-->

23Tweets Toggle

#23Tweets | Angkringan Buku – Semangat Yang Membatu: Official Story Timnas U-19 (Guntur Cahyo Utomo) | Yogyakarta

Guntur Cahyo Utomo @GunturCU adalah pelatih mental Timnas U-19. Jabatan yang “biasa” saja dalam jagad sepakbola. Namun untuk sepakbola Indonesia jabatan ini pertama kali ada. Di tangan pelatih mental yang juga alumnus Psikologi UGM inilah semangat Timnas U-19 ditempa. “Brain washing kami lakukan hampir lima kali sehari untuk pemain agar perhatian mereka hanya tertuju pada sepak bola. Lain tidak,” kata Guntur. Buku yang ditulis Guntur Cahyo Utomo bersama FX Rudy Gunawan ini adalah kisah saat Timnas U-19 masih dalam penderitaan yang demikian akut. Tujuannya tak lain agar orang tak lupa dari lumpur mana sesungguhnya mereka berasal sebelum disambut publik sepak bola Indonesia sedemikian gebyarnya.

1 Ketika Timnas kalah tanding, yang sering dikeluhkan adalah soal mental. Macam-macam sebutannya. Tapi masalah itu tak pernah ditangani serius. Ketika fisik jeblok didatangkan pelatih fisik. Kalau mental jeblok, mendatangkan siapa? @GunturCU

2 Pemakaian “pelatih mental” umum. Tapi di Indonesia utk pertama kali dikenalkan oleh @GARUDA_U19. Dan @GunturCU adalah pelatih mental itu. Tugas pelatih mental adalah mendampingi dan memupuk pikiran para pemain agar fokus pada sepakbola saat sdh di lapangan. Apa pun masalahnya

3 @GunturCU resmi menjadi pelatih mental @GARUDA_U19 Maret 2012. Saat itu TimnasU19 jauh dari ideal sbg tim yg membawa bendera Indonesia. Kesan pertama @GunturCU jadi staf pelatih @GARUDA_U19 adalah tak dapat kaos latihan. Kata kitman Aditya, “Sabar ya Mas, kalau ada sisa kaosnya nanti dikasih.” @GunturCU akhirnya beli kaos sendiri utk “membentuk pondasi kuat @GARUDA_U19”. Padahal gaji belum ada.

4 Ketika 3 Timnas (U19, U23, Senior) dikumpulkan PSSI di Jogja pd Maret 2012. Kaos hanya 75 utk 90 pemain. Terpaksa pemain tiga Timnas itu tukaran atau ngantri kaos. Jika Timnas Senior latihan pagi, kaos mereka ditunggu @GARUDA_U19 sorenya. Saling cocokkan jadwal latihan utk sekadar berseragam Timnas. Jika waktu tak berdamai, “seragam” @GARUDA_U19 belang2. Ada SMA Ragunan, SSB entah apa namanya. Yang penting pakai baju.

5 Berpindah2 hotel adalah rutinitas @GARUDA_U19. Bukan kaya, karena diusir karena nunggak bayar. Demikian juga uUntuk tur seleksi pemain, tak ada perencanaan rinci dari PSII. Kontak sana-sini. Semuanya diurus tim pelatih @GARUDA_U19. Fasilitas utk Timnas @GARUDA_U19 jauh dari ideal. Tak apa sih utk kelas anak kos-kosan. Tapi ini membawa nama negara. Bus @GARUDA_U19 yg dipakai tur keren. Ada tulisan “INDONESIA”. Tapi sering diparkir karena solar belum datang. Menghadapi situasi suram @GARUDA_U19, pelatih dan staf pelatih macam @GunturCU  hanya bisa “lorolopo”, menerima keadaan, seraya membalikannya menjadi kekuatan

6 Passion dan rasa cinta pada Indonesia-lah yg membuat pelatih @indra_sjafri dan staf pelatih bertahan dgn kondisi karut-marut @GARUDA_U19. Bagi pemain @GARUDA_U19, bermain di lapangan bagus sudah lebih dari cukup. Sebagian besar mereka dtg dari lapangan yg lebih banyak batu ketimbang rumput. Ada lho pemain @GARUDA_U19 sebelumnya hanya tinggal di mess klubnya. Tanpa dibekali apa pun. Gak bertanding, ya ngamen dari rumah ke rumah. Ketika ada skuad @GARUDA_U19 ngeluh, “Om, gak ada duit ini”. Jawaban @GunturCU, “Kalau dpt duit, kamu memang ingin apa?”. Hiks, pelatih juga kere! Pemain @GARUDA_U19 yg gak tahan dgn tekanan “fasilitas yg tak ideal” biasanya terlempar dari “persaingan” membela negara

7 Para pelatih di @GARUDA_U19 berprinsip melakukan sesuatu (sepakbola) yg seharusnya dilakukan, hasilnya pasti positif. Makanya optimis Timnas bisa bicara dlm pertandingan! Kalau pelatih kepala @GARUDA_U19 @indra_sjafri terlihat optimis di publik, karena memang sdh melakukan cara & metode benar tangani tim, walau dgn sumber daya & dana yg sangat minimal yg disediakan PSSI.

8 Wajib bagi staf pelatih @GARUDA_U19 menganalisis tiap pertandingan, walau survive dgn kamera handycam pinjaman teman, butut, diikat dgn karet pun tetap jadi. Karena analisis & evaluasi adalah salah satu metode yg benar. Alat2 latihan jauh dari memadai @GARUDA_U19. Bola hanya 30 dgn usia sdh 4 tahun. Staf pelatih menyiasatinya dg memanfaatkan kedekatan personal. Misalnya @GunturCU pinjam fasilitas gudang UNY. Utk menyiasati tiadanya tenaga fisioterapis @GARUDA_U19, sampai2 meminta bantuan dari mahasiswa UNY: “Mau gak mijetin pemain Timnas?”

9 Apresiasi Kemenpora? Saat @GARUDA_U19 pulang dari Hong Kong sbg juara, official dipanggil. Diminta lebih dari 1x tandatangan. Wah, dapat dana nih. Dua jam menunggu sang menteri di kantor dgn roti sisir dan roti pisang. Juga dapat air mineral gelas. Menpora datang memberi selamat sbg pahlawan yang membela nama negara. Pergi. Sudah. Itu saja. Diantar pulang. Gak dapat dana apa-apa. Bahkan tandatangan lebih dari 1x.

10 Saat ke Arab Saudi @GARUDA_U19 mirip timnas ilegal, PSSI gak ngasih sangu apa-apa kecuali ucapan: Selamat Para Pejuang. Akhirnya official patungan dan utang sana sini. Justru sambutan kpd @GARUDA_U19 saat tur ke daerah-daerah. Di Muara Teweh, Kalimantan Tengah, misalnya, mereka disambut gempita oleh publik. Padahal Timnas U19 belum apa-apa.

11 Di sistem perekrutan @GARUDA_U19, bukan melihat apakah pemain itu datang dari kelas menengah itu atau kelas bawah, melainkan dgn cara apa seorang anak pada masa kecilnya diasuh dlm keluarga. Sensitivitas pelatih bekerja di sini. Riset yg dilakukan pelatih mental @GunturCU, pemain @GARUDAU19 yg di masa kecilnya mandiri, mau membantu orangtua, bisa bekerjasama dgn saudara-saudaranya, umumnya lebih kuat secara psikologis dlm tim.

12 Soal mental @GARUDA_U19 tak bisa dilihat dari suku mana. Ambon dan Medan barangkali gahar dlm tampilan, tapi justru paling penurut dgn pelatih. Kadang melankoli. Jika ada tiga calon pemain @GARUDA_U19 dgn posisi dlm tim dan skill bola yang sama, maka yg dipilih adalah yg paling kuat mentalnya menghadapi tekanan. Kultur keluarga si pemain berlaku di sini

13 Pemain sepakbola itu harus cerdas. Jenius. Kecerdasan yg muncul di batok kepala bagian depan itu bekerja saat seorang pemain mengampil keputusan dlm hitungan detik. Pemain @GARUDA_U19 yg terlihat cerdas memainkan bola di lapangan, dlm keseharian pendidikannya (secara kognitif) juga memang menonjol. Di kelas publik speaking, kursus bahasa Inggris, pelajaran di sekolah (home schooling), tampak menonjol di @GARUDA_U19 Evan Dimas, M Hargianto, Zulfiandi. Semuanya pengatur serangan di lapangan.

14 Ukuran pemain cerdas di lapangan: imajinasi bermain. Bola tak mudah ditebak dioper ke siapa dan arah mana. Bahkan pelatih pun bisa kaget Pemain hafalan dan imajinatif berbeda. Hanya pemain yg imajinatif yg kakinya menghadap ke timur, namun mengoper bola ke sudut barat. Pemain yg menghapal templet, berlari sekencangnya, lalu oper ke tengah. Buntu dgn pola ini karena terbaca lawan, ya akhirnya mandek serangan.

15 Semakin imajinatif pemain, semakin mendekati top level. Diiringi kemampuan teknik-skill, fisik, dan mental yg sama bagusnya. Seberbakat apa pun pemain jika tak diproses bakal melempem juga. Coba saja Lionel Messi hidup di Pasuruan, gak bakal sehebat yg Anda lihat

16 Mengapa Timnas Senior nanggung kemampuannya? Bisa lho dibaca secara psikologis. Termasuk pertumbuhan fisik yg tak berjalan alamiah. Banyak pemain bola Indonesia yg matang sebelum matang. Umur 12 tahun sdh disuruh lari keliling lapangan 8 kali saat latihan adalah salah kaprah besar. Otot manusia itu berkembang sesuai dgn usia. Ada tulang di telapak kaki (metatarsal), telapak tangan (metakarpal), persendian, bantalan antartulang. Hingga usia 12 tahun baru 60% berbentuk tulang keras. Semuanya masih rawan. Balung nom. Jika dipaksa latihan fisik yg berat, tulang rawan itu menjadi keras sebelum waktunya

17 Efeknya, pertumbuhan tinggi badan tak maksimal, gerakan tak lentur. Fleksibilitas kurang, koordinasi gerak lambat. Teknik menurun. Makanya, lihat pemain Timnas Senior ketika bawa bola dari kanan, cepat-cepat mengoper? Karena koordinasi gerak tak maksimum. Fisik hanya cepat saat lurus, namun payah mengordinasikan dlm sekian detik telapak kaki, engkel, lutut, paha, pinggul, perut, dada, & tangan . Bisa jadi jebloknya Timnas Senior karena proses pelatihan salah kaprah saat kecil.

18 Allamak, anak usia 14 thn sdh dibawa ortunya ke gym. Ini keliru! Ada ortu di rumah bikin karet yg diikat di pohon utk ditarik2 anaknya agar otot dan tulangnya kuat. Terjadi di dunia sepakbola kita! Bahkan di film #GarudadiDadaku diperlihatkan anak-anak narik ban truk dengan kakinya di gunung. Itu sesat-menyesatkan. Anak2 tempaan kepelatihan lama dan kepelatihan baru bisa dilihat dari tinggi badan pemain. Beda sampai 5 cm.

19 Secara mental dipaksa selalu menang sejak usia 10 thn. Akibatnya, bukan “menang” yg diterima memori, tapi tekanan. Di usia dewasa terjadi pembalikan. Pemain-pemain bola usia dini kita selalu dituntut menang, tapi selalu mudah dikalahkan! Mentalnya rapuh dan ringkih. Padahal menang dlm bermain bola itu sederhana. Mainlah seperti apa yang ingin kamu lakukan. Menang itu soal benar melakukannya atau tidak. Mainnya mungkin sudah benar, tapi goyah menghadapi tekanan yg berat. Terutama suporter yg menginginkan kemenangan.

20 Ketika pelatih Malaysia Raja Gopal ditanya apa yg salah dgn pemain Timnas Indonesia, jawabnya: mentality, mentality, mentality. Mental bukan soal “Kamu mau juaraaa?” | “Mauuuu” | Dan bahkan dgn acara tangis2an dgn memanggil motivator macam Andre Wongso. Keliru. Mental sbg juara itu mestinya sudah ditanamkan tiap hari saat pemain2 mengikuti TC panjang. Bukan lewat ceramah motivator beberapa jam. Memasukkan virus menang ke otak pemain seperti dilakukan di @GARUDA_U19 harus perlahan-lahan dan sifatnya massif. Pemain @GARUDA_U19 di brainwashing sedemikian rupa 5 kali sehari agar semata di kepalanya saat di lapangan hanya sepakbola. Lain tak boleh!

21 Jika ada pemain @GARUDA_U19 yg masuk ruang makan dgn tertunduk lesu, pasti “digarap” habis. Virus negatif cepat-cepat ditangani. Official pelatih tak sedikit pun memberi ruang pada kemurungan pada pemain2 @GARUDA_U19. Murung berarti tak fokus pada bola. Ketika di AFC di GBK Jakarta, jelang tanding lawan Filipina, ada salah satu pemain @GARUDA_U19 yg membisiki @GunturCU: “Om, surat kontrakku hilang”. Teng. Habis. Benar saja, di menit 35 pemain @GARUDA_U19 itu segera ditarik keluar karena seperti orang linglung di lapangan.

22 Mental sepakbola itu adalah bagaimana kamu mencurahkan hatimu, pikiranmu, total pada sepakbola

23 @salmanfaridi | @bentangpustaka menerbitkan buku “Semangat Yang Membatu” karya @GunturCU adalah bagian dari kecintaan pada Indonesia. Dari sekian banyak tema Indonesia, tak mesti dilakukan secara massal, yg penting melakukan sesuatu berefek besar. Perjuangan kecil yg dilakukan @GARUDA_U19 sblm juara AFF13 adalah jalan sunyi yg tak pernah dilirik dan diberitakan @GunturCU

Demikian #23Tweets Angkringan Buku “Semangat Yang Membatu: Official Story Timnas U-19” bersama @GunturCU.

Arsip lengkap obrolan @GunturCU tentang buku @GARUDA_U19 yg diterbitkan @bentangpustaka sepanjang 2.5 jam tersimpan di @warungarsip. Sampai jumpa | @GunturCU (0856-288-4070) @bentangpustaka

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan