-->

Komunitas Toggle

Koran Sekolah SMA Seminari Mertoyudan | “Koran Jendela” | Magelang

Apa yang kalian ketahui tentang jendela? Mungkin pikiran kita langsung merujuk pada jendela yang terpasang di dinding. Atau kita masuk pada kiasan seperti jendela hati dan jendela dunia. Namun, jendela yang satu ini berbentuk koran. “Koran Jendela” tidak dipasang di jendela, tetapi inilah surat kabar sekolah yang menjadi salah satu ekstrakurikuler siswa SMA Seminari Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah.

Tahun 2005, koran ini dibuat oleh para seminaris sebagai sarana mengembangkan kemampuan dalam bidang jurnalistik. ”Awalnya sulit sekali mencari orang yang mau masuk Jendela. Temanteman lebih memilih mading (majalah dinding) atau majalah sekolah daripada koran Jendela,” ujar Thomas Irwan, alumnus SMA Seminari sekaligus perintis Jendela.

Kata ”jendela” mengungkapkan hakikat dari koran sebagai penghubung dua ruang yang terpisah. Ruang pertama adalah peristiwa masa lalu sebagai berita. Ruang lainnya adalah masa kini, saat orang membaca. Itulah spiritualitas kami sebagai penyaji informasi.

Seperti koran pada umumnya, “Koran Jendela” memuat berita aktual, opini, cerita pendek, karya seni, serta penelitian dan pengembangan. Berita diambil dari peristiwa dan kegiatan yang diadakan di seminari. Semuanya dibuat para seminaris yang tergabung dalam redaksi koran Jendela. Mereka disebut jende’lers.

Anggota “Koran Jendela” adalah para seminaris mulai kelas X sampai XI. Keanggotaan redaksi dibuat layaknya redaksi harian seperti pemimpin umum, pemimpin redaksi, reporter, editor, tata letak, penelitian dan pengembangan, pemasaran, serta administrator. Untuk mengontrol redaksional koran, ada moderator yang menjadi pembimbing.

Anggota redaksi dipilih lewat seleksi ketat. Meski dipilih dari proses seleksi, jende’lers memulai segalanya dari nol. Modal kami hanya kemauan belajar. Kami saling memberi masukan dan mengajari adik kelas yang baru menjadi redaksi.

Itulah tradisi turun-temurun dalam koran kami hingga kini.

Berbagai kesulitan pernah dihadapi awak redaksi, seperti gagal cetak, rugi uang ratusan ribu, sampai waktu yang terbatas. Namun, semua hambatan itu tak membuat kami putus asa.

Dengan mengelola koran sendiri, membuat kami mandiri. ”Di Jendela, saya yang awalnya enggak tahu apa-apa tentang jurnalistik, jadi lumayan bisa. Saya jadi mandiri, bisa berkarya sekaligus mengerjakan tugas sekolah,” ucap Eusebius Angling, reporter “Koran Jendela”.

Proses pembuatan

Sebelum terbit, kami mengadakan rapat pada awal atau akhir bulan. Di sini kami membahas berita apa saja yang ingin ditampilkan. Proses pembuatan berita kami awali dengan pemilihan tema yang berbeda setiap bulan. Kami memilih tema berdasarkan kegiatan di seminari atau yang aktual. Misalnya, pada edisi Agustus, kami memilih tema yang berhubungan dengan kemerdekaan.

Setelah tema terpilih, kami membagi tugas untuk mencari berita. Tugas itu diberikan kepada reporter, tetapi tak menutup kemungkinan bagi divisi lain membantu. Dalam membuat koran, peran reporter sebagai penggali berita amat penting. Setelah reporter mengumpulkan bahan berita, teks berita tersebut diserahkan lalu diedit tim editor.

Tim tata letak bertugas menata artikel-artikel yang telah diedit di koran. Itu termasuk hasil lpenelitian tim litbang, cerpen, dan lain-lain. Setelah tata letak koran selesai dan dikoreksi oleh moderator, koran siap dicetak.

Pemimpin Redaksi “Koran Jendela”, Antonius Arfin Samosir, mengatakan, saat bekerja di lapangan, redaksi mesti fleksibel. Pekerjaan di lapangan dilakukan bergantian antardivisi mengingat padatnya kegiatan anggota redaksi di asrama.

”Kami fleksibel dalam bekerja. Jika sedang sibuk dengan tugas sekolah dan asrama, kami tak memaksakan diri untuk membuat koran. Tetapi jika ada waktu senggang, kami langsung ngebut mengerjakan,” katanya.

“Koran Jendela” dijadwalkan terbit sebulan sekali, tetapi dalam kondisi tertentu koran bisa terbit dua bulan sekali. Sekali terbit koran Jendela beroplah 200-300 eksemplar. Sifat koran ini cenderung untuk kalangan sendiri, dibagikan di setiap kelas dan setiap angkatan di seminari.

Namun, kami juga kerap menjual koran itu kepada orangtua yang berkunjung ke seminari ataupun di gereja di sekitar seminari. Dalam proses penjualan ini, tim pemasaran amat menentukan. Kami tak mematok harga “Koran Jendela” per eksemplar, secara sukarela saja. Biasanya Jendela dihargai Rp 5.000-Rp 10.000 per eksemplar.

Hasil penjualan itu disimpan dan dikelola tim administrator. Hasil itu kami gunakan untuk pengelolaan dan pengembangan “Koran Jendela”.

Dukungan sekolah

Pada dasarnya pihak asrama seminari dan SMA Seminari mendukung kegiatan ini. Dukungan yang diberikan antara lain berupa satu ruangan khusus lengkap dengan satu unit komputer.

Fr Yohanes Wahyu Rusmana, pembimbing Jendela, mengatakan, membimbing para jurnalis itu menyenangkan. Melalui Jendela, ia bisa melihat bagaimana anak berpikir kritis dan kreatif dalam melihat peristiwa.

”Membuat berita berarti membuat catatan penting karena dapat menjadi sejarah. Mereka membuktikan, remaja pun mampu mencatat sejarah lewat membuat berita,” ujarnya. Demikian diwartakan Kompas, 18 Januari 2013.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan