-->

Peristiwa Toggle

Renovasi Radya Pustaka Dijamin Bebas Sengketa

SOLO – Pemkot Solo memastikan renovasi Museum Radya Pustaka tak menyentuh bangunan di lahan sengketa. Prinsip kehati-hatian dipegang Pemkot dalam mengembangkan kawasan cagar budaya tersebut. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Solo, Widdi Srihanto, saat ditemui wartawan di Balaikota, Kamis (28/3/2013).

“Renovasi tidak mengekspansi lahan sekitarnya. Kami tidak ingin memicu konflik baru,” tegas Widdi Srihanto, sebagaimana dikutip solopos.com (28/03/2013).

Sebagaimana diketahui, Radya Pustaka termasuk salah satu bangunan di kawasan Sriwedari yang disengketakan antara Pemkot dengan ahli waris Wiryodiningrat. Hingga kini, keputusan sengketa lahan di pengadilan belum juga incraht. Namun demikian, Widdi optimistis renovasi musem berjalan lancar. Selain izin renovasi, pihaknya menggandeng Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) sebagai modal untuk melangkah.

“Renovasi akan mengembalikan bentuk museum di masa lalu. Renovasi juga akan menata ruang pameran agar tidak semrawut seperti sekarang,” jelasnya.

Menurut Widdi, tim merekomendasikan renovasi menyeluruh pada bangunan berusia 122 tahun tersebut. Artinya, perbaikan akan menyasar bangunan di belakang museum yang hampir roboh. Renovasi, imbuhnya, juga bakal menyentuh pembuatan taman di depan museum.

Disinggung adakah komunikasi dengan ahli waris ihwal renovasi, Widdi menggeleng. “Kami rasa tidak perlu menginformasikan ke ahli waris. Kami tidak bersinggungan dengan lahan sengketa.”

Lebih jauh, Widdi mengungkapkan penataan akan menempatkan benda pusaka terpisah dengan benda purbakala. Sementara kondisi 300-an literatur kuno, imbuhnya, akan diawetkan melalui metode dokumentasi terstandar. Pihaknya mengaku sudah dijamin dana renovasi sebesar Rp3 miliar dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Dana itu kemungkinan turun pekan kedua April. Nanti DED (detail engineering design) yang garap Dinas Tata Ruang, sedangkan kami pengguna anggaran fisik,” urainya.

Sekretaris Museum Radya Pustaka, Djaka Darjata, berharap renovasi bangunan bisa memicu peningkatan kunjungan. Ia mengakui kondisi museum selama ini berpengaruh terhadap sepinya pengunjung. Berdasarkan penjualan tiket, Djaka menyebut jumlah kunjungan wisatawan domestik tak lebih dari 20 orang per hari. “Tingkat kunjungan itu belum mampu menopang pengelolaan museum secara mandiri,” pungkasnya.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan