-->

Arsip Peristiwa Toggle

Di Blora, Ada Perpus Keluarga Pramoedya Ananta Toer

BLORA – Pengunjung perpustakaan Pramodya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Pataba) di Blora, Jawa Tengah, tidak hanya lokal, tapi juga dari mancanegara yang ingin membaca dan studi literatur. “Pengunjungnya rata-rata sekitar 100 orang per bulannya, sejak perpustakaan didirikan, setelah Pramodya Ananta Toer meninggal pada 2006,” kata Soesilo Toer, 75, adik Pramoedya Ananta Toer di lokasi perpustakaan, Minggu (9/12), sebagaimana dikutip daring Media Indonesia 10 Desember 2012. (lebih…)

Mulai Hari Ini, Wartawan Wajib Isi Buku Tamu di Gubernuran

JAKARTA – Kebijakan yang dirasa cukup aneh bagi kalangan media diterapkan oleh Pemprov DKI hari ini. Wartawan yang bertugas meliput di Balai Kota diwajibkan mengisi buku tamu.

Hal ini jelas kontras sekali saat masa pemerintahan gubernur DKI Sutiyoso dan Fauzi Bowo dimana wartawan yang bertugas di Balai Kota bebas keluar masuk ruang Balairung, baik itu untuk mengejar pejabat yang keluar ruangan atau menunggu pernyataan dari gubernur maupun wakil gubernur.

Seorang pamdal di Balai Kota meminta wartawan untuk mengisi buku tamu dengan menulis nama media, jam kunjungan, maksud kedatangan, dan tanda tangan. “Tanya ke Biro Umum, kami hanya jalankan perintah saja. Kalau enggak, nanti kena marah,” ujar Pamdal tersebut saat ditanya soal kebijakan baru ini, Rabu (14/11/2012).

Aturan baru ini bagi wartawan tentunya cukup merepotkan. Terlebih dengan kebiasaan gubernur DKI Jokowi yang cukup tinggi mobilitasnya. Jika setiap masuk harus mengisi buku tamu, akan menyulitkan kerja para wartawan dalam menginformasikan kebijakan-kebijakan Pemprov DKI kepada masyarakat.

*)Tribunnews, 14 November 2012

Buku Erotis di Indonesia

21 Oktober 2012, Merdeka.com menurunkan serangkaian tulisan bertagar #novelerotis. Liputan ini mengulas rangkaian buku-buku beraroma erotis yang pernah ada di Indonesia dan menjadi fenomena. Berikut ini i:boekoe menyalin dan mengklipingnya. (lebih…)

Seno Gumira Ajidarma Bukan Plagiat

Oleh: Edi Sembiring

Orang meributkan Dodolitdodolitdodolibret -nya Seno Gumira Ajidarma adalah hasil memplagiat cerpen Leo Tolstoy yang berjudul Tiga Pertapa. Sebaiknya jangan secepat itu menuduhnya, karena justru baik Tolstoy maupun SGA menuliskan cerpennya terinspirasi pada kisah Yesus yang mengajarkan doa Bapa Kami dan melarang untuk bertele-tele dalam berdoa (Injil Matius 6: 7 – 8. : Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.)

Selanjutnya Tolstoy dan SGA serta lainnya, juga terinspirasi dari kisah Yesus berjalan di atas air, dan bagaimana Petrus yang mencoba mendekatiNya hampir tenggelam (Matius 14 :30-31 : Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”)

SGA dan Tolstoy menceritakan ulang kisah ini dalam konteks kekinian, dan hal ini adalah hal baik dalam pencerahan pada jamannya. Namun ada perbedaan bangunan cerita, lihat saja :

  1. Tolstoy berkisah diawal tentang Uskup dan para peziarah yang berlayar. Uskup menuju Biara sementara para peziarah menuju tempat suci.  Bedakan dengan SGA yang  memulainya dari daratan saja dan berfokus pada Guru Kiplik.
  2. Tolstoy sejak awal tak ada menyebut-nyebut tentang bagaimana doa yang benar dan tak ada menyampaikan misi sang Uskup untuk menyebarkan doa yang benar itu. Tolstoy hingga beberapa halaman hanya bercerita tentang kejadian selama mereka di kapal, hanya di halaman kedelapan baru ada ungkapan tentang doa yang benar. Sementara SGA dari awal memperjelas tentang apa itu doa yang benar. Karena doa yang kata-katanya salah tak akan sampai.
  3. Uskup dalam kisah cerpen Tolstoy sudah meyakini bahwa Yesus bisa berjalan di atas air (karena imannya yang berbicara). Bedahal dengan Guru Kiplik dalam cerpen SGA, yang menganggap kisah orang yang mampu berjalan di atas air karena doa yang benar itu hanyalah dongeng semata.
  4. Doa yang baik dan benar yang diajarkan sang Uskup dalam kisah Tolstoy adalah Doa Bapa Kami yaitu Doa yang diajarkan Yesus. Ini adalah doa sederhana. Doa ini berkesan karena Doa ini diajarkan langsung oleh Yesus, sama halnya dengan Uskup yang mengajarkan Doa Bapa Kami itu (kelak ketiga pertapa itu akan merasa kehilangan berat atas kepergiannya). Sementara SGA tak ada menyebut spesifik isi doa, hanya menyebut dalam berdoa selain pemilihan kata yang tepat, perlu juga dipertimbangkan gerakannya yang harus tepat, dan waktunya terukur, selain tentu saja perhatiannya terpusat. SGA disini hanya berkutat pada cara dan kehati-hatian memilih kata.
  5. Lalu sampailah kebagian ujung cerita. Dalam Tolstoy, sang Uskup dan para peziarah akhirnya melanjutkan perjalanan. Sang Uskup bersyukur karena dikirim Tuhan untuk bisa mengajari dan membantu orang-orang sebaik pertapa itu. Sementara dalam cerpen SGA, Guru Kiplik merasa bersyukur telah berhasil mengajarkan mereka doa yang benar. Uskup merasa itu semua rencana Tuhan, sementara Guru Kiplik bangga atas kerja kerasnya sendiri.
  6. Ada bayangan berkelebat datang, berlari di atas air. Tolstoy menyebutkan ketiga Pertapa itu mulutnya selalu ingin menghapal doa. Itu sebabnya mereka cepat lupa akan doa itu dan mereka meminta “wujud Yesus” untuk terus hadir sebagai pendamping jemaat. Namun sang Uskup meminta mereka pulang dan tak perlu lagi diajarkan berdoa, karena iman merekalah yang telah berdoa, walau lidah lupa berucap. Sang Uskup meminta agar ketiga pertapa mendoakan sang Uskup dan Peziarah. Sementara dalam cerpen SGA, Guru Kiplik akhirnya tersadar, bahwa kesembilan orang itu lebih benar dalam berdoa hingga mereka bisa berjalan di atas air. Dan apa yang dibilang dongeng adalah kenyataan, bahwa orang yang berdoa benar mampu berjalan di atas air.

Saya menyimpulkan, ada perbedaan sangat mendasar:

  1. Uskup dalam cerpen Tolstoy meyakini bahwa orang beriman bisa berjalan di atas air. Hingga diakhir cerita sang Uskup malah meminta agar pertapa mendoakan sang Uskup dan para peziarah yang masih berdosa.
  2. Sementara Guru Kiplik justru menganggap kisah oleh doa yang benar maka bisa berjalan di atas air adalah dongeng semata. Tapi akhirnya Guru Kiplik bertobat dan meyakini itu.

Terlalu terburu-buru menyebut SGA plagiator karena diakhir ceritapun SGA memberi catatan kaki bahwa ini hanyalah versi penulis atas berbagai cerita serupa, dengan latar belakang berbagai agama di muka bumi.

SGA tak menjiplak Tolystoy karena cerita dan sudut pandang awalnya berbeda. Hanya saja di akhir kisah mereka menjadi seperti sama. Tolstoy dan SGA serta penulis lainnya bercermin pada ajaran dan kisah Yesus, lalu dikembangkan dalam kisah kekinian. Tolstoy bercerita perjalanan kapal pada jamannya, sementara SGA berkisah pada kegelisahan Guru Kiplik atas salahnya orang-orang berdoa hingga dirasa ia perlu pergi berkeliling.

Namun, kalaupun sama di akhir cerita, itu tak masalah, karena sejujurnya mereka memang ingin bercerita tentang Anak Manusia yang bisa berjalan di air karena imannya, mereka adalah Yesus beserta muridNya. Ini semua kisah yang memang perlu berkali-kali dituliskan dalam judul-judul cerpen atau kotbah yang berbeda-beda. Masih dibutuhkan puluhan atau malah ribuan kisah sama sepanjang jaman untuk mengingatkan kita pada KEDAHSYATAN atau KEKUATAN DOA oleh karena Iman.

Suatu kali Yesus mengatakan: ”Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, … ” (Matius 17:20)

Benih sesawi adalah yang paling kecil dari semua benih yang lain. Sebutir benih yang sangat kecil yang ditanam di ladang dan menjadi sebuah pohon. Ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya. Begitu pula mantra kanak-kanak berjudul Dodolitdodolitdodolibret, telah terpilih menjadi pemenang Cerpen Terbaik Kompas 2010.

Mantra kanak-kanak yang tidak kekanakan. Mantra yang membuat Guru Kiplik akhirnya bertobat dan tak menganggapnya dongeng lagi. Karena iman itu tak bisa dilogikakan. SGA sedang melakukan “pemberontakan” kecil pada agama-agama yang sesungguhnya sedang sibuk “mendongeng” saja. SGA sedang menguggat KLAIM-KLAIM KEBENARAN pemuka agama yang ‘mabuk’ anggur surga buatannya dalam bahtera kapal yang terombang-ambing pada godaan nafsu dunia dan nafsu kuasa politik. Kelak yang selamat, hanya mereka yang mampu “berjalan di atas air.”

Sumber: http://fiksi.kompasiana.com/prosa, diposkan 30 Juni 2011. Judul asli:  “Mantra Dodolitdodolitdodolibret-nya Seno Gumira Ajidarma Bukan Plagiat”

Pemerintah California Galakkan Program Buku Online

CALIFORNIA — Bulan Juni silam, Gubernur California Arnold Shwarzenegger mengumumkan akan menghapus penggunaan buku teks sekolah secara bertahap dan menggantinya dengan materi pelajaran dari sumber online. Rencana itu mulai diwujudkan bulan ini, seperti dikutip situs daring techno.okezone.com 12 Agustus 2009. (lebih…)

Akankah E-Book Menggeser Buku Cetak

Harian Kompas edisi 11 Februari 2008 menurunkan dua laporan tentang posisi buku elektronik (e-book) dalam isu perbukuan kiwari. Dua laporan yang ditulis Palupi Panca Astuti ini mendedah kemungkinan-kemungkinan baru datangnya medium baru dari generasi digital. Dunia sedang berlari. Dan kita akankah hanya melihat dan tak bertindak apa-apa? Artikel “Akankah Menggeser Buku Cetak?” dan “Menyiasati Minat Baca dengan Buku-E” menyusuri beberapa kecenderungan pandangan. Dan juga sikap. (lebih…)

Terbakar, Pasar Loak Buku Palasari Bandung

BANDUNG — Para pedagang buku merugi miliaran rupiah menyusul kebakaran yang melumat 63 dari 200 kios di Pasar Palasari, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (24/8) dini hari. Menurut Ayi (28), saksi mata kebakaran Pasar Palasari, api sudah menghanguskan sebuah kios sekitar pukul 04.00 WIB. Api terus menjalar ke gerai lainnya. (lebih…)

Sebelum Ralat, Buku Dibakar

Kejaksaan terus merazia buku sejarah yang tidak mencantumkan keterlibatan Partai Komunis Indonesia dalam Gerakan 30 September dan peristiwa Madiun. Warta itu tentu saja membuat Tarmono masygul. Dari seorang rekannya di Depok, ia mendengar ribuan buku itu menjadi abu dilahap api. (lebih…)

Ratusan Buku Mendeskreditkan Dien Syamsudin Dibakar

Malang: Peserta Muktamar Muhammadiyah ke 45 dari Sulawesi Selatan membakar lebih dari 100 buku berjudul “Dien Syamsudin Sang Ambisius Penghancur Muhammadiyah” di Kampus III Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, Sabtu (2/7). (lebih…)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan