-->

Arsip Literasi dari Sewon Toggle

Telah Hilang: Gie dan Galeng

YOGYAKARTA: Dua buku koleksi utama Gelaran Ibuku (Perpustakaan Indonesia Buku) dinyatakan hilang.

  • Soe Hok Gie: Catatan seorang Demonstran | Pustaka LP3ES | 1983 | xiv + 454 hlm; 18 cm
  • Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer | Hasta Mitra | 2000 (dengan ditandatangani Pramoedya Ananta Toer)

gieKami sangat berharap, sekiranya sedulur-sedulur pencinta buku yang pernah berkunjung di Perpustakaan Indonesia Buku, jika membawanya secara tak sengaja dan belum sempat mengembalikannya (tak terdata di buku peminjaman, baik digital maupun pencatatan manual “kitab perjanjian”), kami berharap segera dikembalikan.

Sebab jika suatu saat ketahuan menyimpan buku itu (dengan ciri-ciri yang sangat dikenali oleh Indonesia Buku), maka kami akan mengadakan perhitungan-perhitungan. Selain di-balcklist akan diumumkan secara terbuka.

Mengapa?

Selain buku itu adalah buku langka dan utama, sebab yang teramat penting adalah buku itu adalah titipan para donatur yang mempercayakan Perpustakaan Indonesia Buku untuk merawat dan mengelolanya dengan sebaik-baiknya. Sesungguh-sungguhnya.

Salam!

*Masih/sedang memburunya di semua ruang, di semua rak, di semua kardus, di semua tumpukan ribuan koran di seantero Patehan Wetan 3, Keraton, Yogya.

10 Buku Paling Sering Dipinjam di Gelaran Ibuku

Indrian KotoYOGYA–Buku apa yang menempati urutan pertama yang paling sering dipinjam pemustaka di Gelaran Ibuku? Jawabnya: Harry Potter. Buku inilah yang memiliki frekuensi cukup padat dipinjam, terutama oleh siswa-siswa di Kampung Patehan. Bisa disebut namanya Melati Elok dan saudarinya yang masih playgroup (belum bisa baca) Jessica adalah peminjam yang paling sering. Dengan frekuensi itulah, Gelaran Ibuku–sebelumnya ngotot berkata TIDAK!!–membuka lini bacaan anak. Tentu saja selain karena disebabkan “skandal” 3 siswa SMP terihik-ihik membaca puisi “Bau Betina” Binhad Nurrohmat sambil terus meraplkan kata “jijik”.

Inilah daftar sepuluh buku yang sering dipinjam hingga pekan ke 3 Juni 2011:

1. Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran
2. Cleopatra
3. Catatan dari Bawah Tanah
4. Atlantis The Lost Continent Finally Found
5. Kebebasan Pengarang Dan Masalah Tanah Air
6. Kuil Kencana
7. Berguru pada Pesohor: Panduan Wajib Menulis Resensi
8. Nyanyian Revolusi
9. Berguru kepada Sastrawan Dunia: Buku Wajib Menulis Fiksi
10. Bumi Manusia

Kunjungi selalu Gelaran Ibuku. Menyediakan buku-buku bermutu dan terpilih. Buka dari jam 10 pagi hingga 10 malam, dari Selasa-Minggu.

GELARAN IBUKU
Jl Patehan Wetan 3, Kec Kraton, Alun-Alun Kidul, Yogyakarta | Surat-e: redaksi@indonesiabuku.com | iboekoe@gmail.com | Web: www.indonesiabuku.com | Telp: (0274) 372690 | 087839137459

Bulan Film Perpustakaan

Tanggal: 04 Juni –  25 Juni
Jam Putar: 19.00-23.00
Tempat: Studio 1 Gelaran Ibuku, Indonesia Buku, Jalan Patehan Wetan No. 3, Alun-Alun Kidul, Keraton Yogyakarta, Indonesia

Perpustakaan merupakan wahana yang mengikat simpul-simpul pengetahuan. Di dalamnya hadir ribuan “ibu”, menuntun manusia mendapatkan jawab atas segala hal di dunia ini. Maka, patut disayangkan ketika perpustakaan seringkali dimunculkan secara stereotipikal dalam berbagai kesempatan. Mulai dari tempat membosankan, serius, hingga yang paling anekdotal, tidak boleh bersuara di dalamnya. Cine Book Club bersama Indonesia Buku memutuskan Bulan Juni ini sebagai bulan untuk memutar film-film bertema besar perpustakaan. Tak hanya mereproduksi imaji perpustakaan biasa, semua film pilihan bulan ini mencipta tafsiran yang jauh dari klise saat merekonstruksi sebuah institusi bernama perpustakaan. Berikut daftarnya:

1. Agora [4 Juni 2011]

Karya lanjutan sineas Alejandro Amenabar di tahun 2009 menyoal benturan paling besar masa kini: rasio versus dogma. Tak hanya mengusung wacana yang masih relevan hingga saat ini itu, film ini juga mengungkap sejarah megah filsuf perempuan Hypathia dan perpustakaan besar di muka bumi, Alexandria. Merekam tragedi kemanusiaan bernama pembakaran buku, sekaligus bernas mengungkap titik balik semua peradaban muka bumi dengan bersandar pada keutamaan ibu pengetahuan bernama buku.

2. The Name of The Rose [11 Juni 2011]

Diangkat berdasar novel laris dan kenyang sanjung puji Umberto Eco berjudul sama, film dari Jean-Jacques Annaud ini bersetia pada plot novelnya. Bersama Rahib William of Barkersville (dibintangi Sean Connery), penonton akan menyusuri relung-relung gelap biara di Utara Italia, sekaligus mengungkap rentetan peristiwa pembunuhan rumit yang dipicu oleh sebuah buku misterius karya Aristoteles. Tak bisa dipungkiri, film ini (beserta novelnya) bakal memantik kecintaan yang begitu besar pada perpustakaan.

3. Possesion [18 Juni 2011]

possession-posterDua orang akademisi bekerjasama mengungkap sebuah surat cinta pujangga Inggris era Victorian. Kesediaan diri berkutat menyelami ribuan manuskrip di perpustakaan menuntun mereka pada kenyataan bahwa surat cinta tadi bermakna lebih besar dari yang mereka kira pertama kali. Belum pernah perpustakaan dan rivalitas akademis jadi sedemikian romantis sekaligus mengasyikkan ditonton.

4. Read or Die [25 Juni 2011]
Di akhir bulan, kita akan menyaksikan sebuah film yang selama ini belum pernah diputar oleh Cine Book Club, yaitu animasi Jepang. Tapi singkirkan bayangan anda bahwa animasi akan selalu bermakna tayangan anak-anak dan dangkal. Sutradara Kouji Yasunari mengajak kita membayangkan dimensi perpustakaan secara esktrim, dengan menjadikan perempuan muda pecinta buku menjaga dunia dari tangan-tangan jahat lewat buku dan kemampuan ajaibnya mengubah setiap kertas jadi senjata. Tak hanya menghibur, film ini begitu tulus mengajak kita mencintai pengetahuan lewat cara-cara tak lazim.

Setiap pemutaran dimulai pukul 19.00 tepat, tentunya di Gelaran Indonesia Buku Patehan. Ajak kawan, pacar, ayah-ibu, adik, kakak, paman, bibi, siapapun dia. Sebab semua pemutaran gratis, tersedia pula makanan dan minuman, serta tak lupa, beragam hadiah menarik bagi peserta diskusi usai pemutaran yang beruntung.

Mari Menonton Buku, Mari Membaca Film! (Ardyan M Erlangga)

Pengajian Jawa IBOEKOE-YANTRA: "Kayu Bertuah"

Budi Hardono

Budi Hardono

JOGJA–Kayu Bertuah menjadi tema “Pengajian Jawa” seri 7 yang diselenggarakan Yantra dan IBOEKOE di Gelaran Ibuku, Patehan, Keraton, Yogyakarta (2/6). Budi Hardono (71) dalam uraiannya mengatakan, kayu bertuah merupakan jenis kayu yang disediakan semesta mempunyai daya kekuatan energi dan memiliki potensi supranatural dan bukan rekayasa manusia.

“Dalam kayu bertuah itu ada ion-ion karbon organik dan anorganik. Kayu-kayu kering itu jika terbakar hanya bagian anorganiknya. Adapun organiknya tidak. Selain itu, dalam kayu bertuah, terkandung nitrogen yang tinggi yang berguna untuk kehidupan. Terutama mendapatkan pancaran energi dari kesadaran agung,” jelas pengasuh spiritual “Sadar Langsung” ini.

Budi Hardono bercerita, ia mendapatkan ilmu Kayu Bertuah ini dari pengalaman spiritualnya mengadakan kontak dengan kesadaran agung yang kemudian membimbingnya membuat metode “Sadar Langsung” dengan cara sujud. “Kesadaran ini adalah kesadaran pasrah sumarah ing ngarsaning gusti, manungsa mung sadarmi nglamapahi.”
Kayu adalah salah satu rangkaian bagaimana “Sadar Langsung” itu bisa dirabai.

“Nabi-nabi dan spiritualis juga berdekatan dengan kayu. Misalnya Sidharta Gautama yang tercerahkan di bawah pohon. Nabi Musa memiliki tongkat yang bisa membelah lautan,” lanjutnya.

Mantan mahasiswa Sosiatri, Universitas Gadjah Mada tahun 1961 (UGM masih di Pagelaran Keraton, red) ini bercerita, pertama kali menyadari pentingnya kayu bagi manusia tatkala pada 1987 mengikuti pameran kayu di Yogyakarta. “Waktu itu saya menafsirkan secara spiritual makna dan guna kayu-kayu. Tahu-tahunya menarik minat banyak orang. Sukses besar. Bahkan kayu-kayunya diborong pengusaha Mooryati Sudibyo,” ujar pensiunan Departemen Tenaga Kerja di Yogyakarta ini.

Dalam “Pengajian Jawa” itu, Budi Hardono membawa 34 dari 61 jenis kayu yang dia ketahui khasiatnya bisa diwujudkan kehidupan yang rahayu. Kayu-kayu bertuah itu antara lain nagasari, mentawa, mentigi, tasak, setigi, lotrok, sepang, lingsar, songgo langit, walikukun, dan lain-lain.

Kayu nagasari, misalnya. Tuah kayu yang di masa Pangeran Diponegoro dianjurkan ditanam dan terdapat di makam-makam raja ini mempunyai fungsi multiguna. Selain untuk keselamatan, keharmonisan keluarga, kesehatan, anti petir, anti daya negatif dan hal lain yang bersifat universal.

“Bisa juga Nagasari ini untuk pengobatan dengan cara merendam potongan kayu pada air dingin/direbus untuk penyakit dalam. Saya sarankan untuk jamu bisa mengikutsertakan bagian dari kayu ini, bisa biji, kulit, atau daunnya,” jelas mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI).

Lain lagi kayu kebak. Kayu jenis ini cocok digunakan untuk penjual-penjual bakso. Tuah kayu ini, kata Mbah Budi, anti daya negatif dan memperlancar rezeki. Cara penggunaannya, potongan kayu disimpan, direndam dalam air, berdoa kepada Tuhan lalu airnya diminm sebelum tidur.

Budayawan yang pernah diminta Keraton Hadiningrat Yogyakarta untuk menerangkan esoterisme keris ini menyimpulkan bahwa kayu-kayu bertuah itu, dalam pandangan spiritualitas orang jawa, merupakan pembuktian bahwa ada energi semesta yang bekerja di alam mikrokosmik. Dan cara masuk dan merasakan energi itu dengan laku dan doa. Kesadaran puncak dari sujud semesta itu yang disebut Kesadaran Agung. Semesta membuka diri untuk kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang terbangun jiwanya.*

Obrolan Apresiasi Sastra

Sebanyak 10 penulis muda menggelar diskusi bertajuk “Obrolan 10 Buku Sastra dalam Semalam di beranda Indonesia Buku (I:BOEKOE) di Kelurahan Patehan, Kecamatan Keraton, DIY.

Diskusi yang digelar Selasa (24/5) malam itu ditemani kopi bermerek dagang Max Havelaar yang didatangkan dari Swiss oleh Sigit Susanto, salah satu pendiri komunitas Apresiasi Sastra (Apsas).

Demikian dua paragraf pertama dari Harian Jogja (Lihat Image). Terimakasih Gelaran Ibuku kepada rekan-rekan penulis dan sastrawan muda dari macam-macam kota yang datang meramaikan acara itu. Terutama sekali kepada nara sumber yang beberapa di antaranya didaulat memasuki studio utama Radio Buku untuk rekaman suara beberapa program buku yang disiapkan. Tak lupa kepada dua pribadi yang “babak belur” menyiapkan acara: Faiz Ahsoul dan Sigit Susanto.

Jika ada kekurangan dalam pelayanan sebagai tuan rumah, segenap pustakawan Gelaran Ibuku mohon maaf. Malam itu, kopi Max Havelaar dan sup sastra tandas. Tapi terbagi semuanya secara merata. Salam selalu.*

[audio:http://indonesiabuku.com/wp-content/uploads/2011/05/Sigit-Susanto.mp3|titles=Sigit Susanto]

Harian Jogja, 26 Mei 2011, hlm 26

Harian Jogja, 26 Mei 2011, hlm 26

Multatuli Mampir di IBOEKOE

Cerita Ubaidilah Muchtar

MultatuliHari ini sungguh menyenangkan. Sejak matahari belum benar keluar dari tempatnya aku sudah memasuki palataran rumah ini. Ya, di rumah di Jalan Patehan Wetan No. 3 Yogyakarta. Sebenarnya harus kusampaikan bahwa kedatanganku sungguh terlambat. Namun kini aku ingin membagi kisahku ini.

Sehari sebelum kedatanganku ke rumah ini aku masih berada di ibu kota negara. Hari kemarin hari Selasa. Hari Selasa tanggal 24 Mei 2011. Pagi ini aku harus pergi ke Auditorium Ragunan. Ya, orang-orang akan menyebutnya Gelanggang Ragunan. Hari ini kawanku Daurie Bintang punya acara. Acaranya dihadiri sekira tiga ratusan mahasiswa calon guru dan mereka yang sudah menjadi guru.

Tiba di Auditorium Ragunan tampak peserta berjubel di meja pendaftaran. Hari ini hari kedua mereka mengikuti kegiatan Workshop Guru: Bangkit Guruku, Bangkit Indonesiaku. Setelah kupijit nomor telefon suara Mas Daurie memintaku untuk masuk. Di tangga itu Mas Daurie sudah menunggu.

Di dalam acara sudah berlangsung. Pemateri dari CCIT Universitas Indonesia sedang memberikan materi. Aku masuk ruangan itu. Beberapa orang panitia yang masih berstatus mahasiswa menyambut kami. Kusalami satu persatu. Yang kuingat dari sekian banyak panitia itu ada Mbak Novi dan Mbak Shofa. Sementara dua pemuda yang menjadi peserta kuingat bernama Bayu dan David. Juga ada Edward. Sebagian besar peserta workshop hari ini merupakan mahasiswa dari sebuah universitas di daerah Pasar Rebo.

Selang dua jam dari sejak kehadiranku di tempat ini Mas Daurie memasuki pentas. Kini giliran materi yang akan dia sampaikan. Pernahkah kawan membayangkan sebuah acara workshop dengan pemateri berambut gondrong mengenakan celana jeans dan berkaus oblong. Ini memang luar biasa. Dahsyat kukira. Dalam kepalaku pengisia acara model begini berkemeja necis dan bercelana katun.

Namun tentu saja akan menjadi salah jika menilai seseorang hanya dari cara berpakaian. Saat memalukan sekali berpikir demikian. Maka aku tak ingin menilai. Seperti juga yang diajarkan Mas Daurie kepada para peserta workshop.

Waktu menunjukan pukul sebelas tepat ketika Mas Daurie memintaku ke depan. Sebelumnya aku duduk di barisan belakang. Aku diperkenalkan sebagai guru dari pedalaman. Hari ini aku diminta bercerita tentang aktivitasku sebagai guru. Selain itu tentu saja aktivitasku di luar urusan mengajar di SMPN Satap 3 Sobang.

Ya, aku diminta untuk bercerita tentang Taman Baca Multatuli dan kegiatan Reading Group Max Havelaar. Taman baca yang tentu saja sebagai kawan pernah mendengar atau membacanya. Taman Baca Multatuli yang berada di kampung yang hingga kini belum teraliri listrik dan hanya dapat dijangkau dengan sepeda motor.

Di depan para calon guru dan guru kusampaikan kisahku. Tentu saja seputar bagaimana mengelola taman baca dan mengurusi Reading Group Max Havelaar. Sebelum memulai berkisah, Mas Daurie memuta drama Saijah dan Adinda. Drama yang dipentaskan anak-anak Taman Baca Multatuli hari Jumat tanggal 13 Mei yang lalu. Drama dengan proferty kerbau sungguhan. Lalu ada beberapa foto kegiatan juga ditampilkan.

Kini waktuku berkisah. Aku berkisah seperti yang kusampaikan di atas. Aku mengawali menjadi guru di pedalaman Lebak. Di Banten. Membawa beberapa buku dengan boks plastik 60 liter. Lalu menamai Taman Baca Multatuli. Lalu Reading Group Max Havelaar selama sebelas bulan. Terhitung sejak 23 Maret 2010 hingga 21 Februari 2011. Juga dilanjutkan dengan Reading Group Saijah dan Adinda berbahasa Sunda selama tiga bulan (23 Februari 2011-12 April 2011).

Pukul setengah satu aku selesai berkisah dan bertanya jawab. Para peserta istirahat. Makan dan minum juga bertemu kekasihnya. Setengah dua Mas Daurie melanjutkan materi workshop hingga pukul empat. Pukul empat aku berpamitan. Aku sampaikan permohonan maafku sebab aku pulang lebih awal. Juga rasa terima kasihku sebab aku bahagia bertemu dengan mereka calon guru dan para guru.

Terima kasihku untuk Mas Daurie juga panitia. Kuarahkan sepeda motorku ke Terminal Lebak Bulus. Dari Ragunan hingga ke Terminal Lebak Bulus tiga puluh menit lamanya. Aku menuju loket nomor 24. Dengan bus Safari Dharma Raya aku menuju rumah ini.

Ya, pukul lima sore busku meninggalkan Lebak Bulus. Menyusuri jalan tol Jakarta Cikampek yang padat. Keluar Cikampek dalam hitunganku ada tiga jembatan yang sedang diperbaiki hingga Pamanukan. Pamanukan kota kelahiranku. Di sana aku dibesarkan. Di rumah makan Taman Sari busku berhenti. Menuku nasi putih, mi goreng dengan sayuran di dalamnya, sayur lodeh, dan ayam bakar. Kuhabiskan santapan malamku.

Bus melaju meninggalkan Pamanukan yang makin menggeliat. Aku tak dapat tidur maka kuputuskan membaca Anne Frank. Di Brebes macet hebat menghadang laju kendaraan. Aku tak sempat menghitung jumlah jembatan yang sedang diperbaiki. Juga jalan yang sedang direnovasi. Namun pak sopir terus berbincang denganku. Aku keluar dari kursi nomor tujuh tempatku. Kuisi kursi sang kernet yang terlelap di belakang. Di kursi yang bersebelahan dengan sopir itu aku duduk dan berbincang. Pak sopir berbahasa Jawa campur Indonesia. Sesekali ia menyodok memasuki jalur berlawanan.

Selepas Brebes aku tak ingat lagi. Aku tertidur. Di pekalongan aku terbangun kembali dan tertidur lagi. Pukul tiga tepat aku turun dari bus. Kulihat kami sudah tiba di Gringsing. Gringsing jika tak salah nama tempatnya. Adanya di Temanggung. Setelah cuci muka dan minum teh panas. Mobil melaju kembali. Subuh menggema saat bus memasuki Magelang.

Pukul enam aku tiba di Terminal Jombor. Melanjutkan perjalanan dengan Trans Jogja nomor 2A hingga Malioboro. Di Malioboro aku sambung dengan 3A turun di depan SMA 7 Jogjakarta. Kukira Trans Jogja sungguh nyaman. Dengan sekali bayar tiba di tujuan.

Kususuri jalan di depan SMA 7 ini. Hingga di sebuah gang aku bertanya alamat rumah ini. Yang ditanya memberiku petunjuk. Aku harus masuk nanti ketemu Patehan Kidul lalu lurus saja hingga mentok. Nah, lalu belok kiri di sebelah kanan ada alamat ini.

Kumasuki pekarangan rumah ini. Sebuah papan nama bertuliskan [I:BOEKOE] INDONESIA BUKU dengan warna hijau menyambutku. Sebuah gerobak dengan penutup bertuliskan Balai Belajar Bersama Angkringan Buku di sebalah kanan. Dan sebuah lagi di arah sebaliknya. Pemilik tempat, Mas Muhidin M Dahlan menyambutku. Ada juga Mbak Diana Sasa di sana juga kawan-kawan dari Surabaya. Mas Sigit Susanto, Mas Wawan, dan Mas Tommas sedang berjalan kaki pagi hari. Semalam aku bertelefon dengan Mas Sigit.

Seharusnya aku tiba di tempat ini pukul tujuh malam. Ya, sebab malam saat aku di bus di I:BOEKOE sedang berlangsung acara PARADE OBROLAN KARYA, Diskusi 10 Buku dalam Semalam! Kesepuluh karya yang dibedah malam itu di antaranya 2 novel, 2 kumcer, 1 esai, 3 kumpulan puisi, dan 2 karya terjemahan.

Kesepuluh karya tersebut secara berurutan, yaitu novel Rinai Kabut Singgalang, karya Muhamad Subhan dengan pembicara Aguk Irawan; novel Sak Drajat Coro & Tikus, karya Rahmat Ali dengan pembicara Yahya TP; kumpulan cerpen Mengawini Ibu, karya Khrisna Pabichara dengan pembicara Vivi Diani Savitri; kumpulan cerpen Di Bawah Bayang-Bayang Bulan, karya Gus Noy dengan pembicara Arie Saptajie; esai Asep Sambodja Menulis, karya Asep Sambodja dengan pembicara Saut Situmorang; kumpulan puisi Festival Bulan Purnama Trowulan 2010, karya Zawawi, Viddy, Niduparas, Budi, Bayu dkk. dengan pembicara Saiful Amin Ghofur; kumpulan puisi Rembulan, Matahari dan Bayangan, karya Urip H.K, Maureen. S dengan pembicara Totok Anindya Barata; kumpulan puisi Halaman Rumah, karya Yayan Triyansyah dengan pembicara Y Thendra BP; terjemahan Rahasia Hati Sang Nabi, karya Khalil Gibran, penerjemah Anton Kurnia dengan pembicara Hamdi Salad; terjemahan The Ninth Anak Kesembilan, karya Verenc Barnàs, penerjemah Vira Tanka dengan pembicara Wawan Eko Yulianto.

Semua buku yang dibedah malam itu merupakan buku-buku karya penulis yang tergabung di milis Apresiasi-Sastra (Apsas). Kegiatan malam ini merupakan kegiatan penutupan dari rangkaian berbagai kegiatan yang dilaksanakan Apsas. Sebelumnya pada tanggal 13-15 Mei ada acara Sastra Multatuli di Taman Baca Multatuli. Kemudian pada tanggal 17-23 Mei ada acara Obrolan Sastra di Pondok Maos Guyub di Kendal. Dan di I:BOEKOE ini merupakan acara penutupan.

Ah, sayang aku datang ketika acara enam jam telah usai. Namun kebahagiaanku tentu saja masih berlimpah. Setelah berbincang sebentar aku izin untuk ikut mandi. Kamar mandinya bersih dengan bak besar. Di dindingnya terdapat stiker dengan tulisan BERSIH LEBIH BERBUDAYA dengan ilustrasi seekor burung dengan kepakan sayap sedang buang kotoran dalam tanda silang merah.

Rumah ini didominasi dengan buku. Di setiap sudut ada buku. Ya, tentu saja namanya saja Indonesia Buku. Rumah dengan ruang tengah yang luas dengan cat yang didominasi warna merah, kuning, hijau, dan biru ini memang cocok dengan nama yang disandangnya. Bahkan di beberapa kamar bejibun arsip dalam tatanan yang rapi dan tentu saja membuat iri. Di salah satu bagian ada ruang radio. Ya, radio. Radio online di Indonesia Buku.

Di salah satu sudut kami berbincang. Ada aku, Mas Muhidin, dan Mbak Sasa. Empat kursi kayu, empat kursi jok dengan batang besi tempat kami berbincang. Tak lama berselang Mas Muhidin mengajak aku bercerita tentang Taman Baca Multatuli dan Reading Group Max Havelaar di studio Radio Buku, tentu saja.

Pukul setengah delapan Mas Sigit, Mas Wawan, Mas Tommas kembali sehabis jalan pagi. Kami berbincang banyak hal. Mulai Multatuli hingga Tolstoy. Dari karya terjemahan hingga sastrawan yang sungguh-sungguh dalam berkarya. Dari Lekra hingga kesenian rakyat.

Pukul setengah dua belas kami berempat pamitan kepada tuan rumah. Aku, Mas Sigit, Mas Wawan, dan Mas Tommas berjalan menyusuri Patehan hingga Taman Sari. Ya, kami mampir dan berkeliling keraton Taman Sari. Taman Sari tempat mandi puteri-puteri dan para perameswari. Kami memasuki ruang demi ruang keraton ini. Menyusuri lekuk demi lekuk lorong denga pentilasi udara yang baik. Hingga tiba di sebuah sumur selepas melalui lorong yang di atasnya rumah-rumah warga.

Minum es pisang ijo setelah keluar dari Taman Sari nikmat sekali. Terik matahari siang ini. Siang di hari Rabu tanggal 25 Mei 2011 tak menyurutkan langkah kami. Hingga kami tiba di keraton. Keraton tempat raja Jogjakarta tinggal. Setelah membeli karcis dan tanda membawa kamera kami mendapatkan seorang abdi dalem yang akan menjadi pemandu. Aku akan sebut dia Mbah. Mbak membawa kali ke berbagai sisi dari keraton. Ke tempat-tempat yang menyimpan berbagai barang milik raja. Juga berbagai pernik aktivitas raja. Ada koleksi barang-barang Sri Sultan Hamengkubuwono IX hingga pakaian Sri Sultan Hamengkubuwono X saat dilantik.

Mas Sigit sebab semalam tak tidur permisi untuk istirahat di depan pendopo yang menyuguhkan kesenian wayang golek. Kami bertiga berkeliling dengan Mbah sebagai pemandu. Serombongan pelajar dari SMA 10 Tangerang padat mengisi tiap ruangan. Juga turis mancanegara. Mbak bercerita. Ia telah tiga puluh tahun mengabdi. Jika di pemerintahan pangkatnya setingkat bupati. Jika di kepolisian ia letnan kolonel. Para abdi dalem keraton bekerja dengan penuh cinta meskipun ada yang digaji hanya dua puluh lima ribu sebulan. Ya, dua puluh lima ribu rupiah saja. Namun karena rasa cinta yang melekat maka pekerjaan itu menjadi menyenangkan.

Siapa pun dapat menjadi seorang abdi dalem. Mbah berbakaian lengkap namun tanpa alas kaki. Memang para abdi dalem saat bertugas tidak mengenakan alas kaki. Pelataran keraton dilapisi pasir yang sengaja ditaburkan. Para pengunjung harus melepaskan penutup kepala. Mas Wawan dua kali diingatkan sebab topi putihnya masih melekat di kepala.

Puas berkeliling kami menuju tempat Mas Sigit beristirahat. Menunggu sekira sepuluh menit hingga Mas Sigit terbangun. Kami menuju alun-alun utara. Semangkuk soto ayam menemani makan siang kami. Kecuali Mas Wawan yang menikmati pecel.

Kami berpisah di Malioboro. Mas Sigit dan Mas Tommas menuju rumah Mas Puthut. Aku dan Mas Wawan melanjutkan berjalan di trotoar Malioboro yang ramai. Selang dua puluh menit aku dan Mas Wawan berpisah. Mas Wawan melanjutkan ke Stasiun Tugu yang akan membawanya dengan kereta ke Malang. Sementara aku menaiki Trans Jogja kembali ke Indonesia Buku.

Ya, saat ini. Saat menulis catatan ini. Aku masih di Indonesia Buku. Di tempat buku berada. Di tempat yang membuat siapa pun yang datang akan terperangah dengan kegilaan pengelolanya. Kegilaannya terhadap buku. Aku akan kembali saat malam menjelang nanti. Salam malam.

Patehan, 25 Mei 2011, Pukul 16.00

Randa: "Bu, pamit mau ke Perpus"

randaNamaku Randa Desianturi Putra (12). Baru saja lulus dari SD Muhammadiyah Karangkajen. Saya mulai rajin mengunjungi perpustakaan IBOEKOE. Seingatku, belum lama. Hari Jumat minggu lalu. Informasinya saya dapatkan dari Andri Hernawan. Temanku di kelas II SMP Islam, Gedongkiwo: “Situ aja kalau pengen istirahat atau membaca buku.”

Di sekolahku sendiri juga punya perpustakaan. Namanya nggak ada. Ditulis saja “Perpustakaan”. Bukanya untuk kelas 6 buka Senin-Kamis. Jam belajar. Tapi bisa masuk perpustakaan ya jam istirahat yang 45 menit dikurangi jam jajan.

Koleksinya kebanyakan buku komik. Ya itu saja. Makanya saya suka komik. Jadi teringat tetangga saya komikus terkenal dari ISI. Terra Brajagosha namanya. Belum baca komiknya sih. Tapi ngerti kalau Terra itu terkenal. Di IBOEKOE ada juga komiknya. Ditulis bareng orang lain. Lupa-lupa. Mungkin bareng sama penulis Eko Prasetyo.

Perpustakaan IBOEKOE itu tak jauh dari rumahku di Pugeran. Kalo sudah sampai di Nagan terus ke wetan. Dekat Alkid. Kalau bareng teman, naik sepeda.  Kalau sendiri biasanya jalan kaki. Jalan kaki cuma 15 menit. Kalau soal alan kaki saya sudah sering. Apalagi main ke Alun-Alun Kidul malam hari.

Banyak buku di sana. Tapi saya kepinginnya kamus-Kamus, rumus matematika, kosa kata (bahasa Indonesia). Di sekolah ada. Tapi nggak lengkap. Banyak suwek (sobek).

Di rumahku tak ada perpustakaan. Hanya rak buku. Bapak cuma suka baca koran. Hanya saya dan kakak yang suka baca. Sekarang kakak di Kalimantan Selatan. sekolah dan jaga warnet. Namanya Evi (18). Ikut dengan saudara. Ibu kerja jualan cireng di SD Muhammadiyah. Makanan bandung. Isinya daging gilingan. Sebelum dimasak putih. Masak agak kecokelatan. Bentuknya seperti pastel.

“Bu saya mau ke Patehan mau baca buku,” kataku pagi ini (22/5). Pagi ini saya tak memakai sepeda. Maklum, lagi rusak.

“Hati-hati. Jangan nakal di situ,” Ibu memperingatkan.

Dan, perpustakaan IBOEKOE masih tutup. Padahal sudah jam 10. Seperti tertera di jadwal bukanya: dari jam 10 pagi sampai 10 malam. Dari Selasa-Minggu.

Diluncurkan, 'Ngeteh di Patehan'

Akhirnya, buku “Ngeteh di Patehan: Kisah Beranda Belakang Keraton Yogyakarta” diluncurkan juga. Walau dimulai dengan peristiwa yang “tak enak”, peluncuran itu berjalan lancar di Karawitan Pujo Laras, Taman, Keraton (8/5). Peristiwa tak enak yang dimaksud adalah spanduk yang dipasang melintang di Jl Taman (depan Gg Karawitan) raib diparang orang. Setengah bercanda panitia mengatakan, seandainya di spanduk itu ada frase dukungan Penetapan, mungkin saja selamat.

Hampir semua periset buku ini hadir. Juga ditemani orang tua mereka yang selama ini ketar-ketir dengan anak remajanya yang nyaris tiap hari ke Gelaran Ibuku, bahkan sampai malam, untuk mengikuti pertemuan-pertemuan.

Diiringi 30 penabuh gamelan, buku setebal 526 halaman ini diluncurkan. Lurah pun bangga! Kami juga terutama. Hanya ini yang bisa IBOEKOE berikan kepada kampung di mana komunitas ini bergiat. Salam.

Jawa Pos

Jawa Pos, 11 Mei 2011

Tribun

Tribun Jogja, 11 Mei 2011

Harian Jogja (Harjo), 9 Mei 2011

Harian Jogja (Harjo), 9 Mei 2011

[audio:http://indonesiabuku.com/wp-content/uploads/2011/05/ngeteh-narasi-1.mp3|titles=ngeteh narasi 1]

Bulan Mei Bulan Film Pendidikan

Pukul 19:00 – 28 Mei jam 22:30
Studio 1 Gelaran Indonesia Buku Jalan Patehan Wetan no. 3, Alun-Alun Kidul, Keraton Yogyakarta, Indonesia

Benarkah kita saat ini sepenuhnya memahami esensi pendidikan? Berkat keberadaan Hari Pendidikan Nasional yang dirayakan setiap 2 Mei, bulan ini sering pula disebut bulan pendidikan. Hanya saja, setiap kita menyaksikan media massa, atau menengok kondisi sekitar, melulu banyak jelaga menyelimuti dunia pendidikan Indonesia kiwari.

Cine Book Club bekerjasama dengan Indonesia Buku pada bulan ini akan melaksanakan tiga sesi pemutaran film-film dengan tema pendidikan, dengan tetap bersinggungan dengan kriteria kami, yaitu meliputi keberadaan buku maupun aktivitas literasi. Untuk itu, kami akan menyajikan kepada segenap penonton film-film yang tak sekadar menggambarkan kondisi dunia pendidikan, tapi menyasar lebih dalam. Untuk mengajak penonton menyelami kembali hakikat aktivitas mendidik itu sendiri, yaitu meminjam istilah Paulo Freire, “penyadaran dari realitas yang menindas”.

1. Freedom Writers [2007] – 7 Mei

freedom-writersSeorang guru muda ditugaskan di sebuah sekolah rintisan integrasi antar etnis. Erin Gruwell (diperankan dengan apik oleh Hillary Swank) segera menyadari bahwa persoalan luar kelas tak bisa begitu saja ditanggalkan dalam proses belajar mengajar. Prasangka etnis, kekerasan, serta budaya geng terus mengikuti hidup murid-muridnya.

Gruwell menyadari kemudian, semua rintangannya dalam mendidik anak-anak tersebut rupanya dapat dihadapi dengan buku dan menulis. Sebuah film berdasar kisah nyata yang populer dari Richard LaGravenese yang sampai sekarang masuk daftar wajib tonton bagi setiap pengajar, pelajar, serta siapapun ia yang mencari inspirasi lugas dari sebuah film ringan dan tetap menyentuh.

2. Tiga Film Pendek Coret dan Jeda – 14 Mei
Dua komunitas muda-mudi dari Yogyakarta (Coret) dan Magelang (Jeda) menyuguhkan pada kita beberapa potret aktivitas literasi dan pendidikan. Potret yang sedianya mengajak kita berkaca dan merenungkan kembali hakikat pendidikan di Negara ini.

  • “Tahfit” (aktivitas menghapal Al-Quran di pondok)
  • “Difabel yg berprestasi”
  • “Cah ndalem” (menyusuri kisah pembantu di pondok pesantren yang memiliki kesempatan belajar di pondok)

3. Jermal [2009] – 28 Mei
Proyek patungan antara produser Jerman dan Indonesia, dan segera dinobatkan oleh banyak kritikus sebagai salah satu film Indonesia terbaik bertema pendidikan. Cerita berfokus pada Jaya (12) yang kehilangan ibunya, lantas menemui satu-satunya anggota keluarganya yang masih hidup, yaitu ayahnya, Johar (48). Johar bekerja di sebuah jermal, tempat penjaringan ikan yang dibangun di atas tonggak-tonggak kayu di tengah lautan. Jermal tersebut terpencil dan sulit dijangkau. Di tempat itu, kerja buruh kasar dan keterasingan adalah kenyataan sehari-hari. Johar dibayangi masa lalu kelam yang membuatnya tak bisa kembali ke daratan sejak 12 tahun silam.

Tak hanya bercerita mengenai hubungan ayah-anak yang serba sulit, kemampuan baca tulis Jaya rupa-rupanya banyak membantu anak-anak lain di Jermal untuk mengembangkan diri. Dibandingkan “Laskar Pelangi” yang konon amat inspiratif dalam merangsang hasrat merengkuh pendidikan, “Jermal” menyasar hal-hal yang lebih prinsipil. Saat anak-anak yang terasing di Jermal itu tak tersentuh pendidikan formal, mereka terbukti tak pernah kehilangan “bahasanya” berkat kedatangan Jaya. Untuk itu “Jermal” secara jitu berhasil membicarakan hakikat pendidikan yang jarang kita sentuh selama ini.

Setiap pemutaran dimulai pukul 19.00 tepat, tentunya di Gelaran Indonesia Buku Patehan. Ajak kawan, pacar, ayah-ibu, adik, kakak, paman, bibi, siapapun dia. Sebab semua pemutaran gratis, tersedia pula makanan dan minuman, serta tak lupa, beragam hadiah menarik bagi peserta diskusi usai pemutaran yang beruntung. Mari Menonton Buku, Mari Membaca Film!

(Ardyan M Erlangga)

NB: 20, 21, 22 Mei 2011 Cine Book Club atas usulan anggota sarekat penonton buku, akan diisi dengan film-film bergenre sama untuk dikaji bersama. Pekan tengahan bulan ini akan diisi dengan film-film pergerakan mahasiswa di beberapa negara.

Komunitas Peresensi Buku Jogja Ngeteh di Patehan

KopajaSabtu, 30 April Pkl. 16.00 Komunitas Peresensi Jogjakarta (KPJ) mengadakan pertemuan di IBOEKOE (Indonesia Buku) Jl. Patehan Wetan no.3, Alun-alun Kidul. Kami bertemu dengan Muhidin M. Dahlan (Gus Muh) dan Subhan Ahmad. Mereka berdua dan beberapa orang adalah pengelola IBOEKOE. Apa yang mereka lakukan di IBOEKOE patut diacungi jempol. Kami salut.

Sembari minum teh kami ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia resensi. Gus Muh banyak bercerita perihal dunia resensi tempoe doeloe, yang boleh jadi tidak banyak orang yang tahu. Bagaimana misalnya tokoh-tokoh yang kita kenal saat ini adalah dulunya pegiat resensi, seperti Goenawan Mohamad, Eep Saefulloh Fatah, Budi Darma, dan lain-lain. Mereka sangat jago dalam meresensi buku. Goenawan Mohamad banyak sekali meresensi buku Nh. Dini, entah ada apa, ujar Gus Muh.

Gus Muh juga mencoba membandingkan tipe resensi tempoe doeloe dengan saat ini. Dulu, kata dia, resensi-resensinya banyak yang “galak,” kritisnya minta ampun. Para peresensi banyak yang “membunuh” buku yang sedang mereka resensi. Salah satunya resensi Abdullah Said Patmadji (S.P.). Kejadiannya pada tahun 1962. Abdullah S.P. meresensi buku Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka yang dimuat di harian Bintang Timur.

Metode resensi yang digunakan Abdullah S.P. adalah metode komparasi. Dia membandingkan dengan karya Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi, sastrawan Mesir, berjudul Al-Majdulin. Perbandingannya sangat detail, sampai-sampai resensinya terus bersambung dalam beberapa edisi. Hasil bacaan Abdullah S.P. mengerucut pada satu kesimpulan bahwa karya Hamka tersebut plagiasi dari karya Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi. Anehnya, banyak orang mengira resensi itu ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, padahal jelas-jelas yang menulis Abdullah S.P. Dan polemik itu berlangsung sampai dua tahunan.

Subjek pembicaraan kami terus beranjak ke seputar dunia resensi di era sekarang. Adanya media net (online) bisa menjadi alternatif untuk menulis resensi dengan sebebas-bebasnya, di samping menulis versi media cetaknya, kata Gus Muh. Gus Muh juga banyak memberikan masukkan yang berharga bagi kami. Begitu juga Mas Subhan Ahmad. Semoga suatu ketika kami akan mengamalkannya.

Ah, sebetulnya masih banyak yang bisa aku ceritakan perihal pertemuan kemarin, tapi aku sudah di sms Semar untuk minta traktir makan jengkol di Papringan, lantaran hari ini resensiku dimuat di Seputar Indonesia (Sindo).

Ok, kawan-kawan, semoga bermanfaat. Salam teh hangat.

Kepada Gus Muh, Mas Subhan, dkk.. kapan-kapan kita ngeteh lagi di Patehan. Terima kasih ya.

M. Iqbal Dawami

Minggu, 1 Mei 2011, Pkl. 10.00 WIB

Turut naik dalam “Kopaja”:

  1. Ali Usman
  2. M Iqbal Dawami
  3. Abdul Hafid
  4. Moh Khaliullah A.R.
  5. Supriyadi
  6. Maghfur AR
  7. Taufiq
  8. Bramma Aji
  9. Humaidy AS
  10. Munawir Azis
  11. Abdul Kholiq
  12. Fatkhul Anas
  13. Noval Maliki
  14. Muhidin M Dahlan
  15. Ahmad Subhan a.k.a Galih

[audio:ngetehdipatehan.mp3]

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan