-->

Arsip Literasi dari Sewon Toggle

Pembeli Buku

book shopDari Jakarta ke Bandung hanya satu niat: membeli buku-buku sastrawan Lekra yang diterbitkan Ultimus. Buku-buku itu diluncurkan di Gedung Indonesia Menggugat pada sabtu malam seusai Bandung dihajar hujan entah ke sekian kalinya.

Awalnya nunut nginap di Gedung Indonesia Menggugat menunggu kereta Lodaya meluncur ke Jogja keesokan paginya. Tapi ada Gusti Prabu. Hah. Jadilah dari awalnya di GIM numpang nginap di kos Gusti Prabu. Satu gang panjang dengan Daarut Tauhid milik AA Gym (GIM???). Di kost itu banyak buku. Berserakan. Kecuali tiga benda ini: tivi, radio, dan jam. Saya tak sempat tanya bagaimana caranya ia menyingkirkan benda-benda berbunyi-sendiri di luar kontrol kita.

Lalu pagi datang pagi-pagi sekali bersama segelas kopi pahit. Tak mandi karena Bandung bukan tempat mandi pagi yang baik. Dan pagi itu juga meninggalkan Bandung. Diantar Gusti Prabu hingga di muka pintu kereta. Dan adegan terakhir ini yang menjadi alasan kenapa judul tulisan ini “Pembeli Buku” dan kenapa saya menuliskan ini di sini.

Sambil menunggu peluit panjang dibunyikan orang seberang rel yang mengatur jalan berhentinya kereta, tangan kanan Gusti Prabu memasukkan barang ke kantung kiri jaket. Cepat sekali dan sekaligus terukur. Ternyata itu cicilan buku “Limited Edition” Indonesia Buku. Dari sini bertambah lagi ciri pembeli buku. Yang lain-lainnya sudah saya kantungi sebelumnya. Dan ini dia:

1. Pembeli Ikhlas. Pembeli dari jenis ini nrimo. Berapa pun harga buku diterima apa adanya. Tak ada tawar-menawar yang intens. Biasanya yang masuk dalam kelompok ini adalah mereka yang punya dana belanja buku yang berlebih-lebih. Pendeknya, jika buku digelar, ia akan ambil seasalnya, sesukanya dan langsung ke kasir membayar berapa pun yang tertera di nota tagihan.

2. Pembeli Rabat. Buku adalah barang dagangan. Seperti baju-baju yang dijajakan di mall-mall. Menurut hukum dagang “matahari”, setiap barang yang dipajang harus mengikuti hukum ini. Jogja boleh dibilang pertama kali memulai tradisi ini. Ada pembeli buku yang mengatur sedemikian rupa jadwalnya untuk menunggu badai rabat datang. Biasanya Book Fair yang diadakan di beberapa kota besar. Tapi jika tak sabar menanti setahun sekali, biasanya akan mengunjungi toko-toko buku yang menyediakan rabat besar. Watak pembeli ini, rabat harus ada. Tak ada rabat akan digugat. Paling tidak akan selalu mendapatkan pertanyaan susulan: berapa diskon buku segagah ini. nah.

3. Pembeli Kelontongan. Jenis pembeli buku ini mirip ibu-ibu di gang-gang sempit yang didatangi gerobak-gerobak atau sepeda-sepeda yang sarat beban alat dapur untuk diperlihatkan kepada ibu-ibu dengan sistem bayar cicilan ringan bunga. Di Indonesia Buku, ada jenis pembeli seperti ini. Jenis pembelian dengan sistem ini akhirnya terjad lantaran tawaran diskon besar tak tercapai, harga buku yang diincar sungguh mati mahalnya. Bukannya tak ada uang, tapi sudah diposkan untuk belanja ini dan itu. Nah, jalan cicilan buku setiap bulan pun diakadkan.

4. Pembeli ala Mafia. Sebetulnya istilah ini kurang tepat. Tapi saya pakai saja untuk menamai cara pembelian mirip seorang pengedar yang menemui pemesannya. Menukar barang dan uang dengan kecepatan yang memukau. Tak ada hitung-hitungan uang di kesempatan yang sempit itu karena yang berlaku adalah kepercayaan. Demikian itu yang terjadi sebelum kereta melarikan saya ke Jogja.

5. Pembeli Barter. Barter yuk. Maka terjadilah barter antara buku dengan buku. Ternyata bukan cuma itu, buku dengan dvd boleh juga. Pendeknya, barang apa saja bisa dibarter asalkan para pihak menyepakatinya. Saya punya ini, kau punya apa. Indonesia Buku punya buku puisi tebal lan mahal, tapi tak punya buku cerita anak Tin Tin dan sejenisnya. Padahal dua-duanya mau sama mau. Terjadilah barter di sini.

5. Pembeli Gratis. Jenis pembeli jenis ini banyak. Dulu saya suka. Tapi sekarang tidak. Lebih baik saya memilih barter daripada gratis. Ataupun kalau diberi gratis, maka akan saya kembalikan buku gratis itu dalam bentuk lain: catatan atau review atau resensi atau berita tentang buku yang “digratiskan” itu. Jenis yang terakhir ini disebut juga “Penunggu Buntelan”. Menunggu buku dengan sangat tekun dari penerbit untuk dibuatkan reviewnya.

Demikian sekian kecil ciri pembeli buku. Nanti ditambahkan lagi. (GM)

 Sumber Foto: di sini

Gugur Merah Barter Asterix

IBOEKOE- Meski barter adalah tradisi perdagangan tertua yang pernah ada, namun sistem ini masih layak dan relevan dipakai dizaman kiwari serba elektrik ini. Bahkan ketika uang pun kini telah menjadi secarik kartu gesek.

Buku barter buku. Tradisi lawas ini coba kami terapkan ketika kami mengincar komik Asterix dan merasa tak mampu membelinya sekali tebas. Karena yang kami punya hanya buku, maka coba-coba kami tawarkan buku kami yang kukuh dan tebal untuk ditukar dengan beberapa Asterix (dan buku-buku cerita lainnya) juga buku ilmu pengetahuan alam (hardcover bergambar).

Dan gayung bersambut. Seorang dermawan bersedia menukar beberapa biji Asterix dkk dengan satu Gugur Merah (Sehimpunan puisi Lekra setebal 966 halaman). Maka di bawah hujan dan gelapnya kota Surabaya, Gugur Merah dan Asterix dkk itu berpindah tangan. Mereka menempati rumah baru yang berbeda. Gugur Merah pindah dari gudang ke rak pribadi yang mengkilat dan bersih. Asterik dkk dari gudang ke rak perpustakaan kampung di Kediri. (DS)

Buntelan dari DKJT

djktSiang tadi (3/2) I:BOEKOE menyempatkan bertandang ke markas Dewan Kesenian Jawa Timur di Jl. Wisata Menanggal di bawah jalan layang tol Waru-Juanda, Surabaya.

Di ruangan yang tersembunyi di sudut belakang bangunan utama itu lah majalah Kidung diproduksi. Disana pula beberapa buku tentang kebudayaan Jawa Timur dilahirkan. I:BOEKOE mendapat kehormatan mengusung buntelan berisi buku-buku yang masih menebar aroma tinta mesin cetak. Ini dia isi buntelannya:

1) Isu Minoritas dalam Sinema Indonesia Pasca Orde Baru, 2009, Igak Satrya Wibawa(ed)

2) Orde Mimpi:Drama Pilihan 1994-2007, 2009, R Giryadi

3) Damar Kurung dari Masa ke Masa, 2009, Ika Ismoerdijahwati Koeshandari

4) Pesta Penyair,2009,Ribut Wijoto(ed)

5) Teater dan Kembarannya, 2009, Antonin Artaud

6) Wong Agung:Gurit Punjul Rong Puluh, 2009,Budi Palopo

7)Kondisi Postmodernisme Kesusatraan Indonesia, 2009, Ribut Wijoto

8 ) Konservasi Budaya Panji,2009, Henri Nurcahyo(ed)

9) Majalah Kidung, edisi 16/2009, Cerita Panji dalam Budaya Jawa

Kesembilan judul buku itu masing-masing diberikan dua eksemplar, jadi ada 18 buku yang dipundaki I:BOEKOE dibawah terik matahari Surabaya. Buku-buku itu akan dikirimkan ke taman bacaan kampung binaan Indonesia Buku di Patehan Wetan, Jogja dan desa Jambu, Pare, Kediri.(DS)

Dewan Pembaca I:BOEKOE

Mulanya terinspirasi dari Film Jane Austen Book Club yang menceritakan tentang 6 orang penggemar Jane Austen yang membaca 6 buku karangan Jane Austen selama 6 bulan. Satu bulan satu pertemuan dengan satu orang pemapar isi buku. Klub ini menginspirasi kami tentang bagaimana sebuah buku terus diperbincangkan sehingga selalu menemui kebaruan konteks dari setiap masa yang berbeda.

Kemudian, Kami pernah bergabung dengan komunitas dunia maya bernama Kutu Buku Gila (KUBUGIL) yang menggerombol di situs jejaring Multiply.com sekira awal tahun 2008. Di komunitas maya ini kami sering membuat acara baca buku bareng dan nonton film bareng. Setiap anggota membaca atau nonton di rumah masing-masing kemudian menuliskan resensi dan di naikkan di situs masing-masing. Kegiatan rutin bulanan ini mengambil 3 orang penulis resensi terbaik dan diberikan hadiah buku. Sayang kegiatan ini meredup.

Suatu waktu, kami melihat rubrik Bookaholic di halaman Deteksi harian Jawa Pos yang berisi liputan beberapa orang kutu buku yang membahas sebuah buku di tempat yang gaul (umumnya café). Mereka memberikan komentar masing-masing mengenai buku tersebut dalam situasi yang penuh canda. Segala pendapat dan obrolan ringan mengenai buku itu kemudian di tulis dalam sebuah reportase. Disini, buku ternyata bisa juga menjadi bahan gossip dan obrolan ringan.

Mulai januari 2010, Indonesia Buku akan mengahadirkan liputan khusus mengenai perbincangan buku. Beberapa buku akan diperbincangkan oleh para anggota Dewan Pembaca Indonesia Buku, kemudian redaksi akan menyajikan liputannya dalam bentuk:

–    Pengantar redaksi

–    Diskusi Buku

–    Cuap-cuap

Tayangan ini akan dimuat setiap dua minggu sekali di situs Indonesiabuku.

Salam

REDAKSI

20 Tahun Penerbitan Indonesia

Galih alias Subhan, kawan dari perpustakaan IRE Jogja yg juga pernah bergiat di Yayasan Pondok Rakyat (tetangga Gelaran Ibuku di kompleks Kraton Jogja), menitipkan satu kopi buku “20 Tahun Penerbitan Indonesia 1945-1965: Pameran Buku Nasional”. Di sampulnya tertera logo Mabulir (perpus Mbah Dauzan alm) dengan secarik stiker: “Amanat Ummat: Gilirkan bacaan ini kepada saudara seiman yang lain menjadi ibadah dan amal saleh”.

Buku ini masih memakai pakem lama. Daftar isi berada di belakang. Gaya ini pernah dikritik D.N. Aidit karena masih mengikuti gaya kolonial. Membaca sekilas ada empat artikel tentang perkembangan dunia perbukuan antara 1945-1965. Selebihnya sambutan-sambutan para menteri (4) dan pidato-pidato pembukaan dan penutupan (12). Ada juga laporan dari Ketua Pelaksana Pameran c.q IKAPI dan O.P.S Penerbitan.

Kesimpulannya: ini buku katalog buku. Karena rentang usia yang panjang, maka buku ini penting lantaran memberikan gambaran dunia perbukuan di masa Revolusi. Apalagi ada diberi daftar penerbit di masa itu yang bisa membantu melihat geliat penerbit-penerbit semasa.

Redaksi Indonesia Buku akan membagi isi buku ini dengan cara mengetiknya ulang. Nantikan unggahan berikutnya. (Muhidin M Dahlan)

NOTE: Terimakasih Galih alias Subhan. Hiks. Semoga titipanmu ini seperti stiker Mbah Dauzan di sampul buku ini: “menjadi ibadah dan amal saleh”.

Setumpuk Buku dari Empat Penerbit

Indonesia Buku kembali dapat buntelan. Dari empat penerbit. Bukunya besar2. Gagah-gagah. Ada juga yang sederhana, tapi dibuat dengan komitmen dan perjuangan besar. Sementara menunggu satu per satu untuk dibaca dan ditandai pokok-pokok saripatinya.

Biasanya, kalau tim internal Indonesia Buku kelebihan beban kedatangan buku, buku itu dilimpahkan kepada tetangganya yang juga teman sepermainannya: gengster resensi buku yang berada di KUTUB Selatan Yogyakarta. Kami menyebut pesantren mereka sebagai pesantren buku di mana pekerjaan utama santrinya adalah meresensi buku. Meresensi merupakan ibadah utama buat mereka, tentu saja selain zikiran saban magrib hingga isya.

Datanglah ke pesantren itu jam 10 malam ke atas, dan kamu lihat banyak sekali santri tidur di hall pondok. Mereka tak sedang tidur biasa, melainkan antri komputer untuk mengetik resensi buku yang sudah dicorat-coret di atas kertas.

Ngelantur. Inilah buku2 yang datang ke Indonesia Buku dalam satu bulan terakhir ini.

Dari OMBAK (Jogja): Ada dua buku sejarah. Tentang sejarah kota. Yang pertama, Ruang Publik, Identitas dan memori Kolektif: Jakarta Pasca-Suharto karya Abidin Kusno. Yang kedua, Dua Kota Tiga Zaman: Surabaya dan Malang sejak Kolonial sampai Kemerdekaan karya Purnawan Basundoro. Dua buku yang menarik bukan? Terimakasih Mas Nursam dan staf di kantor Ombak.

Dari SERAMBI (Jogja): Nah ini dia yang ditunggu-tunggu: Midnight’s Children/Anak-Anak Tengah Malam karya Salman Rushdie. Buku yang menarik dan mendapatkan berderet penghargaan. Selain novel Chinua Achebe (Fall Thing Apart/Segalanya Berantakan), novel ini menjadi karya penting dalam kajian pascakolonial. Terimakasih Mas Anton Kurnia dan staf bagian promosi Serambi yang sudah berpayah2 menyampul dan mengantar buku ini ke kantor pos terdekat.

Dari Redline Publishing (Jakarta): Dapat dua buku. Satu, Buffett: The Making of an American Capitalist karya Roger Lowenstein. Ini buku perjalanan seorang manusia kaya-raya di dunia. Dua, The Swordless Samurai: Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI karya Kitami Masao. Teman sekantor yang seniman-designer sampul buku sangat fanatik dengan dunia samurai Jepang. Barangkali buku ini akan berjodoh dengannya dgn imbalan: komentar!!! Terimakasih Mas Haikal atas kebaikan hatinya mengirimkan buku ini.

Dari TANDABACA (Jogja): Ini penerbit yang hanya beberapa tombak dari kantor. Dalam selingkupan Alun-Alun Kidul Jogja, Indonesia Buku berada di barat dan TANDABACA ada di timur. Jadi, dengan sepeda “BMX” saya menjemput satu buku, tapi malah dapat dua adiknya. Ketiganya adalah buah dari usaha TANDABACA melatih anak-anak kampung untuk menuliskan sejarah kampungnya dari persprektif mereka sendiri usai didudukkan gempa 26 Mei 2006. Satu, Ada Pelangi di Ketangi. Dua, Belajar Mengenal Bencana (komik strip ala sidikasi Komik Daging Tumbuh, lha yang melatih mbahe Eko Nugroho dari Daging Tumbuh). Tiga, Kita dan Bencana (cerita bergambar juga). Terimakasih Mas Mumu dan Mas Febri di kantor Tandabaca yang mungil tapi memanjang dengan halaman yang bisa bermain takraw di sana. (Muhidin M Dahlan)

Pemilihan Raja/Ratu Kecil Buku 2009

WORO-WORO

Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Provinsi DIY yang beralamat di Jl. Tentara Rakyat Mataram No. 29 Yogyakarta mengadakan Pemilihan Raja dan Ratu Buku Tahun 2009. Agenda kegiatan tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

Rencana Kegiatan  :

1.   Penyebaran Informasi                                         : 14 September – 3 Oktober 2009

2. Penerimaan Synopsis                                            : 5 – 15 Oktober 2009

3. Seleksi Synopsis (Penentuan 10 Nominator)      : 16 – 17 Oktober 2009

4. Presentasi Synopsis                                              : 21 Oktober 2009

5. Wawancara                                                           : 21 Oktober 2009

6. Penentuan Pemenang/ Juara                               : 21 Oktober 2009

7. Penerimaan Penghargaan                                     : 21 Oktober 2009

8. Evaluasi/ Pelaporan                                              : Oktober – November 2009

Sasaran Kegiatan  : Pelajar SD/ MI Negeri/ Swasta di Provinsi DIY

Syarat Peserta       :

1.        Peserta bersifat perorangan dan terbuka;

2.       Peserta adalah siswa kelas 4, 5 dan 6 SD/ MI tahun ajaran 2009/ 2010;

3.       Peserta dikelompokkan dalam 2 ketegori :

a.        Kategori A              : Peserta Putra

b.        Kategori B              : Peserta Putri

4.       Masing-masing Peserta wajib membuat synopsis 2 (dua) buku yang bertema cerita rakyat/ kepahlawanan;

5.       Judul buku bebas (ditentukan dan diusahakan sendiri oleh peserta, panitia tidak menyediakan buku-buku yang diperlukan dalam pelaksanaan lomba;

6.       Synopsis diketik komputer 3-4 halaman kuarto, 1,5 spasai, Times New Roman ukuran 12, dibuat rangkap 3;

7.       Synopsis dimasukkan dalam amplop tertutup, disebelah kiri atas ditulis PEMILIHAN RAJA DAN RATU BUKU PELAJAR SD/ MI, dan dikirim ke :

Panitia Lomba Pemilihan Raja dan Ratu Buku

Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Prov. DIY

Jl. Tentara Rakyat Mataram No. 29 Yogyakarta

8.       Pengiriman dapat dilakukan secara langsung kepada panitia, atau dikirim melalui jasa POS;

9.       Naskah yang dikirim menjadi hak panitia lomba;

10.     Keputusan Juri tidak dapat diganggu gugat;

11.      Peserta melampirkan karya tulis yang pernah dipublikasikan (apabila memiliki);

12.     Peserta melampirkan daftar buku/ koleksi bahan pustaka lainnya yang pernah dibaca/ dikuasai;

13.     peserta melampirkan data prestasi pendukung lainnya dengan melampirkan foto copy piagam, sertifikat dll (apabila memiliki);

14.     Peserta melampirkan surat keterangan surat keterangan dari sekolah yang bersangkutan;

15.     bagi calon peserta yang telah meraih juara I Tingkat Provinsi yang diselenggarakan oleh Badan Perpustakaan Daerah Prov. DIY tahun 2008 dan 2009 pada lomba sejenis, tidak dapat mengikuti lomba.

Hadiah Kejuaraan :

Kategori A dan B (Putra & Putri)

Juara I           : Trophy, piagam, hadiah buku dan uang pembinaan Rp. 600.000,- *

Juara II         : Trophy, piagam, hadiah buku dan uang pembinaan Rp. 500.000,- *

Juara III       : Trophy, piagam, hadiah buku dan uang pembinaan Rp. 400.000,- *

Harapan I       : Trophy, piagam, hadiah buku dan uang pembinaan Rp. 300.000,- *

Harapan II     : Trophy, piagam, hadiah buku dan uang pembinaan Rp. 200.000,- *

(* pajak ditanggung pemenang/ juara)

* Diunduh dari situs Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta 2 Oktober 2009

Sumber foto depan: di sini

SMS Lebaran 2009 Pilihan I:BOEKOE

(1) Ageng inggilipun Gunung Reksomuko inggih kangge nyawiake netro, Jembar ombonipun segoro minangkalbu namung pangangen-angen manungso, Bayu ageng topan lan leysus ingkang sumilir menika namung osiking napas kito, Inggih namung Toya Perwitosari ingkang manggen wonten ing ati sanubari kang suci. Ugi saking ati sanubari kang suci, kawula hangaturaken sedaya lepat lan luput kawula, nyuwun gunging samudra pangapsami kanti lelo salebeting manah, Sugeng Riyadin Idul Fitri mugi-mugi Gusti kang ngakaryo jagad enggal paring Rahmat, Barokah, ugi pangestu, Amin. (Rifqi Sukma- Seniman-Jogja)

(2) Kita itu komedian. Harus berani+jujur menertawai cacat&khilaf kita sebagai insan yang lemah di panggungNya. Dengan itu kita bisa bangkit jadi insan baru di hari yang fitri (Bambang Haryanto- Epistoholik-Wonogiri)

(3) Kata Rumi, Makrifat itu rasakan api secara langsung, bukan meracau tentang asap. Anggur spiritual itu beda. Maaf lahir batin, Selamat Idul Fitri (Engkos Kusnadi a.k.a Rama Prabu-Penulis Puisi-Bandung)

(4) Suarakanlah namaNya agar kemerdekaan nyala dijalanmu. Met hari raya Idul Fitri 1430H, Mohon maaf lahir dan batin. (Rhoma Dwi Aria-Penulis sejarah-Jogja)

(5) SMS Berbalas sambung:

Penulisan buku catatan ramadhan telah sampai pada halaman terakhir. Saatnya untuk menerbitkan sebagai anak ruhani. Selamat Idul Fitri. Mohon Maaf Setulusnya (Diana AV Sasa-Penulis-Pacitan) –> Dan puncak kroniknya.. lahirnya jiwa suci. Taqabbalallah minna wa minkum, taqabal Ya Karim. Met idul Fitri 1430H (Sholahudin Aly-Aktivis LSM-Jepara)–> Semoga setiap orang percaya, sebelum menutup buku dapat membubuhkan sesuatu di  buku, Selamat memaafkan orang yang menabukan buku. Salam (Tumpal Sulaiman Parhusip-Trijaya FM-Surabaya)

(6) Hari ini matahari tepat di atap khatulistiwa. Ia kehilangan bayangannya di bumi. Alampun ikut fitri. Maaf atas bayangan kesalahan saya. Salam (Taufik Rahzen-Budayawan-Sumbawa)

(7) Lima tangkai sedap malam:
Tangkai pertama, kupersembahkan bagi malaikat pemberi rahmat.
Tangkai kedua, terkirim harumnya bagi syuhada yang menegakkan tauhid.
Tangkai ketiga, kuulurkan kepada kaum yang bertahan dengan lapar atas nama iman.
Tangkai keempat, menjadi bingkisan untuk ibu yang melahirkan anak-anak salih dan salihah.
Tangkai kelima, menemaniku menyambut hari kemenangan.
“Selamat Idul Fitri, sahabat. Mohon maaf lahir dan batin.” (Kurnia Effendi, Penulis Cerita, Jakarta)

(8) Ente itu gimana sih? Adam yg cuma berbuat dosa sekali aja langsung dibuang dari surga. Lha ente… yang dosanya seabrek malah  berharap masuk surga… Tapi tak apalah, selamat idul fitri. (Iswarta Bima-Sejarawan di Jogja)

(9) Apa daya tanpa kesadaran diri mengikat luka seseorang dengan perban tapi tak tahu didalam luka tertanam sebutir peluru. Selamat idul fitri mohon maaf lahir dan batin. (Donne Rizky F.)

(10) Bukan sekedar tradisi, atau basa basi, ini ketulusan hati, di hari yang fitri. Mohon dimaafkan segala kesalahan diri. (M Choiri, Guru Madrasah, Sidoarjo)

Mesin Ketik

Dari sekolah menengah hingga semester satu universitas saya akrab dengan mesin ketik. Itu pun tak pernah bisa mengetik sepuluh jari. Di pelajaran akuntansi sewaktu SMP pernah ada pelajaran mengetik cepat dengan mesin ketik yang berakhir tragis: ujian cuma dapat nilai 5.

Keakraban itu pun bukan karena mengarang, tapi menulis surat undangan untuk organisasi. Sesekali nulis catatan harian. Cuma sampai di situ saja.

Tak ada hebatnya. Karena saat yang sama komputer mulai merasuki dunia tulis-menulis. Hingga kemudian saya sadar bahwa mesin ketik adalah style bagi sebagian orang. Ia menjadi alat untuk menentukan siapa diri. Bahkan untuk style itu, tak jarang mesin ketik itu dijinjing ke mana-mana. Mungkin ingin memberitahu: hei, lihat, saya penulis.

Demikian itu saya dapatkan di film “Ask The Dust” saat Arturo Bandini (Colin Farell) mencari sebuah motel untuk menulis novel dengan mesin ketik dikepit. Setiap ia dapat ide, ia akan melompat jendela dan mendarat di mesin ketik kesayangannya. Sama juga dengan Ricardo (Esai Morales) di film “The Disappearance of Garcia Lorca”. Saat pertama datang di Granada, yang terlihat adalah Ricardo yang dengan gagah menjinjing mesin ketik dan bangga memperkenalkan diri sebagai penulis cum periset.

Janet Frame, seorang yang mengidap scrizofrenia karena rendah diri yang akut, dalam film “An Angel at My Table” juga menjinjing mesin ketik dari negara ke negara lain untuk menulis novel. Bahkan yang nggak kebayang, sambil tiduran di sofa, ia memangku di pahanya mesin ketik yang berat itu. Janet mengetik. Terlihat sumringah sekali. Santai sekali. Atau terlihat pula sewaktu dia dititipkan di sebuah desa bersama seorang pengarang flamboyan, dengan santainya mereka mengetik di luar rumah berteman dengan angin yang mengipasi kertas-kertas.

Yang dramatis tentu saja adu kecepatan mengetik antara Forrester dan Jamal di film “Finding Forrester”. Adegan ketika berhadapan dengan mesin ketik dan kecepatan mengetik inilah muncul kutipan kuat dalam film itu: “Mulailah menulis, jangan berpikir. Berpikir itu nanti saja. Yang penting menulis. Tulis naskah pertamamu itu dengan hati. Barulah kemudian kau tulis ulang dengan kepalamu. Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir.”

Ya, bagi pengarang “klasik”, mesin ketik adalah alat produksinya. Dan sekaligus menjadi alamat bagi profesi. Walau tak dapat dimungkiri seorang carik desa juga akrab dari pagi hingga sore dengan mesin ketik. Di gerai motor dekat kantor juga sampai sekarang sekretarisnya masih memakai mesin ketik ini, khusus untuk melayani pengkredit motor.

Saat ini ada yang sudah bersulih “alat produksi” itu mengikuti tuntutan zaman. Tapi ada juga masih tetap bertahan. Mereka adalah golongan makhluk langka. Pramoedya Ananta Toer sampai mati hanya mengenal mesin ketik sebagai alat menulis novel dan menulis surat. Remy Silado juga sampai saat ini hanya bisa menulis kalau dengan mesin ketik. Alasan utama mereka: bunyi ketukannya itu, di waktu malam, seperti irama tembang yang tak berkesudahan.

Dan mereka yang fanatik dengan alat tulis “purba” ini, umumnya bisa menulis sepuluh jari. Asyik juga melihat mereka menggerayangi tuts tanpa melihatnya. Mata hanya tertuju pada kertas. Keterampilan itu juga yang membikin Pram mengeluarkan pernyataan: mampu mengetik 250 huruf per menit.

Munculnya keterampilan itu, barangkali, karena dulunya ada pelajaran praktik mengetik cepat. Sekarang, pelajaran itu sudah tak ada lagi. (Kan Panembahan)

Buntelan Buku dari Insist

Sebelum berangkat menuju puncak Gunung Brengos, Kamis (13/8/09) lalu, i:boekoe sempat menyatroni markas penerbit insist di Jogja. Niatnya apa lagi bila bukan melakukan pemalakan buku. Maka untuk Gelaran Buku Pakis, Insist menghadiahi buntelan ini:

1. Jejak Air: Biografi Politik Nani Zulminarni (Puthut EA)

2. Memelihara Kesehatan Reproduksi Perempuan Sejak Dini (A.August Burns et al)

3. Orang-orang Malioboro (Eko Susanto)

4. Pangan: Dari Penindasan Sampai ke Ketahanan Pangan

5. Sehat Saat-saat Hamil, Melahirkan, dan Menyusui.

6. Analisis Gender dan transformasi Sosial(Mansour Fakih)

7. Meniti Jalan Lain:Pengakuan Malaysia Menghadapi Krisis Ekonomi (martin Khor)

8. Amina (mohammed Umar)

9. Kupu-kupu Bersayap Gelap (Puthut EA)

10. Kesehatan Reproduksi Perempuan dan Metode KB Yang Tepat Untuk Anda

Terimakasih terhaturkan pada penerbit Insist. Semoga amalnya dicatat malaikat baik hati.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan