-->

Arsip Literasi dari Sewon Toggle

Katalog Online IBOEKOE (2003-2011)

2010 10 21_Buku_Menyusun Kamar Koran, Indrian Koto2Katalog Terbitan Online ini merupakan rangkuman dari katalog yang terdapat di situs utama Indonesia Buku. Katalog ini meliputi penerbit-penerbit yang menjadi “Keluarga Besar” Indonesia Buku, seperti IBOEKOE, Gelaranibuku, dbuku, Nagara, Merakesumba, dan ScriPtaManent.

Ngeteh di Patehan: Kisah Beranda Belakang Keraton Yogyakarta

Faiz Ahsoul, dkk | 2011 | 522 hlm | 10.5 × 16.5 cm | Hard Cover | LIMITED EDITION | Rp 100.000

Cerita kehidupan Keraton Yogyakarta sudah banyak dituliskan dalam pelbagai judul buku. Tapi tidak kisah di beranda belakangnya. Khususnya hayat hidup masyarakat di Kelurahan Patehan yang terdiri dari Ngadisuryan, Taman, Nagan, dan Patehan. Proses penulisan buku ini adalah kolaborasi yang melibatkan remaja-remaja Patehan dengan melibatkan sekira 80 narasumber yang seluruhnya warga sendiri dalam sekuen waktu 6 bulan. Dilihat dari prosesnya, buku ini pastilah buku sejarah lokal yang dihimpun dan dituturkan oleh warganya sendiri. Sebuah pencatatan dari dalam. KLIK SELENGKAPNYA

Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009

Taufik Rahzen, dkk | Gelaran Budaya, Gelaran Ibuku | 2009 | 872 hlm | PAPER BACK | Rp 150.000,-

Buku ini adalah semacam ”buku pintar” seni rupa yang bisa dipegang oleh seluruh komponen yang berkepentingan dengan dunia seni rupa, terutama di Yogyakarta selama sepuluh tahun terakhir. Sebuah kota yang secara statistik, memiliki puluhan ribu seniman dengan aktivitas seni yang kaya. KLIK SELENGKAPNYA

Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan

An. Ismanto, dkk | 2009 | 1001 hlm | 15 x 24 cm | Hard Cover | LIMITED EDITION | Rp 400.000

Buku ini tidak bermaksud mengajukan suatu daftar ”buku-buku terbaik” ataupun ”buku-buku terpenting”. Tujuan utama buku ini adalah untuk menemui buku-buku karya sastra yang punya pengaruh besar dalam membangun pilar-pilar utama Pax Literaria Indonesia. KLIK SELENGKAPNYA

Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik Buku

Diana AV Sasa, Muhidin M Dahlan | 668 hlm | 15 x 24 cm | Hard Cover | LIMITED EDITION | Rp 200.000

Buku ini menyusuri secara bebas dunia buku meliputi enam bagian terbesar: kisah-kisahnya yang kaya, perpustakaan sebagai rumahnya, musuh-musuh abadi buku dan skandal yang menyertainya, bumbu bagaimana menulis buku, film-film yang mengambil latar dunia buku, revolusi medium buku, dan juga tokoh-tokoh yang menggilainya. KLIK SELENGKAPNYA

Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965

Muhidin M Dahlan, Rhoma Dwi Aria Yuliantri | Merakesumba | 584 hlm | 15 x 24 cm | Hard Cover | LIMITED EDITION | Rp 200.000

Buku ini merupakan ”buku putih” yang menjelaskan ”apa adanya” kerja-kerja kreatif yang dihasilkan oleh para pekerja kebudayaan Lekra dengan seluruh aliansi ideologisnya, termasuk dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Buku ini mencakup liputan menyeluruh yang diriset dari sekira 15 ribu artikel (ketoprak, wayang, ludruk, reog), seni tari, seni rupa, musik, film, sastra, buku, dan sikap-sikap kebudayaan secara umum. KLIK SELENGKAPNYA

Laporan dari Bawah: Sehimpun Cerita Pendek Lekra Harian Rakjat 1950-1965

Muhidin M Dahlan, Rhoma Dwi Aria Yuliantri | Merakesumba | 558 hlm | 15 x 24 cm | Hard Cover | LIMITED EDITION | Rp 200.000

Buku ini merekam geliat cerita pendek yang ditulis oleh eksponen budaya Lekra (sastra) untuk memberitahu bagaimana gaya realisme sosialis ”ditemukan”, ”diadaptasi”, dan ”dipraktikkan” di lapangan kesusastraan Indonesia. KLIK SELENGKAPNYA

Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra Harian Rakjat (1950-1965)

Muhidin M Dahlan, Rhoma Dwi Aria Yuliantri | Merakesumba | 966 hlm | 15 x 24 cm | Hard Cover | LIMITED EDITION | Rp 300.000

Himpunan puisi ini merupakan ikhtiar mengumpulkan sekira 450 puisi dari 111 penyair Lekra yang nama dan puisinya terekam di lembar kebudayaan Harian Rakjat sepanjang 15 tahun (1950-1965). KLIK SELENGKAPNYA

Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia

Taufik Rahzen, dkk | 2007 | 456 hlm | Paper Back | Cetak Massal | Rp 75.000

Tokoh-tokoh yang terhimpun dalam buku ini menunjuk pada semangat jalan pers kita dan upaya para pengelolanya yang bekerja sepenuh jiwa dalam mengartikulasikan dan memberi sumbangan kepada bahasa Indonesia dan tanah air dalam upaya membangun citra untuk apa dan dalam posisi apa nasionalisme dibangun dari kurun ke kurun. Ini adalah rekam jejak upaya-upaya manusia Indonesia, dalam hal ini mereka yang berada di jalur pers dan jurnalisme. Mereka ingin membangun, memelihara, memberi citra, menaklukkan, sekaligus memberi penghuni pada bahasa Indonesia. KLIK SELENGKAPNYA

Seabad Pers Perempuan: Bahasa Ibu Bahasa Bangsa

Hajar Nur Setyowati, dkk | 406 hlm | 15 x 24 cm | Hard Cover | LIMITED EDITION | Rp 300.000

Buku ini adalah dokumentasi seabad perjalanan pers perempuan di Indonesia. Tarikh ini dihitung dari lahirnya Poetri Hindia yang terbit pertama kali pada 1 Juli 1908. Sebagai wujud dari keterlibatan semua momentum itu, buku ini dikerjakan segelintir perempuan muda dengan cara didaktik dan kronikal, merekam biografi pers-pers perempuan Indonesia dari masa ke masa (1908 – 2008); dari pelbagai daerah, pelbagai organisasi, dan dari pelbagai bahasa (Indonesia, Jawa, Sunda, Melayu, Arab, dan Belanda) yang mewarnai perjalanan sejarah pers Indonesia. KLIK SELENGKAPNYA

Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007): Bahasa Bangsa, Tanah Air Bahasa

Taufik Rahzen, dkk | 2008 | 1184 hlm | Edisi Hitam Putih | 15 × 24 cm | Hard Cover | Limited Edition | Rp 625.000,-

Sebagai sebuah perayaan tradisi pers Indonesia, buku ini menuliskan kembali 365 mini-biografi pers Indonesia. Bukan hanya cetak, tapi juga elektronik, bahkan tradisi pers di internet. Diriset dari pers yang terbit di hampir seluruh daerah, pelbagai bahasa (Indonesia, Jawa, Sunda, Belanda), dan seluruh kurun (1907-2007—bahkan sampai merentang lebih jauh pada 1744). KLIK SELENGKAPNYA

Karya-karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo

Iswara N Raditya, Muhidin M Dahlan | 2008 | 1060 hlm | 15 x 24 cm | Hard Cover | Limited Edition | Rp 400.000

Berpengharapan melanjutkan tradisi Pramoedya Ananta Toer, buku ini mencoba menggali lebih dalam tentang Sang Pemula itu; lebih khusus menggelar karya-karya yang pernah ditulis Tirto Adhi Soerjo, dinukil langsung dari suratkabarnya: Pembrita Betawi, Soenda Berita, Medan Prijaji, Soeloeh Keadilan, serta Potri Hindia. KLIK SELENGKAPNYA

Karya-karya Lengkap Marco Kartodikromo

Agung Dwi Hartanto | 2008 | 688 hlm | 15 x 24 cm | Hard Cover | LIMITED EDITION | Rp 300.000

Buku ini mengupas sosok seorang Marco berikut karya-karyanya. Pendiri organisasi wartawan pertama, Indlandsch Jounalistn Bond (IJB) di Surakarta ini tercatat pernah mengawaki antara lain Medan Prijaji, Doenia Bergerak, Sinar Djawa, Sinar Hindia, Medan Muslimin, dan Hidoep. KLIK SELENGKAPNYA

Kronik Kebangkitan Indonesia 1913-1917

Taufik Rahzen, dkk | 2009 | 820 halaman | Hard Cover | LIMITED EDITION | Rp 650.000,-

Buku ini adalah buku jilid kedua dari 21 jilid. Dihadirkan dalam kerangka untuk melihat Indo­nesia dalam perjalanannya yang sudah seratus tahun pada kalender 2008. Seri II ini merentangkan kehidupan manusia Indonesia dari hari ke hari, dari tanggal 1 hingga 30, dari Januari hingga Desember, dari 1913 hingga 1917. KLIK SELENGKAPNYA

Intellectual Property Implications on Biological Resources: Indonesia’s Adoption of International Intellectual Property Regimes and the Failure to Adequately Address the Policy Challenges In the Area of Biological Resources

Nurul Barizah | The Nagara Institute | 536 p | 15 x 24 cm | Hard Cover | LIMITED EDITION | Rp 300.000

This book aims to analyse whether the choices made by the Indonesian Government in response to Indonesia’s obligation under the TRIRIPs Agreement concerning biological resources are suitable for Indonesia in its current state of economic, social and cultural development, and national interest. KLIK SELENGKAPNYA

Geographical Indications Protection In Indonesia Based on Cultural Rights Approach

Miranda Risang Ayu | Nagara Institute | 408 p | 15 x 24 cm | Hard Cover | LIMITED EDITION | Rp 200.000

Geograpichal Indication is a type of Intelectual Property Right which consist of a trade name on a product that identifies a geographical origin, and perticularly, a special character resulted from the origin, that makes a product distinctive. KLIK SELENGKAPNYA

A New Theory of Education Reform in Indonesia: Globalisation and Recontextualisation in the Post Colonial Condition

Ella Yulaelawati MA, Ph.D. | Nagara Institute | 2009 | Bahasa: Inggris | 408 halaman | 15 x 24 cm | Hard cover | LIMITED EDITION | Rp 200.000

Temuan utama dari studi dalam buku ini adalah bahwa pandangan dan praktek para pendidik Indonesia didasari keberpihakan yang tegas terhadap “heterocultures” lokal. Heterocultures lokal dapat dimaknai sebagai heterogenitas budaya-budaya lokal. Hal ini berbeda dengan keragaman budaya lokal (multiculture), karena keragaman lebih dimaknai sebagai budaya dari berbagai etnik. KLIK SELENGKAPNYA

Aku dan Ibuku, Catatan Bakti Sepekan Anak-anak Jambu Kediri

Ahmad Ikhwan Susilo, dkk | Gelaran Ibuku | 2009 | 350 hlm | 13 × 20 cm | Hard Cover | LIMITED EDITION | Rp 100.000,-

Buku ini adalah catatan harian 28 siswa Madrasah Tsanawiyah di daerah terpencil Kediri. berkisah dengan detail dalam hitungan jam tentang diri dan ibu mereka. Dimulai dari bangun hingga tidur kembali, selama rentang waktu satu pekan. Penulisan ini dipimpin dan dibimbing guru bahasa Indonesia sekolah mereka. KLIK SELENGKAPNYA

Surat untuk Ibu Negara

151 Siswa dari SD-SMA (6 sekolah) | Gelaran Ibuku | 334 hlm | 2009 | Hard Cover | LIMITED EDITION | Rp 100.000

Penulis-penulis surat berusia belia ini tinggal di balik himpitan batu pegunungan barisan bukit selatan. Tersudut di ujung utara Kabupaten Pacitan, sebuah kabupaten paling miskin yang menjaga perbatasan Barat Daya Provinsi Jawa Timur. KLIK SELENGKAPNYA

Pemberontak Tak (Selalu) Salah: Seratus Pemberontakan di Nusantara

Petrik Matanasi | IBOEKOE | 2009 | 539 hlm | 15 x 24 cm | Hard Cover | Limited Edition | Rp 300.000

Ada banyak pemberontakan yang pernah terjadi di Indonesia. Sejak zaman kerajaan Hindu, zaman feodal, hingga masa-masa sekarang ini. Jumlahnya lebih dari ratusan, namun banyak yang tidak tercatat dalam sejarah. Seratus Pemberontakan yang ditulis dalam buku ini juga hanya sebagian dari seluruh pemberontakan yang pernah terjadi di Indonesia. KLIK SELENGKAPNYA

7 Ibu Bangsa

Petrik Matanasi, dkk | 688 hlm | 15 x 24 cm | Hard Cover | LIMITED EDITION | Rp 200.000

Ketujuh Ibu dalam buku ini adalah segelintir dari elit penggerak sejarah Indonesia. Beberapa nama di antaranya nyaris tenggelam dan tak dikenali sejarah. Betapapun mereka tenggelam dalam kubangan sejarah yang memburamkan, banyak hal  telah mereka lakukan untuk bangsa bernama Indonesia. Cut Nyak Dien harus bergerilya di hutan. Megawati harus menerima tekanan penguasa. Kartini terkungkung dalam sangkar emasnya. Inggit Garnasih harus banting tulang menghidupi Soekarno yang kemudian berpaling. Roehana Koedoes juga menjadi bahan gunjingan orang-orang konservatif. Tien Soeharto harus bersebrangan dengan banyak pihak demi citra Indonesia. We Tenriolle juga harus dimusuhi keluarganya ketika naik tahta. KLIK SELENGKAPNYA

7 Bapak Bangsa

Iswara N Raditya, dkk | 688 hlm | 15 x 24 cm | Hard Cover | Limited Edition | Rp 200.000

”Tujuh Bapak Bangsa” membincangkan hal-ihwal bapak dan kebangsaan nasional, mengulik peran mereka dalam menggagas, membentuk, serta membangun Indonesia. Masing-masing dari bapak bangsa memiliki ciri khas dan spesialisasi tersendiri dalam bidang pergerakannya. Ranah yang dianggap layak dijamah sebagai medan perjuangan mereka meliputi: pers, politik, pendidikan, ekonomi, revolusi, militer, dan pembangunan. Sedangkan para peneguh yang dinilai tepat dalam masing-masing bidang itu adalah Tirto Adhi Soerjo, HOS Tjokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, Mohammadd Hatta, Soekarno, Soerdirman, dan Soeharto. KLIK SELENGKAPNYA

Ensiklopedia Sastra Dunia

Anton Kurnia | 314 halaman | 15 x 24 cm | Paperback | Rp 50.000

Buku ini disusun untuk membantu mereka yang berminat membaca dan menyingkap khazanah sastra dunia, serta mencari tahu tentang riwayat hidup, proses kreatif, dan intisari karya sejumlah sastrawan penting yang menulis dalam beragam genre–cerpen, novel, puisi, esai, lakon. Sebagai sebuah ensiklopedia sederhana dan pengantar menuju sastra dunia, buku ini memuat profil 315 sastrawan terkemuka di pelbagai penjuru dunia dari pelbagai zaman–sejak pujangga Yunani zaman silam Homer hingga pemenang Hadiah Novel Sastra 2005, Harold Pintar–dilengkapi informasi tentang karya-karya mereka yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. KLIK SELENGKAPNYA

Tuntutlah Ilmu Sampai ke Nippon

Ika Dewi Ana | 246 halaman | 12 x 18 cm | Paperback | Rp 32.500

Buku ini menceritakan seluk beluk pengalaman belajar dan hidup di Jepang selama lima tahun. Ika Dewi Ana memperkenalkan kepada Anda corak interaksi dengan kebudayaan, bahasa, dan huruf kanji, serta makanan Jepang dan sekaligus strategi-strategi kecil memperkenalkan tradisi Indonesia secara elegan. Buku ini juga memberitahu Anda siasat hidup sehari-hari dengan masyarakat jepang yang serba teratur, disiplin, dan ulet dan sekaligus buku ini bisa memandu Anda berkunjung ke pelosok-pelosok Jepang. KLIK SELENGKAPNYA

Adam Hawa: Hawa Bukan Perempuan Pertama

Muhidin M Dahlan | ScriptaManent | Cet. 1 (2005) | 156 hlm | 12 × 19 cm | Paperback | Rp 22.500

Buku ini pernah mendapat somasi dari Majelis Mujahidin Indonesia (KLIK DI SINI SURAT SOMASINYA). Pemicunya adalah ketika resensi Chavchay Syaifullah (KLIK DI SINI) dimuat di Harian Media Indonesia, 6 November 2005. Berkisah tentang Adam Hawa yang tak ada dalam Kitab Suci. KLIK SEENGKAPNYA

Kabar Buruk dari Langit: Luka Cinta Pencari Tuhan

Muhidin M Dahlan | ScriptaManent | Cet. 1 (2005) | 562 hlm | 12 × 19 cm | Paperback | Cetak Massal | Rp 55.000

Di helai-helai halaman novel ini, sejarah penyebaran Islam di Jawa dan Nusantara dimampatkan. Tapi bukan sejarah penyebaran Islam yang lurus dan adem ayem seperti yang biasa kita dengar, melainkan kilasan sejarah yang penuh intrik, pertarungan, dan tentu saja berdarah-darah, antara dua model pemahaman Islam yang bertumpu pada syari’ah dan fiqih dengan sebuah model pemahaman Islam yang lebih bertopang pada laku ibadat yang personal dan penuh mistik: ajaran wahdatul wujud (manunggaling kawulo lan Gusti). KLIK SELENGKAPNYA

Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur: Memoar Luka Seorang Muslimah

Muhidin M Dahlan | ScriptaManent | Cet. 1 (2003), Cet. 17 (2010) | 261 hlm | 12 × 19 cm | Paperback | Cetak Massal | Rp 34.000

Novel ini berkisah tentang seorang muslimah yang taat. Tapi di tengah jalan ia diterpa badai kekecewaan. Organisasi garis keras yang mencita-citakan tegaknya syariat islam di Indonesia yang di idealkannya bisa mengantarkannya berislam secara kaffah ternyata malah merampas nalar kritis sekaligus imannya. Setiap tanya yang dia ajukan dijawab dengan dogma yang tertutup. Berkali-kali di gugatnya kondisi itu tapi hanya kehampaan yang hadir. Bahkan Tuhan yang selama ini dia agung-agungkan seperti “lari dari tanggung jawab” dan “emoh” menjawab keluhannya. KLIK SELENGKAPNYA

Cine Book Club: Bulan Film Kisah Para Pengarang (April)

Studio 1 Gelaran Indonesia Buku (IBOEKOE) pojok Alun-Alun Kidul, Patehan Wetan no. 3, Yogyakarta, Indonesia mempersembahkan:

Tanggal 23 April merupakan tanggal luar biasa untuk segenap pecinta buku di seluruh dunia. Pada tanggal yang sama dan di tahun yang sama, tepatnya 1616, tiga sastrawan kanon Miguel de Cervantes, William Shakespeare, dan Inca Garcilaso de la Vega meninggal. Menariknya, pada tanggal itu pula, sastrawan dunia dari generasi yang lebih muda seperti Vladimir Nabokov, Joseph Pla, atau Manuel Mejía Vallejo lahir.

UNESCO lantas mengabadikan tanggal itu sebagai Hari Buku dan Hak Cipta Internasional.

Cine Book Club Yogya bekerjasama dengan Indonesia Buku kemudian bersepakat untuk mendidekasikan pemutaran selama bulan April sebagai “Bulan Kisah Para Pengarang”.

Empat film dari berbagai belahan dunia, memotret kehidupan empat sastrawan (maupun sosok fiksi seorang sastrawan) akan kita saksikan dan bahas bersama.

Meminjam semangat yang diperjuangkan UNESCO lewat penetapan Hari Buku Internasional itu, semoga rangkaian pemutaran Cine Book Club bulan April ini akan menginspirasi segenap pecinta buku sekaligus film untuk “menemukan kenikmatan lagi dari aktivitas membaca, sekaligus menghormati peran tak tergantikan dari banyak orang yang berjuang demi pemajuan harkat kemanusiaan lewat buku.”

1. “Quills” (2000) – Terj. Bahasa Indonesia, 124 menit. [2 April 2011]

QuillsPenulis kenamaan Perancis bernama Marquis de Sade menyebabkan kegemparan di seantero negeri akibat kisah-kisahnya. Karyanya yang erotis, menjurus cabul, bahkan penuh kekerasan membuat murka mulai dari Kaisar Napoleon Bonaparte, pemuka agama, sampai cendekiawan. Uniknya, rakyat memujanya, rela mengantri untuk mendapat novel-novelnya di pasar gelap. Bahkan, mereka yang benci dan memusuhi, tak urung ikut membaca tulisan de Sade diam-diam.

“Quills” menampilkan pada kita, sebuah kondisi masyarakat abad 18 Eropa yang rasa-rasanya masih relevan sampai sekarang. Betapa pembebasan pikiran, rupa-rupanya selalu dianggap berbahaya. Marquis de Sade (diperankan Geoffrey Rush) sungguh-sungguh memahaminya.

Lewat interaksinya dengan Abbe de Coulmier (Joaqin Phoenix), kepala rumah sakit jiwa tempat ia ditahan, penonton disuguhi pertanyaan-pertanyaan pelik, tentang licensia poetica, supremasi seni, moralitas semu, kemunafikan masyarakat, dan represi kekuasaan. Satu hal yang pasti, “Quills” besutan Philip Kaufman akan memprovokasi siapapun ia, bahwa menulis adalah sarana pembebasan jiwa yang luar biasa dan termasuk hak asasi yang pantas dipertaruhkan. Itulah sebab semua pengarang melakukannya sejak zaman dahulu hingga sekarang.

2. “Mishima: A Life in Four Chapters” (1985) – Terj. Bahasa Inggris, 121 Menit. [9 April 2011]

MishimaFilm ini merupakan interpretasi fiksi dari kisah hidup sastrawan pilih tanding Jepang, Yukio Mishima (diperankan oleh aktor senior Jepang, Ken Ogata). Terdiri dari empat segmen, masing-masing merupakan paralel yang menggabungkan kehidupannya dengan cerita dari tiga novel masterpiece-nya yaitu “The Temple of the Golden Pavilion”, “Kyoko’s House”, serta “Runaway Horses”.

Khusus pada bagian keempat, sutradara sekaligus penulis skenario Paul Schrader menghadirkan momen terpenting seorang Mishima, yaitu peristiwa kudeta dan seppuku dramatisnya pada tanggal 25 November 1970. Keempat segmen tadi akan membawa penonton memahami lebih lanjut ideologi berkesenian seorang penulis penting pasca-perang bagi sastra dunia yang dinominasikan tiga kali untuk meraih Nobel tersebut.

3. “Sult” (1966) – Terj. Bahasa Inggris, 112 menit. [16 April 2011]

Knut HamsunFilm Norwegia karya sutradara Henning Carlsen ini dengan berani berupaya mengadaptasi novel monumental Sastrawan peraih Nobel Sastra tahun 1920, Knut Hamsun berujudul “Lapar” ke dalam format 35 mm. Bertempat di Christiania (nama ibukota Norwegia sebelum berubah menjadi Oslo) tahun 1890, kita akan ikut menyusuri jalanan kota industrial dari sudut pandang pengarang miskin sekaligus kelaparan Pontus (Per Oscarsson).

Ia berjuang keras menerbitkan karya-karyanya, sekaligus mencari cinta sejati. Tapi, peruntungan yang ia dapat hanyalah kekalahan demi kekalahan. Protagonis kita ini seakan tidak diinginkan kehadirannya di dunia. Di balik semua nasib buruk dan rasa lapar yang konsisten menghantui, penonton bersama si Pontus berjuang meruwat nilai-nilai hakiki manusia.

4. “Barfly” (1987) – Terj. Bahasa Indonesia, 100 menit. [23 April 2011]

Berdasarkan cerpen dari Charles Bukowski, sastrawan sekaligus peziarah budaya, dan peletak ide generasi bunga di Amerika Serikat, hadir sebuah komedi-drama “Barfly”.
Film ini menekankan cerita pada sosok Henry Chinaski (Mickey Rourke), penulis pemabuk yang kerap membuat ulah. Si protagonis ini naga-naganya adalah alter-ego Bukowski sendiri.

Seiring film berjalan, kita saksikan bagaimana Henry berjuang menulis puisi dan cerpen, sembari kerap beradu mulut dengan bartender bar langganannya, sekaligus menjalin cinta tak biasa dengan seorang perempuan labil bernama Faye Dunaway (Wanda Wilcox).

Sebuah film yang dapat menjelaskan betapa upaya pengarang hidup dan menghidupi dunia, tak melulu seromantis bayangan orang. Tentunya, karya sutradara Perancis Barbet Schroeder ini merupakan sebuah film yang mencerahkan.

Setiap pemutaran dimulai pukul 19.00 tepat, tentunya di Gelaran Indonesia Buku Patehan. Ajak kawan, pacar, ayah-ibu, adik, kakak, paman, bibi, siapapun dia. Sebab semua pemutaran gratis, tersedia pula makanan dan minuman, serta tak lupa, beragam hadiah menarik bagi peserta diskusi usai pemutaran yang beruntung.

Mari Menonton Buku, Mari Membaca Film! (Ardyan M Erlangga, tukang bioskop Cine Book Club)

“Bulan Film Kisah Para Pengarang”

Ardyan M. Erlangga mengundang Anda. · Bagikan · Acara Umum
Waktu
Hari ini jam 19:00 30 April jam 22:30

Tempat
Studio 1 Gelaran Indonesia Buku Jalan Patehan Wetan no. 3, Alun-Alun Kidul, Keraton Yogyakarta, Indonesia

Dibuat oleh:

Info Selengkapnya
Tanggal 23 April merupakan tanggal luar biasa untuk segenap pecinta buku di seluruh dunia. Pada tanggal yang sama dan di tahun yang sama, tepatnya 1616, tiga sastrawan kanon Miguel de Cervantes, William Shakespeare, dan Inca Garcilaso de la Vega meninggal. Menariknya, pada tanggal itu pula, sastrawan dunia dari generasi yang lebih muda seperti Vladimir Nabokov, Joseph Pla, atau Manuel Mejía Vallejo lahir.

UNESCO lantas mengabadikan tanggal itu sebagai Hari Buku dan Hak Cipta Internasional. Cine Book Club Yogya bekerjasama dengan Indonesia Buku kemudian bersepakat untuk mendidekasikan pemutaran selama bulan April sebagai “Bulan Kisah Para Pengarang”. Empat film dari berbagai belahan dunia, memotret kehidupan empat sastrawan (maupun sosok fiksi seorang sastrawan) akan kita saksikan dan bahas bersama.

Meminjam semangat yang diperjuangkan UNESCO lewat penetapan Hari Buku Internasional itu, semoga rangkaian pemutaran Cine Book Club bulan maret ini akan menginspirasi segenap pecinta buku sekaligus film untuk “menemukan kenikmatan lagi dari aktivitas membaca, sekaligus menghormati peran tak tergantikan dari banyak orang yang berjuang demi pemajuan harkat kemanusiaan lewat buku.”

1. “Quills” (2000) – Terj. Bahasa Indonesia, 124 menit. [2 April 2011]

Penulis kenamaan Perancis bernama Marquis de Sade menyebabkan kegemparan di seantero negeri akibat kisah-kisahnya. Karyanya yang erotis, menjurus cabul, bahkan penuh kekerasan membuat murka mulai dari Kaisar Napoleon Bonaparte, pemuka agama, sampai cendekiawan. Uniknya, rakyat memujanya, rela mengantri untuk mendapat novel-novelnya di pasar gelap. Bahkan, mereka yang benci dan memusuhi, tak urung ikut membaca tulisan de Sade diam-diam.

“Quills” menampilkan pada kita, sebuah kondisi masyarakat abad 18 Eropa yang rasa-rasanya masih relevan sampai sekarang. Betapa pembebasan pikiran, rupa-rupanya selalu dianggap berbahaya. Marquis de Sade (diperankan Geoffrey Rush) sungguh-sungguh memahaminya.

Lewat interaksinya dengan Abbe de Coulmier (Joaqin Phoenix), kepala rumah sakit jiwa tempat ia ditahan, penonton disuguhi pertanyaan-pertanyaan pelik, tentang licensia poetica, supremasi seni, moralitas semu, kemunafikan masyarakat, dan represi kekuasaan. Satu hal yang pasti, “Quills” besutan Philip Kaufman akan memprovokasi siapapun ia, bahwa menulis adalah sarana pembebasan jiwa yang luar biasa dan termasuk hak asasi yang pantas dipertaruhkan. Itulah sebab semua pengarang melakukannya sejak zaman dahulu hingga sekarang.

2. “Mishima: A Life in Four Chapters” (1985) – Terj. Bahasa Inggris, 121 Menit. [9 April 2011]

Film ini merupakan interpretasi fiksi dari kisah hidup sastrawan pilih tanding Jepang, Yukio Mishima (diperankan oleh aktor senior Jepang, Ken Ogata). Terdiri dari empat segmen, masing-masing merupakan paralel yang menggabungkan kehidupannya dengan cerita dari tiga novel masterpiece-nya yaitu “The Temple of the Golden Pavilion”, “Kyoko’s House”, serta “Runaway Horses”.

Khusus pada bagian keempat, sutradara sekaligus penulis skenario Paul Schrader menghadirkan momen terpenting seorang Mishima, yaitu peristiwa kudeta dan seppuku dramatisnya pada tanggal 25 November 1970. Keempat segmen tadi akan membawa penonton memahami lebih lanjut ideologi berkesenian seorang penulis penting pasca-perang bagi sastra dunia yang dinominasikan tiga kali untuk meraih Nobel tersebut.

3. “Sult” (1966) – Terj. Bahasa Inggris, 112 menit. [16 April 2011]

Film Norwegia karya sutradara Henning Carlsen ini dengan berani berupaya mengadaptasi novel monumental Sastrawan peraih Nobel Sastra tahun 1920, Knut Hamsun berujudul “Lapar” ke dalam format 35 mm. Bertempat di Christiania (nama ibukota Norwegia sebelum berubah menjadi Oslo) tahun 1890, kita akan ikut menyusuri jalanan kota industrial dari sudut pandang pengarang miskin sekaligus kelaparan Pontus (Per Oscarsson).

Ia berjuang keras menerbitkan karya-karyanya, sekaligus mencari cinta sejati. Tapi, peruntungan yang ia dapat hanyalah kekalahan demi kekalahan. protagonis kita ini seakan tidak diinginkan kehadirannya di dunia. Dibalik semua nasib buruk dan rasa lapar yang konsisten menghantui, penonton bersama Pontus berjuang meruwat nilai-nilai hakiki manusia.

4. “Barfly” (1987) – Terj. Bahasa Indonesia, 100 menit. [23 April 2011]

Berdasarkan cerpen dari Charles Bukowski, sastrawan sekaligus peziarah budaya, dan peletak ide generasi bunga di Amerika Serikat, hadir sebuah komedi-drama “Barfly”. Film ini menekankan cerita pada sosok Henry Chinaski (Mickey Rourke), penulis pemabuk yang kerap membuat ulah. Si protagonis ini naga-naganya adalah alter-ego Bukowski sendiri.

Seiring film berjalan, kita saksikan bagaimana Henry berjuang menulis puisi dan cerpen, sembari kerap beradu mulut dengan bartender bar langganannya, sekaligus menjalin cinta tak biasa dengan seorang perempuan labil bernama Faye Dunaway (Wanda Wilcox). Sebuah film yang dapat menjelaskan betapa upaya pengarang hidup dan menghidupi dunia, tak melulu seromantis bayangan orang. Tentunya, karya sutradara Perancis Barbet Schroeder ini merupakan sebuah film yang mencerahkan.

Setiap pemutaran dimulai pukul 19.00 tepat, tentunya di Gelaran Indonesia Buku Patehan. Ajak kawan, pacar, ayah-ibu, adik, kakak, paman, bibi, siapapun dia. Sebab semua pemutaran gratis, tersedia pula makanan dan minuman, serta tak lupa, beragam hadiah menarik bagi peserta diskusi usai pemutaran yang beruntung. Mari Menonton Buku, Mari Membaca Film!

Cine Book Club: Film Buku Penuh Cinta (Februari)

Setiap Sabtu, pukul 19:00 (sepanjang Februari) | Studio 1 Gelaran Indonesia Buku | Jalan Patehan Wetan no. 3, Alun-Alun Kidul, Keraton Yogyakarta, Indonesia

ShakespeareBulan Februari oleh banyak pihak dianggap sebagai bulan lekat dengan simbol cinta. Tak terhitung lagi perusahaan yang memanfaatkan momen khas bulan Februari, Hari Valentin, untuk mendongkrak citra Februari sebagai bulan cinta, sekaligus produk mereka pastinya. Cine Book Club Yogya tidak berpretensi untuk menyesuaikan diri dengan strategi marketing manapun, sungguh!

Apabila kami bersama dengan Indonesia Buku mengemas konsep acara pemutaran sebulan ini kental nuansa cinta-cintaan, itu lebih sebagai ajakan bagi setiap insan penikmat buku dan film untuk menyelami makna cinta sedalam-dalamnya, tentu saja melalui medium karya sinematografis pilih tanding. Tema cinta itu bakal tetap selaras dengan misi kami melalui pemutaran film-film yang menempatkan buku dan proses kreatif sebagai poros utama kisahnya. Tak lupa, kami berusaha pula merangkul mereka-mereka yang merasa tersisih saat kawan-kawannya yang lain sibuk bercinta-cintaan. Bila malam minggu anda anggap serupa siksa kesendirian, khususnya selama bulan Februari, jangan sungkan datang!

Berikut jadwal pemutaran kami bulan ini:

FILM SATU: “Shakespeare in Love” – 5 Februari 2011 (123 min – Terj. Bahasa Indonesia)

Sutradara John Madden menampilkan sosok William Shakespeare, sang pujangga kenamaan Inggris itu dalam intepretasi yang menarik. Rupanya daya kreatifnya mencipta karya tidak jatuh dari langit, tapi lebih banyak dihasilkan melalui pengalaman hidup yang mengiris, terutama juga soal cinta. Film ini mengikuti perjalanan sang seniman dalam menghasilkan karya monumental “Romeo & Juliet” saat ia berjumpa dengan Viola de Lesseps, pujaan hati yang mustahil karena satu dan lain hal ia dapatkan cintanya. Peraih piala Oscar untuk kategori film terbaik 1998 (menaklukkan “Saving Private Ryan”) serta membuka cakrawala kita tentang cinta dan selubung proses kreatif penyair yang oleh Harold Bloom ditahbiskan sebagai puncak kanon sastra barat ini, sayang bila dilewatkan.

FILM DUA: “Il Postino” – 12 Februari 2011 (108 min – Terj. Bahasa Inggris*)

Siapa tak kenal Pablo Neruda? Apalagi bagi anda yang mengaku pelahap rakus sastra dunia. Kisah dalam film ini menggambarkan pengalaman seorang pemuda miskin anak nelayan yang bertugas mengantarkan surat-surat bagi sang penyair ketika ia menjalani penahanan politik di pulau terpencil. Seiring waktu, si tukang pos mulai mencintai puisi dan relasinya dengan Neruda makin intens ketika ia jatuh hati pada gadis pujaan hati. Barang tentu, puisi jadi sarana mengungkap perasaan, dan Neruda pakar puisi, tak kurang bekal jadi guru bagi si tukang pos. Namun, tak hanya cinta yang anda dapatkan dalam film ini. Anda juga akan menyaksikan perjuangan seorang manusia mengungkapkan identitasnya secara jujur melalui medium puisi. Film produksi 1994 ini merupakan mahakarya Michael Redford yang hingga sekarang selalu disebut dalam daftar film terbaik sepanjang masa.

FILM TIGA: “The Notebook” – 19 Februari 2011 (123 min – Terj. Bahasa Indonesia)

Kisah cinta ini dituturkan melalui buku catatan yang dibaca dua orang penghuni panti jompo. Kisah arahan Nick Cassavetes berikut merupakan tipikal kisah cinta standar, mengenai dua insan saling cinta bernama Allie Hamilton dan Noah Calhou. Seperti lazimnya pakem Shaksperean, dua insan ini tak dapat bersatu, sebab mereka memiliki perbedaan status, cerita pun bergerak berkat ujian cinta keduanya. Tapi memang yang universal masih tetap punya tenaga untuk menggerakkan kita. Buktikanlah sendiri.

FILM EMPAT: “Atonement” – 26 Februari 2011 (123 min – Terj. Bahasa Indonesia)

Diangkat dari novel luar biasa karangan Ian McEwan oleh sutradara debutan Joe Wright. Hasilnya jauh dari amatir. Jalinan kasih Cecilia dan Robbie Turner di masa Perang Dunia II, tak dianyana, akan sangat terpengaruh tindak tanduk Briony Tallis, penulis amatir penuh semangat, sekaligus adik kandung Cecilia. Salah paham yang ditimbulkan oleh Briony selaku penyampai pesan keduanya, berujung pada tragedi sekaligus aksi penebusan dosa. Pamungkas yang cocok untuk bulan penuh cinta macam Februari.

Setiap pemutaran dimulai pukul 19.00 tepat, tentunya di Gelaran Indonesia Buku Patehan. Ajak kawan, pacar, ayah-ibu, adik, kakak, paman, bibi, siapapun dia. Sebab semua pemutaran gratis, tersedia pula makanan dan minuman, serta tak lupa, beragam hadiah menarik bagi peserta diskusi usai pemutaran yang beruntung.

Mari Menonton Buku, Mari Membaca Film! (Ardyan M Erlangga/Cine Book Club)

Lomba Menulis Cerita (Sekolah Tinggi Menulis Jogja)

LombaYOGYAKARTA — Untuk menyegarkan suasana dunia perbukuan, Sekolah Tinggi Menulis Jogja (STMJ) menantang teman-teman pelajar dan mahasiswa untuk mengikuti LOMBA MENULIS CERITA bertema berikut ini:

  1. Cerita-cerita HOROR SUPER TEROR di seputar sekolah, rumah, mall
  2. Cerita-cerita GOKIL JAHIL ABIS soal guru, tetangga, saudara
  3. Cerita-cerita CINTA romantis MANIS bareng pacar, orangtua, sahabat

Tema di atas kami angkat dengan beberapa alasan. Pertama, kehidupan orang muda syarat akan cerita menarik. Kehidupan mereka penuh warna. Kedua, dengan keliaran imajinasinya, orang muda lebih berani mengekspresikan gagasannya. Mereka lebih blak-blakan, lebih spontan, dan lebih otentik.  Ketiga, dunia perbukuan sangat membutuhkan penyegaran tema. Klop.

Batas penyerahan naskah: 1 Maret 2011.

Syarat Lomba:

1. Lomba berlaku bagi pelajar dan mahasiswa.
2. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia kreatif, unik, dan bebas.
3. Naskah harus asli, bukan terjemah, saduran, atau comotan ide dari karya lain yang sudah ada. Jika dibutuhkan, peserta siap dihubungi panitia untuk mempertanggungjawabkan keaslian naskah.
4. Naskah tidak mengandung unsur SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan), pornografi, dan sadisme.
5. Naskah belum pernah diterbitkan di media massa/buku (cetak maupun elektronik), dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain.
6. Atas karya yang menang, Panitia Lomba Menulis Cerita Sekolah Tinggi Menulis Jogja (STMJ) berhak menerbitkannya dalam bentuk buku, mengumumkan/memperbanyak, dan mewujudkannya kembali dalam format digital maupun non digital yang tetap merupakan bagian dari Sekolah Tinggi Menulis Jogja (STMJ).
7. Naskah yang masuk menjadi hak panitia dan tidak dikembalikan.
8. Keputusan juri mengikat dan tidak bisa diganggu gugat.
9. Hadiah untuk pemenang sudah termasuk honorarium pemuatan di buku yang diterbitkan Sekolah Tinggi Menulis Jogja (STMJ) maupun segala alih bentuknya.

Ketentuan Teknis:

1. Setiap peserta diperbolehkan mengirimkan lebih dari satu judul.
2. Setiap peserta diperbolehkan mengirimkan naskah lebih dari satu kategori tema.
3. Naskah diketik di kertas berukuran A4 dengan jarak 1.5 (satu setengah) spasi. Panjang tulisan 3-5 halaman.
4. Setiap naskah yang dikirimkan wajib dilampiri:

* a)   biografi singkat penulis
* b)   fotokopi kartu pelajar/mahasiswa yang masih berlaku
* c)   nomor telepon rumah/hp
* d)   alamat email
* e)   nomor rekening bank atas nama peserta
* f)    selembar foto close up terbaru ukuran kartu pos (3R), untuk dimuat di buku (bagi pemenang). Pose bebas, wajah terlihat jelas, tanpa kaca mata gelap.

1. Naskah dimasukkan ke dalam amplop atau surat elektronik (email). Tuliskan: Lomba Menulis Cerita di sudut kiri atas amplop atau subjek email.
2. Karya dikirimkan ke: Panitia Lomba Menulis Sekolah Tinggi Menulis Jogja, Griya Taman Asri C-335, Sleman, Yogyakarta 55581, atau email redaksistmj@gmail.com.
3. Karya peserta diterima panitia paling lambat pada tanggal 1 Maret 2011 (cap pos).

Hadiah:

* Pemenang 1: uang senilai Rp 750.000 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah) + sertifikat
* Pemenang 2: uang senilai Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah) + sertifikat
* Pemenang 3: uang senilai Rp 350.000 (tiga ratus lima puluh ribu rupiah) + sertifikat
* Pemenang 4-10: uang senilai @ Rp 200.000 (dua ratus ribu rupiah) + sertifikat
* [tulisan pemenang akan dibukukan untuk dipublikasikan ke seluruh Indonesia]

Ketentuan Khusus:

1. Pengumuman pemenang akan dimuat di Facebook Sekolah Tinggi Menulis Jogja (silakan add di redaksistmj@gmail.com) pada tanggal 10 Maret 2011.
2. Hadiah akan ditransfer via bank ke rekening peserta.
3. Pemenang akan mendapat pemberitahuan langsung dari Sekolah Tinggi Menulis Jogja (STMJ) lewat email redaksistmj@gmail.com.
4. Semua peserta berhak menjadi anggota jaringan penulis Sekolah Tinggi Menulis Jogja (STMJ).
5. Panitia tidak melayani korespondensi dalam bentuk apa pun berkaitan dengan lomba ini.

Situs Resmi Panitia: Klik DI SINI

CATATAN: JIKA BELUM JELAS, SILAKAN DIHUBUNGI LANGSUNG PANITIA DENGAN ALAMAT EMAIL DAN NOMOR KONTAK SEPERTI TERTERA DI ATAS (Redaksi Indonesia Buku).

Inilah Tambahan 50 Buku Terkatalog di Perpus IBOEKOE Tengahan Januari

Kami terus menambah koleksi yang terkatalog di ruang pamer dan pinjam perpustakaan IBOEKOE. Karena kekurangan tenaga melakukan katalogisasi dan siap akses-publik, jadinya ribuan koleksi masih mangkrak di kamar katalog.

Berikut ini adalah 50 buku yang terkatalog dua pekan terakhir ini, 1-14 Januari 2011:

1.       KR2Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid 3: Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris) | Denys Lombard

2.       Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid 2: Jaringan Asia) | Denys Lombard

3.       Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid 1: Batas-Batas Pembaratan) | Denys Lombard

4.       The Professor and the Madman | Simon Winchester

5.       Menggelinding I | Pramoedya Ananta Toer

6.       Harus Bisa! Seni Memimpin a la SBY | Dr. Dino Patti Djalal

7.       SBY Sang Demokrat | Usamah Hisyam

8.       Lampor: Cerpen Pilihan Kompas 1994 | Joni Ariadinata dkk

9.       Firebelly | J.C. Michaels

10.   Kerajaan Islam Pertama di Jawa | H.J. De Graaf – TH. Pigeaud

11.   Etnomusikologi | Rahayu Supanggah

12.   Ideologi Kaum Intelektual : Suatu Wawasan Islam | Ali Syari’ati

13.   Keliling Tempat-tempat Wisata Eksotis diJogja | Suryo Sukendro

14.   Gema Tanah AIr : Prosa dan Puisi 1942-1948 | H. B. Jassin

15.   Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) | Pelaksanaan Amanat Rakyat Indonesia

16.   The Amber Spyglass: Teropong Cahaya | Philip Pullman

17.   Rahasia Membutuhkan Kata: Puisi Indonesaia 1966-1998 | Harry Aveling

18.   Man, the Unknown: Misteri Manusia | ALexis Carrel

19.   Biola Tak Berdawai | Seno Gumira

20.   Cerita Pendek Indonesia 3 | Satyagraha Hoerip dkk

21.   Bedil Perburuan | Yasushi Inoue

22.   Bentuk Kata Bahasa Indonesia | P. Suparman Natawidjaja

23.   Cerita Isabel | Nana Tedja – Dennis Adicandra

24.   Siapa Bilang jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya: 5 Kiat Praktis Mengelola Gaji agar Bisa jadi kaya | Safir Senduk

25.   Di Bawah Lindungan Ka’bah | Hamka

26.   Direktori Industri Sinematografi | Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia

27.   Stones Into Schools | Greg Mortenson

28.   Mrs. Dalloway | Virginia Woolf – Josephine – Kurniasih

29.   Assalamu’alaikum: Islam Itu Agama Perlawanan | Eko Prasetyo

30.   Orang Miskin Tanpa Subsidi | Eko Prasetyo

31.   Orang Miskin Dilarang Sekolah | Eko Prasetyo

32.   Kaum Miskin Bersatulah | Eko Prasetyo

33.   Astaffirullah : Islam Jangan Dijual | Eko Prasetyo

34.   Bisnis Orang Sakit | Dedi Supratman & Eko Prasetyo

35.   Awas Penguasa Tipu Rakyat | Eko Prasetyo & Terra Bajraghosa

36.   Perusahaan Rokok Untung Besar | Eko Prasetyo & Terra Bajraghosa

37.   Di Bawah Lentera Merah | Soe Hok Gie

38.   Keadilan Tidak Untuk yang Miskin | Eko Prasetyo

39.   Dari Pemungutan Suara ke Pertumpahan Darah | Jack Snyder

40.   Hantu Digoel | Takashi Shiraishi

41.   Balthasar’s Odyssey : Nama Tuhan yang Keseratus | Amin Maalouf

42.   Air Kata Kata | Sindhunata

43.   Laporan dari Banaran | T.B. Simatupang

44.   Lacan untuk Pemula | Philip Hill

45.   Catatan dari Bawah Tanah | Fyodor Dostoyevski

46.   Rapor Biru Presiden SBY | Budi Rahman Hakim

47.   Energi Positif: Opini 100 Tokoh Mengenai Indonesia di Era SBY | Dr. Dino Patti Djalal

48.   Jendela Hati | Sari Pusparini Soleh

49.   SBY dan Indahnya Negeri Tanpa Kekerasan | Hasan Syukur

50.   Peduli Kemiskinan | Anang Solihin Wardan

Terimakasih kepada para donator, penyumbang buku, bahkan kepada mereka yang bukunya hanya dititipkan dan dipelihara di Perpustakaan Indonesia Buku.

Perpustakaan Indonesia Buku buka dari jam 10 pagi sampai 12 malam. Bebas internetan (hot spot area). Jl Patehan Wetan No 3, Kraton, Alun-Alun Kidul, Yogyakarta.

Perpus IBOEKOE di Kedaulatan Rakyat

KR“Pekerjaan kalian sungguh-sungguh terpuji,” kata Harry A Poeze sekira medio 2009 saat berkunjung ke perpustakaan Indonesia Buku. Pakar sejarah kehidupan Tan Malaka ini sudah janjian jauh hari untuk datang. Selain melihat, Direktur KITLV di Leiden, Belanda, ini pun membeli beberapa buku cetak terbatas hasil riset Indonesia Buku. Nyaris semuanya tentang sejarah dengan macam-macam tema.

Ketertarikan Poeze barangkali lebih disebabkan terdorong oleh kerja besar dilakukan Indonesia Buku yang dilakukan nyaris seluruhnya oleh angkatan muda. Dan rata-rata masih berstatus mahasiswa.

Sebut saja deretan riset ini: Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007), Seabad Pers Perempuan (1909-2009), Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia (1908-2008), Almanak Partai Politik Indonesia (1912-1999), Seratus Buku Sastra Indonesia Yang Harus Dibaca Sebelum Dikuburkan, Almanak Seni Rupa Jogja (1999-2009), dan Penulisan Sejarah Kampung (Patehan Yogyakarta).

Riset yang melibatkan 200-an penulis muda itu berasal dari pelbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Antara lain: UGM, UNY, UII, Sanata Dharma, UIN Kalijaga, UPN Veteran, maupun UMY.

Lembaga yang didirikan sejumlah perupa muda sejak 1999 ini, memang bukan sebagai tempat meniti karir bagi mahasiswa. Semata hanya menjadi batu loncatan dan menimba pengalaman dan belajar bersama. Di ruang alternatif ini dibolehkan bereksperimen menulis tema apa saja secara bersama atau individu.

Bahkan, salah satu riset pers dari dua anak muda di lembaga ini, yakni Trilogi Lekra Tak Membakar Buku, sempat dilarang Kejaksaan Agung pada tahun 2009 dan kemudian dianulir Mahkamah Konstitusi setahun kemudian.

“Melecut keberanian menulis dari anak-anak muda ini yang sering digongkan. Dan baru setelah itu diyakinan untuk membuat buku-buku yang bahkan tak terbayangkan oleh mahasiswa itu bisa membuatnya,” kata salah satu koordinator riset Muhidin M Dahlan.

Menurut Agung Dwi Hartanto, ruang belajar dan berekspresi dengan keyakinan sepenuh-penuhnya disuguhkan di Indonesia Buku. Bagus dan tak bagus hasilnya tak masalah. Yang penting rajin dan berani saja.

“Indonesia Buku, bagaimanapun telah memberikan ruang dan waktu kepada para sejarawan muda untuk meriset dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Belum ada, setahu saya, lembaga yang berani memfasilitasi anak-anak muda macam ini,” kata penulis asal Temanggung ini.

Saat menjadi mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, selain terlibat dalam riset besar Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007), Agung juga menerbitkan buku tebal dan bersampul keras berjudul: Marco Kartodikromo: Karya-karya Lengkap yang terbit mendahului skripsinya pada 2009.

“Saya kenalnya dari internet sewaktu tahun 2008. Data-datanya lengkap. Saya kagum juga dengan ketelatenan mahasiswa yang belajar di lembaga itu. Lantaran itu saya ikut bergabung karena yakin lembaga ini mampu menjaga denyut nadi sejarah Indonesia dengan anak-anak muda yang dilatih di dalamnya sebagai amunisinya,” kata direktur d:buku Bibliopolis Royal Plaza Diana AV Sasa yang bergabung untuk riset di Indonesia Buku sejak 2009.

Perpustakaan

Sebagai lembaga riset bagi anak-anak muda, Indonesia Buku juga disertai oleh perpustakaan komunitas dengan ribuan koleksi terpilih. Umumnya bertema Tokoh, Bahasa (Seni dan Sastra), dan Kawasan.

Terletak di Patehan Wetan No 3, Kraton, Alun-Alun Kidul, Yogyakarta, tidak seperti perpustakaan umumnya yang tutup lebih awal. Gelaranibuku, demikian namanya, tutup hingga jam 12 malam.

“Mengikuti buka Angkringan Buku dan berakhirnya siaran Radio Buku,” ujar salah satu pengelolanya, Khotimah Hasanah. Angkringan Buku dan Radio Buku yang dimaksud berada satu atap dengan Indonesia Buku.

Seperti rumah sendiri, kata Komang Ira Puspitaningsih. “Semau saya membaca buku. Hotspotan sampai mata juling juga karena terlalu lama menatap monitor komputer. Membuat teh atau kopi sebanyak yang saya mau. Baca buku sambil tiduran di karpet hingga terlelap pun tak ada yang melarang. Dan yang paling penting, saya tak perlu menutup mulut rapat-rapat seperti di perpustakaan lainnya seolah-olah kita ini kuper dan aneh,” kata mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UNY ini.

Hal senada juga dikatakan mahasiswa Hubungan Internasional UPN Veteran Irwan Bajang. Kata dia, inilah bentuk perpustakaan yang ideal, buku lengkap, tempat nyaman, dan banyak fasilitas pendukung lainnya. Ada juga kelas menulis gratis dengan pembicara penulis-penulis dengan jam terbang yang tinggi. “Apa yang lebih menyenangkan bagi mahasiswa selain memperoleh fasilitas dan ilmu gratis?” katanya retoris. (bond/gus)

Sumber: Harian Kedaulatan Rakyat, suplemen “Swara Kampus”, hlm D rubrik “Panorama”, dengan judul: “Gelaran Indonesia Buku: “Datang Tak Sekadar Bertamu”. Selasa, 18 Januari 2011

Workshop Penyiaran Radio Komunitas (05-06/2)

Endah "Velistha" SR sedang on air. Foto: FB

Endah "Velistha" SR sedang on air. Foto: FB

YOGYAKARTA — Seiring dengan tumbuhnya media komunikasi publik, ternyata radio tetap eksis dan memiliki ruang tersendiri dalam seluruh kegairahan medium itu.

Demikian juga dengan menjamurnya radio kumunitas publik yang merupakan salah satu efek dari demokratisasi informasi yang kian membaik, walau dengan kualitas yang masih terus diperbaiki.

Suara-suara akar rumput yang kerap terlupa dimasuki korporasi-korporasi media, menemukan ruangnya dalam radio komunitas.

Radio Buku yang didirikan Yayasan Indonesia Buku bersama dengan pribadi-pribadi yang bersemangat yang sama berada dalam kegairahan itu. Terutama semangat bahwa Radio Buku menjadi radio alternatif sebuah dunia yang selama ini diagung-agungkan sebagai mesin utama produksi pengetahuan, yakni buku.

Sebagai radio dengan segmen dunia perbukuan, boleh dibilang Radio Buku berbasis Online (Live Streaming) adalah yang pertama di Indonesia.

Kami mengundang kalian, anak-anak muda idealis, pencinta buku, senang berbagi bacaan, dan pembelajar manajemen pengelolaan radio untuk gabung di Kelas Workshop Penyiaran Radio Komunitas Angkatan I.

Acara dilangsungkan pada:

  • Hari/Tanggal: Sabtu-Minggu, 05-06 Januari 2011
  • Pukul: 10.00-Selesai
  • Tempat: Patehan Wetan No 3, Alun-Alun Kidul, Kraton, Kota Yogyakarta
  • Materi: (1) Manajemen Radio Komunitas; (2) Teknik Reportase Dasar dan Wawancara Berbasis Radio; (3) Teknik Penyiaran; (4) Teknik Penulisan Naskah dan Iklan; dan (5) Teknologi Informasi Berbasis Internet (Radio Streaming).

Setelah acara, peserta workshop akan berpraktik langsung mengelola radio yang terdiri dari beberapa spesifikasi: Manajemen, Redaksi, dan Produksi/Litbang.

SYARAT UMUM PESERTA:

  • Berdomisili di Yogyakarta (kecuali yang berminat menjadi kontributor/redaksi)
  • Bisa mengoperasikan komputer dan melek internet
  • Memiliki kendaraan pribadi (sepeda, motor, mobil)
  • Membuat resensi buku bertema: “Lima Buku Yang mempengaruhi Hidupku” (Sebutkan masing-masing judul dan penulis buku dan jelaskan alasan-alasan mengapa buku itu berpengaruh bagi kehidupan kamu)
  • Mengirimkan biodata dan foto via e-mail dan jangan lupa mencantumkan minatnya: LITBANG/REDAKSI, MANAJEMEN, PRODUKSI

SYARAT KHUSUS PESERTA:

  • Memiliki suara mikroponik dan/atau khas.
  • Kirimkan contoh rekaman suara kamu (membaca resensi yang kamu buat) dalam bentuk digital (MP3).

Kalau kamu mantap mau bergabung, silakan kirimkan biodata dan contoh suara kamu ke: radiobuku@yahoo.com

Batas pengiriman biodata, foto, dan contoh suara 29 Januari 2011.

GRATIS, TAPI TERBATAS

PESERTA YANG DINYATAKAN LOLOS MENGIKUTI WORKSHOP AKAN DIUMUMKAN VIA EMAIL MASING-MASING PADA JUMAT, 03 Februari 2011

Nomor kontak person: 08112501033 (Ria Panhar)

[RADIO BUKU]
mendengar buku membuka cakrawala

Jl Patehan Wetan No 3, Kraton, Alun-Alun Kidul, Yogyakarta
[LIVE STREAMING]
www.indonesiabuku.com

Buku Derma Desember 2010

derma buku, GELARANIBUKU, IBOEKOEDi Bulan Desember, Perpustakaan Indonesia Buku menerima derma buku dari pelbagai kalangan, baik individu maupun institusi penerbitan. Perpustakaan ini dibangun dengan kepercayaan bahwa buku bisa disimpan, disebarluaskan, dan dijaga dengan sebaik-baiknya dengan segenap-genap tanggung jawab bahwa ia tak hilang dan sesat untuk pulang ke rumah singgahnya.

Mulai Januari, sebagai usaha perluasan yang dimaksud, Perpustakaan gelaranibuku, akan hadir di rak-rak Angkringan Buku. Artinya, pengunjung tak mesti datang ke Perpustakaan Gelaranibuku untuk melihat buku. Cukup datang ke Angkringan Buku yang berada di lingkungan warga. Kawasan uji coba pertama adalah warga urban-padat Tamansari, Kraton, Yogya dan di Jalan M.T. Haryono, serta tempat-tempat lain yang memungkinkan.

Jika para penderma ingin menyumbangkan buku untuk dikelola Perpustakaan gelaranibuku ini, kami akan menjaga dan meluaskan derma itu sebaik-baiknya, seperti ibu menjaga anak-anaknya. Kami berpendapat bahwa perpustakaan adalah rumah buku dan ibuku adalah ibunya.

Inilah buku-buku derma yang diterima sepanjang Desember 2010 ini:

  1. Kebebasan dan Moralitas | 2010 | Ahmad Sahide | esei (derma dari penulisnya, 5 eks)
  2. Masyarakat Sulawesi Selatan: Apropriasi Embrio Sulawesi Selatan di Yogyakarta | 2010 | Andi Fajar Asti (ed) | esei (derma dari Asrama Saweri Gading, Kotabaru, Yogya)
  3. Oksimaron | 2010 | Isman H Suryaman | Novel (derma dari Hesti Rusli/GPU siapa tahu bisa masuk persidangan Dewan Buku yang sedang reses)
  4. Korupsi | 2010 | Tahar ben Jelloun | Novel (derma dari Serambi c.q. Anton Kurnia)
  5. Kota Seribu Gereja: Dinamika Keagamaan dan Penggunaan Ruang di Kota Manado | 2010 | Ilham Daeng Makelo (derma dari OMBAK yang serius menerbitkan buku-buku kota dan maritim)
  6. Sabda Laut | 2010 | Dul Abdul Rahman | Novel (derma dari OMBAK yang serius menerbitkan buku-buku kota dan maritim)
  7. The Tales of Gwen Silent: An Art Journey with Andre Tanama | 2010 | Vera Wijaya (dkk) | Monografi Karya (dibawa-singgahkan dengan riang oleh Endah SR bersama dua jagoan cilik andalannya magrib-magrib)
  8. Surabaya in the Book: Potret Sisi Melik Kota Surabaya | 2009 | M Anis Fathoni (derma dari Diana AV Sasa kepada lembaga tercintanya)
  9. Stones into Schools: Sekuel Memoar Laris Three Cups of Tea | 2010 | Greg Mortenson | Tokoh (derma dari Diana AV Sasa kepada lembaga tercintanya)
  10. Amplop Merah Muda untuk Pak Pos | 2010 | Janti W Janis | Kumpulan Cerita (derma dari penulisnya yang sungguh-sungguh memilih jalan menulis sebagai jalan hidupnya. Kanti adalah nominator penulis muda berbakat Khatulitiwa Award 2007)
  11. Pelarangan Buku di Indonesia | 2010 | Tim Riset PR2Media (derma PR2MEDIA via Ria Panhar)

Terimakasih kami ucapkan atas derma bukunya. Kami akan menggunakan buku yang menjadi ungkapan budi baik ini untuk seluruh pembaca di Perpustakaan Gelaranibuku.

Kunjungi selalu perpustakaan kami di Jalan Patehan Wetan No. 3, Pojok Alun-Alun Kidul, Kec Kraton, Yogyakarta. Buka dari jam 10 pagi hingga 24 tengah malam. Tersedia free hot spot dan Angkringan Buku. (Muhidin M Dahlan)

Angkringan Buku Mengundang

AngkringanAngkringan Yayasan Indonesia Buku mengundang kepada seluruh komunitas literasi/buku di Yogyakarta atau di kota-kota lain yang ingin mengadakan kegiatan di Yogyakarta.

Indonesia Buku adalah sebuah komunitas yang aktif di dunia perbukuan dan riset pengetahuan. Terletak di jantung kebudayaan Jawa yang sangat strategis, yakni Alun-Alun Kidul, Yogyakarta.

Sebagai sebuah ruang alternatif, Anda sekalian bisa menggunakan tempat ini secara gratis untuk kegiatan yang berkenaan dengan dunia literasi, seperti peluncuran dan bedah buku, diskusi ilmiah, nonton film bertema buku, pertunjukan sastra, temu penulis, ngangkring, dan sebagainya.

Fasilitas-fasilitas yang tersedia di sini adalah:

  • hot spot internet
  • warung Angkringan Buku
  • perpustakaan
  • Radio Buku
  • tiga “studio” pemutaran film (beranda, dalam, atas)
  • halaman pertunjukan yang luas
  • studio rekaman pembacaan sastra

Untuk selanjutnya, silakan datang saja ke Angkringan Buku: Jl Patehan Wetan No 3, Kraton, Alun-Alun Kidul, Yogyakarta

Contact person: Indrian Koto (081802717528), Iyung (087839137459. Alamat e-mail: redaksi@indonesiabuku.com, iboekoe@gmail.com

Koleksi Taufiq Ismail

Sumber: Facebook

Sumber: Facebook

Buku yang disusun Taufiq Ismail dan D.S. Moeljanto berjudul Prahara Budaya nyaris menjadi buku tafsir tunggal atas situasi kesusateraan tahun 1950-1960-an dengan mempersonagratakan sastrawan Kiri (Lekra) ke tempatnya yang sangat nista.

Buku propaganda lain yang sejenis dan bersifat umum adalah Katastrofi Mendunia yang mempersamakan Marxisme dengan Narkoba. Bayangkan, ajaran filsafat dan ideologi (pengetahuan) disamakan dengan begitu entengnya dengan Narkoba.

Taufiq Ismail adalah propagandis kanan pasca Lekra. Selain sajak-sajaknya yang realis, ia juga seorang religius dan penulis esei yang prolifik. Keprihatinannya atas nasib sastra di sekolah-sekolah yang membawanya berkeliling dari satu sekolah ke sekolah yang lain lewat: Siswa Bertanya Sastrawan Menjawab yang disponsori sepenuhnya Ford Foundation (Amerika Serikat).

Berikut ini koleksi karya dan tentang Taufiq Ismail di Perpustakaan Indonesia Buku (gelaranibuku):

  1. Taufiq Ismail Karya dan Dunianya
  2. Prahara Budaya: Kilas-Balik Ofensif Lekra/PKI Dkk.
  3. Katastrofi Mendunia: Marxisma Leninisma Stalinisma Maoisma Narkoba
  4. Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 1: Himpunan Puisi 1953-2008
  5. Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 2: Himpunan Tulisan 1960-2008
  6. Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 3: Himpunan Tulisan 1960-2008

Kunjungi Perpustakaan Indonesia Buku, Jl Patehan Wetan No 3, Alun-Alun Selatan, Kraton, Yogyakarta. Buka dari Senin-Sabtu, pukul 10.00 pagi sampai dengan 10.00 malam. Dan setiap Sabtu Malam Pukul 08.00 (Bakda Isya) ada pemutaran film buku oleh Cine Book Club.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan