-->

Agenda & Donasi Toggle

25 April 2014 | Pengajian GUSDURian “Suluk Gus Dur” | Nur Khalik Ridwan | Sewon Bantul | #BookLoversFest

 

2 Gusdurian

 

  • Acara: Bedah Buku “Suluk Gus Dur”
  • Hari/Tanggal: Jumat, 25 April 2014
  • Pukul: 19.00 s.d 23.00 WIB
  • Tempat: Bale Black Box, Pojok Barat Perpus ISI, Sewon Indah I, Kec Kasihan, Bantul, Yogyakarta
  • Pembicara: Nur Khalik Ridwan (Penulis Buku “Suluk Gus Dur”, Yogyakarta) | Irwan Masduqi
  • Moderator: Aziz Anwar Fachruddin

Tasawuf merupakan sebuah jalan yang harus ditempuh seorang hamba menuju Tuhannya. Jalan tersebut bukan merupakan jalan yang mudah bagi setiap manusia. Butuh waktu lama dan keistiqomahan yang kuat untuk menempuh jalan ini. Namun, jalan inilah yang ditempuh Gus Dur selama hidupnya. Tiap gerik-gerak Sang Guru Bangsa membawanya ke kedalaman spiritualnya yang terdalam dan tenggelam di dalamnya.

Selain dikenal sebagai sosok yang fenomenal, Gus Dur juga diistilahkan sebagai kitab kuning yang terbuka oleh Kang Sobari. Kitab kuning yang tidak semua orang bisa membacanya, apalagi paham makna tulisannya. Lantaran tingkat kesulitan kata-kata atau deretan kalimat-kalimat di dalamnya yang tanpa tanda baca sama sekali, ditambah informasi yang disuguhkan pun sangat mungkin memunculkan beragam interpretasi, serta butuh waktu yang tidak sebentar dalam menafsirankannya.

Keragaman interpretasi itulah yang membawa Gus Dur menjadi pribadi yang beragam pula, baik sebagai intelektual, presiden, kyai, budayawan, maupun sufi. Di dalam tindak-tanduk kehidupannya, salah satu poros utama yang hidup dalam diri Gus Dur adalah Ketauhidan. Inilah yang membentuk karakter dan seluruh sikap Gus Dur dalam berdialektika dengan zaman serta realitas sosial yang beragam.

Ketauhidan merupakan salah satu dari sembilan nilai dasar Gus Dur. Ketauhidan bersumber dari keimanan kepada Allah sebagai yang Maha Ada, satu-satunya Dzat hakiki yang Maha Cinta Kasih. Ketauhidan yang bersifat ilahi ini diwujudkan dalam perilaku dan perjuangan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan.

Gus Dur memahami tauhid dari sudut pandang seorang sufi atau tasawuf. Dari sudut ini, keyakinan terhadap Tuhan tidak hanya dirapalkan secara lisan, melainkan dapat juga dari proses olah spiritual yang kontinu: penuh penghayatan dan pergulatan dalam laku tirakat sebagai salik.

Namun demikian, realitas kesufian Gus Dur tidaklah gampang dipahami dan tidak bisa dicerna dengan dalil logis semata. Karena realitas kesufian adalah realitas penyaksian batin, tentu nalar rasional tak bisa menjangkau aspek ruhani yang berdimensi spiritual tersebut. Keterbatasan nalar rasional inilah yang sering membuat para “pembaca” Gus Dur lebih melihat sisi kontroversialnya daripada hikmah apa yang terkandung di dalamnya.

Menduniakan akhirat dan mengakhiratkan dunia merupakan hasil proses suluk-nya Gus Dur dalam menerjemahkan aspek-aspek langit ke dalam pengejawantahan laku di bumi. Mengemban mandat lagi tersebut tentu bukanlah merupakan perkara yang ringan dan mudah, karena Gus Dur harus konsisten mendahulukan kepentingan masyarakat sekaligus membimbingnya.

Ikhwal laku suluk Gus Dur sebagai ikhtiar jasmani-ruhaniah untuk memperoleh keridhaan Tuhan dalam segala bidang, baik keislaman, kemasyarakatan, keindonesiaan, maupun kemanusiaan. Dari shalat, munajat, dzikir, wirid, ziarah, silaturahmi, hingga laku ibadah yang lain, semuanya itu menjadi wasilah spiritual yang digunakan oleh Gus Dur dalam menemukan mutiara terpendam cinta-Nya dengan konteks yang aktual tentunya.

Peta Menuju Lokasi Bedah Buku:

Peta BookloversFest
Contact Person: Tata (082141232345) | Fairuzul Mumtaz (085868357537) | Moh Faiz Ahsoul (0818466399)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan