-->

Peristiwa Toggle

Malaysia Lebih Dulu Terbitkan Babad Diponegoro

JAKARTA — Pemerintah Indonesia belum mengambil peran menerbitkan Babad Diponegoro dalam bentuk transliterasi ataupun terjemahan agar buku biografi yang ditulis Pangeran Diponegoro itu bisa diakses masyarakat. Penerbit Kuala Lumpur Art Printers dari Malaysia justru lebih dulu menerbitkan terjemahan Babad Diponegoro dalam bahasa Inggris dan Indonesia-Melayu tahun 1981.

Buku Babad Diponegoro yang diterbitkan Malaysia itu berjudul An Account of the Outbreak of the Java War (1825-1830). Buku itu merupakan Babad Diponegoro dari versi Keraton Surakarta yang ditulis Yasadipura, sastrawan abad ke-18 hingga ke-19 dari Surakarta.

Peter Carey, editor buku tersebut, Rabu (3/7), mengatakan, buku itu hanya ada di Malaysia dan kini tak dicetak ulang lagi. Peter Carey, peneliti dari Oxford University, sudah meneliti Babad Diponegoro lebih dari 30 tahun. Buku yang disusunnya itu pernah ditawarkan kepada pemerintah dan penerbit Indonesia, tetapi tak ada respons.

Babad Diponegoro yang ditulis Diponegoro selama masa pengasingan di Manado tahun 1831- 1832 baru saja diakui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sebagai Ingatan Kolektif Dunia (Memory of the World).

Kini, ia berharap buku yang ditulis langsung oleh Diponegoro itu bisa segera diterbitkan dalam bentuk transliterasi dan terjemahan, baik Indonesia maupun Inggris. ”Jangan sampai isi Babad Diponegoro hanya bisa diketahui sekelompok ahli,” kata Carey. Salinan otobiografi Babad Diponegoro ditulis dengan huruf pegon (Arab gundul) dan Jawa kuno.

Selain Babad Diponegoro yang ditulis Peter Carey, di Indonesia hanya ada tiga buku tentang Babad Diponegoro yang ditulis orang lain, yaitu Babad Dipanegara (Amen Budiman, 1980), Babad Dipanegara yang ditulis Rusche A tahun 1908, dan Babad Dipanegara Volume 4 ditulis Nindya Noegraha tahun 2010. Menurut Carey, buku-buku tentang Babad Diponegoro sudah tidak ada dan kurang lengkap.

Mantan Menteri Pendidikan Wardiman Djojonegoro, yang terlibat dalam proses pengajuan Babad Diponegoro ke UNESCO, mengatakan, langkah mengenalkan isi Babad Diponegoro perlu serempak. Itu bisa dengan melengkapi buku sejarah di sekolah, mendorong lebih banyak penelitian sejarah abad ke-19, dan lain-lain.

Carey menambahkan, tiga naskah Indonesia yang diterima UNESCO, yaitu Negarakertagama, La Galigo, dan Babad Diponegoro, perlu disosialisasikan. Formatnya tak hanya bentuk buku, tetapi juga bisa film panjang, film dokumenter, animasi, pementasan, dan lain-lain. Demikian dikabarkan Harian Kompas 4 Juli 2013.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan