-->

Lainnya Toggle

Palembang, Makassar, Surabaya Kekurangan Buku Pelajaran Kurikulum 2013

PALEMBANG — Kekurangan buku pelajaran masih terjadi di berbagai daerah dalam pelaksanaan Kurikulum 2013. Solusi dalam mengatasi kekurangan buku pelajaran ini masih diserahkan kepada setiap sekolah.

Di Sumatera Selatan, misalnya, 151 sekolah dari jenjang SD hingga SMA sudah mulai melaksanakan Kurikulum 2013. Namun, seperti terlihat di SD Negeri 179 Palembang, buku pelajaran untuk kelas I masih kurang 30 eksemplar dan kelas IV masih kekurangan 100 eksemplar.

Kepala SDN 179 Palembang Maulina, Selasa (23/7), sebagaimana dikabarkan Harian Kompas 24 Juli 2013, mengatakan, kekurangan buku telah disampaikan kepada Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Sumsel. ”Untuk kelas I, kami memutuskan memfotokopi sebagian karena kekurangan tinggal sedikit. Untuk kelas IV, kami masih menunggu tambahan,” katanya.

Kekurangan buku pelajaran kurikulum 2013 juga terjadi di SMA Negeri 17 Palembang. Dari kebutuhan 309 buku per mata pelajaran, buku yang diterima baru 290 buah per mata pelajaran. Kurikulum 2013 di tingkat SMA diterapkan di kelas X di tiga mata pelajaran, yaitu Matematika, Bahasa Indonesia, dan Sejarah.

”Selain buku untuk murid, buku pegangan untuk guru pun belum diterima,” kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 17 Palembang Bayu Riadi.

Kasus Makassar
Di Makassar, Sulawesi Selatan, kekurangan buku pelajaran juga terjadi. ”Buku yang kami terima baru sekitar 75 persen dari kebutuhan,” kata Kepala SMAN 1 Makassar Sakaruddin.

Di Surabaya, kekurangan buku pelajaran juga masih terjadi, terutama untuk SMA/SMK. ”Baru ada tiga buku mata pelajaran yang kami terima, yaitu Matematika, Bahasa Indonesia, dan Sejarah,” kata Kepala SMAN V Surabaya Sri Widiati.

Di sekolah ini, buku yang sudah ada pun baru tersedia untuk 330 siswa dari total 340 siswa yang membutuhkan.

Kepala SMAN II Surabaya Kasnoko mengalami hal serupa. Dari 380 siswa, baru 320 siswa yang sudah mendapat buku pelajaran Matematika, Sejarah, dan Bahasa Indonesia.

Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Timur Salamun mengakui, ada permasalahan di percetakan sehingga buku tidak segera terkirim. ”Kami sudah membentuk tim untuk mengecek di setiap kabupaten/kota di Jatim mengenai kekurangan buku ini,” katanya.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan