-->

Arsip Peristiwa Toggle

143 Buku Terjemahan untuk Frankfurt Book Fair 2015

JAKARTA — Sebanyak 70 buku yang akan dikirim ke pameran buku Frankfurt Book Fair pada 13-18 Oktober 2015 di Frankfurt, Jerman, saat ini masih diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman. Buku-buku berbagai tema itu melengkapi 73 buku yang telah selesai diterjemahkan. Namun, baru 39 penerjemahan buku yang sudah dibayar melalui subsidi pemerintah. (lebih…)

Delapan Tahun Apresiasi Sastra di Sewon Bantul

Agenda hari kedua gelaran #RamaikanSelatan dalam rangka 9 tahun Indonesia Buku adalah malam Apresiasi Sastra: Obrolan 10 Karya Sastra Dalam Semalam. Komunitas ini dibentuk delapan tahun yang lalu oleh pecinta sastra dari milis online dan kemudian memanfaatkan grup di Facebook. Apresiasi sastra kedelapan ini akan membahas sejumlah karya, yaitu: (lebih…)

Ramaikan Selatan : Indonesia Buku Rayakan Hari Jadi

Merayakan hari jadinya yang kesembilan sejak 21 April 2006, Yayasan Indonesia Buku – lebih dikenal dengan IBOEKOE – menghelat perayaan literasi bertajuk #RamaikanSelatan.

Berlangsung dua hari, 22 & 23 April 2015, kegiatan ini terutama sekali adalah rangkaian pengenalan – pada hari pertama – dahan-dahan baru Iboekoe berupa: Katalog Offline Warung Arsip, Dinding Massa, Studio Baru Radiobuku, dan Warung Kopi Bintang Mataram 1915. Disusul Apresiasi Sastra pada hari kedua; mendiskusikan 10 karya sastra dalam semalam.

(lebih…)

Indonesia Ikut Serta di London Book Fair

Portal berita daring detik.com, 14 April 2015 mengabarkan keikutsertaan Indonesia di pergelaran London Book Fair yang digelar 14-16 April 2015 di Olympia, kawasan Barat London.

Menempati stand 5B140, sekitar 223 judul buku dipamerkan di ajang bergengsi tersebut. Indonesia dijadwalkan tampil di sembilan acara dan mendatangkan tiga penulis serta lima pembicara. “London Book Fair juga menjadi tempat konferensi terbesar dunia untuk ‘Publishing for Digital Mind’,” ucap Feby Indirani perwakilan dari Komite Media dan Hubungan Luar. (lebih…)

15 Maret 2015 | Indonesia di Pameran Buku Leipzig, Jerman

Harian Kompas 12 April 2015 menurunkan laporan dari pameran buku Leipzig Book Fair 2015, Jerman, pertengahan Maret 2015. Dalam pameran itu dipentaskan petikan tari ronggeng yang dibawakan penari Ayun Anindita Setya Wulan bersama petembang Jawa, Wasi Bantolo. Tari itu adaptasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Lebur tumpur sumawur katrajang/ Bumi geter potar pater pateteran/ Bosah baseh hambalasah kasulayah/ Pindo ombak lembak lumimbaing jolonidi/ Bumi bengkah sumungah panasing kawah.” Itulah kalimat pembuka (sulukan) yang dilantukan seniman asal Solo, Jawa Tengah, Wasi Bantolo, dengan suara keras, bergelombang. Getaran suaranya mengesankan makna tembang yang memang mengisahkan dunia yang tengah dilanda kekacauan.

Puluhan penonton masih terdiam. Mereka berdiri mengerubungi panggung mungil di gerai Indonesia. Meski mulai merasakan pendaran gelombang nada sulukan, mereka tidak memahami artinya. Apalagi, cuaca di kota bekas Jerman Timur di ujung musim dingin pagi itu masih sekitar 10 derajat celsius. Suasana agak cair ketika Ayun Anindita Setya Wulan, penari asal Purwodadi, Jawa Tengah, mulai menari. Dengan rambut disanggul, mengenakan kemben dan kain jarit serta bertelanjang kaki, perempuan langsing itu menggoyangkan tubuhnya dengan lincah. Sambil melempar-lempar selendang hijau terang, sesekali dia putar pelan pinggulnya. Mirip gerakan tari ronggeng di Banyumas, Jawa Tengah, sebagaimana digambarkan Ahmad Tohari dalam novelnya, Ronggeng Dukuh Paruk (pertama terbit pada 1982). Tarian itu memang menjadi petikan kecil dari karya sastra yang mengisahkan seorang penari ronggeng bernama Srintil.

Tak lama Ayun menari, tetapi panggung itu berangsur hangat. Puluhan warga Jerman, juga sejumlah warga Indonesia, yang hadir mulai bergairah. Terlebih, dengan dipandu aktor senior Slamet Rahardjo, pengunjung diajak menonton cuplikan film Sang Penari besutan sutradara Ifa Isfansyah yang diadaptasi dari novel Tohari. Slamet sendiri bermain sebagai seorang dukun dalam film produksi 2011 itu.

Lalu, Ahmad Tohari, yang terbang sekitar 15 jam dari Jakarta, dihadirkan di panggung. Ditemani dua penerjemah bahasa Jerman, sastrawan itu mengisahkan makna di balik kisah ronggeng yang berujung tragis akibat tersangkut dampak Peristiwa 1965 itu. “Peristiwa 1965 adalah tragedi besar di Indonesia. Saya bersaksi telah terjadi hal buruk. Itu harus ditulis agar tidak terjadi lagi pada masa depan,” katanya.

Penampilan di Leipzig Book Fair 2015 adalah semacam pemanasan dari rencana Indonesia untuk tampil sebagai tamu kehormatan dalam Frankfurt Book Fair di Frankfurt, Jerman, Oktober 2015. Bagi publik setempat, Leipzig lebih dikenal sebagai ruang pertemuan antara pembaca dan penulis, sementara Frankfurt lekat dengan kegiatan industri perbukuan. Selain memajang buku, gerai-gerai dari sejumlah negara di dunia pada ajang di Leipzig itu juga menggelar beragam acara temu penulis, diskusi, ulas buku, atau pembacaan sastra.

Inilah Kliping Berita Saut Situmorang Ditangkap Polisi!

YOGYAKARTA — Sastrawan Saut Situmorang dijemput paksa anggota Polres Jakarta Timur di kediamannya di Jalan Danunegaran Mantrijeron, Yogyakarta, Kamis, 26 Maret 2015.

Seharian kerabat sastrawan dan pegiat seni di Yogyakarta memberikan dukungan semangat kepada Saut sebelum diangkut ke Jakarta menggunakan keretaapi malam. (lebih…)

Bincang-Bincang Sastra edisi 114: MAHATMANTO, PELOPOR PENYAIR YOGYA

Studio Pertunjukan Sastra (SPS) Yogyakarta bekerjasama dengan Taman Budaya Yogyakarta dan Radio Buku, di bulan ketiga tahun 2015 ini akan menggelar Bincang-Bincang Sastra (BBS) edisi 114, dengan acara “Menilik Pelopor Penyair Yogya, Mahatmanto” pada Sabtu, 28 Maret 2015 di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta pukul 20.00 WIB. Dalam acara ini akan hadir Enes Pribadi dan R. Toto Sugiharto sebagai pembicara dengan moderator Hayu Avang Dharmawan. Akan ada pula pertunjukan baca puisi karya-karya Mahatmanto oleh para penyair dan aktivis sastra Kulon Progo, seperti Marjuddin Suaeb, Papi Sadewa, Marwanto, Sumarno, Imam Syafei, Bardal Dersonolo Dewi, Samsul Ma’arif, Hendri S., Diana Trisnawati, Aris Zurkhasanah, & Chahyo Edi Pramono. (lebih…)

Peluncuran Puisi Radhar Panca Dahana

Radhar Panca Dahana mengangkat persoalan istana lewat pendekatan puisi alegoris. Ia menjadi saksi lewat 31 puisi berbau politik yang termaktub dalam Manusia Istana`Aku biarkan pasukan berlaksa itu/ menyorongkan ujung tombaknya/ matahari kering// tapi mata maharani basa/ hari itu maharaja mati…//’ (Lidah Tak Bertakhta) (lebih…)

Di Panyengat Kepulauan Riau, Kultur Menulis Memudar

Budaya menulis di Penyengat dulunya tidak hanya dilakukan kalangan bangsawan atau intelektual, tapi juga rakyat biasa. Hera Khaerani dari Harian Media Indonesia Minggu, 8 Maret 2015 menurunkan laporan satu halaman “Tradisi Menulis Kian Pudar”. (lebih…)

Ahok: “Buat Apa Buku Trilogi Rp 30 M? Bikin Film Aja Sekalian”

JAKARTA – Terdapat anggaran untuk pembuatan buku Trilogi Ahok senilai Rp 30 miliar dalam APBD DKI Jakarta 2015. Hal ini cukup membuat kaget Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Menurut dia, anggaran sebesar itu sangat mengada-ngada. (lebih…)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan