-->

Kronik Toggle

GUSDURian | Jalan Spiritual Gus Dur | #BookLoversFest

 

Oleh: Ade M. Saragih

Pengajian Gusdurian adalah salah satu dari rangkaian acara #BookLoversFest yang diadakan Radio Buku selama satu bulan. Dalam diskusi Gusdurian, Nur Khalik Ridwan dan Irwan Masduki tampil sebagai pembicara (25/04/2014).

Dalam awal perbincangannya, Gus Irwan yang membaca Suluk Gus Dur mengatakan ada berbagai macam penafsiran mengenai sufi atau tasawuf.

Ada yang berkata tasawuf berasal dari istrilah ‘suf’ yang artinya kain dari benang kapas, yaitu kain yang sangat sederhana. Kain ini dipakai oleh orang miskin pada waktu dinasti islam sangat berjaya. Ketika para pemimpin-pemimpin Islam abad ke-3 ke belakang yang hidupnya sangat hedonis, maka orang-orang sufi (orang menggunakan kain suf ini sebagai simbol melawan hedonisme.

Dengan kata lain, istilah tasawuf atau sufi mencerminkan perjalanan orang-orang sufi yang merupakan perjalanan salik.

Selain itu, definisi lain mengatakan, orang yang salik (penempuh jalan Tuhan) adalah orang yang termasuk ahli sufah, yaitu sahabat-sahabat Nabi yang hidup Madinah dan mereka hidup dalam keadaan yang sangat sederhana. Lalu kata itu yang kemudian diambil menjadi sufi (tasawuf).
Ada juga yang mengatakan salik adalah orang yang menempuh perjalanan seperti halnya ahli saf, yaitu orang yang ketika sholat berada pada saf terdepan. Hal ini merupakan simbol orang-orang yang dalam menjalankan agamanya berada di barisan (saf) terdepan.

Ada pengertian lain yang mengatakan salik adalah orang yang tasawuf diambil dari kata yunani ‘sofiah’ (filosofiah), filo itu cinta dan sofiah adalah kebijaksanaan. Jadi, sufi adalah orang yang mencintai kebijaksanaan. Dengan demikian pula, salik adalah orang yang mencintai kebijaksanaan.

Dilihat dari kacamata bahasa, arti suluk (sufi) dapat dikatakan sangat kontroversial karena ada banyak sudut pandang. Di kalangan orientalis barat, suluk atau sufi adalah adopsi yang diambil dari Yunani, pula India. Ada lagi yang mengatakan tasawuf berasal dari Yunani, yaitu para pengikut Plato (bapak spiritualitas Yunani) dan Aristoteles (bapak rasionalitas Yunani), bukan dari islam. Dengan demikian, orang-orang sufi di kalangan islam yang mengikuti tasawuf tidak bisa dilepaskan begitu saja dari pengaruh platonisme yang pada waktu itu tersebar di Alexandria.

Berbicara tentang Gus Dur, suluk yang ia tanamkan sangatlah unik. Gusdur mempunyai kekayaan bacaan jawa, akrab dengan kebudayaan jawa, dan sangat menjiwai perwayangan. Namun, ia juga sekaligus penikmat kitab-kitab sufi dari Timur Tengah dan juga bacaan-bacaan barat.

Ada salah satu kaitan yang Menurut Irwan sangat berpengaruh pada pergolakan batin Gus Dur, yaitu Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atthaillah, seorang ulama yang hidup di Alexandria, akan tetapi ia menjadi ulama di Mesir sampai wafatnya. Ia menulis buku-buku yang oleh Gus Dur selalu dibaca. Bahkan beberapa hari sebelum Gus Dur wafat, ia masih sempat membaca kitab tersebut.

Dalam kitab tersebut dikatakan, orang harus memendam dirinya dalam bumi keterasingan, tidak boleh mencintai popularitas dan lain sebagainya. Ajaran inilah yang membuat Gus Dur dikenal sebagai orang yang low profile.

Ketika Gus Dur lengser dari jabatannya sebagai presiden, ia seakan-akan tidak mempunyai beban apa pun. Ia keluar istana dengan celana pendek seperti tidak ada sesuatu yang hilang. Irwan berpendapat, kontras sekali dengan pejabat-pejabat sekarang, yang sebagian besar ingin terpilih lagi untuk memangku jabatan pemerintahan. Lain halnya Gus Dur, ia memegang prinsip ‘kalau orang terlalu tergantung pada usahanya, ketika terjadi musibah yang besar, ia akan putus asa’. Gus Dur tidak pernah mengandalkan usahanya; ia tetap berusaha dan hasil usahanya itu dipasrahkan kepada Tuhan. Ini terbukti ketika lengser dari jabatannya, Gus Dur sama sekali tidak sedih.

Kalau melihat perilaku Gus Dur dari mulai bangun tidur sampai tidur, hampir semua yang ia jalankan adalah suluk orang sufi. Sebelum Gus Dur menjadi seorang akademisi, yakni seorang intelektual, beliau pernah ‘digodok’ secara spiritual di Pondok Pesantren Tegalrejo di Magelang, yang diasuh oleh KH Khudori. Tempat itu terkenal dengan cara Kiai mendidik santri yang tidak sekedar mendidik akalnya, tidak hanya mendidik agar santri bisa membaca kitab, tetapi juga bagaimana mereka bisa menyucikan hatinya.

Secara ilmiah, ada salah satu epistimologi yang disebut epistimologi burhani, bayani, dan imani. Epistimologi ini menjelaskan, ketika manusia ingin mencapai kebenaran, ia harus melalui proses. Proses yang pertama adalah proses tekstual (empirik), yakni membaca buku, kitab, dan lain sebagainya. Setelah itu ia akan melalui proses penalaran (rasionalitas). Setelah melalui proses ini, ia akan menjadi orang yang sangat rasional.

Lalu, ketika ia mencapai titik kulmasinya dalam bilik-bilik rasional, ia masuk ke dalam bilik-bilik spiritual. Dalam bilik spiritual, yang diasah bukan lagi otaknya, tetapi mata hati. Gusdur juga mengalami proses itu, yang sama juga dengan proses yang dialami Imam Ghozali (imam besar).

Seorang pencari ilmu, biasanya melalui proses-proses tekstual terlebih dahulu. Ketika sudah mengasah potensi tekstualnya, ia akan mengasah potensi rasionalitasnya. Setelah itu, ia akan merasa tidak menemukan kebenaran yang hakiki. Rasio hanya akan dilawan dengan rasio, argumen hanya akan dilawan dengan argumen, dan kebenaran yang diperdebatkan dengan argumentasi akan menjadi semakin kabur. Kemudian kebenaran yang ditulis dengan perang tulisan juga akan menjadi kabur.
Tetapi, kebenaran yang dirasakan oleh matahati merupakan kebenaran yang benar-benar dapat dirasakan. Sehingga Imam Ghozali pernah mengatakan, “tidak ada jalan menuju pengetahuan yang meyakinkan kecuali jalan spiritual, yaitu kebenaran, keyakinan, pengetahuan yang didasari dengan mata hati.”

Gus Dur juga mengalami semua proses itu ketika ia menjadi seorang santri, akademisi, aktivis diskusi. Tapi pada akhirnya, Gus Dur bertemu dengan nilai-nilai sufisme yang membuatnya menjadi orang yang tenang dan tegar dalam menghadapi prahara politik, karena secara spiritual sudah matang.

Dalam pematangan ini, Gus Irwan pernah mendengar cerita dari anak-anak dari guru yang pernah mengajar Gus Dur. Gus Dur ketika masih umur belasan, seharusnya baru bisa mengaji yang level kitabnya pendek. Akan tetapi, karena ia mempunyai intelektualitas yang melebihi teman-temannya, ia sering mencuri pendengaran gurunya ketika guru itu mengajarkan kitab-kitab yang levelnya lebih tinggi untuk santri seumurannya. Pada waktu itu kitab yang dibaca adalah kitab yang berusaha menghidupkan ilmu-ilmu agama, di mana ilmu agama itu tidak hanya berbasis pada teks dan akal, tetapi juga harus berbasis pada hati.

Irwan juga pernah punya kisah mengenai Gus Dur swaktu dirinya pergi ke salah satu daerah di Srilanka. Si sana ia bertemu dengan biksu-biksu yang kenal dengan Gus Dur. Biksu-biksu tersebut bercerita tentang Gus Dur dan mengapa mereka bisa punya frekuensi yang sama dengannya. Biksu tersebut mengatakan, yang namanya nilai-nilai spiritual dalam agama apa pun, ada nilai sufisme. Maka tidak heran jika orang-orang barat mengatakan sufisme Islam itu hanya menyontek Hindu, hanya menyontek Budha, pun Yunani.

Tetapi, semua sufisme dari peradaban manapun memiliki frekuensi yang sama, sehingga menemukan kesamaan dari sufisme suatu agama dengan agama lain. Di sinilah basis Gus Dur melakukan gerakan-gerakan kerukunan antar agama yang didasari oleh nilai sufisme.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan