-->

Kronik Toggle

Uang Penghargaan Belum Diterima Seniman

Uang penghargaan yang dijanjikan pemerintah kepada 93 seniman, buda-yawan, dan maestro seni tradisi belum diterima seniman hingga Jumat (4/1). Padahal, acara pemberian penghargaan Rp 25 juta-Rp 50 juta bagi setiap seniman dilakukan November 2012.

Dalam acara yang berlangsung semarak di Balai Sarbini, Jakarta, saat itu, seniman juga dijanjikan akan mendapat pin emas.

”Saya pernah ditelepon staf Kemdikbud yang menanyakan nomor rekening bank saya. Tetapi, setelah saya cek, sampai sekarang uang yang dijanjikan belum cair,” kata Mona Lohanda (60), sejarawan dan peneliti utama di Arsip Nasional yang masuk dalam daftar penerima Anugerah Kebudayaan kategori Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya 2012.

Mona yang memasuki pensiun sejak 1 Desember mendapat uang penghargaan Rp 50 juta dan pin emas. Saat masih aktif sebagai pegawai negeri sipil, peneliti utama dengan pangkat/golongan IV E seperti dirinya setiap bulan menerima gaji pokok Rp 3,5 juta, tunjangan peneliti utama Rp 1,5 juta, serta uang lainnya sehingga menerima sekitar Rp 6 juta sebulan. Padahal, kompetensi yang dimiliki Mona di bidang penelitian dan kearsipan jarang ada di Indonesia. Mona, misalnya, meneliti arsip-arsip peninggalan Vereenigde Oost-indische Compagnie (Perserikatan Perusahaan Hindia Timur atau Perusahaan Hindia Timur Belanda) hingga bertahun-tahun lamanya.

”Nasib seniman yang bukan pegawai negeri sipil bisa jadi lebih memprihatinkan,” katanya.

Tiga kategori

Pada acara saat itu, pemerintah memberikan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma, Satyalancana Kebudayaan untuk 2011 dan 2012, serta Anugerah Kebudayaan. Anugerah kebudayaan ini untuk tiga kategori, yaitu kategori seni, pelestari dan pengembang warisan budaya, serta kategori anak/pelajar/remaja yang berdedikasi terhadap kebudayaan.

Sebelumnya, santunan terhadap maestro seni tradisi juga sempat terkatung-katung.

Sastrawan dan budayawan Danarto (72) yang juga menerima Satyalancana Kebudayaan mengatakan, para penerima penghargaan yang sebagian besar sudah lanjut usia itu malah harus keluar ongkos untuk datang ke acara tersebut. Danarto juga belum menerima uang Rp 25 juta dan pin emas yang dijanjikan.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbud Kacung Marijan mengatakan, memang ada masalah administratif sehingga dana belum cair. ”Namun, persoalan itu sudah dibereskan minggu ini,” kata Kacung.

I Wayan Sira, anak dalang dan tari arja I Made Sija, penerima penghargaan maestro, mengatakan, pihak pengundang acara menjanjikan uang itu akan segera dicairkan. (IND/ROW)

*) Kompas, 5 Januari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan