-->

Peristiwa Toggle

Pak Raden Menjual Lukisan demi Buku Anak

JAKARTA — Setelah memberanikan diri ngamen sambil menawarkan lukisan di Balai Kota, Jumat (13/9) dengan spontan, tanpa pemberitahuan (janji) kepada si empunya kantor, akhirnya Drs Suyadi atau yang biasa dipanggil Pak Raden mendapatkan calon pembeli lukisannya. Saat itu Pak Raden membawa lukisannya yang berjudul ‘Perang Kembang’ yang dibuat pada tahun 2002 untuk ditawarkan ke Gubernur DKI Jakara Joko Widodo atau Jokowi.

“Saya kurang paham, apakah Pak Jokowi sudah tahu kalau saya sempat dadakan datang ke kantornya untuk menjual lukisan. Yang jelas sampai saat hari ini belum ada kabar kelanjutannya, baik ke saya langsung, maupun ke manajer saya,” kata Pak Raden seperti yang tercatat dalam rilis yang dikirimkan ke merdeka.com pada Rabu (2/10) malam.

Lukisan yang berukuran 70 cm x 1 meter itu sebelumnya dibanderol seharga Rp 60 Juta kepada orang nomor satu di Jakarta. Seperti tujuannya semula, hasil penjualan lukisan ini akan dijadikannya modal untuk berobat dan biaya hidup sehari-hari. Harapan seniman yang kini berusia 80 tahun ini bisa duduk nyaman saat membuat artwork (gambar) buku anak-anak tentang wayang orang dan wayang kulit.

Manuskrip buku cerita anak bergambar tentang pengenalan terhadap wayang kulit dan wayang orang ini sudah sejak tahun 80-an mengendap. Keprihatinannya terhadap buku anak-anak tentang seni tradisional membuatnya tak sabar lagi untuk segera mewujudkan impiannya ini.

“Nanti, jika ada uang lebih atau sponsor, saya mau membuat buku lagi untuk remaja. Buku cerita berdasarkan cerita wayang untuk remaja juga sangat langka. Di kepala saya masih banyak ide (judul) buku dan lukisan bertema seni pertunjukan tradisional. Untuk itu saya niatkan menjual lagi beberapa karya lukisan yang sebenarnya masterpiece buat saya,” ujar Pak Raden.

Lukisan Perang Kembang yang bergaya wayang Surakarta ini tadinya dia harapkan bisa diapresiasikan oleh Jokowi. Saat ngamen, dua pekan silam itu ternyata yang dituju datang lebih pagi dan sudah meninggalkan kantornya.

Ketika ngamen di kantor Gurbenur DKI itu Pak Raden datang pukul 08.10 WIB dan akhirnya disambut oleh Wakil Gurbenur DKI, Ahok. Tapi setelah dua minggu tak ada kabar dari Balai Kota, akhirnya Pak Raden kedatangan calon pembeli baru.

“Yang membeli akhirnya Pak Prabowo. Saya kurang paham dari mana beliau mengetahui niat saya ini, ujug-ujug utusannya datang dan saya menerimanya dengan suka cita,” kata Pak Raden.

Pak Raden sendiri membuka pintu bagi sesiapa yang mau berapresiasi terhadap karyanya. “Saya ini kreator, seniman sekaligus pedagang. Siapa saja yang berniat baik dengan hasil karya seni saya maka saya akan menyambutnya dengan baik. Terlebih lagi orang yang menghargai seni, saya akan membalasnya dengan dengan hal yang sama,” ujar Pak Raden.

Seperti pada niatnya semula dulu saat ngamen di Balai Kota, dia menempatkan diri sebagai seorang pedagang. “Urusan saya hanya berkarya, melukis, membuat buku dan mendongeng. Bukan urusan yang lain. Pak Prabowo menyambut niat baik saya ini, dan tak ada alasan bagi saya untuk menolak niat baiknya ini,” kata Pak Raden.

Lantas bagaimana dengan lukisan yang semula ditawarkan ke Jokowi dan khalayak sudah mengetahui niat ini sebelumnya?

“Saya pedagang yang bukan cuma bisa duduk diam dan mengelus dada melihat kondisi yang memprihatinkan terhadap buku untuk anak-anak tentang seni tradisional. Saya ingin berbuat banyak dan ketika kabar bahwa Pak Prabowo akan membeli lukisan, saya yakin beliau paham mengapa saya yang sudah sepuh begini masih ini ingin terus berkarya,” kata Pak Raden. Demikian diberitakan situs daring merdeka.com, 3 Oktober 2013.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan