-->

Peristiwa Toggle

Belanda Kembalikan 12 Ribu Buku Tentang Indonesia

JAKARTA – DI tengah berita banjir dan hiruk pikuk berita politik, ada kabar yang nyaris terabaikan. Kabar itu adalah diterimanya 12.000 buku mengenai Indonesia terbitan pasca 1950 dari Koninklijk Instituut vor de Tropen (KIT), Amsterdam. Demikian dikabarkan situs daring akarpadinews.com dan metrotvnews.com 22 Januari 2014.
Sejak beberapa tahun silam, Pemerintah Belanda didesak menyerahkan kembali sejumlah dokumen karya kearifan lokal dan budaya Indonesia. Salah satu yang gencar memperjuangkan hal itu adalah Prof. Dr. Bambang Wibawarta, mantan Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB), yang kini menjabat Wakil Rektor Universitas Indonesia.

Bambang selama bertahun-tahun memperjuangkan kembalinya naskah-naskah Nusantara yang banyak tersimpan di berbagai perpustakaan Belanda.

Kabar dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Denhaag menyebutkan, pemerintah Republik Indonesia akan menerima kembali buku-buku tersebut melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Senin (20/1) di Denhaag, Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, Retno L.P Marsudi, atas nama Pemerintah Republik Indonesia secara resmi telah menerima transfer buku-buku tersebut dari Presiden KIT, Dr. DJ. Vermeer, dihadiri wakil dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda, KIT Belanda serta pejabat KBRI Den Haag.

Dikabarkan buku-buku tersebut akan dikirimkan ke Indonesia pada Jum’at, 24 Januari 2014. Untuk sementara, Kemendikbud RI untuk sementara akan menampung buku-buku dari KIT Belanda tersebut.

Pengembalian buku tersebut terjadi, juga karena sejak 2013 KIT Belanda memutuskan untuk menutup perpustakaannya. Melalui beberapa pertemuan dan pembicaraan antara KBRI Den Haag dan KIT Belanda, akhirnya disepakati Indonesia akan menjadi “tuan rumah” bagi sebagian koleksi KIT. Sebagian lainnya, untuk kategori peta-peta dan warisan budaya akan dipindahkan ke perpustakaan Leiden University Belanda dan KITLV Belanda.

Diharapkan, naskah-naskah nusantara yang masih disimpan di Universitas Leiden dan KITLV Belanda juga diserahkan kepada Indonesia. “Pengembalian naskah-naskah nusantara tersebut penting untuk kepentingan studi di Indonesia,” ujar Muhammad Khairil, mahasiswa program S2 Sastra Nusantara di FIB Universitas Indonesia.

Lulusan Sastra Jawa FIB itu mengemukakan, selama ini bila ingin melanjutkan studi mendalam tentang sastra dan kebudayaan Jawa dan Nusantara, harus pergi ke Belanda. Pasalnya, sekitar 26.000 judul naskah budaya Indonesia dan Nusantara telah di boyong ke negeri yang pernah menjajah Indonesia, itu.

Di perpustakaan Universiteit Leiden, misalnya, tersimpan manuskrip-manuskrip Jawa kuno yang masih terawat rapi dan baik. Demikian juga naskah-naskah sastra Jawa kontemporer. Di Leiden terdapat guru besar sastra Jawa, Theodoor Gautier Thomas Pigeaud, yang menjadi rujukan WJS Poerwadarminta dalam menyusun Baoesastra Djawa. Pideaud secara khusus melakukan studi tentang kitab Nagarakartagama, meski kitab itu kini menjadi beberapa versi.

Selain Pidgeaud yang sering menjadi rujukan juga Prof. Petrus Josephus Soetmulder yang menjadi pakar sastra dan Jawa dan kebudayaan Indonesia di Universitas Gajah Mada. Guru besar sastra UGM ini antara lain menulis karya Telaah Sastra Jawa Kuna Kalangwan dan kamus Jawa kuna.

Perjuangan untuk mengembalikan manuskrip Sastra Jawa dan Nusantara dari Belanda memang tidak mudah. Hal itu pernah diungkap Kepala Perpustakaan Nasional Sri Sularsih, saat berlangsung Congress of South Asia Librarians (CONSAL) ke XV, tahun 2012 lampau. “Perlu perjuangan dan dana besar, terutama komitmen para pemimpin negara dan bangsa,” ujar Sri ketika itu.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan