-->

Peristiwa Toggle

Disusun Buku tentang Pulau-Pulau Kecil di Sulawesi Tengah

JAKARTA — Harian Kompas edisi 19 September 2013 mengabarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan tengah menyusun buku berisi informasi tentang pulau-pulau kecil di wilayah Sulawesi Tengah. Buku ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang betapa kayanya Indonesia sebagai negeri kepulauan.

”Buku ini akan menjadi persembahan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan pada peringatan Hari Nusantara 13 Desember 2013 yang menurut rencana akan diperingati di Palu,” kata Ganjar Raharja, staf Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-pulau Kecil pada Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Ganjar bersama Dinar Togatorop (penulis buku) dan Edi Singo (fotografer profesional) menyusuri pulau-pulau yang profilnya hendak ditulis. Informasi yang diambil dari pulau-pulau tersebut antara lain mengenai sejarah atau riwayat pulau, data demografi, serta potensi wisata yang ada. Dokumentasi juga dilakukan dengan video dan foto.

”Ada sekitar 2.300 pulau kecil yang ada di Sulawesi Tengah, baik yang berpenghuni maupun yang tidak dihuni. Pencarian informasi tentang pulau kecil di pantai barat Sulawesi Tengah ini merupakan tahap akhir. Pengambilan data di pulau-pulau di wilayah Teluk Tomini sudah dilakukan sebelumnya,” ujarnya.

Selama sepekan, mulai Rabu (4/9), tim Kementerian Kelautan dan Perikanan tersebut telah menempuh jarak sekitar 1.600 kilometer perjalanan darat dan ratusan mil perjalanan laut. Dimulai dari Palu, perjalanan darat menggunakan mobil menuju utara melewati Kabupaten Donggala, Tolitoli, hingga Buol. Lambaian daun kelapa menjadi teman di sepanjang perjalanan di pantai barat Sulawesi Tengah ini.

Dari titik-titik tertentu di sejumlah pantai di Sulawesi Tengah, perjalanan dilanjutkan dengan perahu ketinting ke pulau-pulau kecil yang dituju. Perahu ketinting adalah perahu kecil yang dapat mengangkut 3-4 orang. Kompas berkesempatan ikut dalam perjalanan ini.

Perjalanan ini memang mirip petualangan. Melahap lika-liku jalanan di Sulawesi Tengah dengan mobil, membelah laut dengan perahu ketinting, hingga pengalaman ”bermalam” di mobil selama dua malam berturut-turut. Beruntung, kondisi tubuh anggota tim terjaga sehingga perjalanan tanpa menemui kendala berarti.

Perjalanan tim ini juga tak terlalu diganggu hujan, terutama saat berlayar di laut. Hanya, menurut Edi Singo, pengambilan gambar pulau tidak bisa maksimal karena mendung hampir setiap hari menggelayuti langit di atas pulau-pulau yang akan diabadikan lewat kamera. Karena dibatasi oleh waktu, tidak mungkin bagi tim untuk menunggu cuaca cerah.

Air Bersih dan Kopra
Selain informasi-informasi yang dibutuhkan untuk penulisan buku, tim juga menemukan berbagai permasalahan di pulau-pulau tersebut. Berawal dari Pulau Lingayan di Kecamatan Dampal Utara, Kabupaten Tolitoli, beberapa persoalan yang dialami penduduk di pulau-pulau kecil mulai muncul. Penduduk umumnya memiliki persoalan yang sama, yaitu kekurangan air bersih. Tak semua pulau memang memiliki sumber air bersih yang menjadi kebutuhan vital warga.

Sebenarnya, warga di pulau-pulau kecil tersebut diberi alat penyulingan air laut menjadi air tawar. Sayangnya, beberapa alat dari dinas kelautan dan perikanan setempat tersebut tak berfungsi karena rusak. Sejumlah warga bahkan ada yang menampung air hujan untuk keperluan sehari-hari.

Di Pulau Tumpangan, misalnya, warga terpaksa membeli air bersih ke daratan, yaitu di kota Kecamatan Ogodeide, dengan menempuh perjalanan hampir satu jam dengan perahu ketinting. Pasalnya, pulau yang dihuni sekitar 80 jiwa itu sama sekali tak memiliki sumber mata air yang layak dikonsumsi untuk minum atau memasak. Harga air bersih Rp 1.000 per galon isi 20 liter.

Selain persoalan air bersih, hal lain yang masih menjadi masalah bagi warga di pulau-pulau kecil adalah harga kopra yang rendah. Menjual kopra telah menjadi mata pencarian warga selain sebagai nelayan. Di tingkat petani, harga kopra berkisar Rp 3.500-Rp 4.000 per kilogram. Menurut petani, harga ideal kopra adalah Rp 10.000 per kilogram.

”Kami tidak tahu apa penyebab harga kopra amat rendah karena harga tersebut adalah harga yang ditawarkan oleh pengepul. Harga tersebut tidak menguntungkan bagi kami karena idealnya adalah Rp 10.000 per kilogram. Tapi, kami sama sekali tak berdaya menentukan harga,” ujar Usman, warga di Pulau Kabetan, Kecamatan Dampal Utara, Tolitoli.

Namun, tak semua kondisi warga di pulau-pulau kecil tersebut selalu menyuguhkan cerita lara. Di beberapa pulau, seperti di Pulau Lingayan, mereka memiliki harapan lewat budidaya rumput laut. Bagi beberapa nelayan pembudidaya, harga rumput laut sedang bagus.

”Harga rumput laut saat ini cukup bagus bagi kami, yaitu Rp 7.000-Rp 8.000 per kilogram. Jika mampu membudidayakan sebanyak 1 ton dalam sebulan, kami bisa meraih pendapatan jutaan rupiah,” ucap Rusdianto, warga di Pulau Lingayan.

Dengan segala potensi dan permasalahannya, kehidupan dan kondisi warga di pulau-pulau kecil memang menarik meskipun kerap terpinggirkan oleh ingar-bingar kehidupan di kota-kota besar. Namun, warga yang mendiami pulau-pulau kecil tersebut tetaplah warga Indonesia yang memiliki hak yang sama dengan warga lain di ”daratan”. Mereka tetap berhak atas penghidupan yang layak.

Paling tidak, buku yang akan disusun nanti tak hanya memaparkan data dan fakta tentang pulau-pulau tersebut. Lewat buku tentang pulau-pulau kecil di Sulawesi Tengah ini, wawasan para pemegang kebijakan (jika membacanya) diharapkan terbuka tentang kehidupan warga di pulau-pulau kecil itu. Demikian Harian Kompas 19 September 2013 mengabarkan.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan