-->

Tokoh Toggle

Nasjah Djamin: Pelukis yang Menulis

Nasjah Djamin adalah pelukis. Tapi, ia juga seorang penulis yang tekun. Judul buku Nasjah, Gairah untuk Hidup dan untuk Mati dan Hari-hari Akhir Si Penyair tentang Chairil Anwar dan Affandi Pelukis. Total ada 11 buku yang ditulisnya. Pada November 2017, diselenggarakan pameran mengenang sang pelukis dengan tajuk “Retrospeksi Nasjah Djamin”. Dua artikel Majalah Tempo edisi 10 Desember 2017 menurunkan edisi “Layar” untuk si pelukis cum penulis. Berikut kedua dokumen laporan itu.

—–

Jalan Seni Nasjah Djamin

Lukisan itu bergambar tiga perempuan menggendong bakul di hamparan sawah yang menguning. Perspektifnya luas, berlatar belakang gunung dan langit. Kuning, cokelat muda, hijau, dan biru muda menjadi warna-warna yang paling menonjol di dalamnya. Berjudul Panen, lukisan berukuran 134 x 134 sentimeter itu diletakkan di salah satu sudut studio seni di rumah pelukis sekaligus sastrawan Indonesia, Nasjah Djamin.

Nasjah melukis Panen pada 1994. Berbahan cat minyak di atas kanvas, Panen merupakan satu di antara 60 lukisan Nasjah yang tersimpan di rumahnya di Jalan Barokah, Bantul, Yogyakarta. Istri Nasjah, Umi Nafiah, sengaja menyimpan semuanya. Perempuan 77 tahun itu tak pernah mau menjual lukisan peninggalan suaminya. “Kalau laku semua, saya punya apa?” kata Umi. “Orang datang ke saya kan karena ingin melihat karya Bapak, bukan bertanya saya punya duit berapa.”

Beberapa lukisan lain karya pelukis yang mangkat pada 4 September 1997 itu dipajang di dinding rumah. Misalnya lukisan Ombak di dinding ruang kerja Nasjah serta Bakul Menyeberang Sungai dan Di Bawah Kamboja di dinding kamar Nasjah. Lukisan-lukisan itu memperlihatkan ciri khas Nasjah: menampilkan tema alam dan keseharian manusia dengan perspektif gambar yang luas.

Saat Tempo bertandang ke rumahnya pada akhir Oktober lalu, tak semua lukisan Nasjah berada di sana. Sebagian tengah dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, pada 24 Oktober-3 November lalu. Pameran bertajuk “Retrospeksi Nasjah Djamin” itu menampilkan 23 lukisan cat minyak, 8 lukisan batik, dan sejumlah sketsa. Ada juga puluhan novel dan buku anak-anak. Ayu Pusparini, anak kedua Nasjah, mengatakan pameran itu untuk memperingati 20 tahun kepergian sang ayah. “Sekaligus memperlihatkan kepada generasi muda bahwa kita pernah punya seniman seperti Nasjah Djamin,” ujar perempuan 48 tahun itu.

Menurut kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, selama ini dunia sastra lebih mengenal Nasjah karena novelnya banyak dan menjadi perbincangan. Padahal karya lukisnya juga tak kalah banyak. Ia produktif melukis. Nasjah pernah berpameran tunggal ataupun kelompok di Singapura, Jepang, dan India. Lukisannya berjudul Rimbun (1953), yang menampakkan lanskap sebuah taman, juga pernah dipamerkan dalam Biennale II Sao Paulo di Brasil pada 1953. “Tak banyak seniman pada zamannya yang diundang dalam event penting itu,” kata Suwarno.

Karya-karya dalam pameran itu menunjukkan karakter lukisan Nasjah: melukis potret dan lanskap. Menurut Suwarno, seperti rata-rata pelukis pada zaman itu-misalnya, Affandi, S. Sudjojono, dan Hendra Gunawan-Nasjah banyak melukis potret dengan obyek diri sendiri ataupun orang-orang terdekatnya. Ia pernah melukis sahabatnya, penyair Kirdjomuljo, dan anak-anak Sudjojono.

Lukisan potret Nasjah umumnya menampilkan sosok tunggal separuh badan laki-laki atau perempuan dengan bibir terkatup rapat dan mata menatap lurus ke depan. Latar belakangnya gelap agar subyek dalam lukisan menonjol. Salah satu karya potret Nasjah yang mencolok adalah lukisan perempuan muda bergaun merah dan giwang bundar berjudul Lestari Fardani (1958). Lukisan ini dia jual seharga Rp 6.000 kepada Presiden Sukarno.

Adapun dalam lukisan bertema lanskap, sosok-sosok manusia dalam lukisan itu rata-rata perempuan. Misalnya Tiga Bakul Gendong karya Nasjah pada 1994. Lukisan berukuran 133 x 133 sentimeter berbahan cat minyak di atas kanvas itu bergambar tiga perempuan berukuran kecil tengah menggendong bakul di hamparan sawah yang sebagian menguning. Latar belakangnya pegunungan hijau dan langit biru. Dalam lukisan Sawah Hijau, petani yang bekerja di bawah terik adalah perempuan. Dalam Beban Bakul, para pekerja yang memikul bakul hingga punggung mereka terbungkuk adalah juga perempuan.

Nasjah punya alasan mengapa sering memilih tema lanskap alam yang luas dengan perempuan sebagai obyeknya. Menurut Nasjah, seperti dikutip dari program Profil Budayawan yang disiarkan Televisi Republik Indonesia Stasiun Yogyakarta pada 1991, ketika bepergian ke wilayah dengan pemandangan sawah dan gunung di Jawa, dia sering melihat perempuan dengan bakul di punggung tengah menanam padi atau pergi ke pasar. “Jadi kuda gendong. Semua di punggung,” ucap Nasjah.

Fenomena itu juga dia jumpai ketika pertama kali datang ke Yogyakarta pada 1946. Saat itu dia melihat berbondong-bondong perempuan pulang dari pasar dengan bakul di punggung. “Wanita di Jawa memegang peranan,” katanya. Kesan itu kemudian terus melekat dalam pikiran Nasjah. “Makanya banyak lukisan saya yang temanya itu.”

Ciri khas lain adalah cara melukis Nasjah untuk tema lanskap. Ia melukis lanskap alam yang luas dan obyek manusia di dalam lukisannya kecil. Seperti pada lukisan Gumuk Pasir, tiga perempat kanvas diisi dengan keluasan pasir putih kecokelatan, sementara sosok orang hanya terlihat samar dan kecil sekali di kejauhan. Begitu pula dalam seri lukisan Sawah Hijau, ketika sawah menghijau mengisi penuh dasar kanvas hingga nyaris menyentuh puncak. Barulah di ujungnya tampak para petani dengan topi capingnya.

Menurut kurator Suwarno, cara melukis Nasjah untuk tema lanskap seperti itu merupakan bentuk kesadaran bahwa manusia tidaklah menguasai alam. “Cara ungkap ini juga dapat dilihat sebagai isyarat spiritualitas bahwa manusia hanyalah makhluk kecil di tengah semesta raya,” kata Suwarno.

* * *

LAHIR di Perbaungan, Sumatera Utara, pada 24 September 1924, Nasjah Djamin memiliki nama asli Noeralamsyah. Nama Nasjah diduga kependekan dari Noeralamsyah. Nasjah adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara dari pasangan Haji Djamin dan Siti Sini asal Minangkabau, Sumatera Barat. Keluarga itu menetap di Sumatera Utara karena Haji Djamin bekerja di perkebunan di Deli. Nasjah merupakan pengecualian lantaran, dari semua anak, hanya dia yang punya bakat seni. Orang tuanya juga tak memiliki darah seni.

Melukis adalah bakat seni Nasjah yang pertama kali terlihat. Itu muncul pada 1930-an saat Nasjah bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama-keduanya di Medan. Ketertarikan melukis tak lepas dari pengalaman Nasjah setiap pulang sekolah melihat pelukis jalanan, Buyet Ketek, tengah melukis. Menurut Nasjah, Buyet Ketek melukis dengan santai, tidak terikat waktu, dan tidak dipaksa. “Tapi toh dapat uang,” ucapnya. “Sejak itu, saya tertarik melukis.”

Saat bersekolah di MULO, pada 1939 atau 1940, Nasjah juga sudah bisa membuat sejumlah sajak berbahasa Melayu. “Di kelas, dia dikenal sebagai penyair,” ujar teman sekelas Nasjah, Daoed Joesoef, 91 tahun, akhir Oktober lalu. Tapi Nasjah keluar dari sana tak lama setelah pemerintah kolonial Jepang mengubah sekolah itu menjadi Shoto Chu Gakko. Menurut Daoed, Nasjah dan sejumlah murid-termasuk Daoed-berhenti sekolah lantaran sistem pelajaran Shoto Chu Gakko kacau serta ada kewajiban siswa ikut kerja bakti. “Tak tanggung-tanggung, kami disuruh bikin lapangan terbang Polonia di Medan.”

Meski putus sekolah, Nasjah tetap tak berhenti belajar. Dia kerap berkunjung ke sebuah perpustakaan dengan koleksi buku mayoritas berbahasa Belanda yang tak dibakar Jepang. Menurut Daoed, hampir setiap hari dia bertemu dengan Nasjah di perpustakaan di Medan itu. “Kami membaca buku apa saja, termasuk buku tentang strategi peperangan,” ucap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan masa Orde Baru itu.

Nasjah juga pernah ikut sayembara poster perang dengan semboyan “Asia untuk Asia” yang diadakan pemerintah Jepang. Ia menjadi juara pertama dan mendapat hadiah satu karung beras, satu bal bahan celana, sebuah topi vilt, serta piala dan piagam. Kemenangan itu membawa Nasjah bekerja di Bunka-Ka Sendenbu, badan propaganda Jepang. Di sana dia menjadi pelukis poster untuk dipasang di berbagai sudut Medan. Di situ pula Nasjah belajar melukis kepada Kikuo Matushita, kepala kantor Sendenbu di Medan.

Pada 1945, Nasjah ikut mendirikan Angkatan Seni Rupa Indonesia bersama sejumlah pelukis Medan, antara lain M. Saleh, M. Kameil, M. Hussein, Daoed Joesoef, Ismail Daulay, dan Tino Sidin. Di perkumpulan pelukis itu, dia bersama rekan-rekannya mengadakan pameran seni lukis pertama di Medan pada September 1945. Setahun kemudian, dia masuk militer dan berdinas di Resimen Divisi X Bukit Barisan di Kisaran, Asahan. Ia bertugas melukis poster propaganda dan diberi pangkat sersan mayor.

Kegemaran melukis membuat Nasjah ingin lebih mendalaminya. Pada 1946, dia bersama Daoed Joesoef dan Sam Suharto, karikaturis dan mantan wartawan harian Indonesia Raya, pergi ke Yogyakarta untuk berguru kepada pelukis kenamaan Affandi dan S. Sudjojono. Tiba di Yogyakarta, mereka menuju sanggar Seniman Indonesia Muda (SIM) pimpinan Affandi dan Sudjojono. “Kami ditampung dan boleh ikut melukis,” kata Nasjah. Saat itu sudah banyak pelukis muda di sanggar SIM, antara lain Nashar dan Trubus Sudarsono. “Kami bertiga dianggap masih ’jangkrik’. Masih belajar.”

Setahun kemudian, Affandi membawa Nasjah ke rumah Soedarso, pelukis Yogyakarta dari sanggar Seniman Masyarakat, kelompok pelukis yang juga dipimpin Affandi. Kepada Soedarso, Affandi menitipkan Nasjah untuk dibimbing. Sejak itu, Nasjah lebih banyak tinggal di rumah Soedarso. “Bapak sudah dianggap anak oleh Pak Soedarso. Anak-anak Bapak juga memanggil Pak Soedarso dengan sebutan Si Mbah,” ujar anak kedua Nasjah, Ayu Pusparini.

Pada 1947, ketika revolusi kemerdekaan tengah bergolak, Nasjah ikut long march ke Jawa Barat. Ia kemudian tinggal di Jakarta dan bergabung dengan kelompok seniman di Jalan Garuda, yang diasuh oleh Pak Said. Di sana, bergabung pula sejumlah pelukis, seperti Affandi, Soedarso, Basuki Resobowo, dan Zaini, yang mengungsi ke Jakarta lantaran pendudukan Belanda di Yogyakarta. Ada juga sejumlah sastrawan, antara lain Chairil Anwar, H.B. Jassin, Rivai Apin, dan Sitor Situmorang.

Di Jakarta, bersama sejumlah pelukis, Nasjah mendirikan Gabungan Pelukis Indonesia. Ia juga berkenalan dengan beberapa sastrawan, yang lantas membuatnya tertarik menulis. Ketertarikan itu kian menjadi ketika Nasjah bekerja sebagai ilustrator buku di Balai Pustaka Jakarta pada 1949-1950. Di sana dia sering mendengar diskusi antarpengarang, seperti Abdullah Idrus dan Chairil Anwar. Nasjah pun merealisasi ketertarikan itu dengan menulis puisi “Pengungsi”, yang dimuat dalam Gema Tanah Air, buku kumpulan prosa dan puisi yang disusun H.B. Jassin. Adapun kedekatan Nasjah dengan Chairil Anwar dia tuangkan dalam buku Hari-hari Akhir Si Penyair, yang terbit pada 1982.

Nasjah kembali ke Yogyakarta pada 1952. Ia kemudian bekerja sebagai pegawai negeri sipil di kantor Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan hingga pensiun pada 1980. Selama menjadi pegawai, ia aktif mengikuti sejumlah kegiatan, seperti ikut mendirikan Sanggar Pelukis Indonesia, menjadi anggota redaksi majalah Budaya pada 1955-1962, ikut mendirikan grup Teater Indonesia, mengadakan sejumlah pementasan drama, serta mengikuti pelatihan bidang art and setting teater, televisi, dan film di Tokyo, Jepang, pada 1961-1963. Ia juga pernah menggelar pameran tunggal pada 1960 dan 1978 serta mengikuti sejumlah pameran bersama sejak 1952.

Di tengah segala kesibukannya itu, Nasjah tetap tak melupakan menulis. Sejumlah karya sastra dia ciptakan, seperti naskah drama, kumpulan cerita pendek, buku anak-anak, dan novel. Naskah dramanya antara lain Titik-Titik Hitam (1956) dan Sekelumit Nyanyian Sunda (1957). Sedangkan kumpulan cerita pendek di antaranya Sekelumit Nyanyian Sunda (1956) dan Sebuah Perkawinan (1974). Adapun buku anak-anak antara lain Si Pai Bengal (1952), Aku Alam Sekitarmu (1981), dan Aji Saka (1982).

Untuk novel, Nasjah antara lain menulis Hilanglah Si Anak Hilang (1963), Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968), dan Yang Ketemu Jalan (1979). Seperti lukisan, tema yang diangkat Nasjah dalam novel-novelnya juga tak jauh dari kehidupan sehari-hari. Hilanglah Si Anak Hilang, misalnya, bercerita tentang pelukis yang tersiksa batinnya lantaran keluarga tak setuju atas pilihan hidupnya sebagai seniman. Lalu ia memutuskan pergi dari rumah untuk menjalani pilihan hidupnya. Langkah itu kemudian membuat dia memetik pelajaran bahwa manusia butuh saling menghargai. Cerita ini barangkali terinspirasi dari kisah Nasjah pergi ke Yogyakarta untuk mendalami seni lukis. Sastrawan Ajip Rosidi mengatakan Hilanglah Si Anak Hilang merupakan satu dari sekian banyak novel Nasjah yang menggambarkan hal paling elementer dalam kehidupan. “Di novel itu, Nasjah membela kebebasan pribadi,” ucap pria 79 tahun itu, akhir Oktober lalu.

Lewat karya-karyanya itu, Nasjah berhasil menerima sejumlah penghargaan. Misalnya penghargaan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1958 untuk naskah drama Sekelumit Nyanyian Sunda, Anugerah Seni Pemerintah Republik Indonesia pada 1970 untuk novel Gairah untuk Hidup dan untuk Mati, dan hadiah utama Dewan Kesenian Jakarta pada 1980 untuk novel Undian Harapan Undian, yang terbit dengan judul Bukit Harapan.

Nasjah juga memperoleh penghargaan seni I Gusti Nyoman Lempad Prize dari Sanggar Dewata Yogyakarta untuk bidang sastra pada 1986, penghargaan seni dari pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk bidang sastra pada 1988, dan penghargaan dari Biennale I Yogyakarta pada 1988. Meski panen penghargaan, Nasjah tak pernah tinggi hati. Bagi Nasjah, semua yang pernah dia buat belum bisa dibilang sebagai karya terbaik. “Cuma baik dan sedang saja,” ujar Nasjah.

* * *

NASJAH Djamin dikenal irit bicara. Saat bersekolah pun dia jarang mengobrol dengan teman-temannya. “Nasjah itu orangnya pendiam,” kata Daoed Joesoef, teman satu kelas Nasjah ketika bersekolah di MULO. “Paling-paling kalau berpapasan hanya bilang guten morgen (selamat pagi) atau halo.”

Sikap itu pula yang dikenang istri Nasjah, Umi Nafiah, ketika pertama kali bertemu dengan Nasjah di rumah pelukis Soedarso di Yogyakarta pada akhir 1966. Saat istri Soedarso memperkenalkan Umi, Nasjah hanya diam. “Waktu itu saya pikir dia sombong,” ujar Umi. Bahkan Umi sempat takut melihat penampilan Nasjah. “Dia pakai jaket dan kacamata hitam serta topi kabaret. Pokoknya seram, deh.”

Rupanya, pertemuan itu justru membawa mereka ke pernikahan. Menikah pada awal 1967, Nasjah-Umi dikaruniai empat anak, satu di antaranya laki-laki. Di tengah keluarga, Nasjah tetap sosok yang tak banyak bicara. Anak ketiga Nasjah, Laila Tifah, mengatakan dia dan tiga saudaranya jarang mengobrol dengan ayahnya. “Sampai Bapak tiada pun rasanya bisa dihitung. Hanya beberapa kali kami terlibat perbincangan panjang,” ucap perempuan 45 tahun itu. Menurut Laila, ayahnya juga tak pernah membicarakan karya-karyanya dengan empat anaknya.

Barangkali hanya Umi yang sering berbincang dengan Nasjah. Apalagi, ketika melukis atau menulis, Nasjah selalu meminta kepada istrinya untuk menemani, meski sesekali Umi tertidur lantaran Nasjah bekerja dari malam hingga pagi. “Sewaktu menemani, ya, kadang-kadang sambil ngobrol,” kata Umi. Menurut dia, Nasjah memilih malam hingga pagi karena waktu-waktu itu cenderung tenang. “Kalau mau menulis atau melukis kan harus mengosongkan pikiran dulu baru bisa mencari inspirasi.”

Nasjah memang seniman yang perlu membangun mood sebelum membuat karya. Mungkin karena itulah dia butuh waktu lama untuk membuat karya. Menurut Umi, Nasjah perlu berbulan-bulan untuk menyelesaikan tulisan sebelum ditawarkan ke penerbit. Begitu juga lukisan. Bahkan, menurut anak kedua Nasjah, Ayu Pusparini, bapaknya pernah tak menyentuh sejumlah pesanan lukisan ketika seni lukis tengah booming pada akhir 1980-an. “Bapak benar-benar seniman murni yang bekerja berdasarkan mood,” ujarnya. “Kalau enggak mood, ya, enggak dikerjain.”

Selain melukis dan menulis, Nasjah kerap meluangkan waktu untuk berkebun dan beternak. Di rumah, dia menanam cabai, tomat, pisang, dan apel. “Apa saja ditanam,” ucap Umi. Bahkan, pada 1989, Nasjah membeli lahan di Sidoarum, Sleman, yang kemudian ditanami pohon pisang, mangga, kelengkeng, durian, rambutan, anggur, dan melinjo. Di situ dia juga memelihara kambing, ayam, dan ikan. “Saking senangnya berkebun dan beternak, Bapak suka membeli buku-buku panduan memelihara ikan gurami dan menanam cabai,” kata Yeny Mainita, 42 tahun, anak keempat Nasjah.

Nasjah juga suka berjalan-jalan dengan sepeda motornya dan memotret pemandangan alam yang dia jumpai. Dari situlah terkadang muncul inspirasi melukis. Selain itu, dia senang memancing di laut atau sungai. Biasanya pagi-pagi sekali dia berangkat seorang diri. Menurut Umi, memancing dilakukan suaminya setiap ingin menulis. Nasjah menganggap memancing sebagai salah satu cara untuk mengosongkan pikiran supaya bisa muncul inspirasi ketika menulis. “Bapak harus memancing kalau mau menulis,” ujar Umi. Prihandoko, Moyang Kasih Dewimerdeka, Shinta Maharani

Pelukis yang Menulis

FUYUKO, perempuan Jepang anak seorang pelacur, jatuh cinta kepada Husein, pemuda Indonesia yang kuliah di Tokyo. Mereka hidup bersama dan berbahagia hingga Fuyuko mengetahui Husein ternyata sudah beristri di Indonesia. Puncaknya adalah percekcokan Fuyuko dan Husein di dapur. Husein tersandung dan malangnya jatuh tepat di atas pisau dapur yang sedang dipegang Fuyuko. Ia tewas. Fuyuko didakwa sebagai pembunuh dan dipenjara tujuh tahun.

Nasjah Djamin menyusun lingkaran derita pada tokoh-tokoh itu dalam bukunya, Gairah untuk Hidup dan untuk Mati. Melodrama berujung tragis ini awalnya diterbitkan secara bersambung dalam majalah Minggu Pagi. Pustaka Jaya menerbitkannya pada 1968. Buku ini mendapat Anugerah Seni dari pemerintah Republik Indonesia dua tahun kemudian. “Buku berlatar belakang Jepang ini paling mengesankan buat saya,” kata sastrawan Abdul Hadi W.M. saat ditemui dalam pameran retrospeksi Nasjah Djamin pada awal November lalu.

Nasjah tinggal selama dua tahun di Jepang sejak 1961 sampai 1963. Di Tokyo, ia belajar tentang seni serta setting teater, televisi, dan film. Pengalaman itulah yang menjadi modal Nasjah menulis begitu detail sebuah cerita yang berlatar belakang budaya Jepang. “Kedekatan pengarang dengan bahan verbal ceritanya sungguh menakjubkan. Kita dapat merasakan kedekatan si penulis dengan apa yang ditulisnya,” ujar Abdul Hadi.

Abdul Hadi menilai Gairah untuk Hidup dan untuk Mati sebagai novel karya Nasjah paling menarik karena ditulis dengan pola cerita berbingkai. Kisah tokoh utama, yaitu Fuyuko, diceritakan lewat surat-surat yang dibacakan adiknya kepada seorang teman. Pola cerita berbingkai ini mirip dengan yang digunakan Hamka dalam Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Atheis oleh Achdiat K. Miharja. Kisah ini juga mempertentangkan dua karakter tokoh yang hidup di negara industri maju dengan yang tumbuh di negara berkembang. Nasjah juga habis-habisan menjatuhkan derita demi derita atas tokohnya seperti sebuah lingkaran sengsara meski pembaca saat itu lebih menggemari kisah-kisah berakhir bahagia.

Abdul Hadi pertama kali mengenal Nasjah pada 1964 lewat karyanya, Sekelumit Nyanyian Sunda dan novelet Hilanglah Si Anak Hilang. Menurut dia, karya sastra Nasjah menarik karena penuh penggambaran adegan-adegan yang mendebarkan. Nasjah juga tak ragu mengangkat tema yang kontroversial. Dalam Hilanglah Si Anak Hilang, misalnya, ia menulis tentang tokoh utama yang memilih jalan hidup melenceng dari kebiasaan masyarakat yang religius.

Novel yang diterjemahkan ke bahasa Prancis oleh Farida Soemargono Labrousse dengan judul Le Depart de L’Enfant Prodigue itu sempat membuat Nasjah dicap penulis yang tak bermoral, bahkan ateis. Namun ia tetap pada prinsipnya untuk berkarya dengan jujur. “Bila ada sesuatu yang harus kuucapkan, akan kulontarkan keluar supaya tenteram perasaan hati,” begitu Nasjah pernah berucap, sebagaimana disampaikan putrinya, Yeny Mainita.

Yeny bercerita, dalam menulis, Nasjah banyak menemui halangan. Novel-novel yang ia tulis lama tak mendapat pengakuan dari penerbit-penerbit di Jakarta. Cerita itu akhirnya diterbitkan Nasjah lewat majalah hiburan atau buku saku yang dijual di terminal. “Ia mendapat gelar penulis picisan, tapi itu tak mengganggu pikirannya,” kata Yeny.

Bahkan Nasjah menganggap menerbitkan buku sastra berkedok “karya picisan” justru akan bermanfaat untuk membendung banjirnya buku picisan dan cabul pada masa itu. “Bila orang-orang sudah bosan dengan buku porno dan seram yang itu ke itu saja, orang di jalanan akan membeli karya sastra yang dibungkus dengan cover picisan itu,” kata Nasjah, yang dikutip oleh Yeny. “Karya sastra akhirnya jatuh ke tangan masyarakat, dan masyarakat pun jadi mengenal karya sastra yang baik.”

Nasjah memulai karier menulisnya setelah bekerja sebagai ilustrator di Balai Pustaka pada 1949 dan banyak bergaul dengan sastrawan. Di kantor Balai Pustaka, ia berkenalan dengan Idrus, Achdiat Kartamihardja, dan Chairil Anwar. Dari diskusi dengan para sastrawan itu, hasratnya untuk menjadi penulis tumbuh.

Saat itu Nasjah mulai menulis sajak seperti “Pengungsi”, yang dimuat H.B. Jassin dalam Gema Tanah Air. Buku pertama Nasjah adalah cerita bergambar untuk anak-anak, yaitu Hang Tuah dan Pai Bengal, yang dua-duanya diterbitkan Balai Pustaka.

Selain menulis buku, Nasjah mengarang sejumlah naskah drama. Ini dimulai pada 1952 saat ia sudah kembali ke Yogyakarta dan bekerja sebagai pegawai Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sebagai sambilan, ia menjadi anggota redaksi majalah Budaya dan menghasilkan tiga naskah drama berjudul Titik-titik Hitam, Sekelumit Nyanyian Sunda, dan Jembatan Gondolayu. Naskah Sekelumit Nyanyian Sunda menjadi juara II sayembara menulis drama dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Naskah Sekelumit Nyanyian Sunda diterbitkan di majalah Budaya pada 1959 bersamaan dengan tiga pemenang naskah drama pada 1958 lain, yaitu Malam Djahanam karya Motinggo Busye dan Bung Besar karya Misbach Yusra Biran. Sekelumit Nyanyian Sunda merupakan drama dua babak yang penulisannya didasarkan pada cerita pendek Nasjah dengan judul yang sama dan terbit dalam majalah Budaya pada Mei 1954.

Pada periode ini, Nasjah juga sempat mendirikan grup Teater Indonesia bersama F.X. Sutopo, Kirdjomuljo, Idrus Ismail, dan Motinggo Busye. Grup ini mementaskan drama, tari, musik, dan deklamasi.

Motinggo Busye, dalam salah satu tulisannya yang dimuat di Aneka pada 1960, menilai naskah karangan Nasjah menghadirkan tokoh-tokoh dengan karakter riil yang menunjukkan tajamnya riset dan pengamatan Nasjah akan manusia. Misalnya, naskah drama Jembatan Gondolayu, yang menghadirkan tokoh utama bernama Karni, seorang pekerja seks. Nasjah menghidupkan karakter ini dengan suasana malam yang mendekati kebenaran. “Hanya orang-orang yang kenal dengan dunia malam yang bisa menemukan hal-hal yang dikemukakan oleh Nasjah,” tulis Motinggo.

Kendati begitu, karya-karya Nasjah Djamin tak luput pula dari kritik. W.S. Rendra, saat menonton pementasan Sekelumit Nyanyian Sunda di Solo, Jawa Tengah, pada 1960, menilai naskah Nasjah penuh percakapan bertele-tele dari sebuah persoalan yang dicari-cari. Dalam resensinya yang dimuat di SW, Rendra menulis bahwa dialog Nasjah tidak ditulis dengan inspirasi dan tak mengandung mutu kesusastraan. “Pelukis yang menulis sebuah sandiwara di waktu senggangnya ini sangat menyusahkan para aktor,” demikian ditulis Rendra.

Naskah Titik-titik Hitam juga mendapat kritik dari H.B. Jassin sebagai karya yang antiagama dan amoral. Naskah ini menceritakan tentang Adang, seorang veteran perang yang impoten karena terluka saat bertempur. Cerita ini antara lain melibatkan plot perselingkuhan antar-saudara kandung. Meski mengkritik, Jassin tetap menganggap karya Nasjah lainnya berpotensi.

Dalam salah satu surat bertanggal 2 November 1961 kepada Nasjah, Jassin menyarankan agar cerita-cerita Nasjah dalam Minggu Pagi dikumpulkan dan diterbitkan. Begitu pula novelnya, Hilanglah si Anak Hilang. “Sayang jika hanya terbenam dalam tumpukan majalah yang tidak pula akan dicari orang sebagai bahan kesusastraan,” tulis Jassin yang dimuat dalam buku Surat-surat 1943-1983.

Dan Nasjah pun terus menulis. Total, Nasjah menulis 11 novel selama hidupnya. Sejumlah penghargaan ia raih, seperti pemenang fiksi remaja terbaik dari Yayasan Buku Utama untuk novel Ombak Parangtritis dan hadiah sastra dari Dewan Kesenian Jakarta untuk novel Bukit Harapan. Nasjah juga menulis buku biografi tentang dua kawannya, yaitu Hari-hari Akhir Si Penyair tentang Chairil Anwar dan Affandi Pelukis. “Dia pelukis dengan tradisi literasi luar biasa. Mungkin Nasjah satu-satunya pelukis yang juga menulis sastra,” kata kurator Suwarno Wisetrotomo. Moyang Kasih Dewimerdeka

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan