-->

Tokoh Toggle

Syaihul Hadi | Menulis Novel untuk Kesembuhan Sang Putri | Situbondo

Harian Jawa Pos edisi 24 Agustus 2014 menurunkan kisah warga Situbondo yang berjuang habis-habisan untuk kesembuhan putrinya, Viara Hikmatun Nisa. Kisah perjuangannya ditorehkan dalam sebuah novel berjudul “Gadis Kecilku”. Inilah feature yang dituliskan Priska Birahy, Surabaya. (Redaksi)

 

HIDUP Syaihul Hadi pernah seperti kernet. Dia naik turun bus dari Surabaya. Tujuannya adalah ibu kota, Jakarta. Tapi, Hadi –sapaannya– tidak sedang traveling. Yang dijalankannya adalah lelaku keprihatinan. Hadi sedang menjalani tirakat besar demi putrinya, Viara Hikmatun Nisa. Ya, guru les komputer itu harus menjelajah jalanan demi mencari rupiah untuk pengobatan anaknya.

Keluarga kecil Hadi bersama Inwaningsih, istrinya, memang pas-pasan. Namun, pasangan yang menikah pada 17 Agustus 2003 tersebut selalu berbahagia. Sampai cobaan itu datang tiga tahun lalu, saat Viara, sang anak, masih kelas 1 SD.

Viara yang kini kelas IV tersebut tiba-tiba merintih pada sebuah pagi yang sunyi. Perut bagian bawahnya perih. Sakit. Inwaningsih yang terus-menerus menyeka perut Viara melihat benjolan keunguan pada bagian tersebut.

Saat dibawa ke RSUD dr Abdoer Rahem, warga Asembagus, Situbondo, itu didiagnosis menderita usus buntu. Gejalanya terlihat dari sakit perut yang begitu hebat. Tentu saja, Hadi dan istrinya kaget. Sebab, sejak kecil Viara selalu sehat.

Operasi pertama pun dijalani Viara pada 2011. Nyatanya, operasi itu tidak kunjung membuat gadis yang hobi membuat kreasi gelang karet tersebut sembuh. Pada Juni 2013, usus bocah berpipi chubby tersebut lengket. Perlengketan itu kembali dialaminya pada September tahun itu. Dalam usia yang masih belia, Viara harus naik-turun meja operasi. Dia pernah ditangani di RSUD dr Soebandi Jember. Pernah pula ke RSUD Syaiful Anwar Malang.

Lantaran wira-wiri mengantar dara kelahiran Situbondo, 22 Juli 2004, tersebut, Hadi dan istrinya harus melepas seluruh pekerjaannya. Sebagai guru les lepas, mereka berupaya sekuat tenaga mencari dana pengobatan. Lelaki asal Pulau Ra’as, Sumenep, itu juga melego mobil buntutnya, L-300, dan komputer yang dipakainya untuk rental di rumahnya. Inwaningsih pun harus resign sebagai guru SMP.

’’Sejak sakit, semua usaha saya jual. Mesin fotokopi juga dilepas agar ada biaya buat Viara,’’ kata Hadi penuh haru. Tangannya mengelus putrinya yang terbaring di salah satu kamar di RS Premier Surabaya.

Tapi, cobaan tak jua berhenti. Usus buntu dan perlengketannya sudah dipotong sepanjang 45 sentimeter. Siswi SD Negeri 1 Asembagus itu juga kudu menjalani operasi pemasangan kolon atau kantong pada usus besar.

Sayangnya, operasi tersebut harus diulang beberapa kali. Sebab, bekas jahitan di perut Viara sempat sobek lantaran batuk keras selama pengobatan di Malang. Hadi dan Inwaningsih pun harus siap menjalani kenyataan pahit itu: malaikat kecilnya menderita dan tujuh kali menjalani operasi.

Meski makan seadanya, menjual harta, plus berutang ke beberapa orang, Hadi dan istrinya tidak mau patah arang. Semua siap dilakoninya asal putrinya sembuh.

Pada awal tahun ini, kabar buruk kembali mampir. Viara, gadis yang ingin jadi pengusaha, itu harus ngamar. Diagnosisnya lebih ngeri. Viara gagal ginjal. Saat itu harapan Hadi nyaris sirna. ’’Tapi, saya teringat, masih ada bantuan di handphone saya,’’ kata lelaki yang juga sempat menyurati Joko Widodo, presiden terpilih, tersebut.

Hadi pun menelepon seluruh nomor kontak di HP-nya. Katanya, ada seribu nomor. Mulai orang yang akrab sampai kolega yang jarang disapanya pun dikontak. Tujuannya adalah meminjam uang. Tak jarang, Hadi ditolak. ’’Kalau pinjam tidak dikasih, saya langsung minta sukarela sebesar Rp 100 ribu atau Rp 200 ribu,’’ ungkapnya.

Bantuan demi bantuan pun tiba. Terkumpullah duit Rp 70 juta. Uang itu lantas digunakannya sebagai biaya pengobatan putrinya. Memang masih kurang. Sebab, Viara harus cuci darah setelah vonis gagal ginjal tersebut turun.

Pada Februari 2014, tatkala harapan mulai sirna dan usaha kian buntu, sebuah ide cerdas muncul. Hadi membesut sebuah buku tentang perjalanan pengobatan dan perjuangan putrinya. Ide tersebut lahir lantaran Hadi sering ditanya satu per satu oleh keluarga. ’’Saya lama-lama capai harus jawab pertanyaan,’’ ungkap alumnus Pondok Pesantren Syalafiyah Syafiiyah tersebut. Seluruh kisah perjuangan bersama putri kesayangannya itu dicurahkan dalam 100 lembar kertas. Wujudnya menjadi novel. Penggalan demi penggalan kisah inspiratif itu diketiknya tanpa lelah di sebuah rental. Setelah jadi, novel yang lantas dicetak menjadi buku berjudul Gadis Kecilku tersebut diperbanyak dan dijual kepada siapa saja yang ingin membantu.

Pencetakan itu bisa dilakukan lantaran dia bertemu dengan seorang publisher yang sukarela meminjamkan uang dan mau mencetak kisah tersebut. ”Waktu itu ketemu di jalan. Dan, dia mau bantu. Cetakan pertama 1.000 eksemplar,” paparnya.

Hadi dan istrinya pun keluar masuk sekolah, rumah sakit, dan tempat yang mau menerima bukunya. Bahkan, Inwaningsih, guru komputer di MTs Islamiah Asembagus, itu menjajakan buku ke 15 sekolah di Kecamatan Asembagus. Enam sekolah di Kecamatan Jangkar plus 20 sekolah lain di Situbondo pun kebagian.

Sementara itu, Hadi memilih jalur lain. Dia keluar-masuk bus antarkota untuk menjajakan buku hingga ke Jakarta. Perjuangannya dilanjutkan di ibu kota. Mengantongi sekitar 100 buku sisa jualannya, pria kelahiran 15 September 1980 itu mencoba peruntungan di berbagai media dan stasiun TV. ”Saya pikir, mungkin ada orang baik yang mau bantu bila saya disiarkan di media,” terangnya.

Memang tidak sedikit penolakan yang dia dapat. Bahkan, Hadi harus kuat terpisah dari anak, istri, dan rela tidur ditemani nyamuk di atas trotoar dan emperan toko. Sekitar tiga minggu berharap bantuan, Hadi akhirnya diliput sebuah stasiun TV.

Tapi, tak lama berselang, Hadi harus kembali ke Malang karena Viara drop. Viara harus melanjutkan pengobatan serta cuci darah ke Surabaya. Di Kota Pahlawan ini, sebulan lalu ada penyakit anyar yang menerpa Viara. Yakni, lupus.

Hadi yang tegar itu tidak tinggal diam sembari menengadahkan tangan. Dia terus menjajakan bukunya. Sejumlah perawat silih berganti masuk ke kamar 129 untuk membeli buku itu.

Seolah ingin membantu ayahnya, Viara juga ’’bekerja’’. Bermodal karet gelang pemberian seorang donatur, tangan-tangan kurusnya mulai menganyam. Hasilnya adalah aneka gelang warna-warni nan cantik. Perawat, dokter, atau pengunjung sudah menjadi konsumennya. ’’Uangnya hampir Rp 3 juta. Nanti buat bantu bayar biaya obat,’’ kata Viara. Suaranya lemah. Tapi, ada harapan kesembuhan di sana.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan