-->

Esai Toggle

Muhidin M Dahlan | Dokumentasi Sastra Yogyakarta

Ketika Mustofa W Hasyim di awal Mei di KR Minggu bertanya ke mana puisi Yogyakarta, sesungguhnya ia sedang bertanya dan mempersoalkan krisis laten dokumentasi sastra. Pertanyaan MWH adalah pertanyaan di mana kuburan penyair yang setiap saat warga kota melakukan ziarah, yang setiap saat guru bahasa Indonesia menuntun siswanya berkunjung.

Mula-mula dokumentasi sastra Yogyakarta berdiam di halaman media. Dan itu adalah KR-Minggu Pagi, Bernas, Masa Kini, Pesat, Pelopor Jogja, Yogya Post, Basis, Soeara Moehammadijah, dan lain-lain. Jurnalislah pencatat tekun hari demi hari, masa ke masa, denyut sastra Yogyakarta. Namun nama mereka tak pernah diperhitungkan dalam perbincangan dokumentasi sastra, apalagi berharap ada secauk terima kasih.

Jadi, krisis bukan pada level pencatatan yang bisa kita percayakan pada jurnalis (jurnal=catatan peristiwa secara berkala dan ajeg), tapi berada pada level (1) agensi pengumpulan dan (2) cara menghidupkan dokumentasi sastra.

Dokumentasi Personal

Dokumentasi dengan tema yang spesifik bermula dari personal. Alamat itu ada pada nama yang sangat terbatas. Dokumentator sastra H.B. Jassin pernah bilang, “Semua harus dikliping dan disimpan. Termasuk nama-nama yang baru muncul. Kalau bukan saya, siapa lagi yang menyimpannya.” Semua kebesaran nama (sastrawan) itu, kata Jassin, bermula dari “tulisan-tulisan awal yang tak dianggap siapapun kecuali penulisnya sendiri”.

Lihat, Jassin memakai kata “SAYA”. Artinya, pendokumentasian khusus ini mula-mula berawal dari kesadaran personal, bukan kolektif.

Pram adalah nama personal yang lain yang melegenda dengan kegiatan pendokumentasiannya. Juga sastrawan dari Borneo Korrie Layun Rampan.

Di Yogyakarta, nama Suwarno Pragolapati menjadi artefak yg tak lekang dalam ingatan tentang militansi personal mencatat dan mengumpulkan cerita-cerita sastra yang terserak. Bukti kegigihan itu masih bisa kita baca dan lihat ulang di Perpustakaan EAN Kadipiro.

Ketika heroisme personal meluruh perlahan-lahan oleh menguatnya jejaring media sosial yang berdenyut tanpa sekat waktu dan ruang, komunitas menggantikan posisi sang hero.

Namun di sinilah soalnya, ketika dasawarsa pertama dari abad alaf ini menyelesaikan perputarannya kita belum juga menemui alamat yang pasti di mana dokumentasi sastra Yogyakarta berada.

Berbeda dengan dokumentasi senirupa yang dengan mudah kita menunjuk komunitas IVAA yang sejak tahun 2000 mengembangkan dunia arsip, dokumentasi, dan pola-pola kreatif menghidupkannya. Komunitas sastra yang benar-benar melakukan pendokumentasian yang tekun lini masa sastra Yogyakarta dari masa yang jauh hingga terkini sulit kita dapatkan.

Perpustakan Malioboro atau kini bernama Library Center dipercayai masih menyimpan cerita sastra hari demi hari, tapi cerita itu berada dalam tumpukan-tumpukan beku di Koran-koran berjilid yang harus disibak sedemikian rupa dengan ketekunan yang tak main-main.

Perpustakaan Kolosani dan Balai Bahasa yang keduanya berada Kotabaru juga membekukan dokumentasi sastra, khususnya buku. Di Kolosani, penataannya masih secara umum dan tidak spesifik sebagaimana Jassin menata koleksinya. Karena terlampau umum kita tak bisa menjadikannya sebuah alamat khusus. Sementara Balai Bahasa, proyek bahasa susastera pemerintah dan sastra lisan tradisional bisa diandalkan.

Atau kita menuju perpustakaan universitas berjurusan sastra untuk membuka dan membuat linimasa sejarah sastra Yogyakarta menjadi utuh. Bisakah? Jika universitas berjurusan budaya sebesar UGM memilikinya, maka mahasiswinya yang S1 tak gamang ketika kita bertanya jumlah produksi novel pop 80an di Yogyakarta saat mahasiswi tersebut mengambil skripsi tentang sastra pop.

Dokumentasi Berbasis Komunitas

Ketika ketekunan personal yg dimiliki generasi Pram, Jassin, Pragolapati memulung cerita dengan cara menggunting, maka kesadaran dokumentasi sastra sangat bisa dikerjakan oleh komunitas.

Namun tidak seperti dokumentasi sebelumnya yang fokus pada satu tempat, seperti PDS HB Jassin di Jakarta, komunitas-komunitas sastra bisa melakukan pembagian fokus.

Misalnya, jika Radio Buku fokus pada dokumentasi suara sastra (audio), maka Indie Book Corner, Jual Buku Sastra, dan Komunitas Lebah focus pada pengumpulan seluruh buku yang diterbitkan secara indie oleh masyarakat sastra.

Demikian pula bila Perpustakaan EAN fokus pada dokumentasi sastra tahun 80-an, maka Warung Arsip mengambil peran mendokumentasikan sastra Yogyakarta di rentang tahun 1950 hingga 1970. Jadi ada pembagian kurun waktu dalam dokumentasi.

Dalam soal tema demikian pula. Komunitas KUTUB bisa fokus pada dokumentasi sastra pesantren, Sanggar Kemanusiaan Sarkem mendokumentasikan peristiwa pertunjukan sastra, Lidah Ibu di bidang bahasa, Balai Bahasa khusus sastra lisan dan seni tradisi, sementara untuk film dan kesusasteraan bisa dipercayakan pada rumah sinema atau literati.

Sastra kampus Yogyakarta diserahkan kepada siapa pendokumentasiannya? Dokumentasi sastra kampus ini bisa ditangani lembaga pers mahasiswa di universitas, seperti Balairung UGM, Ekspresi UNY, Arena UIN, Pendapa UST, dan seterusnya.

Dokumentasi sastra yang diproduksi via Facebook dan Twitter yang berdenyut 24 jam siapa yang mengerjakannya? Wallahualam.

Jejaring dan Divergensi

Inilah komplesitas zaman yang tidak diikuti oleh semangat mendokumentasikan yang memadai. Zaman dibiarkan berdenyut sendiri tanpa ada yang mengelola ingatan-ingatan yang seperti apa yang bekerja di dalamnya.

Siasat menghadapi kompleksitas seperti ini adalah divergensi. Di zaman ketika masa massa berkuasa dan jejaring adalah metode yang dilahirkan teknologi, maka komunitas menentukan pilihan. Tak ada lagi alamat rumah dokumentasi sastra yang tunggal, seperti PDS HB Jassin. Yang ada adalah titik-titik kecil, mengerjakan yang kecil-kecil, tapi terhubung satu dan lainnya.

Karena internet sukma dokumentasi dan jejaring adalah metodenya, maka setiap komunitas kemudian secara perlahan membangun katalog dokumentasi onlinenya yang terbuka bagi publik.

Dengan cara demikian gelap dan rudinnya dokumentasi sastra Yogyakarta bisa diterangi lilin-lilin kecil dari sebuah ikhtiar kolektif masyarakat sastra Yogyakarta.

Lalu di mana fungsi pemerintah? Bantu komunitas-komunitas ini agar mereka fokus mendokumentasikan dan menghidupkan dokumentasi itu secara kreatif. Biarlah mereka tidak dipusingkan memikirkan sekretariat bersama yang sewa kontraknya secara reguler habis tiap tahun.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan