-->

Peristiwa Toggle

Memuat Konten “Israel Beribu Kota Yerussalem”, Dewan Pendidikan Bondowoso Mendesak Penerbit Yudhistira Menarik Buku Mapel IPS Kelas 6 SD/MI

Situsweb jawapos.com (Radar Jember) mengunggah pada 17 Desember 2017 berita soal polemik isi buku mata pelajaran IPS Kelas 6 jenjang SD/MI terbitan Yudhistira. Dalam buku yang memuat daftar nama-nama negara beserta ibu kotanya tersebut, disebutkan negara Israel beribu kota Yerussalem. Berikut kliping/dokumentasi soal desakan penarikan buku itu.

——

Baru-baru ini masyarakat dihebohkan dengan adanya temuan buku yang menimbulkan polemik. Yakni adanya buku ajar mata pelajaran IPS Kelas 6 jenjang SD/MI terbitan Yudhistira. dengan penyusun Indriastuti, Sutrisnan Rochadi dan Dwi Suryanti. Karena temuan tersebut, banyak argumentasi yang maasuk ke Dewan Pendidikan Bondowoso. Akhirnya Dewan Pendidikan membuat surat resmi yang ditujukan kepada penerbit.

Ketua Dewan Pendidikan M Syaeful Bahar menuturkan, surat itu pertama bertujuan agar pihak penerbit melakukan klarifikasi dan meminta maaf. Namun tidak hanya itu, penerbit harus bertanggungjawab agar segera mencabut buku dari peredaran. “Sebab bisa jadi ketika anak SD membaca buku tersebut, maka akan menganggap jika Ibukota Israel adalah Yerussalem.

Dalam surat yang dilayangkan Dewan Pendidikan, dijelaskan pada halaman 15 (Tabel 3.3 Tabel Negara di Asia Barat), nomor 6 tertulis bahwa Ibu Kota Israel adalah Yerussalem, yang seharusnya Tel Aviv. Sementara Yerussalem diyakini adalah Ibu Kota Palestina yang tertuang dalam Resolusi Majelis Umum PBB no 2253 tertanggal 4 Juli 1967 hingga resolusi nomor 71 tanggal 3 desember 2016, telah menegaskan perlindungan Yerussalem terhadap okupansi Israel.

Kondisi ini semakin memanas dengan adanya pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan Yerussalem adalah ibu kota Israel.

Mengenai penerbitan buku itu, pihak Dewan Pendidikan Bondowoso telah menerima surat klarifikasi dari penerbit, jika kesalahan itu karena kesalahan referensi yang merupakan hasil browsing di google. Jika memang seperti itu, Dewan Pendidikan Bondowoso sangat menyayangkan pihak penerbit. Sebab sekelas Yudhistira memakain reverensi yang sangat lemah. “Menurut kami itu cacat secara akademis,” tegasnya.

Sebab jika referensi hasil karya diambil dari google, sudah keluar dari pakem dunia pendidikan. Bahkan menciderai iklim akademik. Sebab secara pakem selama ini, referensi adalah dari buku yang diramu dan diambil intisarinya. Bukan dari google. “Referensi itu sangat penting, jangan disepelekan,” ujarya.

Bahar menambahkan, sebelum melayangkan surat dirinya telah melakukan telaah bersama para anggota Dewan Pendidikan lainnya. Dalam diskusi itu, Dewan Pendidikan menilai kesalahan itu lebih pada kecerobohan (jr/hud/das/JPR)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan