-->

Peristiwa Toggle

Bahasaku Terabaikan di Negeri Sendiri

Penguasaan bahasa negara seharusnya menjadi kewajiban bagi warganya, tetapi tak demikian dengan bahasa Indonesia. Ia terabaikan. Sebagian mahasiswa justru tak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kompetensi mereka secara lisan dan tulisan lemah sehingga tak bisa mengungkapkan gagasan dalam benaknya secara tepat. Perlu gerakan untuk kembali belajar bahasa Indonesia yang benar.

Bagi mahasiswa, sebagaimana dikabarkan Harian Kompas 6 Agustus 2013, mendapat koreksi untuk memperbaiki tugas kuliah bukan hal aneh, tetapi koreksi untuk hal sepele, seperti tanda baca, kata, dan kalimat yang tidak tepat pemakaiannya tentu merupakan sesuatu yang luar biasa. ”Aku sering mendapat koreksi seperti itu. Sebenarnya malu sebab bukan hanya sekali, tetapi memang aku enggak tahu kalau apa yang kutulis itu salah,” tutur Tita, mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Jakarta.

Ia tak sendiri. Banyak mahasiswa di perguruan tinggi lainnya mengalami hal yang sama. Menurut Amanda Kistilensa, mahasiswi Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB, apa yang dialami Tita juga menimpa banyak kawan-kawannya. ”Temanku juga sering harus bolak-balik kembali ke dosen untuk memperbaiki karya tulisnya,” kata Amanda. Amanda tidak menampik penilaian yang menyatakan banyak mahasiswa tak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Ia kerap memperhatikan situasi dalam diskusi atau seminar apa pun baik di kampus maupun di luar kampus. ”Menurut aku, teman-teman mahasiswa sering memakai bahasa lisan di dalam tulisan,” ujarnya. Selain itu, ketika berbicara dalam forum resmi, kadang-kadang mahasiswa memakai bahasa gaul. ”Aku merasa mestinya itu tidak boleh ya,” kata Amanda setengah bertanya. Ia mengatakan kurang menguasai bahasa Indonesia karena sebelumnya lama tinggal di luar negeri. Namun, ketika masuk sekolah menengah di Bandung, ia serius belajar bahasa Indonesia dan latihan banyak menulis.

Buta ragam
Pengamatan Totok Suhardijanto, staf pengajar dan peneliti pada Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, terhadap para mahasiswa lebih teliti lagi. Ia menyebut sebagian mahasiswa buta ragam bahasa Indonesia yang standar.

”Terjadi penurunan kemampuan register (ragam) bahasa pada mahasiswa kita. Akibatnya, mereka tidak bisa membedakan mana kalimat formal dan nonformal, kata standar, serta memilihnya untuk pemakaian baik untuk lisan maupun tulisan,” ujarnya pekan lalu.

Selain itu, secara umum mahasiswa juga banyak yang tidak paham mengenai ejaan (pemakaian huruf besar dan kecil secara tepat), tanda baca (titik, koma), membuat kalimat, kata sambung, hingga membuat kalimat yang tidak masuk logika.

”Orang yang membaca tulisannya akan bingung sebab kalimatnya tidak logis,” ujar doktor linguistik alumnus Graduate School of Media And Governance Keio University, Tokyo, Jepang, itu.

Menurut dia, ketidakmampuan mahasiswa tersebut akibat pengaruh bahasa dalam blog dan jejaring sosial yang kerap mereka baca dan aktif di dalamnya. ”Para mahasiswa sekarang lebih sering membaca buku yang semula berasal dari blog. Bahasanya memang lebih ringan dan itu memberi pengaruh mereka dalam berbahasa,” kata Totok.

Lebih lanjut ia mengatakan, kondisi tersebut sebenarnya merupakan buah dari situasi yang sudah menjadi lingkaran setan. Totok melihat ada banyak faktor yang membuat anak muda abai terhadap bahasa Indonesia.

Di luar pengaruh teknologi, bahasa Indonesia tak berkembang karena kurikulum pembelajarannya kurang mendukung. Semua orang juga sudah merasa bisa berbahasa Indonesia karena setiap hari berbicara dalam bahasa Indonesia, serta ada pola pikir bahwa kemampuan berbahasa Indonesia yang baik tidak memberikan keuntungan, terutama finansial.

”Padahal, itu pemikiran keliru. Orang yang menguasai bahasa Indonesia dengan baik justru akan mendapatkan banyak keuntungan,” kata Totok, yang sudah menulis delapan buku berkait soal bahasa Indonesia. Salah satu keuntungannya bila seseorang mampu mengungkapkan gagasan lewat lisan dan tulisan secara tepat, baik dan benar, banyak pihak akan menawarkan berbagai pekerjaan. Misalnya, menjadi konsultan bahasa di perusahaan-perusahaan komunikasi.

Banyak berlatih
Totok yang cukup lama tinggal di Jepang mengaku heran mengapa bahasa Indonesia terabaikan di negeri sendiri. Ia melihat minat anak muda Jepang untuk menguasai bahasa Jepang dan menulis dalam huruf kanji secara benar sangat tinggi. Hal itu disebabkan bahasa Jepang menjadi syarat mutlak dalam penerimaan pegawai dan naik ke jenjang lebih tinggi. ”Sekalipun mereka juga memakai bahasa Jepang yang nge-pop, mereka kemudian akan serius mempelajari bahasa Jepang lagi,” ujarnya.

Bagaimana dengan kita? Memperbaiki ketidakmampuan berbahasa Indonesia memang tidak mudah, tetapi ada banyak cara. Kamu bisa memulainya dengan banyak membaca buku serius (misalnya karya sastra, pemikiran orang ternama, bukan novel ringan), menulis di berbagai media, serta ikut lomba pidato ataupun lomba bercerita.

Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar juga harus diubah. Guru harus lebih banyak memberikan waktu kepada siswa untuk membuat tugas menulis, kemudian mempresentasikannya di depan kelas. Tugas itu tak harus untuk bahasa Indonesia, tetapi bisa masuk ke semua pelajaran.

Cara lain, mengisi memori kita dengan ragam kata dan bahasa Indonesia standar, lalu melatihnya lewat cara menulis dan berbicara di depan orang lain. Hal itu akan membiasakan diri kita menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan