-->

Peristiwa Toggle

Buku Eksiklopedia Bukan Lagi Pilihan

JAKARTA — Meluasnya penggunaan internet sangat berpengaruh terhadap industri penerbitan buku. Ensiklopedia yang semula memiliki segmen pembeli tersendiri sekarang ditinggalkan karena banyak informasi bisa didapat dari Wikipedia atau situs lain di internet.

Sejumlah pedagang buku di Pasar Senen dan Blok M Square Jakarta mengatakan, kini ensiklopedia sudah tidak lagi menjadi pilihan, bahkan sudah ditinggalkan pembeli.

”Padahal, beberapa tahun lalu Encyclopedia Americana dan Encyclopedia Britannica masih banyak pembeli,” kata Afri Nizomullah (28), pedagang buku di Blok M Square, sebagaimana dikabarkan Harian Kompas 13 Agustus 2013.

Meski harga jual satu set ensiklopedia yang terdiri dari 32 jilid itu sekitar Rp 37 juta, pembelinya setiap bulan pasti ada. Kini, yang masih bertahan penjualannya hanya ensiklopedia anak karena banyak anak belum melek internet.

Adapun penjualan kamus bahasa asing, terutama bahasa Inggris, relatif stabil meski penggunaan Google Translate dan piranti transliterasi lainnya semakin meluas.

”Konsumen membeli kamus bukan untuk dibawa-bawa, tetapi untuk ditaruh di rumah. Mereka menjadikannya sebagai pegangan saat mengerjakan sesuatu yang sifatnya serius, seperti skripsi atau laporan-laporan,” kata Afri.

Dalam sehari, dia bisa menjual sekitar 20 set kamus bahasa Inggris yang disusun John Echols/Hassan Shadily. Sementara penjualan kamus bahasa Belanda dan bahasa Mandarin tak sebanyak kamus bahasa Inggris.

”Pembeli kamus bahasa Belanda biasanya orang-orang hukum,” kata Hardi (31), pedagang buku di Pasar Senen, Jakarta.

Wakil Ketua Ikatan Penerbit Indonesia Cabang DKI Jakarta Hikmat Kurnia mengatakan, anak-anak muda sekarang sangat akrab dengan internet sehingga mereka mencari informasi apa pun dari internet.

Meski demikian, kata Hikmat, prospek penerbitan buku masih tetap cerah. Hal itu terbukti dari meningkatnya penjualan buku secara keseluruhan. Jika 3-4 tahun lalu jumlah judul buku yang diterbitkan berkisar 1.500 judul per bulan, saat ini bisa mencapai 2.000 judul per bulan.

”Persoalannya justru dalam distribusi karena terbatasnya pertumbuhan toko buku,” ujar Hikmat.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan