-->

Peristiwa Toggle

Komik Masih Dianggap Bacaan Buruk

JAKARTA — Hingga saat ini komik masih dianggap sebagai sumber bacaan yang buruk. Padahal, komik sesungguhnya merupakan salah satu media yang efektif untuk menyampaikan pesan, ide, gagasan, hingga kritik sosial.

Dalam seminar ”Komik dan Kartun di Media Massa” yang berlangsung Senin (15/7) di Jakarta, pengamat komik Hikmat Darmawan mengatakan, masyarakat masih memandang komik sebagai bahan bacaan yang tidak bermanfaat. Kesenangan anak membaca komik kerap dianggap membahayakan nilai-nilai pelajaran di sekolah sehingga membaca komik harus dihindari atau dikurangi.

”Anggapan bahwa komik merupakan bahan bacaan buruk dilembagakan di sekolah pada era 1990-an. Anak-anak yang membawa komik ke sekolah dirazia,” tutur Hikmat.

Bahkan, menurut Hikmat, tidak hanya sekolah, secara umum, pada era itu sangat sulit meyakinkan bahwa komik adalah sumber bacaan yang bermanfaat. ”Padahal, dengan komik, pesan serumit apa pun dapat disampaikan dan lebih mudah dicerna pembaca,” ujarnya.
Metode tepat

Tita Larasati, salah seorang pendiri Studi Komik Curhat Anak Bangsa yang memelopori kelahiran komik grafis dan perempuan komikus di Tanah Air, mengatakan, harus ditemukan metode yang tepat agar komik dapat bermanfaat sebagai media pengajaran. Hal ini karena saat ini tengah terjadi perubahan menuju zaman digital.

”Ada perubahan yang terjadi akibat kemajuan teknologi dan kehadiran internet. Harus ditemukan cara yang tepat agar memasuki era digital ini komik dapat diterima,” kata Tita.

Salah satu upaya yang dilakukan Tita bersama penerbit Curhat Anak Bangsa adalah membuat komik dengan tambahan augmented reality. Meski belum terlihat hasilnya, hal itu merupakan salah satu upaya yang patut dicoba untuk menarik pembaca.

Tokoh komik dari Amerika Serikat yang banyak mengamati perkembangan komik di Asia, John A Lent, menuturkan, tantangan terbesar bagi dunia komik saat ini adalah perubahan dunia menuju era digital.

”Saya rasa bukan hanya Indonesia, melainkan juga di negara lain secara umum,” katanya. Demikian dikabarkan Harian Kompas 16 Juli 2013.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan