-->

Peristiwa Toggle

ST Sunardi: Plagiarisme Itu Kejahatan dan Menista Dunia Pendidikan

YOGYAKARTA — Fenomena plagiarisme memberi gambaran pada kita begitu rentannya dunia akademis. Plagiarisme adalah kejahatan dan menista dunia pend

Demikian diungkapkan Ketua Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, ST Sunardi, dalam diskusi “Plagiarisme, Eksploitasi, dan Penindasan Akademik” yang diselenggaran Gerakan Literasi Indonesia di Warung Kopi Lidah Ibu Yogyakarta (1/3/2014).

Berdasarkan pengalaman ST Sunardi, plagiarisme adalah penyakit serius yang hampir tiap saat dialami oleh perguruan tinggi di Indonesia. Termasuk di kampus di mana penulis buku Semiotika Negativa ini mengajar. “Kami pernah menyidang kasus plagiarisme, terutama mahasiswa yg menulis di media massa. Memang tak mengaku, tapi ditunjukkan bukti-buktinya.  Demikian juga saat ujian tesis mahasiswa yang dihentikan karena kedapatan melakukan praktik plagiarisme,” ungkapnya.

Menurut Sunardi, plagiarisme adalah menutupi hal-hal yang semestinya terbuka dan mengatakan yang sebenar-benarnya. Nah, plagiarisme yang dilakukan civitas akademika itu menghancurkan hubungan mahasiswa dan dosen. “Plagiarisme ini susah sekali diberantas lantaran mahasiswa dan dosen dituntut melakukan sesuatu di luar kemampuannya. Perlombaan kehebatan memenuhi standar. Padahal itu keropos. Misalnya kewajiban menulis karya tulis di jurnal-jurnal. Padahal dunia pendidikan kita tak dikondisikan untuk mahasiswa melakukan riset dan menulis,” ujar lulusan Pontificio Instituto di Studi Arabi e d’Islamistica, Roma (1988-1991) ini.

Selain plagiarisme menghancurkan intellectual curiosity, Sunardi juga mengkritik cara-cara orang Indonesia terkini yang berlomba-lomba menjadi doktor.”Lho, tanggung jawab doktor itu mengajar. Untuk apa pangdam, ketua partai, presiden, berlomba-lomba meraih doktor. Memang mereka mau mengajar juga. Ini aneh sekali,” katanya.

Bagi Sunardi, plagiarisme adalah masalah serius dan pucuk dari gunung es dari bobroknya manajemen pendidikan kita. Bom pascasarjana dan doktor menjadikan dunia pendidikan menjadi sangat keropos. “Bunuh diri kita semua,” pungkasnya.

Dosen Asongan

Pengajar Sosiologi UGM Tia Pamungkas turut menyoroti situasi Perguruan Tinggi yang tak ubahnya menjadi pasar yang sangat bebas. Plagiarisme yang dilakukan Anggito Abimanyu hanyalah pemantik untuk melihat bagaimana dosen-dosen mengingkari tanggung jawab dan kinerja yang wajar dilakukan. Plagiarisme baginya bentuk pengingkaran dari prinsip Tridarma Perguruan tinggi, terutama pengabdian kepada masyarakat dan riset.

“Bayangkanlah, pusat studi-pusat studi  setor uang ke UGM. Ini eksploitasi dosen sebagai pengajar dan periset. Intelektual menjadi pengasong. Kerjaannya se-dus, gajinya se-sen. Dosen dikomodifikasi sedemikian rupa sehingga fungsinya untuk mengejar kapital,” ujarnya.

Menurut mahasiswa Humbolt University Berlin yang mengambil program Southeast Asian Studies ini, hal yang paling mengkhawatirkan di UGM adalah ketika dosen-dosen memanggil semua jaringannya untuk membuka franchise atau waralaba di UGM. Dosen menggunakan seluruh fasilitas untuk kepentingan diri sendiri. Dosen menggaji staf dengan memuaskan bukan untuk kepentingan akademik, melainkan kepentingan kapitalnya sendiri. Di titik inilah intelektual tergadaikan. “Kejadian yang menimpa AA bukan cuma kritik publik, tapi juga kritik untuk internal UGM, terutama etika para akademisi. Moral conduct.”

Sikap Tia terhadap plagiarisme Anggito Abimanyu jelas, bahwa apa yang dilakukan dosen Fakultas Ekonomi dan birokrat di Kementerian Agama itu nista. Maka dari itu, ia mengkritik keras Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (ISIPOL) UGM dan sekaligus anggota Majelis Wali Amanat, Prof Dr Sofian Effendi , yang mengatakan Anggito tidak melakukan plagiat karena tak mengutip dari jurnal ilmiah.

Kata Tia, “Menggunakan arsip publik untuk kepentingan kita mestinya kita tempatkan sama sebagai penghargaan atas keringat dan capaian orang lain. Common right yang bertebaran di arena publik tidak berarti diambil begitu saja. Dosen adalah intelektual, guru, yang selalu dituntut berpihak pada moralitas.” (GM)

Dengarkan rekaman Diskusi “Plagiarisme, Eksploitasi, dan Penindasan Akademik” | Gerakan Literasi Indonesia | Warung Kopi Lidah Ibu | 1 Maret 2014 -> ST Sunardi dan Tia Pamungkas

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan