-->

23Tweets Toggle

#23Tweets | Buku Pertamaku – Elisa, Anisa, Dian, dan Agnes

Empat perempuan yang saling dipertemukan waktu, Elisa, Anisa, Dian, dan Agnes ini terpisahkan jarak akhirnya memutuskan untuk bertemu di Jogja. Agnes yang sempat mengajar anak-anak dan Elisa yang asli Finlandia namun besar di Asia ini adalah teman sekelas saat mengambil mata kuliah Sejarah Sastra Nusantara di Bandung. Elisa pernah juga bersekolah di Universitas Gadjah Mada di Jogja dan sekarang ia bekerja di lembaga Indonesia Australia yang mempersiapkan orang untuk bekerja di luar negeri. di tempat kerjanya itulah ia mengenal Anisa yang juga mengenal Dian.
Lantas mereka memutuskan untuk membuat pertemuan tapi tidak di Bnadung dan Surabaya. Maka dari itulah dipilihla Jogja dan Radio Buku menjadi tujuannya. Booklovers mari
ikuti perbincangan singka dengan mereka.

@IndraswariAgnes @anisapinatih @DianNdaru
1. Booklovers yuk berbincang bersama empat perempuan muda, @anisapinatih, Elisa, @IndraswariAgnes, dan @DianNdaru yang bergelut dengan dunia mengajar menulis
2. Empat perempuan beda asal yang memutuskan bertemu di Jogja, Agnes yang kawan lama Elisa adalah rekan kerja Anisa yang juga teman Dian
3. Elisa yang WNA dan Anisa merupakan tenaga pengajar di lembaga untuk mempersiapkan orang kerja di luar negeri,
4. Dian juga mengajar di bimbingan belajar bahasa inggris,dan Agnes pensiun dini dari sekolah alam yang lantas membawanya berkelumit dengan futsalan
5. “antara realitas dan idealisme memang bertentangan” cerita Anisa yang sebelumnya tidak pernah kepikiran untuk belajar dan mengajar bahasa inggris
6. Elisa pernah sekelas di mata kuliah Sejarah Sastra Nusantara dengan Agnes saat kuliah bersama di Bandung dan menjadi teman dekat setelah itu
7. Seja kecil Elisa sudah dekat dengan dunia pendidikan dan merasa bahwa pendidikan itu pnting jadi sudah seharusnya diperjuangkan
8. Agnes sendiri merasa pendidikam di Indonesia dan Eropa berbeda, kalau di sini sudah biasa didikte,sedang di Eropa ada kesempatan memilih belajar apa

9. buku pertama untuk Elisa tentu saja buku bahasa Finlandia yang ibunya bacakan, karena belajar bahasa ibunya itu penting apalagi tinggal jauh.
10. Tapi Ziarah karya Iwan Simatupang adalah buku bahasa Indonesia pertama yang membuat Elisa jatuh cinta dengan karya sastra Indonesia
11. Elisa mencintai bahasa yang dipilih dan cara Iwan Simatupang menyampaikan pesan lewat karya dengan akhir “mengenal cinta yang tak kenal kartu nama”
12. untuk @anisapinatih, perempuan ini pertama jatuh hati dengan membaca lewat rilisan independen Dewi lestari berjudul Kesatria Putri Bintang Jatuh
13 Perbincangan soal science & pertemukan dua kisah yg diberi twist di akhir bikin seorang science freak sprt @anisapinatih jadi jatuh hati
14 pertama kali @anisapinatih mendalami buku sampai mendiskusikan isi dengan saudara dan melanjutkannya pada bacaan bacaan berikutnya
15 Perempuan Kediri, @DianNdaru, meskipun tidak terlalu dalami buku, ia dibiasakan membaca oleh ayahnya dengan dongeng
16 karya Remi Silado, Namaku Matahari yang akhirnya dibukukan adalah tulisan yang telah berhasil membuat @IndraswariAgnes jatu hati pada membaca
17 bagaimana Remi selalu menajadi narator dalam setiap karyanya dan memberhentikan pemikiran pembaca membuat @IndraswariAgnes mengikuti karyanya sejak saat di Kompas
18 Namaku Matahari mengisahkan perempuan keturunan Indonesia-Belanda yang melanglangbuana menuju Eropa meski dengan akhir yang tragis
19 selain membaca dan mengajar, mereka juga menulis meskipun tidak semua benar-benar di rilis terbuka dan ditujukan untuk publik
20 @anisapinatih yang ditantang sahabatnya untuk menulis pernah mengkiuti kompetisi menulis dengan judul Greenwich, menang dan akhirnya dicetak
21 @IndraswariAgnes pernah jadi kontributor majalah dan menulis cerpen yang berkisah tentang perbincangan pernikahan seorang demonstran berjudul wacana menikah dalam
sebatang kretek
22 Elisa sendiri sedang dalam proses menulis kisah dengan isu patriarki,Abdul judulnya dan semua terbalik,yang biasa merokok perempuan dan laki-laki adalah objek
23 Elisa pikir menulis tentang kisah yang menyayat-nyayat soal perempuan tidak lagi efektif,jadi kisah konyol tentang Abdul bisa jadi lebih masuk

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan