Berkunjung ke Literasi, Katanya

Diorama Arsip Jogja

13 September 2022

Berangkat dengan perasaan yang biasa saja, mungkin malah penuh ragu, aku tidak menyangka perjalanan hari ini akan menyenangkan. Dunia kepustakaan dan arsip yang harusnya berkesan jadul disulap dengan gaya futuristik dan menarik.  Entah apa yang merasuki isi kepala para penyelenggara Diorama Arsip Jogja, intinya mereka berhasil membuat perkembangan teknlogi yang kita punya menyuarakan peristiwa-peristiwa lama. Ah….! Kapan ya kampung halamanku punya tempat seperti ini.

Langgar.co Milik Irfan Afifi

14 September 2022

Sedikit telat, menurutku. Tapi ekpresi Mas Irfan Afifi dan beberapa kawan yang mengikuti kegiatan kunjungan literasi ke Langgar.co sepertinya tidak demikian. Semua mata serasa mengarah padaku, banyak hal sepertinya telah dibahas. Aku duduk dengan sedikit tidak tahu malu dan perbincangan kembali berlanjut. Di saat yang sama aku mulai merasa tidak nyaman, entah ada apa sebenarnya, seperti telah telat dalam melakukan hal penting selain telat mendatangi pertemuan ini.  

Perasaan tidak nyaman tersebut perlahan terjawab. Semua itu semakin terlihat jelas seiring kata perkata yang dilontarkan Mas Irfan. Sampai akhirnya tiba pada satu kalimat;

“Dahulu kita mewanti banyak orang untuk tidak kebarat-baratan. Tapi sekarang menjadi Barat adalah hal biasa, kita berbudaya seperti mereka hari ini”. Bapak-bapak lulusan filsafat UGM tersebut terlihat sangat senang bercampur gelisah saat membicarakannya. Tapi sebaliknya aku malah tertegun dan kaku. Aku telat menyadari hal ini.  

Sejarah, kebudayaan, dan Jawa sangat dekat dengan kehidupan Mas Irfan. Ia mendalami tiga hal tersebut dengan sungguh-sungguh, bahkan sampai bisa membaca serat jawa. Pembacaan sederhana terhadap hasil budaya sendiri yang hari ini tidak banyak orang bisa lakukan—termasuk aku. Ironi bukan? Padahal aku juga orang Jawa—dalam tanda kutip—, dan banyak orang lainnya juga. Ambilah contoh dalam pertemuan hari ini, ada sekitar tiga belas orang lebih, tapi tidak satupun dari kami yang bisa membaca serat Jawa selain Mas Irfan. 

Masih satu contoh kasus, belum lagi di kasus lain. 

Tentu ada beragam alasan mengapa orang-orang ini tidak bisa melakukannya. Bisa saja karena tidak ada yang mengajari, tidak punya akses, atau memang tidak tertarik saja. Seperti ada anggapan bahwa membaca kebudayaan lokal itu kolot, jadul, dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Bila itu tidak dirasakan kawan-kawan, tapi setidaknya begitu anggapan pribadiku. Seperti kata Mas Irfan aku lebih kebarat-baratan dari pada keindonesia-nesiaan. Mas Irfan menyadarkan beberapa hal padaku. Beberapa pesan yang sebenanrya sudah berpuluh tahun lalu juga disampaikan Pram lewat novel legendarisnya, tetralogi Bumi Manusia. Bahwa sejauh dan sebanyak apapaun yang kau pelajari, jangan lupa di mana dirimu berasal dan harusnya kemana pengetahuan itu kamu bagikan. 

Namun anehnya, dengan perasaan yang sudah penuh penyesalan itu saja aku masih belum tertarik pada kebudayaan sendiri. Aku masih merasa tindakan Mas Irfan yang membaca serat Jawa, mengulas khazanah lama, serta meneliti dan mengungkapkannya ke dunia belum bisa aku lakukan. Pikirku, tidak mungkin membaca kebudayaan masa lalu yang nyatanya dialami orang lain, dari pada kebuadayaanku dan manusia sezamanku saat ini yang tidak mengenal Barat dan Timur. 

Entah itu asumsiku saja, atau aku memang sudah tidak tertolong, itulah faktanya. Palingan Aku hanya bisa membaca naskah Pram, mengulas Seno Gumira, serta meneliti Nirwan Dewanto. Intinya menekuni hal yang aku sukai saja, seperti filsafat Barat dan pemikir Rowani kuno beberapa tahun lalu, absurditas teknologi informasi dan kesusatraan modern Indonesia belakangan ini, serta entah apalagi kedepannya, yang jelas bukan kebudayaan lama seperti yang dilakukan Mas Irfan Afif.  

Sudah sebarat apa sebenarnya aku ini?

Mojok.co

15 September 2022

Berbanding terbalik dari kedua kunjungan sebelumnya, pergi ke Mojok terdengar sangat seru. Bagaimana tidak, media yang awalnya memiliki tagline “sedikit nakal, banyak akal” itu adalah media terbesar yang berasal dari Jogja. Pemerhati media Indonesia, terutama yang berasal dari Jogja pasti mengukuti kiprah media yang diusung oleh Putut EA ini—minimal tahu dan pernah dengar namanya. 

Menjadi simbol sarkasme media, Mojok.co malah turun akal setelah mengganti tagline sebelumnya menjadi “suara orang biasa”.  Entah orang biasa seperti apa yang ingin mereka suarakan. 

Terlepas dari itu mengunjungi Mojok.co memunculkan berbagai kesan. Mulai dari letak kantor yang pelosok untuk media yang open minded, suasana sangat serius untuk penyuara orang biasa, serta psikologi kekakuan yang hadir di antara media besar dan komunitas sederhana, Mojok.co dan Radiobuku. Yang satu berjalan layaknya robot dan yang lain lebih hangat dan menyenangkan

Terlepas dari itu banyak hal yang bisa dipelajari. Seperti begitu pentingnya sosok investor, banyaknya tulisan yang perlu dipost setiap hari, serta konten apa yang laku atau tidak. Mojok.co adalah pengajar yang baik untuk tetap bertahan hidup sebagai penulis atau media literasi.


Posted

in

by