-->

Peristiwa Toggle

Wakil Presiden Boediono Kunjungi Perpustakaan Universitas Leiden

LEIDEN – Situs daring detik.com, 28 Maret 2014 melaporkan bahwa Universitas Leiden menyimpan beragam cerita sejarah bangsa Indonesia. Catatan dokumentasi yang apik mengenai antropolog Indonesia zaman dulu yang tergabung dalam koleksi khusus tak ayal membuat decak kagum Wakil Presiden Boediono. Decak kagum kian bertambah ketika Direktur Perpustakaan Universitas Leiden Kurt De Belder memberikan paparan mengenai peta tempat kelahiran Wapres Boediono, Blitar, melalui layar komputer. Peta tersebut berada dalam sistem komputerisasi berkualitas tinggi, sehingga meski bila hendak dibesarkan maka gambar tetap dalam kualitas baik.

“Bila kita mencari data dengan kata kunci Blitar, maka akan muncul 249 file Blitar,” kata Kurt dalam penjelasan sambutan kepada Wapres Boediono, Rabu (26/3/2013). Mendengar hal itu Boediono pun tersenyum sambil menyandarkan jari telunjuk dan tengah tangan kanannya ke bibir. “Wow, banyak juga ya,” ujar Boediono yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Leiden, Belanda.

Leiden memang memiliki hubungan erat dengan Indonesia. Di kampus kenamaan ini, beragam kehidupan sosial, flora dan Fauna, arsitektur, tokoh perjuangan, budaya, serta hal-hal lainnya tercatat di tiap buku yang menjadi koleksi museum. Beberapa buku koleksi khusus sempat diperlihatkan Kurt kepada Wapres, diantaranya adalah karya Pangeran Diponegoro saat ditahan kolonial karena memimpin pemberontakan di tahun 1824-1830.

Lalu, ada pula tulisan tangan RA Kartini di beberapa suratnya yang berisi mengenai pandangannya yang menentang sistem poligami di perempuan Jawa, serta perlunya pendidikan bagi para kaum perempuan. Adapula catatan mengenai daftar para mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di kampus yang berdiri sejak 1575 tersebut. Dalam dokumen itu tercatat sebanyak 464 mahasiswa Indonesia kuliah di kampus tersebut terhitung sejak 1871-1940. Diantara nama-nama itu, beberapa diantaranya merupakan pendiri Republik Indonesia.

Di mata Boediono, Universitas Leiden memang bukan nama asing lagi. Dia memuji keindahan arsitektur kampus dalam kunjungan perdananya itu. “Kampusnya bagus. Di Leiden memang tempat kita banyak belajar mengenai jati diri kita di masa lampau. Banyak sekali catatan-catatan yang dilihat,” ujarnya saat berada di Hotel Hilton, Den Haag, sore harinya.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan