-->

Peristiwa Toggle

Daluang, Awal Bahan Baku Kertas di Nusantara

Harian Kompas 24 Juli 2013 menurunkan laporan menarik soal penelusuran sejarah bahan baku kertas yang awal-awal dipergunakan yang ternyata dari pohon daluang. Di bawah ini laporannya:

Jarum jam menunjukkan pukul 13.00 saat kami tiba di pekarangan rumah salah satu warga di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pertengahan Juni lalu. Di pekarangan rumah itu, terdapat puluhan pohon daluang atau Paper mulberry, yaitu pohon yang dikenal sebagai bahan baku pembuatan kertas. Ini sebelum digunakannya bubur kertas (pulp eucalyptus).

Pohon yang tak berbunga dan tak berbuah ini tumbuh subur di halaman rumah itu. Pemiliknya, Suparti (74), mengaku tak pernah merawatnya. Pohon itu dibiarkan tumbuh dan berkembang sendiri, bersama dengan tanaman lainnya seperti ketela.

”Kalau saya lagi butuh kayu, saya potong pohon yang sudah besar. Selebihnya, ya dibiarkan tumbuh sendiri di pekarangan. Sebagian tanaman daluang telah ditebang dan diganti tanaman lainnya yang memiliki ekonomi tinggi,” ujarnya, tanpa merinci tanaman apa. Memang, sejak beberapa tahun lalu, pohon daluang tak ubahnya pohon kayu bakar. Tanaman itu nyaris dinilai tak ekonomis.

Realitas ini bertolak belakang dengan era tahun 1950-an. Ketika itu, pohon daluang menjadi ”pohon uang” bagi masyarakat. Pohon yang berkembang biak dengan akar rimpang atau bercabang-cabang banyak diburu orang. Padahal, dulu, alih-alih membiarkan tanaman dari kelompok Moraceae itu tumbuh besar, baru berumur enam bulan saja sudah ditawar orang. Tak heran, jika untuk mendapatkan pohon daluang, almarhum Marsudi, suami Suparti, harus pergi jauh ke luar daerah.

Saat itu, pohon daluang menjadi bahan baku utama perusahaan Kertas Gedog yang dikelola oleh keluarga Marsudi. Perusahaan kertas tradisional Nusantara ini diwarisi dari orangtua Marsudi, yakni suami istri Dahlan dan Siti Mutmainah.

Di masa kejayaannya, pada era sebelum tahun 1960-an, perusahaan ini mempekerjakan 10 pegawai. Produksinya mencapai ratusan lembar kertas halus per minggu. Kertas-kertas itu semua dibeli dan konon dibawa ke Belanda.

”Kabarnya, kertas daluang ini dipakai untuk bahan baku pembuatan uang di luar negeri. Sebab, kertas ini sangat ulet dan awet (tahan lama). Kertas ini juga tak mudah dirobek atau rusak hanya karena terkena air,” katanya.

Suparti menambahkan, kualitas kertas daluang yang tak diragukan membuat harganya tinggi. Orang Belanda menghargainya dengan menghitung per lembar kertas. Namun, dia sulit mengingat nilainya berapa karena waktu itu ada perbedaan mata uang.

Berbelit
Generasi terakhir Perusahaan Kertas Gedog Ponorogo itu menjelaskan tak mudah membuat kertas daluang. Sebab, prosesnya cukup berbelit sehingga memakan waktu dan menguras tenaga. Pertama, pohon daluang yang akan diproses harus dipilih dan dipilah. Idealnya, pohon yang masih muda, kira-kira usia enam bulan hingga setahun. Tujuannya, agar kulitnya empuk, tetapi kuat sehingga tak mudah robek. Yang dicari batang lurus dan tak bercabang.

Batang itu kemudian dipotong dan dikuliti. Kulit luar yang kasar dan berwarna coklat kehitaman di kerok hingga bersih. Setelah tinggal kulit berwarna putih, baru direndam sehari semalam agar empuk.

Berikutnya, kulit kayu ditiriskan dan dipukul-pukul dengan batangan tembaga yang beratnya sekitar 2,5-5 kilogram. Tujuannya, agar kulitnya halus dan mengeluarkan teksturnya. Setelah halus baru dikeringkan dengan melingkarkan pada batang pisang. Sambil menunggu kering, kulit kayu digosok-gosok daun nangka. Kulit kayu yang sudah kering, dengan sendirinya akan lepas dari batang pisang. Itulah kearifan lokal untuk mengukur kelembapan kertas.

Namun, proses pembuatan kertas daluang belum berhenti. Menurut Suparti, dua lembar kulit kayu yang kering dilekatkan jadi satu. Selain itu, bagian kulit yang cacat seperti bekas goresan atau bekas potongan ranting harus disulami agar rata.

Selanjutnya, kulit dipukul-pukul lagi menggunakan batangan tembaga hingga halus dan permukaannya rata. Proses terakhir menghaluskan kulit kayu hingga mengilap dengan cara menggosok-gosokkan kulit kerang laut di atas permukaannya.

Setelah jadi kertas dan mengilap, baru dirapikan tepiannya dengan diukur dan digunting. Ukuran kertas disesuaikan permintaan pemesan. Setelah Belanda meninggalkan Tanah Air, pesanan datang dari Pemerintah Jepang dan Indonesia.

Suparti

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan