-->

Tokoh Toggle

Andi Malewa | Rumah Baca Paguyuban Terminal (Depok)

Empat tahun setelah bergaul dengan anak jalanan di Terminal Depok, Jawa Barat, Andi Malewa (31) mengambil langkah berani. Dia mendirikan rumah baca di titik ekstrem di kawasan itu, di bagian terminal yang sering dihindari orang, kawasan kumuh tempat orang sering mabuk-mabukan.

Jika malam hari, tempat itu menjadi tempat hiburan dan tempat melepas lelah orang- orang terminal. Orang-orang terminal menjadikannya semacam diskotek, tempat judi, dan tempat menenggak minuman keras.

Bertahun-tahun Andi bergaul dengan mereka dan menjadikannya sahabat. Langkah beraninya pun tak mendapat resistensi berarti. Orang- orang terminal mulai menerima kehadiran lajang asal Makassar tersebut.

Melalui perjuangan dan pendekatan yang bisa dikatakan tak kenal henti, Rumah Baca Paguyuban Terminal, disingkat menjadi Panter, berkembang menjadi tempat kreativitas anak jalanan. Tempat yang bahkan negara pun sulit menciptakannya.

Awalnya, Rumah Baca Panter menumpang di tempat agen tiket bus dalam ruangan berukuran sekitar 3 meter x 3 meter. Kian lama, buku yang dibawa Andi semakin banyak menyesaki ruangan yang juga dipakai untuk tempat mabuk-mabukan itu. Selain buku, ruangan tersebut juga disesaki dengan perangkat musik.

”Orang-orang yang mabuk semakin kepepet. Mereka kemudian bikin sekat di ruangan ini. Ruangan depan buat buku-buku, ruangan belakang buat mabuk dan dangdutan,” kata Andi.

Ketika semakin banyak orang yang datang untuk membaca di ruangan itu, orang-orang yang mabuk pun kian tersisih.

”Makin banyak orang yang datang untuk membaca di sini. Mereka menjadi risi juga karena masih tidur-tiduran,” cerita Andi tentang Rumah Baca Panter yang dirintis sejak tahun 2007, tetapi baru ”diresmikan” pada 2011.
Ikut membantu

Seiring dengan berjalannya waktu, kegiatan mabuk-mabukan itu berhenti dengan sendirinya karena semakin banyak anak jalanan, sopir, dan kenek yang senang membaca buku di Rumah Baca Panter. ”Sekat di ruangan akhirnya dibongkar,” kata Andi.

Tidak hanya itu, para sopir dan sebagian preman pun kemudian ikut membantu Andi membuat rak-rak penampung buku-buku yang kian bertumpuk.

Andi lalu menemukan fakta yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Ternyata, banyak sopir bus malam yang juga penggila buku.

”Mereka biasanya suka membaca buku-buku sejarah atau agama, buku- buku yang serius,” ujar Andi yang mengaku sebagai penggemar komik.

Tidak hanya menjadi tempat baca buku gratis, pengelola Rumah Baca Panter juga menyediakan kelas-kelas kreatif. Selain mengadakan kelas baca, beberapa kelas yang tengah dikembangkan antara lain kelas bahasa Inggris, kelas teater, kelas biola, dan kelas keterampilan tangan.

Semua kegiatan kreatif itu digelar secara gratis. Pesertanya bebas, tidak ada persyaratan ataupun batasan apa pun. Di sini ada sopir bus, kenek angkutan, siswa putus sekolah, dan anak-anak yang biasa nongkrong di terminal. ”Oase” kreativitas itu tak semewah ilmu yang dikembangkan di tempat ini.

Dalam ruang sederhana itu, berjajar sejumlah komputer yang terlihat usang. Satu kipas angin di pojok ruang dan sekitar 3.000 koleksi buku beragam jenis. Tak ada prosedur macam-macam untuk menikmati bacaan di sini.

”Ada buku sejarah, Bang?” tanya seorang anak yang masuk ke taman baca itu sambil menenteng gitar kecil. ”Ah, buat apa kau mau membaca buku sejarah,” jawab Andi sambil tersenyum. ”Itu, cari sendiri, banyak buku sejarah di sana.”

Dialog singkat itu merupakan bagian dari rutinitas sehari-hari Andi, sarjana teknik dari Universitas Pancasila, Jakarta, dalam mengelola Taman Baca Panter.

Keberadaan taman baca itu sungguh kontras dengan pandangan tentang kehidupan keras sebuah terminal, lingkungan yang sering kali identik dengan premanisme.
Media sosial

Perjuangan Andi tidak lepas dari penggunaan media sosial. Hampir semua buku di rumah baca diperoleh lewat media sosial. Begitupun dengan 12 sukarelawan yang kini bergabung mengelola Rumah Baca Panter. Mereka berkenalan, lalu bersimpati bergabung lewat komunikasi media sosial.

Dari media sosial, selain mendapatkan sumbangan buku, Rumah Baca Panter juga mendapatkan bantuan alat musik, perangkat komputer, dan perlengkapan lain. Saking terbatasnya tempat, sejumlah bantuan buku dari donatur disumbangkan ke rumah baca lain.

Adapun sumber dana operasional rumah baca itu, selain berasal dari donatur, juga usaha mandiri penjualan kaus. Andi pun membuka lapak minuman di area terminal. ”Biaya operasional dapat ditekan karena sukarelawan tidak perlu dibayar,” katanya.

Keterbatasan tidak mengendurkan semangat sukarelawan yang semuanya berusia kurang dari 35 tahun. Para sukarelawan itu sebagian besar baru mendapatkan gelar sarjana, sementara yang lain masih menyelesaikan kuliah.

Nama-nama sukarelawan itu, antara lain, Juni Ulfa, Yoga Wirotama, Denty Apriliani, Frezka Fikri, dan Alicia Maria.

Apakah tidak rugi bergabung dalam kegiatan sosial seperti ini? ”Justru mumpung masih muda, saya harus melakukan sesuatu. Sekarang saatnya berbuat lebih banyak selagi masih mampu melakukannya,” kata Andi tentang kegiatan yang berakun Twitter: @rumahbacapanter itu.

Ia merasa tergerak karena banyak anak jalanan yang telantar. Belum banyak langkah negara yang menjangkau anak-anak itu walaupun mereka hidup di ”Kota Layak Anak” seperti Kota Depok.

Siang itu, Andi memperlihatkan sejumlah anak yang tidur di emperan terminal. Mereka terlihat lusuh, pakaian kotor, serta tidur beralaskan tikar dan karpet tipis. Tempat itu hanya berjarak sekitar 200 meter dari Balaikota Depok. ”Lihat, apa yang bisa kita lakukan untuk mereka?” ujar Andi.

Ia terkesan dengan seorang remaja bernama Hosea (17). Remaja yang juga kenek angkutan penumpang itu tidak bisa membaca. Hosea pernah sekolah, tetapi hanya sampai kelas III SD. Hosea yang kadang menjadi sopir bus tidak tahu seandainya penumpangnya salah menggunakan angkutan.

”Kami bilang, kalau jadi sopir enggak bisa baca plang, nanti mau bawa bus ke Surabaya malah sampai Bandung. Akhirnya kami ajari dia membaca,” katanya.

Rekan-rekan Andi lalu mengajak Hosea belajar mengeja, hingga akhirnya dia bisa membaca. Berbekal kemauan dan ketekunan, akhirnya Hosea bisa membaca. Andi puas, tetapi masih banyak anak jalanan yang belum tersentuh.

”Pendekatannya harus pas, perlu mengetahui minat dan keinginan mereka apa. Jika keinginannya belajar musik, tetapi dipaksa sekolah biasa, mereka justru bakal jadi pemberontak. Malah tambah kacau hidupnya” ujar Andi.
Andi Malewa

Andi Malewa
Lahir: Makassar, 6 Januari 1982
Pendidikan: S-1 dari Universitas Pancasila, Jakarta
Aktivitas: Pendiri dan pengelola Rumah Baca Pondok Terminal Depok, Rumah Baca Paguyuban Termin

Sumber: Harian Kompas, 10 September 2013

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan