-->

Peristiwa Toggle

Buku Pelajaran SD Dibagikan Tiap Tahun, Dipinjamkan untuk SMP dan SMA

JAKARTA — Penerapan Kurikulum 2013 untuk sekolah yang ditunjuk mulai tahun ajaran baru nanti dibarengi dengan penyediaan buku teks bagi siswa dan buku pegangan guru. Penyediaan buku ditanggung pemerintah pusat untuk sekolah-sekolah sasaran.

”Bagi sekolah yang berinisiatif menerapkan Kurikulum 2013 secara mandiri, pengadaan bukunya ditanggung pemerintah daerah, yayasan, atau sekolah,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh dalam Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 bagi Guru Sasaran SD, di Jakarta, Rabu (10/7), sebagaimana dikabarkan Harian Kompas 11 Juli 2013.

Nuh mengatakan, buku teks untuk siswa SD kelas I, II, dan III akan dibagikan gratis. ”Buku boleh dicoret-coret siswa karena dalam buku ini bukan berdasarkan isi, tetapi kegiatan. Tidak apa-apa kalau buku dibagikan setiap tahun untuk siswa SD kelas I, II, dan III,” kata Nuh.

Adapun untuk buku teks SMP dan SMA sifatnya dipinjamkan. Dengan demikian, buku teks tersebut tetap bisa dipergunakan untuk tahun ajaran berikutnya bagi siswa baru.

Nuh mengingatkan, buku teks siswa dan pegangan guru yang disiapkan pemerintah bersifat minimal. Untuk itu, guru boleh memperkaya sendiri bahan ajar, tetapi jangan membebani siswa dengan keharusan membeli buku-buku lain.

Belum Terima Buku
Para guru di DKI Jakarta dalam pelatihan tersebut mengaku belum menerima buku teks untuk siswa di sekolah. Terkait hal ini, Nuh mengatakan, pengiriman buku sedang dalam proses.

”Kami pastikan pada awal tahun ajaran baru mulai Senin, buku teks siswa sudah bisa dibagikan ke siswa secara gratis,” ujar Nuh.

Dalam pelatihan guru sasaran yang berlangsung 9-13 Juli di berbagai daerah, para guru mendapatkan buku pegangan guru dan buku teks siswa. Guru yang akan menerapkan Kurikulum 2013 mendapatkan pelatihan untuk dapat mengubah metode pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum baru, yang menekankan pada tiga aspek, yakni pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Pada pelatihan guru SD di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan DKI Jakarta, kegiatan diikuti sekitar 400 guru sasaran. Pelatihan Rabu kemarin dilaksanakan dengan metode ceramah dari pejabat dan guru inti tampak tidak efektif. Selain itu, para guru pun tidak disiplin saat menghadiri pergantian materi dengan hadir terlambat.

Rohim, guru SD di Cengkareng Timur, mengatakan masih bingung dengan cara mengajar tematik integratif untuk siswa SD seperti disyaratkan dalam Kurikulum 2013. ”Namun, katanya akan diajarkan dalam pelatihan ini,” kata Rohim.

Sudirman, salah seorang pelatih guru, mengatakan, para guru juga diberikan pemahaman untuk dapat mengembangkan penilaian yang tidak hanya berdasar pada tes atau ujian. Umumnya guru mengandalkan penilaian dari hasil tes siswa dan mengabaikan proses karena lebih mudah mengukurnya. Padahal, penilaian lewat tes lebih mengukur kemampuan kognitif siswa.

”Guru perlu paradigma baru untuk bergeser dari penilaian konvensional yang mengandalkan tes atau ujian,” kata Sudirman.

Dengan perubahan kurikulum, guru harus mampu mengembangkan penilaian otentik yang mengandung penilaian kinerja, tes, proyek, dan portofolio.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan