-->

23Tweets Toggle

#23Tweets | Buku Pertamaku – Andrias Arifin | Bandung

Setalah minggu lalu Andrias Arifin memandu bincang-bincang singkat dengan seorang penikmat buku Kiki Adrianto Rahman Ghani, sekarang saatnya Andrias yang akan berbagi. Ia adalah rekan mahasiswa dan dalam dunia literasi bersama Kiki di Bandung. Sempat membantu Kiki dalam mengelola perpustakaan Das Mutterland di Bandung meskipun sekarang sudah tutup buku.
Seorang mantan aktivis mahasiswa yang pernah berkuliah di sastra Jerman ini saat ini juga aktif dalam kegiatan komnitas literasi di Bandung dan juga bekerja sebagai editor. Berikut adalah perbincangan singkat tentang pengalamannya berburu buku dan juga buku yang berkesan untuknya.
Nah Booklovers, selamat mendengarakan.

1.@andrias_arifin pria bandung yg dipandu rekannya di Gerakan Bersama Rakyat,Kiki Adrianto akan berbagi tentang pengalaman bersama buku
2.@andrias_arifin lahir di lingkungan dekat dg buku tapi orang yg berhasil menanamkan cinta pada buku justru orang lain yaitu, Riki Manik
3.th 2000 merupakan titik balik kecintaan @andrias_arifin dg buku saat bertemu rekan kuliahnya yg selalu membawa buku bahkan saat piknik
4.dari pertanyaan “bang,apa sih demokrasi?” saat @andrias_arifin mulai bingung mendengar,beliau menyarankan membaca Peta Pemikiran Karl Marx
5.setelah banyak baca buku politik,keingintahuan @andrias_arifin makin besar,puncaknya saat membuat skripsi di Bali tentang Pura Tanah Lot
6.hingga bisa dibilang buku sastra pertama yang sangat berpengaruh untuk @andrias_arifin saat itu adalah Shaman karya Ayu Utami
7.puncaknya tahun 2004 saat @andrias_arifin sampai repot mencari pengarangnya karena tertambat pada buku Aku,Buku,dan Sepotong Sajak Cinta
8.karya Muhidin yg cerita ttg sosok demikian rupa melawati buku dan mampu membumi dg kehidupan @andrias_arifin ini sudah dibacanya 6 kali

9.Bandung yg sangat luas dg berbagai kultur menurut @andrias_arifin memang tidak banyak yg bergelut di bidang literasi,dan tak ramah dg buku
10.meskipun berbeda dg Jogja yg ramah dg dunia literasi, @andrias_arifin dan banyak rekannya tetap tidak menyerah utk tetap saling berbagi
11.selain bekerja @andrias_arifin setiap malam jumat,mengkaji banyak literasi yg dipandu oleh @lordramaprabu sebagai wadah penggiat literasi
12.dalam mengoleksi buku @andrias_arifin sering mengalir,jarang fokus pada satu tema,tp nantinya semesta seperti mendukung pikiran tertentu
13.misal saat @andrias_arifin tertarik dg Catatan Harian Anne Frank,lantas semesta seperti menunjukkan banyak cetakannya,sudah punya 8 edisi
14.@andrias_arifin tertarik pada buku Anne Frank karena ia memang suka menulis buku harian, yang kegiatannya terinspirasi oleh sosok aktivis
15.karena kecintaannya @andrias_arifin tertarik dg toko buku alternatif meski sekarang banyak yg sudah mati,justru di saat banyak yg mencari

16.akhirnya berburu buku langka menjadi fenomena,sedangkan pasar sudah berubah,harga jadi mahal sedangkan kita butuh | @andrias_arifin
17.hingga @andrias_arifin dan Kiki sedikit berhati-hati dalam berburu buku karena banyak yg motifnya uang,meski ada yg motifnya bukan uang
18.@andrias_arifin juga berperan menyunting buku ke2 dari Kimung Burgerkill,musisi yg juga menulis My Self: Scumbag, Beyond Life and Death
19.karya yg untuk @andrias_arifin adalah usaha luar biasanya di masa sulit, berkisah ttg keberadaan komunitas metal di Indonesia dan Bandung

20.selain buku Muhidin,Tetralogi Buru adalah buku lain yg berkesan utk @andrias_arifin karena penuh dg semangat menulis dalam keterbatasan
21.buku karangan Pramoedya menjadi semacam semangat untuk @andrias_arifin dalam berkarya,apalagi sekarang sudah hidup di era kebebasan
22.”keterbatasan tidak menjadi suatu penghalang untuk seseorang dalam berkarya, contohlah Anne Frank” | @andrias_arifin
23.mengutip istilah Søren Kierkegaard “dalam kesunyian manusia dapat mencapai titik religius yang paling maksimal” @andrias_arifin

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan