-->

Esai Toggle

Petrus Suryadi Sutrisno | Mencermati Tamatnya Edisi Cetak Majalah Newsweek

Majalah Berita Mingguan “Newsweek” yang terbit dalam dua belas bahasa di New York, AS dan beredar jutaan eksemplar di seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia 31 Desember 2012 muncul dengan judul sampul “Last Print Issue” dan tidak akan pernah muncul lagi setelah berusia 80 tahun.

“Ajal” tamatnya majalah “Newsweek” ini diumumkan sendiri oleh Pemimpin Redaksi “Newsweek”, Tina Brown  yang juga Pemimpin Redaksi “The Daily Beast” dan sudah diindikasikan pada 18 Oktober 2012 yang lalu.

“Newsweek”  mengalami krisis sejak  tahun 2007-2009 ketika mengalami masalah  internal manajemen dan seputar kepemilikan, berlanjut tahun 2010 dengan adanya penurunan penerimaan perusahaan sebesar 38%. Pemilik dan penerbit majalah ini,   “The Washington Post Company”  mengambil langkah untuk menjual “Newsweek” kepada tokoh kawakan media audio Sidney Harman pada Agustus 2010. “Newsweeks” mengalami pergantian kepemilikan, November 2010.  Pemilik baru  “Newsweek”  menggabungkan “Newsweek” dengan media online “The Daily Beast” News-Opinion Website dan muncul perusahaan baru bernama  “Newsweek Daily Beast Company”.

Tina Brown sendiri menulis kolom “Catatan untuk Para Pelanggan” di halaman 6 edisi “Last Print Issues” “Newsweek” yang menginformasikan bahwa edisi cetak  “Newsweek” mulai beralih bentuk digital pada Januari 2013.  Pelanggan akan memperoleh Newsweek dalam bentuk digital. Penerbit Newsweek akan mengirim Newsweek Digital setiap kali terbit pada semua pelanggan yang alamat emailnya sudah terdaftar.  Pelanggan Newsweek yang juga pelangggan iTunes, Zinio, Gogle, Kindle atau Nook otomatis langsung dapat membaca Newsweek Digital.

Dengan edisi “Last Print Issue”  31 Desember 2012,  “Newsweek” sudah tamat. Peralihan  bentuk media dari media cetak ke media digital atau media online Newsweek ini memiliki beberapa  permasalahan seperti adanya perubahan pemilik Newsweek. Dan perubahan kepemilikan ini juga sarat dengan latar belakang yang pelik di mana perubahan dan pergantian pemilik akan membawa perubahan manajemen media, berlanjut dengan perlunya kebijakan media baru, dan itu juga berarti menuntut kebijakan baru redaksi Newsweek.

Perubahan pemilik “Newsweek dari “The Washington Post Company” menjadi “The Newsweek Daily Beast Company”  berdampak terhadap keredaksian dan juga produk jurnalistiknya di samping juga penentuan pilihan karakter media. Tidak mudah untuk menyatukan karakter media cetak dan karakter media online yang satu sama lain berbeda.

Nampaknya, akusisi  “Newsweek” oleh kelompok “The Daily Beast Company” belum berlanjut dengan berakhirnya  krisis lama warisan “The Washington Post Company” seperti kemelut  internal-eksternal dan penurunan penerimaan korporasi 38% ditambah  persaingan Newsweek dengan majalah Time.

Tamatnya edisi cetak “Newsweek” ini dari satu sisi manajemen industri media menunjukkan bagaimana keberhasilan  “The Washington Post Company” melakukan “Tindakan Penyelamatan” dan mungkin memperoleh  “profit” setelah proses pengalihan kepemilikan selesai.

Publik pembaca dan pelanggan Newsweek perlu melakukan pengamatan apakah warisan krisis Newsweek era pemilik lama masih berlanjut menjadi  krisis milik “The Daily Beast Company”.  Pemilik baru tidak dapat menghindari krisis warisan pemilik lama. Perubahan karakter Newsweek dari cetak menjadi “online” dapat dianggap sebagai pengakhiran karakter media cetak bahkan mungkin “bencana”  yang menamatkan majalah cetak Newsweek yang sudah berusia 80 tahun dan terbit pertama sejak tahun 1933 di AS.

Manajemen korporasi media nampaknya mengutamakan pendekatan manajemen “cash flow” sebagai langkah awal menangani krisis majalah Newsweek. Tindakan me “digitalkan” Newsweek edisi cetak ini diharapkan dapat menjadi solusi krisis finansial dari “The Newsweek Daily Beast Company” untuk mengurangi beban biaya cetak dan biaya operasional penyebaran Newsweek edisi cetak.

Perkembangan teknologi industri komunikasi media massa dengan hadirnya media digital dalam kasus tamatnya edisi cetak Newsweek  ini tidak bisa dianggap satu-satunya penyebab adanya  tuntutan perubahan tehnologi komunikasi media massa bagi Newsweek. Fakta menunjukkan krisis telah bercampur dengan berbagai krisis lain yang dihadapi  dan belum terselesaikan oleh manajemen dan pemilik Newsweek. Perubahan karakter media cetak menjadi media digital tidak serta merta menghadirkan solusi krisis tetapi bisa menimbulkan krisis baru seperti transisi dari perubahan karakter cetak ke digital yang dalam referensi manajemen media bisa disebut sebagai “media shock” (Suryadi, 2011) atau “chilling effects” (Bagdikian, 1997).


*) Penulis adalah wartawan senior dan Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Informasi, Pengajar Utama dan Penguji Kompetensi Wartawan Lembaga Pers Dr. Soetomo serta Konsultan Senior Komunikasi Media/Kehumasan.

**) Okezone, 9 januari 2013

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan