebuah Tafsir

Karya Sai Das

Resensi ditulis T Nugroho Angkasa

Dimuat MEDIA INDONESIA, 15 Juli 2012

Buku swami Sri Sathya Sai Baba, sebuah tafsir yang semula berjudul Svami-Bhagavan Sri Sathya Sai Baba, sebuah tafsiran ini hampir 30 tahun lebih menghilang dari peredaran. Kemudian Ir Ni Luh Wayan Sukmawati menegtik ulang kopiannya sehingga bisa diterbitkan kembali. Buku ini terdiri dari delapan bab. Berisi tafsiran atas ajaran dan kehidupan Swami sathya Sai Baba. Antara lain, Swami sang Avataar, sang Penuntun, sang Pengasih, sang Pemersatu, sang Pelindung, sang Pengampun, sang Penyelamat, sang Pencegah, dan sang Sutradara.

Ulama & Kekuasaan: Pergumulan Elite Politik Muslim Dalam Sejarah Indonesia

Karya Jajat Burhanudin

Resensi ditulis Fajar Kurnianto

Dimuat KORAN TEMPO, 15 Juli 2012

Dalam sejarah Indonesia umumnya, dan khususnya sejarah Islam Indonesia, ulama memainkan peranan yang sangat penting. Bukan hanya menyebarkan Islam dan membangun sarana pendidikan untuk kaum pribumi, tapi juga dala merespons perubahan sosial di Nusantara. Baik itu ketika pada zaman kerajaan-kerajaan Islam, kolonial (Hindia Belanda), kemerdekaan, bahkan hingga zaman sekarang. Karya Jajat Burhanudin yang merupakan disertasinya di Universitas Leiden, Belanda, ini mencoba menelusuri peran ulama itu. Studi ini, seperti dikatakan Jajat, menekankan sejarah sosial dan intelektual, yang relatif terabaikan dalam studi tentang ulama Indonesia. Kajian ini dimaksudkan untuk memberi penjelasan historis tentang ulama kontemporer: revitalisasi dan reformulasi tradisi dalam rangka beradaptasi dengan tuntutan baru modernitas.

Dahlan Juga Manusia, Pengalaman Pribadi Mengenal Dahlan Iskan

Karya Siti Nasyiah

Resensi ditulis Anang Harris Himawan

Dimuat JAWA POS, 15 Juli 2012

Tak lazim! Itulah pandangan masyarakat terhadap sosok Dahlan Iskan, mantan CEO Jawa Pos dan direktur PLN. Itu disebabkan kebiasaan beliau yang tidak biasa sebagai pejabat negara. Buka tutup pintu tol, marah-marah, membanting kursi, tidur dirumah penduduk miskin. Gelimang fasilitas hampir tidak pernah beliau manfaatkan: mobil dinas yang sehari-hari  hanya ditempat parkir karena jarang beliau pakai, fasilitas komunikasi, rumah dinas, dan gaji yang tak pernah diambil, dan cara berpakaian yang tidak selayaknya para pejabat negara. Tingkah pola Dahlan yang seperti diatas bagi sejumlah kalangan dianggap janggal. Bagi yang berpikir negatif, bahkan hanya dianggap “pencitraan” di mata istana dan rakyat. Tapi bagi mereka yang pernah bersama-sama pria kelahiran Magetan itu, segala tindakan ayah dua anak tersebut bukanlah hal baru, bahkan sudah biasa. Kalau tidak seperti itu bukanlah Dahlan. Itulah sebagian yang terangkum dalam buku Dahlan Juga Manusia, karya Siti Nasyiah.

Hukum Islam dan Dinamika Perkembangan Masyarakat: Menguak Pergeseran Perilaku Kaum Santri

Karya Dr Pujiono

Resensi ditulis Abu Laka Sosl

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 15 Juli 2012

Kerapkali terjadi kesenjangan antara konsepsi hukum Islam dengan praktik hidup masyarakat. Para ahli hukum Islam menetapkan hukum normatif berdasarkan teks kitab suci dan atau nash. Tapi pada taraf implementatif pikiran maupun tindakan masyarakat tak mencerminkan ide hukum itu. Bahkan pada titik lain kecenderungan ‘menyimpang’ dari apa yang telah di kehendaki ulama tampak nyata dalam laku seharian mereka. Apa dan dimana letak kesalahan itu? Pertanyaan lebih spesifik, apakah produk asli kajian ahli hukum masih ada yang keliru? Ataukah produk hukum kadang bergeser dengan apa yang digagas ulama? Dan, apakah metodologi serta pendekatan  terhadap hukum Islam klasik masih kurang tepat sehingga hasil yang diperoleh tak kontekstual dengan situasi dan perkembangan zaman yang dinamis. Pertanyaan janggal itu berupaya dijawab dalam buku ini. Karya dr Pujiono menarik dan menggelitik pikiran.

A Cup of tea: Menggapai Mimpi (Kisah-Kisah Inspiratif Penyemangat)

Karya Herlina P Dewi dkk

Resensi ditulis Eka Siti Nurjanah

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 15 Juli 2012

bermimpi adalah hal yang bisa dilakukan oleh semua orang. Bermimpi ibarat memasuki lorong waktu, menyimpan misteri yang tak terbatas. Siapa yang optimis, dialah yang bisa mewujudkan mimpi-mimpinya. Namun sayangnya, tidak semua orang mapu menjadikannya nyata. Buku A Cup of Tea: menggapai Mimpi, akan mengantarkan kita untuk dapat menyelami seberapa besar dan kuatnya tekad para pejuang  untuk mewujudkan mimpi.

Karmaka Surjaudaja : Tidak Ada yang Tidak Bisa

Karya Dahlan Iskan

Resensi ditulis Hendra Sugiantoro

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 15 Juli 2012

Ditengah suasana rusuh pada tahun 1998 silam gedung Bank NISP di Jakarta tenyata tetap aman. Saat itu seluruh karyawan Bank NISP membuat pagar agar gedung tak rusak atau dijarah massa. Malah Bank NISP yang berlokasi di Bandung diserbu masyarakat untuk menyetor uang, padahal bank-bank lainnya mengalami penaikan dana dari nasabah. Loyalitas karyawan dan kepercayaan dari masyarakat terhadap Bank NISP tak datang seketika. Di balik eksistensi Bank itu ada sosok yang bernama Karmaka Surjaudaja. Dahlan Iskan dalam buku ini mencoba mengisahkan hidupnya.

Air Mata Tjitanduy: Sebuah Riwayat

Karya Bambang Setiaji

Resensi ditulis Irwan Kelana

Dimuat REPUBLIKA, 15 Juli 2012

Apa yang bisa kita bayangkan tentang Sungai  Citanduy pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20 silam? Mungkinkah airnya jernih dan tenang serta pemandangan indah kiri-kanannya yang hijau oleh pephonan. Namun, sesungguhnya Citanduy menyimpan riwayat memilukan tentang para petani yang tergerus kekuatan uang dan kekuasan. Bicara hal tersebut mau tidak mau kita harus menoleh kebelakang. Sejak 1860, sistem tanam paksa (cultuur stelsel) yang digalakkan oleh pemerintah penjajah Belanda akhirnya ditinggalkan karena menyebabkan kelaparan petani ditanah Jawa. Kebijakan itu berganti dengan sistem pertanian liberal yang memunculkan pengusaha-pengusaha swasta Belanda pada awal-awal abad ke-20. Namun pada praktiknya, para pengusaha perkebunan bersama para elite bangsawan daerah, raja-raja kecil, tetap mempertahankan cara tanam paksa yang menguntungkan mereka. Konflik inilah yang diangkat oleh Bambang Setiaji melalui novelnya.

Chairul Tandjung, si Anak Singkong

Karya Tjahja Gunawan Diredja

Resensi ditulis Mansata Indah Dwi Utari

Dimuat SUARA MERDEKA, 15 Juli 2012

Khalyak tentu sangat familiar dengan detikNews, Trans TV, Trans 7. Jutaan pasang mata hampir tiap hari mengaksesnya. Namun tidak ada yang mengetahui sosok di balik ketiga media massa raksasa tersebut. Bahkan ketiganya pun hampir tak pernah menurunkan berita tentang si empunya. Kecuali hanya sekelumit candaan Sule yang pernah menyinggung sosok tersebut . siapa sosok di balik ketiga media massa tersebut akhirnya terjawab setelah terbit buku Chairul Tandjung si Anak Singkong. Buku ini mengulas kisah perjalanan hidup tokoh yang akrab disapa CT itu. Buku yang ditulis oleh Wartawan Kompas Tjahja Gunawan Diredja merupakan kado ulang tahun yang ke-50 CT.

Revolusi Pedas Sang Presiden Maicih

Karya Reza Nurhilman

Resensi ditulis Sigit Widya

Dimuat TRIBUN JOGJA, 15 Juli 2012

Keripik singkong sering dianggap sebagai makanan tradisional yang tidak berkelas dan identik dengan orang kampung. Namun, di tangan Reza Nurhilman atau yang kerap disapa AXL, keripik singkong mampu dirubah menjadi sesuatu yang dicari-cari, bahkan sebagai simbol gaya hidup dan produk bergengsi yang sukses menembus pasar internasional.  AXL berpikir, dalam berbisnis, kekuatan modal sejatinya bukanlah kunci utama. Kreativitas, didukung totalitas dalam melakukan kinerja, juga wajib diperhatikan. Dari terobosan-terobosan yang dilakukannya, AXL mencapai keberhasilan. Dan kini, ia mencoba berbagi pengalaman kepada khalayak dengan menerbitkan buku berjudul Revolusi Pedas Sang Presiden Maicih.

Komik dalam Sudut Pandang Kebudayaan

Oleh Donny Anggoro*

Judul: Panji Tengkorak,Kebudayaan dalam Perbincangan
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Editor: Christina M.Udiani
Isi:xx+540 hlm.
Penerbit:Kepustakaan Populer Gramedia (KPG),2011

Sangat sedikit sekali buku kajian tentang komik lantaran komik di Indonesia umumnya masih dipandang sebagai bacaan anak-anak. Padahal lewat komik pun juga membuka pintu bagi studi kebudayaan, apalagi harus diakui komik juga “saudara” dalam wacana seni rupa. Beberapa budayawan yang menghargai komik sebagai hasil kebudayaan pun dapat dihitung dengan jari, diantaranya Arswendo Atmowiloto, Hikmat Darmawan, Agus Dermawan.T, JJ Rizal, dan tentunya penulis buku ini, Seno Gumira Ajidarma (SGA).  Beberapa sastrawan seperti Arswendo, SGA, dan Radhar Panca Dahana bahkan sempat menyampaikan beberapa karya tulisannya yang digubah menjadi komik di buku maupun di koran.

Buku kajian komik Indonesia pertama kali malah dibuat oleh peneliti asal Perancis, Marcel Bonneff pada 1973 yang juga berasal dari disertasi dan sudah pernah diterbitkan KPG pada 1998. Namun seiring dengan perkembangannya hingga kini pada abad XXI komik melahirkan beberapa pengamat yang cukup intens seperti Henry Ismono, saya, trio “Martabakers” (Hafiz Ahmad, Beny Maulana, & Alvanov Zpalanzani) dan Surjorimbo Suroto, siapa sangka sastrawan dan peminat komik SGA justru meraih gelar doktoralnya lewat kajian komik di Fakultas Seni & Budaya Universitas Indonesia.

Buku ini, Panji Tengkorak adalah disertasinya dan kini termasuk buku kajian terkini yang terbilang sangat komprehensif tentang komik Indonesia.   Sesuai judulnya, buku setebal 500 halaman lebih ini mengkaji secara teliti komik masterpiece Hans Jaladara,salah satu maestro komikus Indonesia yang masih hidup dan berkarya. Hans menciptakan komik silat Panji Tengkorak pada tahun 1968 dan kala itu karena populer juga punya cita rasa tersendiri namanya pun disejajarkan dengan maestro komik Indonesia lainnya, misalnya dengan Ganes Th pencipta Si Buta dari Gua Hantu dan Hasmi pencipta Gundala yang juga terbit pertama kali tahun 1968. Komik Panji Tengkorak agak mirip dengan Si Buta yaitu sama-sama menceritakan tokoh pembela kebenaran. Namun bedanya dalam Panji Tengkorak ada kisah romansanya dengan dua gadis cantik, Martiani dan Nesia. Kini untuk menikmati karya-karya terbaru Hans yang sedikit bergaya manga Anda dapat membaca majalah rohani Kristen untuk anak-anak “Kita” yang dipublikasikan divisi penerbitan lembaga Gereja Reformed Injili.

Buku ini mengkaji komik Panji Tengkorak dari berbagai sisi, tentunya dari kacamata teori komik yaitu teori komik Topffer,Gombrich,Eisner dan McCloud. Sedangkan dari teori kajian budaya SGA menuliskannya berdasarkan petimbangannya atas pembacaannya pada teori Foucault, Gramsci, Hall, dan Mulhern guna mempertimbangkan makna yang terungkap secara naratif.
SGA membagi pembacaan karya Panji Tengkorak berdasarkan 3 periode yang digambar Hans berubah-ubah, yaitu dari tahun 1968, 1985 dan 1996 secara kronologis. Uniknya pada gambar Panji Tengkorak 1996 gambarnya disesuaikan dengan selera pembaca saat itu (umumnya anak-anak yang kebanyakan penggemar komik Jepang) yaitu bergaya manga.

Sebelum menukik pada pembahasan tentang Panji Tengkorak, SGA mengawalinya dengan tulisan mengapa komik di Indonesia paling sedikit diperbincangkan sebagai suatu gejala kebudayaan walau komik pertama Indonesia sudah terbit sejak 1931, yaitu komik Put On karya Kho Wan Gie (Sopoiku) yang sempat diterbitkan ulang sebanyak 2 jilid pada 2010. SGA menyebutnya komik dengan tingkat popularitas tinggi dianggap menurunkan derajat intelektualitas, mengembangkan kemalasan membaca dan meliarkan khayalan sampai kekerasan juga pornografi merujuk pada tulisan Arswendo Atmowiloto dalam Seni Komik Indonesia (Pabrik Tulisan Yogyakarta,1980). Selain itu walau nyaris sepanjang tahun 1980-1990-an diskusi tentang komik sering digelar nyatanya hasilnya tak banyak berkembang dengan hanya membincangkan masa lalu kejayaan dan selalu mengeluhkan pelbagai hal yang menyebabkan keterpurukannya sehingga menurut SGA terjadi penanda kebuntuan dalam pengkajian komik.

Komik walau pernah diteliti hingga “merasuk ke tulang sumsum” oleh Bonneff ternyata menurut SGA belum pernah diperiksa dan dikaji dengan pendalaman atau pun pembongkaran radikal seraya memberi peluang pada perbincangan yang berkembang ke segala arah, mulai dari sebagai barang dagangan, karya seni, dan media komunikasi. Padahal jika memungkinkan perbinvangan yang dapat berkembang ke segala arah itu dapat memecahkan kebuntuan.

Sebenarnya perbincangan masalah komik yang di Amerika sendiri juga sangat populer bahkan berkembang menjadi ikon seni rupa baru dalam industri perbukuan macam Graphic Novels (Novel Grafis, merujuk istilah Will Eisner) karena men jadi bacaan dewasa pula akhirnya melahirkan “cap resmi” Comics Code Authority yang menetapkan aturan penerbitan komik selain juga menyensornya dengan maksud melindungi “racun” dari “wabah” komik. Lucunya di sana malah berkembang pula parodi cap resmi Comics Code Authority dari tulisan “Approved by The Comics Code Authority” menjadi “Approved by The Comics Code Anti Authority”  yang  memancing kreativitas pelanggarnya. Salah satu “hasil” komik dengan kode begini ini bisa disebut seri tak resmi komik Tintin yang beredar secara underground, yaitu Tintin in Thailand (yang berbau pornografi) dan Tintin in Iraq yang diberangus oleh Rockwell, suami kedua Fanny, janda Herge (Georges Remi) pencipta Tintin dari penerbit resmi Tintin.

Dalam penelian SGA komik Panji Tengkorak selain mengalami perubahan gaya menggambar, terdapat pula perubahan mencolok yang ditandai dari gambar adegan ciuman Panji Tengkorak 1985 yang dihilangkan sebagai peralihan dari bacaan dewasa pada 1996 karena pada 1996 komik ini diterbitkan sebagai bacaan anak-anak (hlm.97). Gambar tersebut akhirnya diganti dengan kata-kata suara orang berciuman. Selain itu perubahan ekspresi Panji dan Nesia, Panji tatkala membuang topeng tengkoraknya di hadapan Nesia, juga mengalami perubahan (hlm.101). Pada gambar tahun 1996 ekspresi mereka menjadi ke arah karikatural lantaran diterbitkan kembali menjadi bacaan anak-anak. Hal demikian menurut SGA mengacu pada kajian Scott McCloud di buku Understanding Comics (1993), prinsip komik sebenarnya adalah kartun, namun kartunnya tak harus berarti lucu, juga tak mengejar kerincian, melainkan menangkap dan mengungkap konsep karakter yang digambarkan (hlm.105).

Menariknya walau disertasi ini banyak mengambil teori dari berbagai tokoh pengamat komik, SGA juga merujuk pada pembacaan sastra, yaitu dari A.Teeuw. Yaitu fungsi efek komik, nilainya untuk pembaca tertentu tergantung relasi struktur dan cirri-cirinya serta anasir karya itu dengan horison (cakrawala) harapan pembacanya (hlm.107).

Buku ini cukup menarik untuk dimiliki tak hanya peminat komik saja melainkan peminat kebudayaan secara luas karena kehadirannya telah menemani satu dari peenlitian komik yang mumpuni setelah Bonneff, walau terpaksa gaya penulisan disertasi dalam buku ini dibiarkan oleh penerbit seperti aslinya, tak seperti buku Bonneff yang diolah menjadi bahasa populer oleh KPG.
Hadirnya buku ini tentunya memberi kesegaran baru dan sudut pandang lain (yaitu kebudayaan) pembaca dalam memandang komik walau dalam buku ini fokusnya adalah komik Panji Tengkorak. Pada bab-bab pertama penulis banyak membeberkan banyak hal mengapa kajian komik adalah penting yang tak bisa dianggap sepele karena dalam komik dapat terbaca pula kondisi sosiologis masyarakat Indonesia yang di berbagai periode berbeda-beda sesuai konteks zamannya. Membaca komik berarti membaca pula tanda-tanda zaman seperti membaca sejarah. Komik dapat dianggap sebagai salah satu pintu untuk membaca sejarah Indonesia yang pernah disebut peneliti komik HIkmat Darmawan sebagai “sastra gambar”.

Buku ini dalam industri perbukuan menemani wacana kritik komik Indonesia yang pernah ada seperti buku Marcel Bonneff (Komik Indonesia, 1998), Mohammad Natsir Setiawan (Menakar Panji Koming, 2002), Hikmat Darmawan (Dari Gatotkaca hingga Batman, 2005) dan trio Hafiz Ahmad, Beny Maulana, & Alvanov Zpalanzani (Histeria Komikita!, 2006).*

*) penulis adalah wartawan, anggota Lembaga Bhinneka di Surabaya.

*)OaseKompas, 9 Juli 2012

Kabar Resensi Pekan Kedua Juli 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa cetak di Indonesia. Kabar ini disusun Aya Hidayah dan dibacakan Ratih Fernandez

Ibuk

Karya Iwan Setyawan

Resensi ditulis  Akhmad Sekhu

Dimuat KORAN TEMPO, 8 Juli 2012

Novel ini menceritakan kilas balik kehidupan keluarga Iwan, penulis novel ini. Kisahnya tentang ibuk, sang ibu, yang mempunyai nama asli Ngatinah, yang tak sempat menyelesaikan sekolah dasar, membantu Mbok Pah, neneknya, berjualan baju bekas dipasar. Ditempat orang jual beli ini pun ia bertemu dengan dan jatuh cinta kepada Abdul Hasyim, sang Playboy pasar yang juga kernet angkot dan akrab dipanggil Sim. Singkat cerita Tinah dan Sim pun menikah. Mereka pun menikah. Mereka pun menjadi ibuk dan bapak dengan dikaruniai lima anak. Hidup yang semakin meriah juga penuh perjuangan. Angkot yang sering rusak, rumah mungil yang bocor, biaya pendidikan anak-anak yang besar, dan pernak-pernik permasalahan yang dihadapi ibuk dengan tabah. Air matanya membuat garis-garis hidup semakin indah. Banyak pesan yang disampaikan dalam novel ini. Meski hidup penuh keterbatasan, ibuk tetap bersemangat untuk terus menyekolahkan anak-anaknya.

Quo Vadis: Liberalisme Islam Indonesia

Karya Halid Alkaf

Resensi ditulis Wildani Hefni

Dimuat KOMPAS, 8 Juli 2012

Munculnya pelbagai wacana dan isu dalam perkembangan global menjadi titik mulai bagi pembaharu Islam Indonesia, khususnya dalam konteks pemikiran keagamaan. Mereka muncul dengan tekad menyesuaikan Islam dan arus globalisasi. Kehadiran globalisasi tidak boleh menggerus dan melenyapkan nila-nilai keagamaan dalam komunitas masyarakat. Namun,  kehadiran mereka sering dicerca dan ditampik, terutama berkenaan dengan aspek metodologi. Kaum pengkritik biasanya  mengatakan bahwa gerakan kaum progresif –liberal tidak memiliki metodelogi yang utuh dan kokoh. Dengan kata lain, gerakan ini miskin kajian fiqih. Buku dari hasil penelitian disertasi ini hadir dengan posisi obyektif dalam mengurai  dinamaika pemikiran Islam liberal Indonesia dari berbagai  prospektif, mulai dari sejarah, tipologi, metodo logi, analisis isu sampai agenda aksi. Halil Alkaf membuka imbas positif  pemikiran-pemikiran liberal, utamanya yang berkaitan dengan realitas masyarakat pluralistik. Salah satunya kemampuan  mengakomodasi pluralitas agama dan budaya, yang pada akhirnya mebangun hubugan yang sinergis antara agama dan pluralitas di masyarakat Indonesia.

I Love Monday: Mengubah Paradigma dalam Bekerja dan Bisnis

Karya Arvan Pradiansyah

Resensi ditulis J. Sumardianta

Dimuat JAWA POS, 8 Juli 2012

Mr. Lim, Pria Sepuh, bekerja sebagai tukang periksa engsel pintu hotel bintang lima di Singapura. Tugas utama Mr. Lim bukan sekedar mengurusi pintu. Dia menjaga dan memastikan keselamatan tamu hotel. Keselamatan tamu hotel manajer senior dan top manajemen. Mr Lim berusaha mengantisipasi kemungkinan paling buruk guna menghindarkan tamu dari bahaya. Jika terjadi kebakaran, ada engsel pintu macet, nyawa orang paling penting dipertaruhkan. Perusahaan bisa kehilangan decision market. Keluarga juga nestapa ditinggalkan orang yang dicintai. Mr Lim menjalani pekerjaan yang sepintas nyaris tanpa keistimewaan apa-apa itu dengan sungguh-sungguh, tekun, dan setia sepanjang hidupnya. Dia memiliki spirit nurturing love kelemahlembutan cintayang merawat pekerjaan. Kisah Mr Lim karyawan dengan hasrat kuat melayani itu, inspirasi konkret spirit I Love Monday. Buku terbaru Arvan Pradiyansyah ini menawarkan paradigma dan keyakinan baru dalam bekerja dan bisnis. Buku yang disusun berdasarkan pengalaman penulisnya menjadi konsultan dipelbagai perusahaan nasional maupun multinasional ini hendak mengubah paradigma pekerjaan: dari beban menjadi sumber kebahagiaan.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan