-->

23Tweets Toggle

#23Tweets | Buku Pertamaku – Savic Ali | Jakarta

Savic Ali, aktivis reformasi yang bergerak dibidang literasi ini telah disibukkna dengan profesi barunya di bidan media cetak dan online. Sempat memiliki penerbitan Fresh yang dibangun saat pindah ke Jakarta, namun harus mengakhiri nafasnya di tahun 2009 saat tidak mampu lagi bertahan melawan persaingan pasar.

Saat ini ia mengelola majalah Voice+ yang juga terbit secara online dan dapat diakses lewat perangkat digital lewat internet. Selain itu juga fokus pada toko buku digital bernama Piksel Books yang saat ini sudah ada layanan aplikasinya di Google Play dan Apps.

Berikut ini adalah transkripsi dari perbicangan singkat Savic Ali via #23Tweets:

1.@savicali aktivis dan insan media yg mengelola media online dan cetak akan berbagi tentang buku pertamanya

2.sejak kecil karena sudah tumbuh di lingkungan NU @savicali menganggap Al-Quran sebagai buku pertama yg berpengaruh

3.@savicali yg kedua ada Kitab Asbah Wannadzoir,kitab tentang kaidah kaidah fiqih di islam

4.saat kuliah, To Have or to Be, Erich Fromm yg berpengaruh @savicali ,mengritik gaya hidup masyarakat modern yg digerakkan modus memiliki

5.karena buku yg @savicali baca saat kuliah tahun 1993 inilah membuatnya belajar untuk berjarak dg kehidupan untuk dapat belajar

6.di bidang sastra karya-karya milik Fyodor Dostoyevsky seperti The Brothers Karamazov,menarik @savicali ttg teror mental

7.buku berbau bisnis juga menarik @savicali seperti biografi pemilik Starbucks, Howard Schultz yg dianggapnya lebih dr Steve Jobs

8.pertama kali mengenal buku sedari kecil @savicali terutama kitab-kitab kuning karena lingkungannya yg kental dengan agama dan komik

9.lalu membaca buku jadi menguat saat kuliah di IAIN karena @savicali mulai merasa menemukan dunia yg luas dan menarik

10.kondisi perbukuan saat reformasi,pengalaman @savicali melihat baik-baik saja dan penerbit melahirkan buku yg relevan

11.justru malah saat ini dunia perbukuan seperti tidak lebih hidup saat dulu literasi dikekang @savicali semakin dilarang semakin dicari

12 @savicali mendirikan penerbitan saat pindah di Jakarta,setelah mulai jadi penerjemah dan merasa harus menerjemahkan dan menerbitkan buku sendiri

13 trend buku waktu itu menurut pengamatan @savicali masih novel ringan dan juga buku-buku sosialyg masih berkembang dari jaman orba

14 @savicali sempat menerbitkan The Transformation of Intimacy-nya Gidden,dan yg lain meskipun kadang harus usaha untuk copyright

15 @savicali memilih terjemahan untuk diterbitkan karena banyak karya besar dr luar yg belum terbit,sedang ilmunya sangat membantu

16 penerbitan Freshbook @savicali bertahan sampai 2009 karena banyak hal yg ternyata tidak bisa selesai karena banyak faktor

17 respons @savicali karena kebijakan Gramedia yg berdampak membuatnya membentuk penjualan online khatulistiwa.net yg lebih membantu

18 @savicali sendiri menanggapi buku digital sebenarnya cukup membantu apalagi di saat seperti ini di mana buku semakin mahal

19 orang-orang pintar itu ada menurut @savicali sebenarnya ttg masalah akses terhadap ilmu dan informasi,jadi akses itu penting

21 Voice+ dibuat @savicali untuk tetap mendorong masyarakat dalam proses kreatif,juga membuat aplikasi toko buku digital Piksel Books

22 buku ternyata masih menjadi bidang yang menarik untuk @savicali maka dari itu saat ini bekerja di bidang literasi lewat online

23 @savicali ingin membentuk komunitas penerjemah tp tantangannya bagaimana pekerjaan ini bisa menghidupi insannya di Indonesia

Demikian #23Tweets bersama Savic Ali @savicali. Perbincangan ini dipandu @irwanbajang dan ditanskrip oleh @wiptieta. Sampai jumpa.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan