-->

Tokoh Toggle

Enny Arrow | Maestro Sastra Kenthu

Secara khusus, Tempo dalam rubrik IQRA 15 Oktober 2017, menurunkan laporan tentang Enny Arrow; sebuah nama legendaris dalam produksi karya-karya sastra stensilan penuh keringat dan berahi. Frasa-frasa semacam ini, ‘auwww’, ‘hsssh’, atau ‘hmmmhhh’ melimpah dalam halaman-halaman karya Enny. Terkadang, juga kalimat ini, ingat? “kok enakkkh, sihhhh!” atau “pelan-pelannn, sayanghhh!”. Berikut adalah guntingan arsip dan ringkasan laporan IQRA tersebut:

* * *

[1] Menguak Stensilan Erotis Enny Arrow

Novel Enny Arrow merupakan stensilan mesum yang populer pada 1980-1990-an. Kala itu, ia menjadi barang paling diburu di lapak-lapak buku emperan di kawasan Pasar Senen dan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Penjualannya tak terbendung meski dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Kendati popularitasnya tinggi, penulis novel erotis itu hingga kini masih misterius. Siapa dia? Apakah Enny Arrow adalah seorang pengarang yang memang hanya menulis atas nama Enny Arrow? Ataukah Enny Arrow sebuah nama “generik” yang dicantumkan para pedagang lapak sebagai trade mark setiap stensilan mesum, sementara pengarangnya sesungguhnya bisa siapa saja? Pada Juli lalu, dua dekade setelah “era kejayaan” stensilan mesum itu, sebuah diskusi tentang Enny Arrow di Semarang dilarang polisi karena dianggap mengandung unsur pornografi.

DI atas rerumputan Taman Ria Remaja Senayan, Jakarta, Benny merebahkan tubuhnya. Sambil menyilangkan dua tangan di atas kepala, pemuda 24 tahun itu memandangi langit biru. Pikirannya melayang ke sosok Lisa, perempuan yang pernah sangat dia cintai tapi kini sangat dia benci. Kisah kasih keduanya baru saja berakhir lantaran Benny memergoki Lisa berselingkuh.

Tapi kemurungan sepertinya tak ingin lama-lama menghinggapi Benny. Di tempat itu, secara kebetulan dia bertemu dengan Aningsih, perempuan 30 tahun yang tengah menunggu seseorang tapi tak kunjung datang. Wajah tirus Aningsih dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai begitu menggoda Benny. Belum lagi paha putih Aningsih yang kerap terlihat lantaran ujung roknya terbuka. Benny pun berkenalan dengan Aningsih.

Berjam-jam mereka mengobrol. Topik utamanya tentang kehidupan percintaan masing-masing. Mula-mula mereka duduk berjauhan. Tapi lama-lama berdekatan. Bahkan, sambil mengobrol, tangan mereka saling menggenggam. Sesekali bibir Benny dan Aningsih saling mengecup. Kehangatan itu membuat Benny ingin kembali bertemu dengan Aningsih. “Boleh aku ke rumah Mbak kapan-kapan?” kata Benny. Aningsih mengiyakan. “Mengapa tidak? Aku senang sekali kalau kau mau datang.”

Pertemuan tak disengaja itu mengawali kisah Benny dan Aningsih, dua tokoh utama dalam novel fiksi Enny Arrow berjudul Selembut Sutra. Novel itu merupakan stensilan mesum yang populer pada 1980-1990-an. Sebagai bacaan mesum, cerita-cerita dalam novel Enny Arrow memang selalu menonjolkan adegan ranjang, meski judul pada setiap terbitannya berbeda. Dalam novel Enny Arrow, adegan seks dituliskan secara vulgar. Tujuannya memancing gairah seksual pembaca.

Itu pula yang tertulis dalam Selembut Sutra. Alkisah, seusai pertemuan di Taman Ria Remaja Senayan, Benny mendatangi rumah Aningsih. Di situ, keduanya melakukan hubungan seks. Pemicunya sederhana: Benny melihat tubuh bugil Aningsih lantaran handuk yang dikenakannya terlepas. Benny yang tak bisa menguasai diri langsung mendekap Aningsih dan berusaha mencumbunya. Aningsih awalnya menolak, tapi akhirnya pasrah.

Adegan ranjang kemudian dideskripsikan secara detail. Begitu pula saat menggambarkan bentuk tubuh serta organ vital laki-laki dan perempuan. Bahkan, guna melengkapi imajinasi pembaca, muncul berbagai kata yang menggambarkan suara desahan perempuan. Misalnya auwww, hsssh, atau hmmmhhh. Terkadang juga dalam kalimat “kok enakkkh, sihhhh!” atau “pelan-pelannn, sayanghhh!”.

Begitulah novel Enny Arrow. Pada 25 Juli lalu, sebuah diskusi tentang Enny Arrow rencananya digelar di Kopium Kafe, Semarang, Jawa Tengah. Acara berjudul “Diskusi Sastra Erotika, Membaca Enny Arrow” itu digagas sejumlah komunitas sastra, yaitu Komite Sastra Dewan Kesenian Semarang, Openmind Community, dan Surau Kami. Tujuannya menepis pandangan tentang novel Enny Arrow yang dianggap hanya berisi tulisan cabul. “Padahal Enny Arrow tidak sesempit itu,” kata panitia diskusi, Audrian Firhannusa, pada akhir September lalu.

Menurut Audrian, perkembangan novel Enny Arrow punya nilai sejarah dan memiliki dampak terhadap kehidupan sosial-budaya masyarakat. “Teks penyusun ceritanya juga bermuatan sastrawi dan linguistik,” ujarnya. Karena itu, diskusi tersebut berupaya menampilkan pemahaman yang utuh tentang Enny Arrow melalui pembahasan yang tak hanya melihat cerita mesumnya.

Namun diskusi terbuka itu urung digelar karena polisi melarangnya. Selain dianggap belum mengantongi izin, polisi menilai diskusi itu mengandung unsur pornografi dan berpotensi menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Diskusi waktu itu memang batal, tapi akhirnya bisa digelar pada 31 Agustus lalu di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Semarang.

* * *

Novel Enny Arrow tidak dijual secara terbuka di toko-toko buku kenamaan. Sejak kemunculannya pada 1970-an, transaksi jual-beli stensilan mesum itu kerap dilakukan secara sembunyi-sembunyi di lapak-lapak pedagang koran, majalah, atau buku di pinggir jalan. Cara ini terus berlangsung hingga Enny Arrow mencapai puncak ketenaran pada 1980-1990-an.

Di Jakarta, novel Enny Arrow bisa dibeli di sejumlah lokasi, antara lain Blok M dan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, serta Jatinegara, Jakarta Timur. Tapi pusat penjualannya ada di kawasan Pasar Senen dan Pasar Baru, Jakarta Pusat. “Dua lokasi tersebut merupakan sentral untuk distribusi stensilan itu,” kata Yudi Bachrioktora, pengajar di Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia yang pernah meneliti tentang Enny Arrow, Selasa pekan lalu.

Menurut Yudi, pada awal kemunculannya, harga satu novel Enny Arrow berkisar Rp 300-1.000. Tapi, pada akhir 1990-an, harganya melonjak menjadi Rp 3.000. Kendati harganya naik, bentuk novel itu tetap tak berubah: dicetak handpress dengan mesin stensil layaknya hasil cetakan mesin fotokopi. “Judul yang baru biasanya muncul dua-tiga bulan sekali,” ujarnya.

Kawasan Pasar Senen yang dimaksudkan Yudi adalah lapak-lapak pedagang koran, majalah, dan buku di sekitar terminal. Tagor, yang sejak 1986 berdagang di tempat itu, mengatakan novel Enny Arrow memang dijual sembunyi-sembunyi oleh puluhan pedagang di sana, termasuk dirinya. Pembelinya kebanyakan para pemuda. “Biasanya pura-pura nyari yang lain dulu, baru deh nanya ada Enny Arrow atau enggak,” ucap pria 53 tahun asal Medan itu, Kamis dua pekan lalu.

Beberapa kali novel Enny Arrow juga dicari kaum Hawa. Bahkan suatu ketika Tagor pernah melayani seorang perempuan paruh baya. Usianya kira-kira 40 tahun. Tanpa basa-basi, perempuan itu menanyakan novel Enny Arrow dan ingin membelinya. “Kata dia buat dibaca suaminya yang libidonya mulai berkurang,” kata Tagor.

Pada 1980-1990-an, Enny Arrow paling diburu pembeli ketimbang bacaan sejenis yang juga dijual di sekitar Pasar Senen, seperti Fredy S. atau Nick Carter. Menurut Tagor, penyebabnya karena Enny Arrow menuliskan adegan mesum secara vulgar. “Berbeda dengan Fredy S. dan Nick Carter, yang nulisnya malu-malu,” katanya. Bahkan pembeli tak lagi peduli ketika penjual menaikkan harga. Misalnya dari Rp 3.000 menjadi Rp 5.000. “Tetap saja dibeli.”

Pada periode yang sama, situasi hampir serupa terjadi di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Waktu itu, Enny Arrow diperjualbelikan secara sembunyi-sembunyi di Los Mini Topsy, sebuah tempat yang berisi sekitar 30 pedagang-dengan lapak masing-masing berukuran sekitar 3 x 3 meter-yang kerap mencetak sekaligus menjual buku sendiri. Los Mini Topsy memang sudah tak ada karena sudah menjadi bangunan berisi puluhan pedagang kamera. Tapi dulu posisinya persis di seberang gedung Metro Atom.

Sunardian Wirodono, penulis yang pada 1980-an mendalami tentang Enny Arrow, pernah mendatangi Los Mini Topsy pada 1983. Di sana, dia melihat penjualan novel Enny Arrow begitu mendominasi dan laris. Hampir semua pedagang menjualnya. Satu novel dihargai Rp 300. Pembelinya kebanyakan mereka yang membuka bisnis penyewaan buku. “Orang-orang di sana menjual naskah seperti menjual kertas kiloan,” ucap Sunardian, akhir September lalu.

Ketenaran Enny Arrow sebenarnya tak lepas dari isi tulisan dalam setiap terbitannya. Menurut Yudi Bachrioktora, waktu itu memang sudah banyak karya sastra yang menceritakan hubungan lawan jenis. “Tapi hanya Enny Arrow yang detail bertutur tentang persetubuhan dan eksploitasi tubuh,” ujarnya. Pada masa itu, di tengah keterbatasan informasi tentang hal begituan, Enny Arrow kemudian membuat anak-anak muda penasaran.

Pada akhir 1990-an, Enny Arrow terpaksa mengakhiri masa kejayaannya. Dia tak lagi menjadi primadona lantaran perkembangan teknologi telah mendorong adegan-adegan ranjang tampil dalam bentuk yang lebih nyata: audio-visual. Mula-mula muncul video porno melalui kaset laser disc. Kemudian berkembang menjadi video compact disc (VCD), digital versatile disc (DVD), dan Internet.

* * *

Sejumlah tulisan tentang Enny Arrow menyebut nama Enny Sukaesih Probowidagdo sebagai penulis novel itu. Enny adalah perempuan yang lahir di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada 1924. Dulu dia bekerja di toko usaha jahit “Arrow” di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur. Entah bagaimana prosesnya, Enny kemudian menulis novel pertamanya berjudul Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta-yang terkesan “kiri”-pada 1965. Lalu dia kabur ke Filipina dan Hong Kong serta tinggal di Seattle, Amerika Serikat, pada April 1967.

Enny disebut-sebut sebagai wartawan yang memulai karier pada masa Jepang. Belajar Steno di Yamataka Agency, lalu ia menjadi salah satu propagandis Heiho dan Keibodan. Pada masa revolusi, dia bekerja sebagai wartawan Republikein, yang mengamati jalannya perang di wilayah Bekasi. Di Amerika, Enny belajar penulisan kreatif gaya sastrawan dan peraih Hadiah Nobel John Steinbeck. Setelah menemukan irama Steinbeck, dia mencoba menulis untuk beberapa koran terkenal di Amerika. Salah satunya cerita bersambung berjudul Mirror Mirror.

Pada 1974, dia kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai copywriter di salah satu perusahaan asing. Setelah itu, dia kembali menulis. Begitulah kisah penulis Enny Arrow yang sebenarnya tak jelas sumbernya. Cerita itu pula yang dikutip Sunardian Wirodono dalam tulisan berjudul Enny Arrow, Pejuang, Pendidik, Generasi Bangsa yang diunggah di blog pribadinya pada Sabtu, 14 November 2015.

Menurut Sunardian, dia mendapatkan cerita itu dari penulis novel misteri Abdullah Harahap. Pada awal 1980-an, ketika sedang menulis tentang perkembangan buku-buku bawah tanah di Jakarta, Sunardian mewawancarai penulis kelahiran 1943 itu. Tapi belakangan Sunardian justru curiga kepada Abdullah. Sebab, selain menceritakan kisah sosok Enny Sukaesih, Abdullah menyebut Enny Arrow sebagai nama samaran seorang penulis laki-laki.

Sunardian kemudian menduga Enny Arrow adalah tokoh ciptaan Abdullah Harahap. Apalagi, menurut Sunardian, Abdullah-yang aktif menulis ketika Enny Arrow booming-juga mempelajari gaya penulisan Steinbeck. Sunardian mengatakan, pada masa itu, nama samaran ada kemungkinan sering dipakai penulis yang kepepet masalah duit. Sebab honorarium penulis waktu itu kecil, cuma Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Sayangnya kecurigaan Sunardian tak bisa dikonfirmasi lantaran Abdullah Harahap meninggal pada 2015. “Enny Arrow masih gelap sampai sekarang,” ucapnya.

Menurut Khatibul Umam, pengajar sastra populer Jurusan Sastra Indonesia Universitas Diponegoro Semarang, sosok penulis yang tak jelas membuat Enny Arrow bisa diciptakan siapa saja. Salah satunya terbukti dari tak konsistennya penulisan nama Enny Arrow pada sampul-sampul novel itu. Ada yang menggunakan satu atau dua huruf N dan huruf I atau Y pada kata Enny. Karena itu, Khatibul meyakini Enny Arrow tak hanya ditulis satu orang, melainkan menjadi semacam brand yang dipakai sejumlah orang-termasuk penerbit-penerbit kecil kala itu-untuk mencari keuntungan. “Enny Arrow tak lebih dari merek dagang,” ucap Khatibul, pertengahan Agustus lalu. (Prihandoko, Shinta Maharani [Yogyakarta], Edi Faisol [Semarang])

[2] Tahun 1980-an, Vulgar Seratus Persen

Hampir satu tahun Yudi Bachrioktora meneliti novel Enny Arrow. Selama itu pula dia rutin membaca puluhan stensilan mesum yang populer pada 1980-1990-an itu. Beberapa di antaranya berjudul Selembut Sutra, Hari Kelabu, Sepanas Bara, Di Celah Dinding Kontrakan, dan Pergaulan Bebas. “Ini penelitian tekstual. Membaca sekaligus memaknai teks dalam novel tersebut,” kata pengajar di Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia itu, Selasa pekan lalu.

Yudi merampungkan penelitiannya pada pertengahan 2013. Berjudul “Imagined Sex: youth and porn stories in the 1980s and 1990s Indonesia”, hasil penelitian itu dia presentasikan dalam Inter-Asia Cultural Studies Society Conference di National University of Singapore pada 3-5 Juli 2013. Salah satu temuannya menyimpulkan novel Enny Arrow bisa masuk kategori karya sastra erotis. “Beberapa cetakan awal novel itu masih memiliki jalinan cerita,” ujar Yudi. “Bukan semata-mata bertutur tentang persetubuhan.”

Tulisan dalam sastra erotis biasanya memang memiliki alur yang jelas. Meski tujuan utamanya membangkitkan gairah seksual pembaca, karya sastra erotis tak melakukannya secara vulgar, melainkan dengan diksi dan bahasa yang memancing imajinasi. Karena itu, sastra erotis cenderung tak eksplisit mengumbar adegan seks. Salah satu pelopor sastra erotis adalah penulis Italia, Giovanni Boccaccio, yang pada 1353 menerbitkan The Decameron. Novel itu berkisah tentang cinta, nafsu, rayuan, dan berbagai romantika kehidupan. Jauh sebelumnya ada Kama Sutra karya Vatsyayana, sebuah literatur India berbahasa Sanskerta tentang perilaku seks manusia.

Belakangan, ada Fanny Hill: Memoirs of a Woman of Pleasure karya novelis Inggris, John Cleland, yang terbit pada 1749; Tropic of Cancer karya penulis Prancis, Henry Miller, pada 1934; dan Lolita karya novelis Amerika-Rusia, Vladimir Nabokov, pada 1955. Ada juga novelis perempuan Amerika, Anais Nin, yang antara lain menulis Delta of Venus (1977) dan Little Birds (1979).

Tentu saja mutu sastra karya-karya seperti Nabokov atau Boccaccio tinggi. Karya Enny Arrow tak bisa dirujukkan ke arah novel-novel besar itu. Tapi, pada awalnya karya-karya Enny Arrow sesungguhnya mencoba agak ke arah “sastra pop”. Ia membungkus adegan ranjang dengan ide cerita yang beragam. Misalnya tentang persoalan suami-istri atau rumah tangga, urbanisasi untuk mencari peruntungan di kota, atau kisah penyalahgunaan narkoba. “Awalnya Enny Arrow hampir selalu bercerita tentang kehidupan di masyarakat,” ucap Yudi.

Selain itu, penulisnya melakukan penggambaran karakter untuk tokoh-tokoh di dalamnya. Ini persis seperti yang dilakukan novel-novel lainnya. Tak cuma itu, penulis Enny Arrow selalu menyelipkan pesan moral pada akhir cerita. Contohnya ketika bercerita tentang penyalahgunaan narkotik, penulis menyisipkan komentarnya bahwa narkotik tidak baik untuk tubuh atau bisa merusak keharmonisan keluarga. “Sedangkan dalam cerita tentang seks bebas, ditulis pesan bahwa itu bisa menyebabkan penyakit,” ujar Yudi.

Temuan dalam penelitian Yudi senada dengan temuan Sunardian Wirodono, penulis yang pada 1980-an pernah mendalami tentang Enny Arrow. Sunardian menyatakan kualitas novel itu terhitung bagus pada awal kemunculannya, yakni pada 1970-an, lantaran kerap menampilkan cerita yang utuh. “Alur ceritanya lebih jelas,” ujar Sunardian pada akhir September lalu. Selain itu, menurut dia, adegan ranjang yang digambarkan dalam novel tersebut tidak vulgar.

Namun, semuanya berubah 180 derajat menjelang akhir 1970-an. Novel Enny Arrow yang terbit kemudian tak lagi mempedulikan alur cerita dan terkesan mengabaikan ide cerita. Sebaliknya, dalam setiap terbitannya, Enny Arrow justru lebih menonjolkan adegan ranjang. “Lebih banyak mengeksploitasi adegan seksual secara vulgar,” ucap Sunardian.

Perubahan itu sebenarnya merupakan dampak dari popularitas novel Enny Arrow sejak awal 1980-an. Waktu itu, Enny Arrow menjadi buruan banyak orang meski jual-belinya dilakukan secara diam-diam. Yudi Bachrioktora mengatakan Enny Arrow menjadi populer karena berisi penggambaran adegan seks dan eksploitasi tubuh yang detail. Karena itu, dia menjadi incaran banyak anak muda yang penasaran. “Waktu itu tak ada tempat bagi anak-anak muda untuk mencari tahu hal begituan selain novel Enny Arrow,” kata Yudi.

Ketenaran itu lantas membuat novel Enny Arrow seperti dikejar-kejar target penjualan. Kondisi itu, menurut pengajar sastra populer jurusan Sastra Indonesia Universitas Diponegoro Semarang, Khatibul Umam, membuat produksi Enny Arrow masif demi mengutamakan permintaan pasar. “Enny Arrow tak lagi mementingkan kualitas,” ujar Khatibul pada pertengahan Agustus lalu. Akibatnya, tak ada lagi kejelasan cerita dalam novel Enny Arrow seperti yang tergambar pada tulisan-tulisan sebelumnya.

Sejak itu, Enny Arrow bisa dibilang telah meninggalkan identitasnya sebagai penulis karya sastra erotis. Purwono Nugroho Adhi, anggota Openmind Community, sebuah komunitas diskusi sastra di Semarang, mengatakan novel Enny Arrow kemudian lebih condong mengarah ke pornografi tekstual yang tujuannya untuk komersial. “Kebanyakan ceritanya sangat dangkal, tanpa ada unsur sastra yang bisa dikaji,” ucap Purwono. Selain itu, isi teksnya tak bisa dianggap memberikan pelajaran seks, melainkan eksploitasi hubungan badan.

Dalam penelitiannya, Yudi Bachrioktora juga mengakui adanya transformasi Enny Arrow itu. Bahkan, menurut Yudi, pada akhir ketenarannya- kira-kira pada akhir 1990-an- novel Enny Arrow tampil dengan format baru, yakni dominasi adegan seks yang vulgar lengkap dengan gambar-gambar perempuan telanjang dengan berbagai pose. “Seperti dalam majalah pria dewasa,” tuturnya.

Kondisi novel Enny Arrow itu berbeda dengan novel serupa yang beredar pada masanya. Contohnya novel Nick Carter dan Fredy S. Kedua novel itu tetap setia pada ide cerita utama yang dibangun dan identitasnya sebagai karya sastra erotis. Dalam perkembangannya, menurut Yudi, Fredy S. tetap berfokus pada basis cerita roman, sedangkan Nick Carter pada cerita roman yang dibungkus dalam kisah agen rahasia. “Keduanya juga selalu menggunakan bahasa yang halus untuk menggambarkan adegan persetubuhan,” ujarnya. (Prihandoko, Shinta Maharani [Yogyakarta], Edi Faisol [Semarang])

 

[DOKUMEN BERITA BUKU & RESENSI DISIMPAN DALAM GUDANG WARUNG ARSIP]

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan