-->

Peristiwa Toggle

Visualisasi Kata-kata Erotis di Cerpen “Kinky Rain”

JAKARTA — Saat seorang fotografer menulis sastra, mungkin hasilnya adalah karya yang unik. Itulah yang tercipta pada buku berjudul “Kinky Rain”, yang ditulis fotografer Adimodel. “Kinky Rain” adalah kumpulan sepuluh cerita pendek, yang dikemas dalam kisah-kisah bertemakan realis dan surealis. Sepuluh cerpen ini tersaji dalam tutur bahasa yang indah, puitis, diksi yang pendek, namun penuh filosofi.

Bagi para penggila buku bacaan, tiap cerita dalam kumpulan cerpen ini tampaknya mampu membawa pembacanya berimajinasi ke alam fantasi yang erotis. Sesuai dengan judulnya “Kinky Rain”, cerita-cerita garapan Adi begitu nakal dan menggoda pembaca untuk ikut berfantasi.

“Saya suka hal-hal berbau erotik, saya suka memfoto sesuatu yang seksi di mata saya. Tapi bukan karena saya gila seks. Tapi menurut saya erotik itu indah,” jelas Adimodel pada peluncuran “Kinky Rain”, sebagaimana dikabarkan situs daring antaranews.com, 31 Januari 2013.

“Kinky Rain” adalah salah satu judul cerpen dari kumpulan sepuluh cerpen sastra fantasi ini. Sebagian besar cerita buku ini berkisah tentang perempuan; yang disiksa, yang orgasme, bahkan yang bunuh diri.

“Kenapa objeknya perempuan, karena perempuan adalah bagian yang indah secara keseluruhan,” tutur Adi.

Sensibilitas visual Tutur bahasa yang cakap itu tentu dibantu dengan sensibilitas visual. Tiap cerita dideskripsikan dengan nyata, seolah-olah pembacanya sedang melihat foto. “Entah kenapa, tapi mungkin karena Adi adalah seorang fotografer, secara tidak sadar dia membangun estetika pada cerita-ceritanya. Ada gambaran visual yg membuat kita seperti melihat foto,” ujar budayawan Agus Noor.

Kecakapan Adi dalam bertutur, bagi Agus seperti membuat pencitraan secara visual. Begitu kuatnya pencitraan, hingga sejarah tiap karakter tidak terasa penting. Karena tiap karakter pada cerita-cerita dalam “Kinky Rain” tidak pernah diungkapkan latar belakang sejarahnya. “Tidak dijelaskan siapa karakter itu, bagaimana latar belakangnya, sejarah yang diabaikan,” kata Agus.

Karena cerita-cerita di “Kinky Rain” sangat deskriptif, imajinasi pembaca akan terus diajak untuk bermain-main, apalagi saat sensibilitas seksual terasa dalam tiap cerpen. “Saya memang tidak menjelaskan siapa dia (tokoh cerita), umurnya berapa, bagaimana bentuk tubuhnya, itu saya biarkan pembaca yang menginterpretasikan,” kata Adimodel.

Agus pun menambahkan bahwa semua unsur visual seperti muncul dari trick effect yang mensiasati tulisan dengan memberikan kejutan. “Dengan bahasa, dia (Adi) membuat bekas dalam pikiran pembaca,” Agus.

Adi tidak hanya memanjakan pikiran pembaca lewat imajinasi. Dalam buku ini Adi juga memamerkan talentanya di bidang fotografi dan seni lukis. Dia menyelipkan aneka foto dan sketsa-sketsa untuk memberikan kesan kelam pada tiap cerita. Manusia modern Hidup di kalangan manusia modern, tampaknya mempengaruhi cerita pendek garapan Adi.

Sang penulis seperti ingin merefleksikan kehidupan manusia modern. “Semua cerita berbau sementara, alienasi, sendirian. Para manusia modern bertemu, tukeran pin BlackBerry, berkomunikasi sesaat, lalu terlupakan,” jelas Agus.

Cerita-cerita yang disajikan juga memiliki sisi gelap tiap tokoh di dalamnya. Seolah-olah mereka adalah manusia modern yang kesepian. Rasa kesepian dan sisi gelap sangat terasa pada cerpen berjudul “1441”, bercerita tentang kegalauan seorang perempuan yang memutuskan untuk bunuh diri dari gedung berlantai 1441. Ya, sebuah gedung dengan ribuan lantai.

Tampak surealis, namun Adi menunjukkan sisi modern dari pembangunan yaitu satu gedung pencakar langit, yang menampilkan lampu-lampu di malam hari. “Cara membaca buku ini yg terbaik adalah dengan membiarkan diri kita masuk ke dalam citra visual, sehingga kita seperti melihat foto, itulah indahnya. Tapi kalau cenderung ingin mendapatkan cerita, ini tentu akan membuat makna ganda,” saran Agus.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan