-->

Peristiwa Toggle

Sekolah di Bantul Belum Terima Buku Kurikulum 2013

BANTUL – Ketua Forum Masyarakat Peduli Pendidikan Bantul, Zahrowi, mengatakan, hingga sekarang, banyak sekolah di Kabupaten Bantul yang belum menerima kiriman buku Kurikulum 2013 dari penerbit. Di sekolah tempatnya mengajar, SD Panggang, Bambanglipuro, buku untuk kelas yang tahun ini menerapkan kurikulum 2013, yakni satu, dua, empat, dan lima, sama sekali belum diterima.

“Di SD-SD lainnya di Bantul kebanyakan juga belum. Mungkin hanya 15 sekolah yang dulu jadi percontohan implementasi kurikulum baru,” kata Zahrowi, Selasa, 12 Agustus 2014.

Sebenarnya, anggaran untuk buku ini sudah diterima oleh masing-masing sekolah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga telah menggelar lelang proyek pengadaan buku yang dimenangi oleh sejumlah perusahaan percetakan. Duit yang sudah diterima oleh sekolah, kata Zahrowi, akan ditransfer ke rekening penerbit begitu buku-buku Kurikulum 2013 diterima.

Sayangnya, hingga hampir dua pekan setelah tahun ajaran baru 2014 dimulai, belum ada satu pun buku diterima oleh sekolah. Menurut Zahrowi, sekolahnya baru menerima cakram padat (compact disc/CD) yang memuat data teks materi buku Kurikulum 2013. “Itu pun ada materi yang hanya ada tulisan judul temanya, tapi teks pembahasannya tidak ada,” katanya. Saat ini, para guru di sekolah tempat Zahrowi mengajar menyiasati keterlambatan pengiriman buku dengan mencetak sebagian halaman materi dari CD. “Agar hemat. Karena terlalu mahal biayanya kalau mencetak semua isi pembahasan di banyak tema pelajaran,” katanya.

Zahrowi mengatakan sekolahnya tidak mewajibkan para siswa membayar biaya pencetakan materi. Jadi, materi yang tercetak baru digunakan untuk para guru saja sebagai bekal mengajar.

Dia berpendapat, keterlambatan pengiriman buku itu memperpanjang kesalahan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam menjalankan banyak program pendidikan. “Implementasi Kurikulum 2013 terkesan dipaksakan,” katanya.

Adapun Kepala Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) DIY, Harmanto, menyatakan keterlambatan ini murni kesalahan penerbit. “Kami hanya berwenang di urusan isi buku dan pelatihan guru,” katanya.

Harmanto optimistis para guru di DIY tidak terlalu kesulitan dalam mengajar meskipun tak ada buku. Dia menilai guru-guru di DIY termasuk yang paling aktif ketimbang pengajar di provinsi lainnya dalam menelaah pembahasan mengenai implementasi Kurikulum 2013. “Bahkan mereka aktif memberikan diklat sendiri bagi guru yang belum menerima pelatihan dari LPMP DIY,” katanya.

Demikian dikabarkan situs daring tempo.co 12 Agustus 2014.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan