-->

Peristiwa Toggle

Hari Lahir Abdoel Moeis 3 Juli Jadi Hari Sastra Indonsia

BUKITTINGGI — Hari kelahiran sastrawan Abdoel Moeis pada 3 Juli 1883 ditetapkan sebagai Hari Sastra Indonesia (HSI). Penetapan tanggal tersebut dilakukan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti saat acara Maklumat Hari Sastra Indonesia di Gedung SMA 2 Bukittinggi, Sumatra Barat.

“Abdoel Moeis dinilai paling aktif dalam pergerakan nasional di zaman penjajahan Belanda,” kata Taufiq Ismail, sastrawan senior Indonesia di Bukittinggi, Ahad (24/3), sebagaimana diwartakan situs daring republika.co.id 24 Maret 2013.

Taufiq juga menyampaikan Abdoel Moeis memiliki banyak karya yang fenomenal  seperti novel Salah Asuhan (1928), Pertemuan Jodoh (1933), Surapati (1950) dan sejumlah terjemahan novel sastra dunia.

Abdoel Moeis yang lahir di Bukittinggi pada 3 Juli 1883 dipilih sebagai hari sastra Indonesia karena dia juga merupakan Pahlawan Kemerdekaan Nasional pertama dianugerahi Presiden Soekarno pada 30 Agustus 1959.

“Pada awalnya kami mencari naskah sastrawan terkemuka yang diterima Balai Pustaka. Tapi tidak berhasil menemukan tanggal terbitan pertama Balai Pustaka sehingga akhirnya panitia kecil menetapkan tanggal lahir Abdoel Moeis sebagai HSI,” ujar Taufiq.

Jasa Sastrawan

Penggagas Hari Sastra Taufik Ismail mengatakan penetapan itu diantaranya dimaksudkan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap karya sastra Indonesia.  Selain itu untuk memupuk silaturahmi dan kreativitas antarsastrawan.

“Hingga saat ini belum ada hari sastra Indonesia untuk mengenang karya dan jasa sastrawan,” kata Taufik Ismail saat memberikan sambutan acara Maklumat Sastra Indonesia di SMA 2 Bukittinggi, Sumatera Barat.

Taufik mengatakan tanggal 3 Juli dipilih sebagai Hari Sastra Indonesia mengacu pada hari lahir sastrawan besar Abdul Muis. Sastrawan yg lahir 3 Juli 1883 di Bukittinggi itu adalah penulis novel Salah Asuhan (1928) dan Pertemuan Jodoh (1933). Abdul Moeis adalah juga Pahlawan Kemerdekaan yang pertama.

Menurut Irman, kesusastraan bisa menjadi salah satu pilar penting dalam membangun karakter bangsa. Juga dapat menjadi unsur yang menentukan dalam pendidikan karakter bagi generasi muda Indonesia  agar dapat tumbuh dengan jati diri dan nilai-nilai keindonesiaan kita sendiri.

“Ke depan kita sangat mengharapkan pemerintah melalui Kementrian Pendidikan  dan Kebudayaan agar dapat memasukkan pelajaran kesusastraan dan apresiasi sastra sebagai bagian wajib dari kurikulum pendidikan di sekolah2. Bukan pelajaran sambil lalu atau sekedar bagian saja dari pelajaran Bahasa Indonesia seperti yang terjadi selama ini.”

Acara Maklumat Hari Sastra Indonesia dihadiri sejumlah sastrawan dan tokoh-tokoh daerah dan nasional. Tempat penyelenggaraan SMA 2 sudah berdiri sejak 1873 dan pernah menjadi gudang lahirnya sastrawan nasional.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan