-->

Tokoh Toggle

Peter Carey: Naskah Kuno “Babad Diponegoro”

Situs berita daring detik.com edisi 28 Agustus 2014 menurunkan wawancara peneliti “Babad Diponegoro” dari Inggris Peter Carey. Kepada Nograhany Widhi K, Peter berkisah tentang pentingnya pemindaian naskah-naskah kuno. Berikut wawancara selengkapnya:

“Babad Diponegoro” merupakan karya sastra kuno dari bumi Nusantara. Meski sudah diakui UNESCO sebagai memori kolektif dunia tahun 2012, namun sayang, belum ada naskah ‘Babad Diponegoro’ yang diterbitkan di Indonesia sehingga belum banyak rakyat yang mengetahui isinya. Digitalisasi naskah kuno bisa menjadi solusi itu semua.

“Saya kira gampang. Itu tidak membutuhkan banyak uang, mungkin mendigitalisasi 200 manuskrip,” imbau sejarawan asal Inggris, Peter Brian Ramsey Carey (66), saat ditanya apa yang harus dilakukan agar rakyat Indonesia bisa menghargai naskah sejarah bangsa sendiri.

Usai peluncuran dan bedah buku “Strategi Menjinakkan Diponegoro” yang ditulis sejarawan Saleh As’ad Djamhari di Freedom Institute, Wisma Proklamasi, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (27/8/2014) malam, Peter dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan detikcom seputar Pangeran Diponegoro dan naskah “Babad Diponegoro”. 

“Babad Diponegoro” sebenarnya ada berapa versi? Benarkah yang diakui UNESCO salah satu dari 3 naskah di Indonesia?

Ada naskah yang mungkin tidak ditulis tapi didiktekan, diceritakan oleh Diponegoro. Kan ada satu orang juru tulis yang membuat satu bentuk macapatan dari Babad. Itu ditulis di Manado antara bulan Mei 1831 dan Februari 1832, 9 bulan. Dan itu diakui oleh PBB.

Bukan yang asli. Yang babon asli sudah hilang. Tapi yang kopi yang dibuat di sini, di Algemene Secretary, Sekretariat Negara di sini oleh Belanda dalam aksara (Arab) pegon dan aksara Jawa. Dan aksara pegon adalah mirip dengan yang asli sebab yang asli ditulis dalam huruf (Arab) pegon (Arab gundul-red).

Dan Diponegoro juga menulis di Makassar, 2 buku catatan seperti primbon mengenai pengaruh Qadariyah dan Naqshabandiyah terhadap cara berpikir dan kebudayaan Jawa. Jadi, dia menulis beberapa naskah. Satu naskah di Manado, dua naskah di Makassar. Yang masih ada, katanya, Pemda masih punya di Makassar, di Rotterdam juga punya satu kopi.

Tapi banyak orang yang terlibat dalam perang juga menulis memoar. Ada satu memoar dari Bupati Purworejo I, Tjakranegara, yang menulis buku “Kedung Kebo”. Ada Keraton Yogya yang punya “Babad Ngayogyokarto” yang sebagian tentang Perang Jawa. Dan juga ada di Solo, Yosodipuro II menulis satu Babad kecil mengenai asal usul dan pecahnya Perang Diponegoro dari pihak Solo. Dan itu saya terbitkan dalam buku yang namanya Babad Diponegoro dari Surakarta.

Dan juga dari Raden Mas Djoyodiningrat dari Karanganyar, dia menulis satu sejarah. Ada catatan dari Kiai Mojo di Tondano, mengenai asal usul retak antara dia (Kiai Mojo) dan Diponegoro, ada macam-macam.

Saya yakin kalau kita menggali, saya yakin ada banyak tulisan Jawa tapi hanya ada 1 yang dari Diponegoro sendiri.

Yang dari Diponegoro sendiri yang diakui UNESCO itu?

Iya, itu yang diakui UNESCO.

Berarti yang lainnya bisa dibilang kurang otentik atau bagaimana?

Semua otentik, sebab semua ditulis. Tapi kalau kita lihat Babad Diponegoro, didikte oleh Diponegoro sendiri dan ini adalah semacam otobiografi dari Diponegoro. Satu otobiografi pertama dalam sastra Indonesia, sastra Nusantara, setahu saya. Dia tidak ‘aku’ atau ‘kulo’, tapi dia bilang ‘Sri Sultan merasa seperti ini’. (memakai sudut pandang orang ketiga-red).

Tapi kita bisa membaca atau merasa bagaimana pengalaman dari Diponegoro, bukan hanya lahirnya tapi juga batin mengenai apa yang dialami.

Kemudian apa naskah lain Babad Diponegoro ini juga diperjuangkan ke UNESCO, selain yang sudah diakui?

Yang diakui oleh UNESCO adalah terjemahan bahasa Belanda dan asli bahasa Jawa. Jadi ada 2 naskah.

Tapi banyak sekali naskah lain yang patut diperjuangkan. Awalnya “Serat Centhini” paling berbentuk, bagi saya. Dan juga mungkin “Pararaton” atau “Babad Tanah Jawi” atau “Babad Giyanti” atau mungkin ada naskah-naskah lain.

Tapi untuk diperjuangkan kepada PBB, ada syarat. Pertama, syarat bahwa kita harus menunjukkan bahwa dampak dari ini seperti I La Galigo, juga Mpu Prapanca dengan “Negarakertagama”, juga ada gaung internasional, bukan hanya di dalam negeri, bukan hanya pahlawan nasional, tapi bagaimana pengaruh di luar negeri juga.

Kenapa itu naskah babon “Babad Diponegoro” bisa hilang?

Sebab itu dipinjam, sering dipinjam keluarga dan pada akhirnya tidak dikembalikan.

Bagaimana tentang buku “Babad Dipanegara: An Account of the Outbreak of the Java War (1825-1830)” itu juga versi lain dari “Babad Diponegoro”?

Iya, itu salah satu versi dari Solo, dari Yosodipuro II.

Benar Anda sempat menawarkannya ke penerbit di Indonesia dan tak ada satu pun yang berminat menerbitkan, namun malah penerbit Malaysia yang berminat?

Iya, saya tidak tahu di sini (Indonesia), tapi itu diterbitkan di Malaysia. Tapi menurut saya kalau mau membanggakan kebudayaan sendiri semua naskah harus didigitalisasi dan ditaruh di dalam internet.

Kalau kumpulan seperti ini tidak ditaruh di internet, bagaimana kita bisa baca tentang Diponegoro? Kita bisa lihat, muncul, ada search engine misalnya ketik tentang ‘Kiai Mojo’, muncul. Semua teks yang ada Kiai Mojo disebutkan.

Menurut saya semua teks, buku “Kedung Kebo” atau yang Keraton Solo punya, Keraton Yogya punya, Diponegoro sendiri yakni manuskrip Makassar, Tondano, semua harus di internet supaya semua orang dengan gampang, membuat satu skripsi. Sebab banyak orang tahu bahasa Jawa, itu bukan bahasa Jawa yang kawi atau yang susah. Gampang dilacak. Tapi pada masa sekarang, banyak orang yang tidak tahu, tidak gampang dijangkau.

Kalau di Gramedia, kalau ini (bagian sastra) Inggris, kita dengan gampang mungkin temukan ada macam-macam edisi dari Shakespeare. “Babad Diponegoro” belum ada.

Buku tentang “Babad Diponegoro” baru ada di Malaysia?

Terbit di Malaysia dan terbit di Belanda.

Jadi “Babad Diponegoro”, dengan berbagai versinya di Indonesia belum ada yang diterbitkan menjadi buku?

Belum ada. Harus diterbitkan kembali.

Naskah yang diakui UNESCO itu sekarang ada di mana?

Di Perpustakaan Nasional. Mungkin didigitalisasi. Saya sedang kerjakan Babad Diponegoro yang ditulis di Makassar. Saya punya rencana untuk diterbitkan dalam bahasa Jawa saja. Tapi ya itu bahasa Jawa yang agak gampang dijangkau.

Kenapa Anda ‘jatuh cinta’ pada Diponegoro?

Saya jatuh cinta sebab dia adalah seorang sosok transisi yang sangat menentukan antara Orde Lama dan Orde Baru (Mataram lama dan Mataram baru), dan saya diberi tugas untuk membuat satu skripsi mengenai dampak dari Revolusi Prancis di Pulau Jawa.

Tempat awalnya saya ambil Daendels, dan saya sedang siapkan Daendels dan saya lihat sosok Diponegoro itu sangat menarik. Bagaimana dampak Revolusi Prancis pada kaum pribumi.

Kalau saya ambil Daendels itu hanya dari pihak Kolonial. Dan dia (Diponegoro) punya banyak segi, ada unsur mistis, ada unsur praktis, ada unsur blusukan, ada unsur sangat hebat dengan uang, ada unsur bisa bergaul dengan pesantren, bisa bergaul dengan Keraton, bisa bergaul dengan petani dan bisa negosiasi dengan Belanda. Jadi dia bisa hidup dalam 4 dunia.

Dan itu Anda membutuhkan waktu 40 tahun untuk meneliti “Babad Diponegoro”?

Iya, tapi tidak semuanya 40 tahun. Saya harus cari nafkah untuk keluarga juga. Di Indonesia tidak ada minat untuk sejarah Indonesia jadi saya harus mengajar sejarah Eropa, sejarah Inggris, sejarah Prancis.

Penelitian terbaru yang dilakukan? Informasinya Anda merestorasi manuskrip era Majapahit, betul?

Saya tidak menggali Majapahit, hanya merujuk pada Mpu Prapanca, bagaimana kitab Mpu Prapanca (Negarakertagama) bisa dipakai sebagai  pedoman untuk bisa melihat bagaimana situasi di Keraton, Majapahit.

Saran bagi bangsa Indonesia untuk bisa menghargai sejarah bangsanya, mengingat Babad Diponegoro malah diterbitkan di Malaysia?

Saya kira gampang. Itu tidak butuhkan banyak uang, mungkin mendigitalisasi 200 manuskrip. Sudah (dilakukan digitalisasi-red) di Universiti of Malaya dan juga bisa membuat satu arsip atau satu perpustakaan dari kebudayaan Indonesia yang sangat berharga.

Karena ada banyak orang yang betul-betul berterima kasih, karena mereka bisa dengan gampang membuat skripsi, tidak harus jauh-jauh ke Leiden, tidak harus jauh-jauh ke Keraton Solo atau Keraton Yogya. Dan ini sudah jaman modern, di masa ini kita bisa lihat satu “Babad Diponegoro” mungkin di screen handphone.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan