-->

Resensi Toggle

Memprotes, Menasihati, Bercerita

Judul Buku : Irama Rasa
Penulis : Agus Budi Wahyudi
Penerbit : Jagat Abjad Solo
Cetakan : Pertama, Juni 2017

Irama Rasa, irama yang berupa opini Agus Budi Wahyudi mengenai apa saja yang menggelisahi pikirannya. Irama Rasa mendendangkan cerpen dan esai, berisi tentang protes, cerita lokal, sampai nasihat. Pada tema perubahan, terlihat sekali hubungan emosional Agus dengan tempat tinggalnya, Gonilan, Solo. Sebagai bukti, tengok saja esai berjudul Perumahan Baru dan Tetangga Baru. Ia mengungkap kesan yang timbul atas perubahan yang terjadi di daerah yang sejak kecil dihuninya.

Irama Rasa menimbulkan kesadaran kita bahwa kita memiliki kekayaan cerita dan nasihat lama. Harta itu patut disambung lebih erat pada generasi selanjutnya. Sebab berisi ajaran-ajaran yang baik dan masih sesuai dengan keadaan sekarang. Misalnya ‘Jangan mengail ikan di air yang keruh’.

Membaca Kaillah Ikan Selagi Airnya Keruh, mengagetkan saya mengapa judul itu justru antitesa dari nasihat klasik ‘Jangan mengail ikan di air keruh’. Nasihat itu dilihat dari posisi manapun tetap akan baik. Kita diajarkan untuk tidak mengambil manfaat individu dari kesulitan pihak lain. Rupanya inilah permainan logika dari penulis bahwa bolehlah kita menaati judul tulisan itu apabila dalam kondisi yang benar-benar darurat. Maksudnya, kita terkadang perlu mengorbankan orang lain demi jalan yang mulia; memperjuangkan kemaslahatan umat. Agus memprotes masyarakat modern yang mengedepankan kepentingan pribadinya dan menyebabkan kerugian pada masyarakat.

Dahulu, usaha orang untuk menyembuhkan penyakit salah satunya adalah dengan air doa. Air doa berarti air yang diberi doa, baik dengan ditiup maupun berupa tulisan. Doa berisi kata-kata yang dianggap sakral. Ada juga yang menyebutnya mantra. Dalam cerpen Berguru, kita akan menyelami sambil barangkali tertawa sendiri bagaimana satu kata bisa mengingatkan seorang guru pada muridnya.

Tidak jauh dari pembahasan terkait guru, kita temui esai berjudul “Tidak Ada Kemajuan Sama Sekali” Kata Guru. Di esai ini, awalnya saya tidak sependapat dengan apa yang dianggap kemajuan oleh penulis. Agus menulis “Generasi per generasi harus ada kemajuan yang berkelanjutan. Neneknya jadi guru PAUD, ibunya jadi guru SD, anak turunnya jadi guru SMP, SMA, bahkan ada yang jadi pengajar perguruan tinggi. ”Mengapa kemajuan melulu diukur dengan jabatan? Gaji? Saya kira orang memiliki kebahagiaan yang diraih dengan cara masing-masing. Misalnya anak seorang dosen yang mencintai pekerjaan mendidik anak-anak dalam mencapai kemajuannya tidak harus menjadi rektor, tetapi sepenuh hati mencintai pekerjaannya dalam mendidik anak-anak.

Dalam cerpen Aku Bukan Boneka, Tapi Aku yang Dibonekakan, Agus menaruh belas kasihan kepada orang yang menjadi bukan dirinya sendiri. ‘Boneka’ sering dipakai dalam pembahasan politik praktis. Tokoh Aris telat menyadari bahwa dirinya adalah boneka yang dimainkan dalam sebuah perhelatan demokrasi. Ia diperalat menghuni kotak kosong melawan calon tunggal. Meski mendapat imbalan boneka tetaplah boneka. Perilaku Aris yang menerima dan mengaku bangga sebagai boneka mengesankan bahwa ia sudah menjadi pragmatis. Agus menyindir bahwa dalam berpolitik, usaha apapun akan dilakukan demi tercapainya tujuan, sekalipun menghinakan diri.

Kita bisa membaca kesinisan Agus terhadap adanya kotak kosong dalam tradisi politik kita dalam cerpen Kotak Kosong Kok Dilawan. Sebuah keharusan bahwa calon satu-satunya harus menang meski kadang kotak kosong terhitung sebagai pemenang. Peragaan-peragaan semacam kotak kosong sebagai tercapainya demokrasi adalah sebuah kemubadziran. Agus mempertanyakan kembali kedewasaan demokrasi Indonesia.

Beralih ke tema yang lebih yang lebih sangat sederhana, kita baca saja esai Menikmati Teh di Kala Senja. Tidak ada sama sekali kritik yang diutarakan Agus. Ia hanya menyampaikan rasa syukur atas melimpahnya kenikmatan yang tuhan titipkan padanya; kebahagiaan berkeluarga dengan istri yang sehaluan, mengasuh ketiga anaknya melalui cerita, dan menikmati senja bersama teh.

Sesuai dengan halaman yang sedikit, juga buah tangan dari rembug dadakan, buku ini cocok untuk mengisi sela-sela kesibukan atau pendamping teh di waktu santai. Yang kocak namun berbobot hadir dalam bahasa yang mudah dipahami dan diperkaya dengan bahasa lokal pula.

 

Karim Ilham
Relawan Radio Buku

 

Terbit di harian Solopos 24 Juli 2017.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan