-->

Agenda & Donasi Toggle

23 April 2014 | Pembukaan #BookLoversFest dan Orasi Buku Wamen Dikbud RI Wiendu Nuryanti | Bale Black Box, Sewon, Bantul

6 Kenduri Literasi

  • Pembukaan Booklovers Festival (Kenduri Literasi, Orasi Buku, dan Peluncuran Book Project)
  • Hari/Tanggal: Rabu, 23 April 2014
  • Pukul: 19.00-23.00
  • Tempat: Bale Black Box, Pojok Barat Perpus ISI, Sewon Indah I, Kec Kasihan, Bantul, Yogyakarta
  • Dibuka: Bupati Kabupaten Bantul Hj. Sri Surya Widati

BANTUL – Booklovers Festival atau #BookLoversFest bukan saja cara seorang pecinta merayakan sebuah tradisi baca-membaca-bacaan, tapi juga penghormatan pada guru pengetahuan. Sebagai sang guru, buku hampir selalu ada dalam siklus penelusuran dan pergulatan manusia mencari keadaban.

Sebentuk ikhtiar pemuliaan buku itulah festival ini digelar Radio Buku yang hadir dalam kesadaran publik pecinta buku dalam sebuah jaringan kompleks yang terhubung oleh jagat internet. Dan jagat yang kompleks ini justru membawa revolusi baru dalam tradisi perbukuan.

Bukan saja pembaca makin memiliki peran otonom yang patut dihormati dalam siklus perbukuan nasional, namun juga upaya setiap individu mendapatkan kesempatan yang sama dalam menulis buku. “Hak buku untuk semua”, dengan demikian bisa diperluas pemaknaannya sebagai kesempatan egaliter setiap warga memproduksi pengetahuan lewat buku.

Mempertimbangkan dua hal itu — booklovers dan egalitarianisme dalam produksi pengetahuan — festival ini diselenggarakan dalam puluhan pagelaran selama satu bulan, 23-April-23 Mei 2014.

Dalam Pembukaan #BookLoversFest diisi sejumlah acara, antara lain Kenduri Literasi, Orasi Buku, dan Peluncuran Instalasi Seni Buku.

Kenduri Literasi

Kenduri Literasi adalah ritus doa sebagai ungkapan rasa syukur atas kehadiran buku sebagai pelita dalam arkeologi pengetahuan kita. Dalam ritus ini, dipanjatkan doa dan mantera-mantera keselamatan dan kebaikan budi pekerti yang dituntun nilai-nilai luhur dari kitab-kitab para pemikir dan penggiat tradisi tulis. Ritus Kenduri Literasi ini diselenggarakan Yayasan Cahaya Nusantara (Yantra); sebuah komunitas spiritual yang berpusat di Yogyakarta untuk
pencarian titik temu tradisi-tradisi luhur Nusantara.

Orasi Buku Wiendu Nuryanti: “Buku Dunia, Pandangan Indonesia”

Wakil Menteri Bidang Kebudayaan Kemendikbud RI Wiendu Nuryanti menjadi orator buku bertema “Buku Dunia: Pandangan Indonesia”. Tema itu dipilih, selain 23 April sebagai Hari Buku Internasional, juga secara koinsiden pada saat yang sama Indonesia menjadi Tamu Kehormatan (Guest of Honour) di Frankfurt Book Fair tahun 2015. Sebuah momentum kebangkitan literasi Nusantara.

Sejarah keaksaraan kita sudah mencatat, bahwa Nusantara adalah tanah yang subur bagi beroperasinya berbagai bahasa-luar yang dijadikan sebagai kendaraan untuk menulis, mencatat, dan menyadur cerita. Huruf-huruf dunia yang menjadi simbol bahasa juga beraneka ragam hadir.

Fakta-fakta itu menandakan bahwa Indonesia adalah tanah yang subur bagi tumbuhnya kreativitas dalam keaksaraan dunia.

Beragam bentuk cerita diciptakan oleh pengarang-pengarang kita dari beragam ekspresi budaya dari zaman yang berbeda-beda merupakan pluralitas yang patut kita syukuri sebagai bangsa multikultur dan multiekspresi.

Kita menemukan suara kolektif perjuangan mengusir penjajahan sekaligus gumam sunyi menyusuri sukma individu dalam bangsa. Ada kisah revolusi membangun tegaknya semangat kita dalam bernegara, ada pula kisah pergulatan hati dalam meniti kebebasan. Puisi-puisi yang menekuni kompleksitas bahasa bertaut dengan prosa yang merekam dan merepresentasikan kembali beragam gejolak sosial dan keagamaan.

Paras Indonesia dalam kacamata sastra adalah “Indonesia Kita” yang direfleksikan untuk memburu kreativitas terus-menerus. Maka dari itu kita mendukung terbitnya buku ini yang diluncurkan pada Booklovers Festival sebagai panduan bagaimana kita melihat kehadiran sastra dalam kehidupan budaya kita sehari-hari.

Peluncuran Buku “Seratus Buku Sastra” dan Instalasi Seni “The Book of Face”

Buku “Seratus Buku Sastra Yang Harus Dibaca Sebelum Dikuburkan” memberi keterangan awal dan dasar betapa dunia kesusasteraan kita yang beragam ini dibangun dalam sebuah visi bersama membangun peradaban literasi Nusantara. Kita jaga semangat kebangkitan ini dengan segala keteguhan hati dan kemauan untuk terus belajar dan berbagi.

Selain menggunakan momentum Frankfurt Book Fair pada tahun 2015 sebagai momentum bersama kebangkitan literasi Nusantara, buku ini juga bisa kita pergunakan menandai World Book Day pada 23 April di mana kesusasteraan Indonesia kita dorong untuk masuk dalam percaturan wacana dunia. Dari Kota Yogyakarta–yang kita upayakan sebagai “Ibu Kota Buku”–buku ini diluncurkan secara resmi kepada publik budaya.

Karya Instalasi Seni Buku Galam Zulkifli bertajuk “The Book of Face” yang diluncurkan bersamaan World Book Day dan Pembukaan Booklovers Festival adalah upaya merekam ribuan wajah pesohor dunia dan sekaligus orang-orang biasa dari pelbagai kultur dengan teknik drawing dalam 500-an kitab dalam sebuah rak 3 x 8 meter. Instalasi buku ini menjadi karya raksasa dari seniman kontemporer dan sekaligus periset anatomi visual wajah yang serius dan gigih.

Pertunjukan Seni

Pembukaan Booklovers Festival juga menampilkan band indie yang menamakan diri Anyes Band. Band yang berkelana dari datu kafe ke kafe lain di Kota Yogyakarta ini ditandemkan dengan Karawitan Putri Purborini Geneng dan Musik Rebana Putri Al-Hakim dari komunitas rebana ibu-ibu pengajian Kampung Geneng, Panggungharjo, Sewon, Bantul. Dua angkatan dan dua genre bunyi yang turut dalam perhelatan awal festival buku.

Mereka Yang Hadir

Pembukaan Booklovers Festival 2014 terbuka untuk umum. Terutama pekerja buku dan budaya, penulis, pembaca, komunitas, sanggar seni, pejabat publik, mahasiswa, dan seniman.

Jangan tersesat! Pastikan sudah berjalan di titian jalan yang benar dengan dipandu peta berikut ini:

Peta BookloversFest

Contact Person:  Fairuzul Mumtaz (085868357537) | Moh Faiz Ahsoul (0818466399)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan