-->

Esai Toggle

Geger Riayanto | Matinya Sang Kritikus

Untuk pertama kalinya semenjak saya bersentuhan dengan dunia literer Indonesia, idiom kritikus menjadi perhatian luas. Namun sebagai seseorang yang menginginkan yang terbaik bagi pekerjaan—yang kerap dilakoni para pelakunya hanya dengan motif kecintaannya—ini, saya tak merasakan apa-apa kecuali kecewa. Kecewa yang berat.

Penulis tersohor yang melambungkan idiom kritikus itu, pertama, tak paham apa itu kritikus. Hanya lantaran ada seorang pekerja perbukuan tergelitik dengan klaim-klaim hiperbolik si penulis beserta penerbitnya, lantas hendak menjernihkannya dengan data-data yang solid, ia kontan menuduhnya tidak kompeten. Memang, tidak secara implisit si penulis mengatakan demikian. Ia mengambil jalan memutar jauh dengan mengatakan, “Indonesia membutuhkan kritikus yang benar-benar memiliki kompetensi.” Kita tidak tahu apa niat si penulis mengutarakan itu. Tapi ia tak bisa lepas tangan apabila banyak yang mengartikan kata-katanya, “Indonesia tidak memiliki kritikus yang kompeten.”

Kedua, tak lama setelah pernyataan pertamanya yang menohok perasaan mereka yang menggiati kritik, si penulis menyatakan akan memperkarakan sang pengkritik. Dengan nalar hukum yang sehat, tindakan ini dapat dengan mudah dikategorikan sebagai kesewenang-wenangan terhadap konsumen. Damar Juniarto, sang pengkritik, apa pun motivasinya, telah membantu pembaca Indonesia memperoleh fakta produk yang dikonsumsinya, yang selama ini ditabiri klaim fenomenal yang terkadang nyaris tak wajar.
Namun apa yang paling tidak menyenangkan dari tindakan si penulis bukanlah bagaimana ia mengancam hak konsumen buku, melainkan bahwa segala tindak-tanduknya ini dan tanggapan para pembacanya adalah isyarat yang telanjang sudah beralihnya otoritas atas karya ke tangan industri. Dan ini buruk.

Karya Kontekstual?
Mengikuti kontroversi tersebut, sejauh yang saya lihat tak sedikit yang membela AH. Jumlahnya setidaknya berimbang dengan yang tidak bersimpati dengannya. Bisa dipastikan di luar sana, di luar lingkungan saya yang sebagian memang orang-orang yang tersinggung oleh AH, jauh lebih banyak lagi yang membela AH—betapapun penulis yang satu ini, mengutip data-data Damar, memberikan informasi yang tak bisa dipertanggungjawabkan kepada mereka.

Lucu. Yang terjadi adalah bermunculannya pendikotomian karya orang banyak, yang jauh lebih mudah dimengerti, dan karya tinggi, selera para kritikus. Yang pertama lekat dengan konotasi menggugah, inspiratif, serta memberi semangat hidup, sementara yang kedua rumit, memusingkan, dan tidak dapat ditembus oleh pembaca kebanyakan. Karya AH, yang dicitrakan ditulis oleh seseorang yang berhasil menembus keterbatasan untuk meraih mimpinya, dianggap sebagai contoh sempurna model karya pertama.

Diserang oleh kritikus, bagi para pembaca AH, bukan berarti karya penulis idolanya itu cacat. Hal itu, sebaliknya, dikarenakan para kritikus terlalu mengagung-agungkan permainan kata-kata. Mereka adalah para bangsawan sintaksis yang mengabaikan inspirasi dan nilai-nilai positif yang didatangkan tuturan sederhana dan lugas AH bagi para pembaca kecil. Mereka, para pembaca AH membenarkan, gagal menjadi kritikus yang kompeten untuk rakyat banyak.

Ah, apa yang bisa dikatakan dari pendapat semacam ini selain ia tersasar jauh dari duduk persoalannya? Dalam menggugat klaim pribadi bahwa karya AH adalah karya sastra Indonesia pertama yang mendunia, Damar tak menghakimi karya si penulis sendiri. Bahkan tidak satu kalimat pun dari karya AH diulas. Damar sebatas memaparkan informasi yang diperolehnya dari investigasi seadanya ke penerbit di luar serta pengetahuan tentang kesusasteraan Indonesia yang nyaris umum (dan tidak diketahui AH).

Dan lagi, kalau mau ditelisik dari karya itu sendiri, pandangan semacam ini adalah apologi yang tak berdasar. Kalau tulisan AH dianggap lebih kontekstual untuk pembaca Indonesia yang membutuhkan paparan bersahaja, jangan lupa karya-karyanya bukan hanya bertaburan jargon saintisme yang sulit ditembus. Karya-karya AH terganjal alur yang kerap tidak jelas mau bergerak ke mana selain asyik sendiri berakrobat kata-kata, menggambarkan situasi dan pengalamannya. Belum lagi aspek lainnya seperti penokohan yang tidak realistis, dimensi waktu yang melompat-lompat tanpa petunjuk sedikit pun, serta banyak hal lainnya yang mengganjal pembacaan.

Benar bahwa dunia kepenulisan tak pernah lepas dari perdebatan di antara karya tinggi dan karya yang kontekstual. Sejarah sastra Indonesia sendiri mencatat pernah berlangsungnya polemik sastra kontekstual, yang bermula dari esai Arief Budiman bahwa sebuah karya mesti berpijak di atas situasi sosial pembacanya. Namun problem-problem intrinsik karya AH adalah tabu bagi pengarang dari kubu mana pun. Kekeliruan elementer semacam itu hanya akan mengorbankan kejernihan prosa sang pengarang.

Untuk perbandingan, silakan jajarkan karya AH dengan Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf yang sama-sama menggunakan sudut pandang anak-anak. Atau untuk perbandingan dengan sesama nonfiksi, silakan dengan karya-karya jurnalisme sastrawi Linda Christanty. Bacalah keduanya halaman per halaman sebelum mendeklarasikan yang pertama lebih mudah dipahami dan lebih menyentuh daripada yang setelahnya.

Jadi dalam berapologi untuk AH, jangan tersasar ke argumen bahwa karyanya adalah sastra kontekstual atau semacamnya. Kita punya berbagai karya luar biasa yang puncak keindahannya adalah kesederhanaannya.

Distribusi adalah Segalanya
Persoalannya, memang, sebagian besar karya yang mendatangkan apresiasi kritikus tersebut tidak sampai ke tangan pembaca lantaran hal-hal di luar kualitas karya-karya itu sendiri. Seberapa sempat kita di tengah-tengah kesibukan kita melongok satu-persatu rak buku dan memilahnya halaman per halaman? Apakah karya-karya orang banyak yang “sederhana dan kontekstual” itu tiba di tangan kita karena kita mencarinya sendiri ataukah karena ia terpajang di posisi-posisi strategis di toko buku?

Dan memang, bila berbicara dari sudut pandang pelaku industri buku, ketersampaian karya jauh lebih penting bahkan dibandingkan penulisan itu sendiri. Adalah hal yang lazim saat ini, penerbit rela menginvestasikan sumber daya yang jauh lebih besar dari royalti pengarang untuk armada promosi yang akan mencegat pembaca dengan produknya sebelum ia sempat menyeka rak sudut-sudut dalam toko buku.

Sementara orang-orang yang disebut AH kritikus itu, pada dasarnya, bukanlah mereka yang ada di awan-awan dan mendikte kanon karya. Kritikus, yang saya kenal, adalah para sobat yang mau menghabiskan waktunya untuk menjelajahi rimbunan buku yang dijaga armada pemasaran penerbit besar untuk memilah mana karya yang benar-benar pantas dibaca dan mana yang tidak. Kendati penilaiannya tak lepas dari subjektivitas, para sobat ini siap mempertanggungjawabkannya dengan argumen-argumen akan pentingnya sebuah karya.

Namun peristiwa terakhir yang memalukan dunia kepengarangan itu menunjukkan, otoritas bersuara di ruang publik sudah direnggut habis-habisan oleh pemodal. Bukan soal lagi apa yang kita katakan, namun seberapa terkenal yang mengatakannya dan siapa yang ada di belakangnya. Selamat datang di industri buku Indonesia abad ke-21. Satu pesan yang mungkin sia-sia: jangan menjadi ideolog-ideolog naif karya laris.

Geger Riyanto, Pegiat Perbukuan. Tinggal di Jakarta

* Dimuat di Koran Tempo, 1 Maret 2013. Dikirimkan penulisnya kepada admin IBOEKOE/Radio Buku.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan