-->

Peristiwa Toggle

Rupa-rupa Penerbitan Buku Mandiri

REDAKSISitus berita daring detik.com 15 Januari 2014 menurunkan laporan khusus tentang geliat penerbitan buku indie dalam masyarakat perbukuan Indonesia dengan tajuk “Rupa-rupa Penerbitan Buku Mandiri”. Berikut adalah laporan khusus yang ditulis Firda Puri Agustine itu:

Banyak Naskah Buku Ditolak, Anak Muda Ini Bikin Usaha Penerbitan Mandiri

Ada banyak cara seseorang menumpahkan ide dan perasaan. Paling mudah dengan menulis. Entah medianya berupa buku diary, media massa, atau membuat buku untuk diterbitkan pada khalayak.

Poin ketiga tadi kini sedang booming. Orang seperti berlomba punya karya buku sendiri. Apapun bisa ditulis. Mulai genre fiksi, non fiksi, hingga teenlit sekalipun. Sebagai wujud eksistensi? Sah-sah saja.

Yang jadi masalah, jumlah penerbit besar masih terbatas dan tidak semua naskah diterima. Terutama lantaran tidak sesuai standar mutu. Kalau buku yang dijual tidak laku, siapa paling rugi? Tentu penerbitnya sendiri.

Nah, situasi tersebut lantas dimanfaatkan oleh mereka yang membuat perusahaan penerbit mandiri, atau self publishing. Tak lain agar semua orang bisa membuat buku.

DetikHot bakal mengupas seluk beluk penerbit mandiri, juga penulis yang pernah menerbitkan bukunya di jalur ini. Seperti apa? Simak laporan berikut.

* * *

Suatu senja di pertengahan 2008, Anindra Saraswati, 26 tahun, membaca puluhan naskah ‘terbuang’. Ini hal biasa yang dilakukan seorang staf penerbitan buku di Yogyakarta. Boleh membaca, tapi tidak memutuskan apakah layak terbit atau tidak.

Lama-lama hati wanita yang akrab disapa Yayas itu miris menyaksikan ratusan, bahkan ribuan naskah bagus ditolak. Maka, pada 2009, bersama sang kekasih, Irwan Bajang, ia memutuskan keluar dan membuat usaha penerbitan mandiri (self publishing), Indie Book Corner.

“Waktu itu saya dan Mas Irwan kerja di penerbitan yang sama dan merasa bahwa sebenarnya banyak naskah bagus layak terbit, tapi kok ditolak. Akhirnya, coba bantu teman-teman penulis pemula untuk punya buku sendiri,” kata Yayas kepada detikHot, Senin (13/1/2014).

Berbekal ilmu yang didapat dari tempat kerja lama, keduanya merintis usaha dari nol. Teman-teman terdekat diajak menulis dan menerbitkan buku. Alhasil, selama 4 tahun, lebih dari ratusan buku hadir. Beberapa diantaranya best seller.

Penulis yang semula teman tongkrongan, kini datang dari berbagai kalangan. Entah itu jurnalis, mahasiswa, ibu rumah tangga, artis, hingga politisi sekelas Nova Riyanti Yusuf.

“Penulis buku Radio Galau, Bernard Batubara juga pernah di Indie Book Corner, jurnalis, mahasiswa, macam-macam. Ada juga penulis yang jadi langganan terbitin buku di kami,” ujarnya.

Indie Book Corner tidak hanya menyediakan jasa penerbitan murni saja, juga editing hingga pendistribusian ke toko buku. Tergantung keinginan dan kebutuhan penulis.

“Kami menawarkan jasa paketan, mulai dari editing, desain cover, sampai pemasaran. Tapi, kalau penulisnya hanya ingin diterbitkan saja dan sudah diedit sendiri, enggak apa-apa,” kata Yayas.

Usaha Penerbitan Lahir dari Hobi Baca Buku Motivasi

Awalnya, Ika Kristin Diana hanya hobi membaca buku. Wanita berusia 23 tahun ini punya banyak koleksi fiksi, non fiksi, hingga buku motivasi.

Jenis yang terakhir ini benar-benar jitu menginspirasi dirinya menjadi seorang enterpreneur alias pengusaha. Mulailah ia rajin mengikuti seminar dan belajar pada sejumlah literatur.

Tepat pada Maret 2013, mimpi itu terwujud. Diana, begitu ia akrab disapa, mendirikan usaha penerbitan PT. Kunci Media Utama. Targetnya, menyasar kalangan penulis pemula.

“Cita-cita saya memang ingin jadi pengusaha. Karena saya cinta buku, kenapa enggak bikin indie publishing saja. Banyak yang hobi nulis, tapi sedikit yang masuk penerbit besar,” kata Diana kepada detikHot, Minggu (12/1/2014).

Dia melihat, animo masyarakat cukup tinggi untuk memiliki karya sendiri. Hanya saja, keinginan tersebut kadang ‘dimentahkan’ penerbit besar dengan segudang kualifikasi serta proses seleksi yang ketat.

“Disitulah celah indie publishing untuk memberi kesempatan bagi mereka yang ingin membuat buku,” ujarnya.

Meski tergolong pemain baru, Diana tidak asal menerima naskah. Hal itu dilakukan agar kredibilitas tetap terjaga. Ada tahap seleksi yang mesti dilewati sebelum akhirnya diproduksi secara utuh.

“Buat saya kualitas itu nomor satu. Paling penting tidak menyinggung SARA dan pornografi, itu mutlak,” katanya.

Mau Terbitkan Buku Sendiri? Ini Tahapannya

Jasa penerbitan mandiri, atau dikenal self/indie publishing menjadi alternatif bagi penulis pemula yang ingin menerbitkan buku. Namun, belum banyak yang mengerti mekanismenya.

Salah satu pendiri Indie Book Corner, Anindra Saraswati menjelaskan hampir semua jenis buku bisa diterbitkan. Asal tidak mengandung unsur SARA dan pornografi.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengirim naskah. Dapat berupa hard copy maupun soft copy. Ketentuan minimal 80 halaman kertas A4. “Sebenarnya jumlah halaman enggak ada ketentuan bakunya seperti apa. Cuma kalau kurang dari 80 sampai 100 halaman enggak bisa di-bending dan jatuhnya bukan seperti buku,” kata wanita yang akrab disapa Yayas ini.

Penulis diberikan pilihan apakah mau mengambil jasa per paket, atau sesuai kebutuhan saja. Misal, tidak memerlukan editing lagi, sehingga tinggal proses desain sampul siap cetak.

“Kami menyediakan paket komplit dari editing, desain cover, sampai bantu pemasaran juga. Tapi, kalau sudah diedit dan tinggal cetak saja, juga bisa,” ujarnya. Proses penerbitan buku memakan waktu bervariasi. Jika naskah sudah mengalami proses editing dari penulis, maka dalam waktu 3-7 hari buku siap dipasarkan.

Pendiri penerbit mandiri PT. Kunci Media Utama, Ika Kristin Diana mengungkap hal senada. Proses pencetakan buku hampir sama dengan yang dilakukan penerbit besar. Termasuk dalam hal seleksi.

“Seleksi tetap ada untuk menjaga nama baik penerbit. Kalau dirasa naskah kurang bagus, biasanya kami minta revisi dulu,” kata Diana.

Hampir setahun menjalani usaha, beberapa buku genre fiksi dan non fiksi berhasil diterbitkan. Responnya sendiri luar biasa hingga harus menambah jumlah cetakan.

Ini Besaran Biaya Terbitkan Buku Sendiri

Menerbitkan buku lewat jalur mandiri jelas berbeda dengan mekanisme penerbitan komersial. Terutama dalam hal pendanaan. Pada penerbitan mandiri, penulis diharuskan mengeluarkan ongkos cetak sesuai jumlah eksemplar.

Salah satu pendiri Indie Book Corner Anindra Saraswati, 26 tahun, mengatakan besaran biaya sangat tergantung pada jumlah cetakan buku dan jasa yang diberikan.

Sebagai rincian, biaya edit dikenakan sebesar Rp 3.000 per halaman untuk 100 halaman pertama, setelah itu hanya Rp 2.000 per halaman. Biaya layout Rp 2.000 per halaman, sementara cover Rp 300 ribu, dan biaya ISBN Rp 50 ribu.

“Penulis hanya bayar per jasa yang dipakai dari Indie Book Corner saja. Kalau naskah sudah final, dalam arti sudah editing, layout, dan desain cover, ya tinggal bayar ongkos cetak saja,” kata wanita yang akrab disapa Yayas kepada detikHot, Senin (13/1/2014).

Adapun biaya cetak juga bervariasi. Ambil contoh naskah setebal 150 halaman ukuran standar, cover full color, laminasi doff atau gloss, dan jenis kertas book paper, perkiraan biaya cetak 1.000 eksemplar dengan ofset sekitar Rp 8.000 per eksemplar.

Lalu, bagaimana harga jual buku tersebut? Ternyata, penulis diberi keleluasaan menentukan sendiri. Tapi, biasanya memakai rumus harga produksi dikalikan lima.

“Misal harga produksi bukunya Rp 6.000 tinggal dikali 5 jadi Rp 30 ribu. Tapi, kalau hanya ingin cetak terbatas, nanti harganya bisa disesuaikan sama tebal tipisnya,” ujar Yayas.

Biaya lebih rendah ditawarkan Ika Kristin Diana, pendiri PT Kunci Media Utama. Untuk hitungan sampai 100 eksemplar, penulis hanya dikenakan ongkos Rp 550 ribu – Rp 1,5 juta. Sudah termasuk full service.

Harga jualnya sendiri diserahkan pada penulis. Rata-rata sebesar dua kali lipat dari biaya produksi. Sementara pemasaran dilakukan sebagian besar melalui media online.

Penulis Dapat Royalti Hingga 100 Persen Lewat Penerbit Mandiri

Salah satu kelebihan menerbitkan buku mandiri terletak pada besaran royalti yang didapat penulis. Persentasenya mencapai 50 hingga 100 persen. Pendiri penerbit mandiri PT. Kunci Media Utama, Ika Kristin Diana mengamani hal itu. Beberapa penulis bahkan ketagihan lantaran keuntungan yang diterima jauh lebih besar.

“Kalau di penerbit besar, penulis dapat royalti antara 5-10 persen. Di kami bisa 50 persen. Jadi, cukup menggiurkan,” kata Ika kepada DetikHot, Minggu (12/1/2014).

Penulis tidak hanya menjual sendiri bukunya, melainkan akan dibantu secara profesional. Seperti melalui media online dan distribusi ke toko buku.

Soal distribusi ini, pendiri Indie Book Corner Anindra Saraswati juga menyediakan jasa tersebut. Penulis tentu harus mencetak 500 – 1000 eksemplar sesuai standar yang ditetapkan masing-masing toko.

“Kami punya distributor yang memasarkan di toko buku. Nanti ada laporan ke penulis per tiga bulan,” ujar wanita yang akrab disapa Yayas itu.

Distributor, lanjut Yayas, biasanya mematok persentase keuntungan 60 persen dari harga jual, sehingga penulis hanya akan mendapat sisanya sebesar 40 persen.

Lalu, dimana penerbit mengambil untung? Ya, murni dari jasa paket pencetakan buku saja. “Kami kan jual jasa, jadi keuntungannya langsung dari jasa yang dipakai,” katanya.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan