-->

Peristiwa Toggle

Fadli Zon Luncurkan Buku “Politik Huru Hara Mei 1998”

JAKARTA — Memperingati 15 tahun reformasi, Fadli Zon melaunching kembali bukunya “Politik Huru Hara Mei 1998”. Fadli memiliki tujuan sendiri di balik peluncuran bukunya ini. “Supaya kita tahu apa cita-cita reformasi, di samping juga banyak orang, apalagi generasi muda yang sudah mulai tidak tahu apa yang terjadi pada. 1998,” ujar Fadli ketika ditemui dalam peluncuran bukunya di Aula Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (21/5) sore.

Buku ini, sebagaimana diwartakan di situs daring metrotvnews.com 21 Mei 2013, menceritakan latar belakang bagaimana terjadinya peristiwa Mei ’98. Mulai dari krisis moneter yang terjadi sebagai dampak dari penularan dari Thailand hingga krisis ekonomi akibat datangnya IMF ke Indonesia.

“Dari krisis moneter terjadi depresiasi Rupiah di mana Rupiah mencapai kondisi yang sangat gawat. Kemudian pemerintah Indonesia mengundang IMF. Dan ternyata IMF bukan memberi obat malah memberi racun, sehingga krisis makin parah. Dari krisis moneter menjadi krisis ekonomi,” jelas Fadli.

Bahkan, menurut Fadli, kebijakan yang dipatok oleh IMF kebanyakan kebijakan neolib yang membuat rakyat makin sengsara yang saat itu menaikkan BBM. Inilah yang kemudian mulai menimbulkan kerusuhan-kerusuhan.

“Kerusuhan pertama sebenarnya bukan di Jakarta, tapi di Medan, Solo, Jogja pada 4,5,6,7 Mei ’98. Di Jakarta itu kerusuhan karena ada penembakan trisakti dan trigger penembakan mahasiswa itulah yang menciptakan kerusuhan pada 13 dan 14 Mei,” jelas Fadli.

Terkait Mei ’98, mencuat pula kasus penembakan mahasiswa. Fadli mengaku tak banyak yang tahu bahwa penembak adalah oknum polisi. Fakta yang berkembang di masyarakat sang penembak adalah penembak misterius atau sniper.

“Yang menembak mahasiswa trisakti itu adalah polisi. Dan mereka juga sudah disidangkan pada 1999 dan telah dihukum,” tambah Fadli.

Dalam huru hara tersebut, menurut Fadli tentu ada muatan politik. Huru-hara ini mengarah pada satu ending mundurnya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1198, tepat 15 tahun lalu.

“Itu yang ingin saya potret, bagaimana sampai terjadi tragedi ’98, untuk memperkaya dan mengevaluasi apakah reformasi yang sekarang ini sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Kemudian juga siapa sesungguhnya yang harus bertanggung jawab dalam peristiwa ’98,” tegasnya.

Pada dasarnya Fadli mengaku ingin agar distorsi sejarah tidak lahi terjadi. “Dengan terbitnya buku ini kita harapkan bisa menjadi satu perspektif lain dari pengamatan terhadap peristiwa Mei 98 itu,” tutup Fadli.

Diterjemahkan dalam Bahasa Inggris

Buku Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon  ini juga dibuat versi bahasa Inggris dengan judul’The Politics of The May 1998 Riots’. Fadli ternyata ingin pemahaman mengenai peristiwa 1998 ini sampai kepada audiens internasional.

“Kita harapkan audiens internasional juga bisa membaca apa yang sesungguhnya terjadi. Karena banyak pengamat asing yang juga sebetulnya mempelajari itu hanya dari sumber kedua atau bahkan ketiga,” jelas Fadli. Ia berharap dengan terbitnya buku ini distorsi sejarah tidak terjadi lagi. Fadli juga mengaku belum semua yang dia ketahui telah ditulis dalam buku itu. Ia mengatakan, dua atau tiga tahun mendatang baru akan ia tulis kembali.

“Menunggu situasi politik selesai. Ini kan masih banyak orang-orang yang dalam kontekstasi politik. Saya tidak ingin sejarah itu menjadi alat kepentingan politk. Nanti mungkin ketika orang-orangnya sudah tidak terlalu ada dalam politik ya baru dibuat,” tutup Fadli yang pernah menjadi pengurus pusat Gerakan Pemuda Islam periode 1996-1999. Demikian dikabarkan situs daring  metrotvnews.com, 21 Mei 2013.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan