Ardhias Nauvaly Azzuhry

Ardhias Nauvaly Azzuhry. Panggil saja dia Dhias. Dia sudah hidup selama 21 tahun sejak 20 Oktober 2000. Dilahirkan di Bandar Lampung, membesar di sana, lalu mendewasa di sebuah pesantren di Banten selama 6 tahun. Usai itu, melangkah lebih ke timur, ke Yogyakarta, untuk mengenyam S1 Arkeologi UGM sejak 2018. Sepanjang jalan itu pula, dia mencoba jago di banyak hal. Bukan karena dia seorang yang ensiklopedik macam Ibnu Rusyd, namun lebih kepada ketakutannya untuk bersaing di “kolam besar dengan ikan-ikan besar” dan tentu, inkonsistensi. Olimpiade Biologi dicicipinya sejak SMP, lalu merasa gagal setelah tidak kunjung tembus level Nasional hingga jenjang SMA. Komedi tunggal dijajalnya saat bangku SMA, circa 2014. Itupun mentok di kompetisi regional antar pesantren. Eksperimen yang segera diakhirinya setelah dia merasa tidak sekocak itu di hadapan pemirsa dan pelantang suara.

Masuk kuliah, sebab merasa tidak ada keahlian lain di luar menulis, dirinya memilih untuk berkubang di ihwal kepenulisan. Tahun pertama, dia bergabung sebagai anggota Kementerian Kajian Strategis (Kastrat) Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) FIB UGM. Sejak itu, dia konsisten di domain “gerakan” selama 3 tahun. Bermula dari anggota dan dilanjut sebagai Menteri Kastrat, lantas jadi Menteri Koordinator Pergerakan di tahun terakhirnya. 

Ihwal menulis, tidak afdol baginya bila tidak mencoba Badan Pers dan Penerbitan Mahasiswa (BPPM) Balairung UGM. Awalnya coba-coba, berujung ketagihan selama 3 tahun sejak 2019. Mulai dari Awak Redaksi hingga Redaktur Pelaksana, dia lakoni. Mulai dari produk berita daring hingga produk cetak seperti majalah dan jurnal ilmiah, dia urun menggarap. Di luar itu, dia aktif menulis di berbagai media daring dengan beragam isu. Lingkungan hingga sepakbola, sosial-politik hingga sejarah. Dan juga seni-budaya, yang baru dicicipinya setahun belakangan sejak magang sebagai penulis di Biennale Jogja XVI. Maka setelah rangkaian ujicoba minat-bakat, termutakhir dirinya berani untuk menambatkan nasib di satu ranah: kepenulisan. 

Entah jadi apapun, selama ada di ekosistem tulis-menulis, dia akan hidupi. Memang, dia punya semacam optimisme atas cita-cita sebagai jurnalis. Asal, catatnya, bukan sebagai “jurnalis cepat”: sikat saja! Namun kabarnya, meski sudah bermimpi jadi jurnalis, dia masih menyimpan profesi PNS di sakunya. Untuk jaga-jaga, mengingat pasar tenaga kerja fleksibel makin hari makin jahanam.


Posted

in

by