-->

23Tweets Toggle

#23Tweets | Angkringan Buku – Obituari Rindu (Puisi Suharmono Arimba) | Yogyakarta

Suharmono Arimba, penyair, esais, cerpenis dan guru. Baru saja menerbitkan bukunya yang pertama, kumpulan puisi Obituari Senja. Buku ini sebagai penanda pertama sekaligus pelepasannya terhadap karya-karya yang banyak bicarakan soal pribadi dan masa lalu. Dengan terbitnya buku ini, ia berencana akan lebih aktif menulis tentang persoalan sosial.
Suharmono Arimba, kecil dan menempa diri di hutan. Pengalamannya membaca Winnetou, pertualangan Suku Apache karya Karl May, pikirannya jadi terbuka dan memilih pindah ke kota. Jogja menjadi rumah kedunya yang banyak memberinya ruang kreatif.


1 Suharmono Arimba @arimbaarimba, menulis buku kumpulan puisi #ObituariRindu. Diterbitkan Intan Cendekia, 2013.

2 #ObituariRindu @arimbaarimba merupakan puisi-puisi terseleksi 2005-2013 dengan tema rindu dan dendam.

3 Proses kreatif @arimbaarimba dimulai tahun 2005. Ia diperkenalkan dengan seniman2 #Jogja. Keluar kampus ikuti Puisi Pro RRI jogja

4 2007, @arimbaarimba menggeluti aktivitas sastra, Bincang-Bincang Sastra @SPS_YOGYAKARTA, teater, dll

5 2010, masuk pascasarjana prodi Sastra UGM. Bersama Faruk HT menggagas diskusi sastra di PKKH UGM, jg aktif di Sentong Seni @1srengenge

6 Karya2ya tersebar di berbagai antologi bersama. Saat ini sebagai Guru di Bangka Barat, mengelola Gress Pubhlising dan @majalahsabana
7 Puisi @arimbaarimba banyak berangkat dr pengalaman pribadi. Dengan menerbitkan #ObituariRindu ia berniat move on ke tema sosial

8 Dalam menulis, @arimbaarimba tak menemukan hambatan. Justru pada penerbitan yang terhambat. Penyiar @indriankoto banyak membantu

9 #ObituariRindu @arimbaarimba terbagi jadi dua. Obituari, bagian menziarahi diri sendiri. Rindu, tentang sesuatu yang hilang

10 @arimbaarimba tak menulis puisi dg bahasa rumit. Tak hanya soal estetika saja, pesan yg mudah ditangkap juga perlu diperhitungkan

11 “Menulis agar tidak gila” kata @arimbaarimba. Kebutuhan menulis puisi terus mendesak. Kalo tidak, akan menjadi bebdan dan tidak produktif

12 Tak perlu mengutuki rasa sakit, kejengkelan, marah. Tulis saja jadi puisi. Agar tak beranak dan kamu jadi kreatif. Kata @arimbaarimba
13 Masa lalu dapat porsi terbanyak dalam #ObituariRindu @arimbaarimba. Tidak ada masa lalu yang bisa dipotong begitu saja

14 Masa lalu kadang jadi pembenaran. Berbuat begini krn dulu begitu. Ini posisikan seseorang berprilaku anak kecil. @arimbaarimba

15 #ObituariRindu @arimbaarimba dicetak terbatas. Bisa didapatkan di @jualbukusastra. Mari borong, Booklovers!

16 @arimbaarimba mulai menulis sejak SMP, dipaksa seorang guru. Setiap hari selama sekolah. Sayangnya kurikulum skg kurang menekankan

17 Tips menulis @arimbaarimba: Tulis saja, apa saja. Selanjutnya adalah perbaiki, revisi, cari saran dari orang lain.
18 Di antara tulisan yg lain, @arimbaarimba mengangap puisi paling ideologis. Puisi bisa melewati batas apa saja

19 Bagi @arimbaarimba, puisi2 liris seperti Chairil akan bertahan lama. Beda dg model puisi seperti Sutadji, Remi Silodo dll

20 @arimbaarimba suka sastra sejak SMP saat baca Winnetou, pertualangan Suku Apache karya Karl May yg jauh dari kehidupan sehari2

21 @arimbaarimba kecil hidupnya di hutan. Dg membaca Winnetou pikirannya jadi dan membuatnya hijrah ke kota

22 Pengalaman @arimbaarimba membaca Winnetou tak banyak dialami oleh anak2 di desanya. Listrik saja belum ada sampe sekarang

23 Hutan adalah kampung halaman pertama @arimbaarimba, dan #Jogja menjadi yang kedua. Keduanya sama2 memberi arti

Booklovers, demikian Obrolan #ObituariRindu @arimbaarimba. Kami @Nonananandut dan @fairuzulmumtaz melaporkan.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan