-->

Tokoh Toggle

Jafar Buchari | Penulis Buku Asal Usul Leluhur Kampung Jaton

Islahudin, wartawan situs daring merdeka.com 17 Juli 2013 menurunkan laporan panjang tentang Kampung Jaton, Jawa-Tondano. Sebuah kampung tempat pembuangan pembangkang dari Jawa bernama Kiai Modjo. Kliping laporannya bisa booklovers baca berikut ini:

Sekitar akhir 1993, Jafar Buchari, 61 tahun, kaget melihat sebuah buku karangan Tim G. Babcock, peneliti asal Kanada, berjudul Kampung Jawa Tondano: Religion and Cultural Identity. Sebagai keturunan Kampung Jaton (Jawa Tondano), dia merasa belum pernah mendapatkan cerita lengkap dan utuh soal kampungnya.

Dia segera membeli buku terbitan Gadjah Mada University Press pada 1989 itu. Pegawai BRI di Tondano ini ingin mencari tahu dan melengkapi penelitian dia anggap masih perlu dikembangkan. Namun usahanya tidak bisa segera terlaksana. Kesibukannya bekerja dan sulit mencari sumber dana membuat dia menunda memulai penelusuran kisah para leluhurnya.

Baru dua tahun kemudian proyek pribadinya dia mulai dengan anggaran sendiri. “Mulai dari menemui tokoh-tokoh Jaton di Ternate, Gorontalo, hingga Yogyakarta. Semuanya untuk mencari data dan berburu arsip, kata Jafar saat ditemui merdeka.com Ahad siang pada akhir bulan lalu di rumahnya, belakang Masjid Al-Falah, Kampung Jawa Tondano.

Sejak 2009, buku itu sudah dijilid dengan ukuran kertas HVS. Tebalnya lebih dari seribu halaman. Hanya namanya tertea di sampul, tanpa penerbit. Buku digarap 18 tahun ini dia beri judul Sejarah dan Silsilah Keturunan Pahlawan Kyai Modjo dan Pahlawan Nasional Kyai Haji Ahmad Rifai (Disertai Rombongan dan Keturunannya). Meski begitu, dia menganggap risetnya belum selesai. Dia berharap diteruskan oleh generasi berikutnya.

Jafar tidak terlalu sulit mengumpulkan naskah dan dokumen ketika penulisan buku itu dimulai. Beberapa orang langsung menyerahkan arsip keluarga hingga arsip kolonial terkait Jawa Tondano. Orang memberi naskah tidak hanya tokoh-tokoh Jaton di berbagai tempat di Indonesia, tapi juga keluarga pejabat Belanda dan bekas tentara Jepang pernah bertugas di Minahasa.

Ini lukisan masjid Jaton pada 1880-an dari keluarga tentara Jepang pernah ke sini. Tahun lalu dia menyerahkan ke sini, ujar Jafar menunjukkan lukisan berwarna coklat ini dalam bukunya. Juga dilampirkan surat-surat keputusan resmi kolonial Belanda terhadap laskar Diponegoro.

Dari hasil penelusuran Jafar, ternyata Kampung Jawa pertama di kawasan Perkebunan Kawak, sebelah barat Kampung Jawa sekarang. Kepindahan itu atas usulan Kiai Modjo. Alasannya, ada gangguan binatang dan dianggap kurang sehat dijadikan permukiman. Kini lokasi Kampung Jaton pertama itu menjadi Stadion Maesa Tondano.

Buku Jafar juga mencatat secara rinci mengenai asal usul nama nenek moyangnya, jumlah, umur, dan tahun kedatangan. Dia juga menulis penyebaran warga Jaton ke pelbagai wilayah di Indonesia. Untuk melengkapi risetnya, dia pada 2008 mengunjungi lokasi-lokasi penting leluhurnya, kebanyakan berasal dari Yogyakarta dan Klaten.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan