-->

23Tweets Toggle

#23Tweets | Buku Pertamaku – Sylvia Tiwon | California, USA

Sylvia Tiwon adalah pengajar di University of California, Berkeley. Perempuan yang mengahabiskan hidupnya dengan belajar sastra dan membaca ini adalah seorang warga Indonesia yang berpindah dari Indonesia menuju Amerika untuk mencari akses terhadap informasi dan buku.

Terlibat dalam penulisan buku Breaking the Spell: Colonialism and Literary Renaissance in Indonesia (1999), Sylvia berkutat dalam studi gender, literatur, dan budaya Asia Tenggara.

Inilah perbincangan singkat dengan Sylvia Tiwon yang bercerita tentang pengalamannya dengan buku di dalam dan luar negeri.

_MG_1525

1 Sylivia Tiwon adalah pengajar di University of California Berkeley berbagi pengalamannya dengan buku di beberapa perpustakaan di Amerika & juga buku yang mempengaruhi hidupnya

2 Tahun 1976 Sylivia Tiwon mampir di perpus Stanford University yang tidak pernah kebanjiran jika dibandingkan dengan perpus di Rawamangun yang selalu jemur buku tiap tahun

3 Dalam pandangan Sylivia Tiwon di Indonesia sudah biasa buku tidak dihargai dengan selalu basah dan dijemur setiap tahun

4 Sylivia Tiwon mengambil jurusan Sastra Inggris. Berangkat ke Stanford University. Pertama kali masuk perpus dia bingung karena perpus itu sangat besar. Apalagi ia tak dibiasakan bertanya

5 Dengan mental yg terbentuk di Indonesia bahwa informasi terbatas, Sylvia masuk ke perpus Stanford dan ternyata buku yang dicarinya tidak ada

6 Lantas Sylvia diberi rujukan untuk ke University of California di mana ada lebih dari 4 juta judul buku. Sungguh koleksinya sangat banyak dan terlihat buku begitu dihargai

7 Di perpus-perpus seperti Univ of California itu jarang ada buku yang tidak bisa kita dapat. Akses informasi menjadi demikian mudah untuk Sylvia, yang harusnya menjadi hak setiap orang

8 Sylvia teringat saat jadi mahasiswa sangat suka mengorek informasi tentang apa pun. Salah satunya dari buku yang ditutupi para politisi Orde Baru.

9 Sylvia dua atau tiga tahun belakangan menjadi anggota senat di Berkeley dalam penyusunan kurikulum di mana panitia didorong untuk memasuki era baru yang disebut edukasi online

10 Padahal panitia termasuk Sylvia menentang sistem online dalam edukasi karena budgetnya lebih besar dan mahasiswa kehilangan akses sosial

11 di Univ of California informasi berlimpah ruah; selain buku juga banyak jurnal dan buku online yang dapat diakses gratis karena menjadi bagian dari kampus

12 Adapun studi tentang Indonesia sangat melimpah di Belanda, terutama Univ Leiden. Mereka punya akses informasi yang bahkan tidak ada di negara kita

13 Sylvia suka sekali dengan buku cerita rakyat meskipun saat kecil disuruh jangan terlalu banyak membaca karena sudah pakai kacamata dari kecil

14 Sylvia suka The Emperor’s Clothes yang berkisah tentang raja yg angkuh & suka pawai setiap hari memamerkan bajunya, sampai dua penjahit datang menawarkan jasa

15 Dua penjahit itu menawarkan sang Raja pakaian yang sangat bagus tapi pakaian itu hanya bisa dilihat oleh mereka yang jujur dan raja setuju

16 Sampai akhirnya Raja berjalan di tengah rakyatnya, ada seorang bapak dan anaknya yang jujur berkata bahwa sang Raja itu telanjang

17 Selain itu Sylvia senang membaca karya-karya shakespeare dan buku-buku terbitan luar Indonesia, tapi lantas ada peraturan kita dilarang sekolah untuk mempelajari sastra Inggris

18 Sylvia pun pindah ke sastra Indonesia saat semua orang berjuang untuk masuk ke jurusan matematika. Di sastra-lah Sylvia bisa baca banyak buku

19 Sylvia juga suka penulis Irlandia James Joyce, menulis cerpen yang menggabungkan kisah perang dunia dengan cerita rakyat yang mampu menjual

20 Cerita pendek berjudul “Dendam” adalah yang paling berkesan untun Sylvia dari Pramoedya Ananta Toer. Buku itu berbeda sama sekali saat Pram mencoba membuat karya estetis

21 Puisi Amir Hamzah juga begitu, puisi buatannya adalah pijakan bagi penulis-penulis sajak berikutnya seperti Chairil Anwar

22 Di india Sylvia saat umur 7 tahun juga mengikuti kompetisi menulis dengan judul “Saya Benci Berhitung” di sebuah majalah dan mendapat hadiah

23 Sylvia Timon berpesan kepadamu: Tulislah apa pun yang ada di alam pikiran, jangan pernah berhenti menulis dan juga jangan lupa membaca!

Demikian program Buku Pertamaku bersama Sylvia Timon. Saya, @wiptieta melaporkan. Sampai jumpa!

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan