-->

23Tweets Toggle

#23Tweets | Komunitas: Bintang Al-Ikhlas | BMI Hong Kong

Sejumlah Buruh Migran Indonesia menggerakkan literasi di Hong Kong. Dan memang sudah jamak bahwa istilah “sastra buruh migran” memang lahir dari BMI Hong Kong ini. Tak hanya berkumpul tiap akhir pekan di Victoria Park, mereka pun membangun kantong komunitas penulisan sastra dan jaringan literasi di kampung halaman mereka di Indonesia.

Salah satu komunitas literasi yang berbagi cerita kepada Booklovers adalah Bintang Al-Ikhlas, sebuah jaringan perpustakaan yang dibangun BMI Hong Kong, seperti Pati, Jepara, Ponorogo, dan Banten. Lintang Fajar Sore dan Sulastri “Triaz” mewakili rekan-rekannya berkisah tentang perjalanan membangun jaringan perpustakaan itu.

Cerita mereka bisa didengarkan dalam 7 jaringan digital:

Cerita Program Komunitas bisa juga disimak via LIVETwitter dan LIVEFacebook

1 Lintang berangkat ke Hong Kong Maret 2009. Di HK inilah ia bersua bersama teman-temannya dari Ponorogo, Banten, Blitar, Kediri membentuk komunitas

2 Jaringan literasi Bintang Al-Ikhlas #BAI berdiri sejak November 2011. Bermula dari mengasong buku di Victoria Park hari Minggu

3 Toko Buku Lintang melayani pemesanan buku dari rekan2 sesama buruh migran. Dari situ terbersit ide buka perpustakaan lesehan #BAI

4 Bermula dari 100-an eks buku, kemudian terus menanjak jadi 800-an eks. Aturan perpus lesehan itu adalah infaq seikhlasnya

5 Donasi2 itu diputar lagi #BAI dalam bentuk pengadaan buku. Buku2 itulah yg kemudian disumbangkan ke rumah2 baca di Indonesia

6 #BAI sudah mendirikan 3 cabang rumah baca: Ponorogo, Jawa Timur; Cibelut, Banten; Pati, Jawa Tengah

7 Perpus lesehan berbentuk buku yg diletakkan dlm koper, dibawa dg troli ke Victoria Park. Tepatnya Jl Library Central Hong Kong

8 Victoria Park adalah tempat berkumpulnya perpus lesehan. Saat Lintang datang 2009 masih ada sekira 15 komunitas. Kini sdh  25 lebih

9 Misi yang diemban #BAI adalah giat membaca. Tidak menyia2kan waktu libur bekerja. Jika pulang, setidaknya bawa buku yg didpt dari lesehan

10 Umumnya buku2 yg diminati BMI Hong Kong buku berjenis “motivasi”, seperti karya Ipho santosa, Ary Ginanjar. Juga novel2 islami

11 Kegiatan workshop di HK dipelopori FLP chapter HK. FLP-lah yang mendatangkan penulis2 dari Indonesia seperti Habiburrahman, Helvi Tiana, Asma Nadia, dst.

12 Dari semua pembicara dan/atau juru dakwah yang diundang, barangkali Ustadz Solmed-lah yang plg menggegerkan

13 Lintang dari #BAI HK berpesan kepada ustadz untuk melipat lidahnya bila berkata-kata

14 Bagi Triaz, buku yang paling berpengaruh dalam kehidupannya adalah “Surat Kecil untuk Tuhan” karya Tere Liye.

15 Buku SKUT itu yang membuat Triaz menangis semalaman. Sewaktu kecil di Desa Golan, Sukorejo, Ponorogo Triaz kerap membaca komik & majalah Bobo

16 Bagi Lintang, buku yang sangat terkenang di masa kecilnya adalah cerita Cinderella. Gadis kecil yg ditinggal meninggal ibunya. Hidup bersama ibu tirinya yg menjadikannya babu

17 Dari kisah Cinderella, Lintang sadar bahwa jika bekerja dgn gigih pasti bisa keluar dari dunia babu yang tersisihkan.

18 Karya Ippho Santoso, “7 Keajaiban Rezeki” adalah buku yang lain yg pengaruhi Lintang

19 Buku 7KR itu yg bikin Lintang beraksi utk buka jual-beli buku dari Indonesia ke Hong Kong

20 Dari buku Ippho juga Lintang mendapat motivasi rajin-rajinlah menulis. Pakai otak kananmu.

21 Lintang dan rekan2nya BMI yang lain telah menerbitkan antologi buku puisi “Traktat Cinta dan Dosa dalam Dendam”

22 Di bawah naungan #BAI juga terbitkan kumpulan cerita “Jejak Mata Pena” dan “Kamboja Bercerita”

23 Bagi Lintang, buku itu guru. Mengajarkan kita tentang kehidupan apa pun #BAI

Demikian cerita Komunitas #BAI Hong Kong yang dikelola buruh migran Indonesia. Sampai jumpa dengan program Komunitas lainnya. Sampai jumpa

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan