-->

Peristiwa Toggle

Buku Paket Ilmu Pengetahuan “Anak Bertanya, Pakar Menjawab” Dikirim ke 480 Titik Simpul Pustaka Bergerak

Ratusan paket buku ilmu pengetahuan Anak Bertanya, Pakar Menjawab dikirimkan ke 480 titik simpul Pustaka Bergerak, dari Aceh hingga Papua. Buku-buku tersebut diproduksi Anakbertanya.com untuk bacaan anak Indonesia lebih baik, bermutu, dan kontekstual. Produksi dan persebaran buku ini benar-benar menjadi nyata berkat ikhtiar Pustaka Bergerak mendesak pemerintah lewat BUMN Pos Indonesia membuat program kirim buku gratis saban tanggal 17 bulan berjalan. Berikut dokumen klipingnya:

——

Prihatin dengan buku-buku anak yang kurang berkualitas, komunitas Anakbertanya.com mengirimkan ratusan paket buku Anak Bertanya, Pakar Menjawab ke 480 titik simpul pustaka di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.

Pengelola Anakbertanya.com, Hendra Gunawan mengatakan, pengirim buku gratis saja tidak cukup. Yang harus diusahakan keras juga adalah buku-buku yang berkualitas.

“Kalau anak-anak di perkotaan kan bisa membaca buku yang berkualitas di online, tapi anak-anak di pedesaan sulit,” katanya, seperti dilaporkan wartawan Bandung, Juli Alazka.

Koordinator Pustaka Bergerak, Nirwan Arsuka menyebut, keprihatinannya selama ini memang buruknya kualitas buku-buku, khususnya untuk anak-anak.

“Kami cemas dengan buku-buku yang banyak beredar,” kata Nirwan, saat upacara pengiriman pertama ratusan paket buku di Kantor Pos Bandung, Jumat (15/12).

“Anak-anak Indonesia itu baca banyak buku terjemahan, dan itu membuat mereka fasih berbicara tentang Beruang Alaska atau Unta Sahara misalnya, tapi mereka tidak bisa bicara banyak tentang Kuda Sumba. Pengetahuan-pengetahuan lokal kita yang beredar dan hidup di tengah-tengah kita ini, sangat miskin dari segi literatur,” lanjut Nirwan.

Karenanya ia sangat antusias bekerja sama dengan Anakbertanya.com yang disebutnya merupakan satu langkah ltambahan untuk memasok buku-buku berkualitas ke berbagai pelosok.

“Buku-buku seperti Anak Bertanya dan Pakar Menjawab adalah satu terobosan luar biasa dan kita berharap buku-buku semacam ini akan semakin banyak bermunculan,” harap Nirwan.

Buku-buku itu dikirim ke ratusan simpul pustaka di berbagai penjuru Indonesia, yang merupakan relawan dari Pustaka Bergerak, komunitas yang sudah bertahun-tahun mengirimkan buku secara gratis.

Masing-masing simpul pustaka mendapat sebanyak dua set buku Anak Bertanya, Pakar Menjawab dengan total sebanyak 16 buku. Buku yang diterbitkan Common Room ini merupakan kumpulan pertanyaan anak-anak yang dikumpulkan sejak 2013, beserta jawaban dari pakar.

“Kami memang mencetak buku ini dengan niat dikirim ke daerah-daerah, jadi kebetulan sekali ada Pustaka Bergerak yang bisa menyalurkan buku ini. Kalau tidak, kami tahu tahu dikirim kemana,” kata pengelola Anakbertanya.com, Hendra Gunawan.

Pengiriman buku-buku itu memanfaatkan juga layanan pengiriman sumbangan buku gratis yang disediakan PT Pos Indonesia pada tanggal 17 setiap bulannya.

Direktur Utama PT Pos Indonesia, Gilarsi Wahyu Setijono mengungkapkan, pihaknya sudah mengirimkan jutaan buku sejak program kirim buku gratis diluncurkan Juni lalu.

“Sampai hari ini, prediksi sampai akhir tahun, sudah mengirimkan buku jumlahnya jutaan. Tetapi kalau dinominalkan equivalen dengan Rp5,8 miliar,” ujar Gilarsi dalam acara peluncuran itu.

Nirwan berharap, pengiriman buku gratis juga bisa lebih luas menjangkau hingga ke 80 ribu desa di Indonesia. masalahnya, kata Nirwan, pembiayaannya tidak bisa bergantung pada PT Pos Indonesia. Dengan jumlah sebanyak itu, menurut Nirwan, PT Pos Indonesia akan keteteran.

“Tentu dengan kapasitas pengirimnan 80 ribu desa, PT Pos tidak akan sanggup. Kita sedang mencoba biaya pengiriman ini masuk ke APBN. Kita ingin agar negara ikut membantu dan PT Pos jangan keteteran mnegurusi buku ini,” ujar Nirwan.

Program pengiriman buku gratis ini diakui manfaatnya oleh para pengelola taman bacaan atau rumah belajar. Seperti yang dirasakan Rudiat, pengelola sejumlah komunitas baca dan rumah belajar.

Pedagang tahu yang biasa dipanggil Mang Yayat ini merasa terbantu menyediakan buku bagi warga di sekitar tempat tinggalnya, di Kampung Pasirhuni Kecamatan Cimaung Kabupaten Bandung. Biasanya ia membeli buku dari uang miliknya.

“Sejak 1997 sampai 2012 beli sendiri dari tukang rongsok dari barang bekas, dan itu cukup mahal sehingga dalam kurun beberapa tahun koleksi buku hanya 700an,” ujar Mang Yayat yang hadir di acara.

Senada dengan Yayat, Elis Ratna Suminar juga mengaku merasa sangat terbantu. Ibu dua anak ini mengelola juga suatu taman bacaan unik: di sebuah angkutan kota, atau angkot.

Untuk pengadaan buku bagi perpustakaannya selama ini, ia menyisihkan dari uang honor sebagai pustakawan di sebuah sekolah dasar di Kabupaten Bandung.

“Berkat adanya gerakan ini, jadi si donator yang mau wakaf buku dimudahkan. Jadi tidak ada ongkir (ongkos kirim). Sekarang enak banyak yang kirim buku,” kata Elis yang juga menyewakan buku dengan cara berkeliling memakai motor ke setiap kampung di Kabupaten Bandung itu.

sumber dokumen: bbc.com

 

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan